Nanditha

Nanditha
BERKUNJUNG KE RUMAH DIMAS


__ADS_3

Selalu bersyukur dengan suka dan duka yang Tuhan beri. Selalu bersyukur dengan tangis


dan tawa yang silih berganti. Bahagia tak selamanya ada, begitu juga air mata.


"Kak,,,, mau liat proses bikin dendeng sama urutannya gak??" Malikha mengganggu lamunan sang kakak. Gadis itu antusias sekali melakukan promo kuliner kali ini.


"Emang kamu mau ke sana?? Ngapain??"


"Mmmmm aku mau balikin bukunya Dimas. Kata dia, sekarang lagi ada di rumahnya bantuin ibunya bikin pesanan."


"Oohh gitu,, ya udah ayok, biar kakak juga liat prosesnya."


Mereka ke area belakang rumah untuk menemui sang bunda yang sedang menyelesaikan laundry nya.


"Bunda,,,, aku sama kak Dita mau keluar sebentar ya.....??!" Malikha seperti biasa berteriak dari jauh.


"Dek,,, kebiasaan kamu tuh, teriak-teriak! Udah kaya orang di pedalaman aja!" Kesal Nandita memarahi sang adik.


"Kalau suara aku kecil, bunda mana dengar kak?? Dikalahkan nanti sama suara mesin cucinya,,." Jawab Malikha.


"Ya mangkanya itu kita temuin bunda, cari ke tempat nyuci!!" Nandita sewot, berlalu meninggalkan sang adik.


'Kumat lagi,, ngomelan!! Kemarin aja pas ada ayang beb nya, mana berani dia begitu sama aku,,.' Sungut Malikha di belakang sang kakak, suaranya lirih nyaris tak terdengar.


"Bun,,,, masih banyak gak nyucinya??" Tanya Nandita, begitu sampai tempat sang bunda beraktifitas.


"Gak,,, tinggal ini doang, bentar lagi selesai. Kenapa??"


"Aku mau keluar sebentar sama Ikha, dia mau antar buku ke tempat temannya. Bunda gak apa kan, di rumah sendiri??"


"Ya sudah sana,,, tapi jangan sampai malam."


"Ok,,,, bunda mau dibeliin apa??" Tanya gadis itu lagi.


"Apa ya,,,, apa sajalah yang penting enak." Bunda Santi bicara seraya tersenyum lebar.


"Ya dah, nanti Dita liat di jalan ada apa aja yang menarik." Gadis itu mencium pipi sang bunda, sebelum berbalik meninggalkan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Yuk dek,," ajaknya pada si bungsu yang diam di samping pintu.


"Bentar kak,," Malikha malah mendekati bundanya


"Bun,,,," gadis SMA itu menengadahkan tangan ke arah sang bunda.


"Udaaaah,,,, kamu pergi sama kakak, ngapain minta duit lagi sih sama bunda!! Nanti kakak yang bayarin kalau mau belanja,,!" Nandita menarik belakang baju sang adik, menjauhkannya dari hadapan bunda.


Bunda Santi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua putrinya. Terkadang, saat melihat Nandita dan Malikha ribut, ada rasa rindu pada anak pertamanya Byanca. Namun apa daya, dia tidak ingin menjadi orang tua egois yang membatasi mimpi sang anak. Mengikat mereka dengan alasan kasih sayang, lalu membunuh mimpi-mimpi yang menjadi semangat hidup anak-anaknya.


Pramugari adalah impian anak sulungnya, dan ia berusaha untuk meraih itu, lalu haruskah ia mematahkan semangat sang anak??


Nandita membonceng sang adik, yang sibuk bercerita tentang banyak hal selama dirinya berbeda tempat tinggal.


"Kak,,, tau gak kayaknya kak Byan udah punya pacar deh..." Acara ghibah dimulai

__ADS_1


"Tau darimana??"


"Waktu ini sempat minta ijin sama bunda, boleh gak kalau dia dekat sama cowo dari luar??" Terang bungsu dari tiga bersaudara itu.


"Maksudnya??" Nandita tidak mengerti maksud kata dari luar itu.


"Maksudnya, kak Byan cowonya bule kak ... Tapi kata bunda disuruh ajak pulang dulu, kenalin sebagai teman."


"Terus-terus??" Nandita tertarik mendengar cerita Malikha.


"Terus apanya?? Ya nunggu kak Byan ajak itu bule pulang lah .....!" Malikha sewot.


"Yeeee kamu kenapa sensian sih?? Kan kakak nanya?? Dia yang cerita, giliran direspon ngomel, gak direspon kesal!!" Nanditha balik sewot.


Begitulah mereka, sebentar akur, sebentar bertengkar. Tapi kemana-mana selalu bersama. Mungkin memang begitu kakak beradik pada umumnya.


Hingga tiba di sebuah rumah sederhana, dengan halaman luas, Nandita memarkirkan motornya.


Ia tersenyum. Rumah itu cukup bersih, ada taman kecil di samping rumah, dengan berbagai jenis bunga warna warni yang indah.


"Permisi,,,," Suara melengking Malikha terdengar. Nandita yang tadinya fokus memandang taman kecil itu menoleh, menggelengkan kepala melihat sang adik yang tidak tahu tempat.


"Sebentar,,," Sahut suara laki-laki dari dalam.


