
Pagi-pagi sekali Gunadh melangkah tergesa mencari Nandita yang tengah sibuk membantu sang bunda di dapur.
"Yank ..." Panggilnya dengan wajah panik.
Nandita menoleh, lalu segera menghampiri Gunadh
"Ya mas, ada apa?"
"Bisa kita balik sekarang? Mira di rumah sakit."
"Apa? Kenapa bisa?" Pertanyaan beruntun yang begitu saja terucap dari mulut Nandita karena terkejut. Suaranya yang keras menarik perhatian sang bunda.
"Ada apa?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Mira Bun, dia di rumah sakit. Kemarin katanya di serempet mobil." Terang gunadh.
Bunda Santi pun terkejut, namun bisa cepat menguasai diri.
"Duduk dulu, tenangkan pikiran kalian." Wanita itu menuntun pasangan yang tengah dilanda kepanikan.
"Kalau kalian panik begini, gak akan membuat keadaan lebih baik. Justru, sikap terburu-buru ini bisa membahayakan diri sendiri." Ucapnya lagi, sambil mengambilkan air minum untuk ke duanya.
Wajah Gunadh masih pucat, antara terkejut dan merasa bersalah karena melepas pengawasan terhadap putrinya. Harusnya dia tidak berdebat dengan sang putri. Harusnya ia bisa memberi pengertian dengan sabar pada gadis kecilnya itu. Sehingga Mira tidak memilih tinggal bersama mommynya.
Aah penyesalan selalu datang terlambat.
Setelah sedikit tenang, Nandita menggenggam tangan Gunadh.
"Mas yang sabar ya, kita berangkat sekarang? Aku siap-siap dulu."
Ia hendak bangkit menuju kamar.
"Apa gak sebaiknya kalian sarapan dulu? Nanti setelah tiba di rumah sakit, belum tentu kalian memikirkan isi perut." Bunda memberi saran.
"Nak Gunadh, siapa yang kasih kabar ke kamu soal keadaan Mira? Coba kamu pastikan bagaimana keadaannya."
"Udah Bun, kata asistenku kondisi Mira saat ini sudah stabil namun belum sadar. Katanya akibat benturan di trotoar sehingga ia shock. Tapi sejauh ini semua baik-baik saja. Dan semoga akan tetap baik-baik saja." Ucapnya diselingi harapan.
Bunda mendengarkan sambil sibuk menyiapkan sarapan untuk dua orang di hadapannya. Syukur menu sarapan sudah selesai ketika tadi Gunadh memanggil Nandita. Hingga kini tinggal memindahkannya saja ke atas piring.
"Makan dulu, habis itu baru kalian bersiap untuk berangkat. Nanti biar bunda yang kasi tahu ayah soal kepergian kalian." Ucapnya sambil menyodorkan piring berisi nasi goreng dan air putih untuk keduanya.
Mereka makan dalam diam. Setelah itu kembali ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian tanpa mandi terlebih dahulu.
Nandita menyempatkan diri menghubungi sang ayah yang sedang di peternakan. Setelah berpamitan dengan ayah dan bunda, mereka meninggalkan rumah orang tua Nandita dengan hati yang tidak menentu.
Tidak ada satupun yang mencoba memecah sunyi dalam perjalanan. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Gunadh dengan penyesalan dan rasa bersalahnya, sementara Nandita bingung harus bersikap bagaimana nanti ketika tiba di rumah sakit.
"Mas ..." Ragu Nandita bertanya
"Ya sayang, kenapa?" Rupanya Gunadh merespon dengan baik. Membuat Nandita bernafas sedikit lega.
"Kapan kejadiannya?" Tanya gadis itu hati-hati
Gunadh menarik nafas, sebelum memulai ceritanya.
"Kata Arya kemarin sekitar pukul 19.00. namun mommynya Mira menghubungi Arya sekitar pukul 21.30, setelah beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponsel mas namun gagal. Kemarin kan kita seharian di luar, mas gak sempat isi daya. Baterainya habis pas kita mau ke pantai." Terang laki-laki itu.
"Lalu?"
"Kemarin begitu tiba di rumah, mas langsung mengisi baterainya. Tadi pagi baru mas aktifkan. Rupanya ada banyak panggilan dan pesan sejak kemarin. Bodohnya mas, kenapa gak dari kemarin saja mas aktifkan ponsel. Mas tidur dengan nyenyak sementara Mira menahan sakit di rumah sakit. Mas merasa jadi ayah yang benar-benar egois." Ucapnya dengan suara bergetar.
"Mas ... Ke pinggir dulu. Kita istirahat sebentar sambil nenangin diri kamu. Bahaya kalau mas nyetir sambil emosi." Nandita mengusap lembut lengan Gunadh.
__ADS_1
"Gak apa, mas baik-baik aja." Ucapnya menggenggam kemudi dengan kedua tangannya.
"Minum dulu kalau gitu mas," Nandita mengulurkan botol minum kemasan yang tutupnya sudah ia buka.
Gunadh mengambilnya, meneguk hingga hanya tersisa setengahnya saja.