Malikha tersenyum dengan pipi yang sedikit merona mendengar sahutan dari dalam.


"Hai Kha,,," Sapa seorang pemuda yang kira-kira sebaya Malikha. Cukup tampan, dengan gigi gingsul yang membuatnya tambah mempesona.


"Hai mas,,,, aku mau balikin buku yang kemarin. Sekalian mau lihat ibumu bikin urutan. Ini kakak aku mau lihat katanya." Terang Malikha


"Dita" Sahut Nandita seraya menjabat tangan Dimas.


"Ya kak Dita silahkan masuk. Maaf rumahnya berantakan." Ujar Dimas sungkan


Mereka masuk, melewati ruang tamu sederhana, menuju dapur yang terletak di bagian belakang rumah tersebut.


Rupanya kegiatan memasak itu, di ruang yang agak terbuka, bukan dapur seperti biasa rumah pada umumnya.


"Bu.... Ini ada Ikha sama kakaknya, katanya mau lihat proses bikin urutan sama dendeng" Terang Dimas pada sang ibu.


Wanita paruh baya itu mengulas senyum ramah. Jejak kecantikan masa muda, masih terlihat jelas di wajah yang mulai keriput itu.


"Boleh,,, silahkan duduk di sini, kebetulan ini baru mau masukin dagingnya ke dalam usus." Ibu yang bernama Salma itu menunjukkan kursi-kursi kecil tempat duduk untuk dua tamunya.


Nandita melihat sekeliling, terlihat bersih. Perabotannya juga bersih, meskipun sederhana.


Mereka melihat proses pembuatan urutan, sementara dendeng sudah dijemur di tempat khusus agar terkena sinar matahari langsung.


"Bu,,, kalau urutan ini biasanya dijemur berapa hari??"


"Biasanya dua sampai tiga hari. Tergantung cuaca, kalau mendung mesti lebih lama."


"Terus kalau musim hujan gimana Bu??"

__ADS_1


"Dulu sebelum bapaknya Dimas sakit, biasanya beliau buatkan pengasapan darurat gitu, pakai seng. Cuma sekarang karena keadaannya sudah begini, terpaksa kami hanya bisa siapin pesanan kalau cuaca lagi panas aja. Dimas belum bisa bikin yang seperti bapaknya bikin. Takut rusak kalau lama gak kering, soalnya kan bahannya daging mentah." Terang Bu salma lagi.


Ada rasa iba yang muncul di hati Nandita. Rasa ingin menolong begitu kuat, tapi dia tidak ingin menunjukkan itu. Tidak semua orang senang dikasihani, tidak semua orang mau memiliki hutang Budi. Nandita sadari itu. Jadi, ia hanya mampu tersenyum menanggapi cerita Bu salma.


🌟🌟🌟


Di tempat lain, Gunadh yang tengah bersantai di rumah besarnya, berniat menghubungi sang kekasih.


Mengambil ponsel di saku celana, ia segera mencari nomor Nandita.


Menunggu beberapa detik hingga panggilannya diangkat.


"Ya mas,,,." Suara dari seberang terdengar merdu. Meski belum sehari berpisah, namun ia sudah merasa rindu.


"Lagi apa yang??" Tanya laki-laki bermata sayu itu.


"Ini lagi di rumah Dimas sama adek."


"Siapa Dimas??" Suara Gunadh terdengar gusar


"Teman adek,, kesini mau balikin buku."


"Ngapain kamu ikut??"


"Ya pengen ajalah mas,,,, mau sekalian liat proses pembuatan dendeng sama urutan."


"Oooh di tempat kamu pesan itu,,,?" Suara Gunadh melembut.


"Ya,,,, lagian kenapa sih kalau aku keluar sama adek??"


"Ya gak apa-apa,,,. Tadi kamu sebut nama cowo soalnya, kirain siapa tadi."


Gunadh menggaruk belakang kepalanya, tanda salah tingkah. Merasa malu, meski Nandita tidak melihat ekspresi curiganya tadi.


"Yang,,,, foto dong,,." Gunadh memelas, namun sangat menggelikan di telinga Nandita.


"Iiisssh jangan gitu mas aahh.... Takut aku jadinya."


"Kenapa??" Tanya Gunadh tak mengerti


"Aku bayangin kamu ngomong begitu, dengan tangan melambai dan berjalan gemulai. Hahahaaaaa..." Nandita tidak tahan dengan imajinasinya, tertawa terbahak membuat Gunadh kesal.


"Tega kamu yang,,,, kamu pikir aku Ben**Ng!!" Kesal Gunadh yang ikut terbayang dengan penampilan yang diceritakan Nandita.


Sementara gadis itu semakin tertawa lebar.


"Ya udah sih kalau gak gitu, ya jangan marah. Nanti aku kirimkan fotonya." Nandita membujuk Gunadh yang sepertinya tengah merajuk.


"Ya udah,,, janji ya kirim foto."


"Yaaaa,,,." Kemudian panggilan di putus. Nandita mengirimkan foto saat ia tengah mencoba ikut membuat urutan.


Gunadh senyum-senyum sendiri melihat foto tersebut.

__ADS_1


Sementara dari lantai atas, ada gadis cantik yang menatap dirinya penuh kecewa


__ADS_2