Suasana mobil kembali hening. Nandita tak ingin lagi menanyakan apapun yang membuat Gunadh menjadi gusar. Meski dalam hatinya masih banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Kemana Mira malam-malam hingga sampai terserempet mobil?
Bagaimana keadaan gadis itu?
Bagaimana dengan mommynya?
Lalu nanti setelah tiba di rumah sakit, apa yang harus dia lakukan? Mengingat hubungannya dengan mantan istri Gunadh tidaklah baik-baik saja.
Tanpa sadar, kegelisahan yang coba ia tutupi membuat ia pun ikut menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar.
"Kenapa?" Gunadh memecah sunyi.
Nandita menoleh, kemudian tersenyum tipis.
"Gak ada mas." Ucapnya
Hening
Hingga tiba di rumah sakit, tidak ada satupun dari mereka yang kembali bersuara.
🌟🌟🌟
Gunadh berjalan dengan terburu begitu turun dari mobil. Nandita maklum, dia pun mengikuti dari belakang dengan langkah yang tak kalah tergesa.
Arya sudah menunggu di depan pintu masuk, membungkuk sedikit begitu melihat Gunadh dan Nandita mendekat ke arahnya.
"Mari tuan" Ucap laki-laki yang terlihat beberapa tahun lebih muda dari tuannya itu.
"Mas ..." Safira berlari menyusul mantan suaminya yang baru saja keluar dari pintu lift.
Memegang kedua tangan Gunadh, dengan kepala mendongak menatap manik mata laki-laki itu.
"Aku takut mas, Mira belum sadarkan diri." Adunya dengan mata sembab dan rambut berantakan.
"Kamu harus sabar dan tetap tegar. Mira anak yang kuat, dia pasti segera sadar." Hibur Gunadh mencoba menenangkan ibu dari anaknya tersebut. Meski hatinya kini juga sama hancurnya, namun apa boleh buat? Semua sudah terjadi.
Mereka memasuki ruang perawatan Namira. Setelah melihat kondisi sang anak, Gunadh menuju sofa yang terletak di pojok ruangan. Agak jauh dari ranjang pasien.
"Maafkan aku mas, aku lalai menjaga anak kita. Aku menganggap semua aman-aman saja sehingga membiarkan Mira keluar mencari makanan sendiri." Tutur Safira dengan kepala tertunduk.
Sungguh ia tidak berniat membuat anaknya celaka. Meski dirinya bukan ibu yang baik, namun melihat keadaan putrinya seperti saat ini, membuat hatinya ikut berdenyut nyeri.
"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?" Gunadh berusaha menekan emosinya. Merendahkan suara, agar Safira tidak merasa sedang disidang. Mendengar penuturan Safira barusan, membuatnya berpikir yang bukan-bukan.
Malam-malam Mira keluar mencari makan? Kenapa bukan mommynya saja yang melakukan?
"Aku sedang tidak enak badan mas, jadi gak masak kemarin. Pagi sama siangnya kami memesan makanan lewat aplikasi. Sore Mira mau dibuatkan mie. Nah menjelang malam, anak itu lapar lagi. Di apart gak ada stok makanan. Sementara tubuhku lemas. Mira ijin keluar, katanya mau beli bubur ayam sama martabak manis di depan gedung. Bodohnya aku mengijinkan dia pergi. Setengah jam setelah dia keluar, petugas keamanan mencari ku, mengatakan kalau Mira menjadi korban tabrak lari dan sudah dilarikan ke Rumah Sakit." Safira bercerita dengan nafas tersengal menahan isak tangisnya.
Rahang Gunadh mengeras, tangannya terkepal menahan emosi.
"Kenapa kamu seceroboh itu Fira ...!! Kamu tahu kan? Mira itu masih kecil, kenapa kamu membiarkan dia keluar sendirian tanpa pengawasan?" Sesal Gunadh.
Nandita yang sedari tadi hanya diam, duduk di sisi Gunadh, menepuk pelan pundak kekasihnya. Mengingatkan laki-laki itu agar bisa mengendalikan diri.
"Mas ..." Ucapnya menenangkan.
Perlakuan sederhana gadis itu mampu meredam kemarahan Gunadh yang hampir saja meledak.
__ADS_1
"Lalu apa kata dokter?" Lanjutnya lagi dengan gusar, menatap sekilas lawan bicaranya.
" Mira mengalami patah tulang di lututnya mas, dan beberapa memar juga. Syukur di daerah sekitar kepala dia gak mengalami cidera parah." Ucap Safira lagi
Gunadh mengusap kasar wajahnya beberapa kali. Kepalanya ikut berdenyut sakit. Tidak percaya sepenuhnya dengan penuturan Safira, ia memutuskan menemui dokter yang merawat sang anak.
"Aku akan menemui dokternya dulu," Ucap Gunadh kemudian melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Bahkan tanpa menoleh ke arah Nandita.
Sementara Nandita, ia bingung harus melakukan apa. Hanya bisa diam mematung tanpa berniat membuka percakapan dengan wanita yang ada di sebelahnya.
Safira menatap tidak suka pada gadis itu. Baginya, Nandita adalah penyebab sang putri seperti ini. Andai Gunadh tidak dekat dengan gadis itu, maka Namira masih akan tetap tinggal bersama daddynya. Tidak akan melakukan aksi keluar rumah, meski itu bersama dirinya.
"Puas kamu sekarang? Melihat anakku seperti ini, kamu pasti merasa bahagia bukan?" Tembak Safira langsung tanpa basa basi.
Nandita hanya melihat sekilas, kemudian bangkit hendak meninggalkan ruang perawatan itu.
"Maaf mba, saya rasa gak baik kalau kita berdebat hal yang gak penting disaat keadaan Namira seperti ini. Saya turut prihatin, gak ada sedikitpun di hati saya, merasakan seperti apa yang mba tuduhkan. Permisi."
Nandita keluar tanpa perduli ocehan yang keluar dari mulut Safira.
Lebih baik ia menunggu di ruang tunggu, atau kafe terdekat. Toh kehadirannya di sana tidak dibutuhkan, pikirnya.
Sementara Gunadh, laki-laki itu baru sadar telah meninggalkan Nandita di ruangan sang anak tanpa pesan apapun.
"Astaga, Arya aku meninggalkan Nandita berdua saja dengan Safira di dalam." Ucapnya pada sang asisten.
"Apa kita kembali dulu menjemput nona, tuan?" Tanya sang asisten.
Setelah berpikir sejenak, Gunadh melanjutkan langkahnya.
"Nanti saja aku bicara dengannya. Kata suster tadi, jam praktik dokter itu sebentar lagi selesai. Takutnya nanti dia keburu pergi."
Arya hanya menuruti langkah kaki tuannya tanpa memberi jawaban apapun.
Setelah kurang lebih 30 menit berbincang dengan dokter, Gunadh keluar berniat kembali ke ruangan Namira. Namun getar ponsel di saku celananya menghentikan langkah kaki laki-laki itu.
"Arya, kamu kembali saja. Besok saya mungkin belum bisa ke kantor seperti biasa, tolong kamu urus semuanya. Kabari saya kalau ada yang darurat harus melibatkan kehadiran saya." Ucapnya, dengan ponsel masih di tangannya.
"Baik tuan, saya permisi. Nanti keperluan tuan, biar bi Asih atau yang lain membawa kemari."
"Terimakasih Arya." Ucapnya menepuk pundak sang asisten.
"Sama-sama tuan, tolong jaga kesehatan tuan. Kalau ada apa-apa, saya siap 24 jam." Ucap pria tampan nan kalem itu. Dan hanya dibalas anggukan kepala serta senyum tipis oleh Gunadh.
Baru setelah Arya berlalu, Gunadh melihat ponselnya kembali. Rupanya Nandita mengiriminya pesan, mengatakan dirinya menunggu di kafe dekat taman.
Niat untuk kembali ke ruangan sang anak pun urung. Langkah kakinya, berbalik menuju kafe di mana kekasihnya menunggu.
"Sayang, maaf tadi mas benar-benar lupa mengajak kamu keluar." Ucapnya setelah duduk berhadapan dengan Nandita.
"Gak apa mas, aku ngerti kok. Mas khawatir dengan Mira." Jawab Mira dengan tersenyum.
"Lalu apa kata dokternya mas?"
"Seperti yang dijelaskan mommynya tadi, Namira mengalami keretakan di tulang lututnya. Bukan patah. Organ vitalnya aman gak ada masalah. Hanya saja, Mira belum sadarkan diri. Tapi kata dokter, itu bisa saja terjadi karena shock." Ucap Gunadh dengan wajah sedih.
"Mas yang sabar ya. Kita pasti bisa lewatin ini. Jangan patah semangat, biar Mira juga semangat untuk sembuh."
"Makasih ya, bersyukur mas punya kamu yang pengertian. Oya satu lagi, selama Mira masih dalam perawatan, mas akan lebih sering di sini. Mungkin akan jarang punya waktu untuk kita berdua. Kamu gak apa kan?" Tanya laki-laki itu memastikan. Meski ia yakin, Nandita tidak akan egois meminta waktunya disaat seperti ini.
"Ya mas ... Justru aku yang harus temani mas di sini. Tapi mungkin gak bisa sering mas, sebab jadwal kegiatan yang udah aku siapkan, gak bisa aku ubah. Kalau untuk latihan sih bisa aku serahkan ke Satya, namun untuk kegiatan lain gak bisa aku ubah." Ucap gadis itu.
Gunadh mengerti, gadisnya kini tengah aktif di kegiatan sosial yang sering kali mengadakan acara amal atau bakti sosial.
Mereka melepas penat di kafe itu. Sekalian memesan makan siang untuk mereka santap bersama. Hati Gunadh lebih lega kini, setelah mendengar penjelasan sang dokter. Setidaknya, tidak ada hal yang membahayakan putrinya.
__ADS_1
"Mas, sekalian pesankan makan siang untuk mba Fira, kasihan dia pasti gak memikirkan dirinya sejak kemarin." Ucap Nandita saat pelayan datang membawakan menu yang mereka pesan.
Gunadh hanya menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Nandita.