Nanditha

Nanditha
MERACUNI PIKIRAN


__ADS_3

Setulus apapun kamu pada orang lain, akan selalu terlihat buruk di mata mereka yang tak suka padamu.


Matahari pagi perlahan menyentuh kulit, melalui celah jendela kaca yang tertutup korden tipis.


Dua manusia berbeda generasi masih meringkuk di bawah selimut tebal, menikmati mimpi yang enggan pergi.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.15 namun Nandita dan Mira masih enggan membuka mata.


Tok


Tok


Tok


Saking lelapnya tidur mereka, tidak ada satupun diantaranya yang mendengar suara ketukan pintu.


Gunadh kesal sendiri dibuatnya.


'pada ngapain sih mereka?? Padahal kemarin kan perginya gak sampe larut, masa jam segini belum bangun.'


Laki-laki dengan alis tebal itu lalu kembali ke kamarnya. Mengambil ponsel untuk melakukan panggilan.


Sementara di kamar sebelah, Nandita samar mendengar suara ponsel di atas nakas. Dengan mata yang masih terpejam, ia mereba mencari ponselnya.


"Halo,,,," Suara khas mengantuk terdengar


"Sayang,,,,, bangun. Udah siang lho ini, jadi pergi gak ini??"


"Ya mas sebentar. Aku bangunin Mira dulu ya"


"Kalian ya,,, baru jalan sehari aja udah tepar. Kompak sekali bermalas-malasan" Gunadh belum berhenti mengoceh


Tlup


Telepon dimatikan.


Gunadh menarik nafas panjang. Sudah mulai tau kebiasaan Nandita yang tidak suka diberi tau dengan cara agak kasar.


Satu jam kemudian, Nandita dan Mira datang menghampiri Gunadh di kamarnya. Mereka sudah selesai mandi. Nandita pun sudah siap dengan pakaian untuk pergi, sementara Mira masih memakai jubah mandi.


"Kamu cepet ganti baju gih, habis itu kita sarapan di bawah aja. Biar langsung berangkat nanti." Perintah sang daddy pada anak gadisnya. Gunadh sendiri pun sudah rapi dan wangi.


Mira membawa baju yang akan di pakai ke kamar mandi. Sementara Gunadh dan Nandita menunggu, mereka duduk berdua di sofa panjang.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Ponel Gunadh yang hanya menggunakan mode getar saja, bergerak. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.


"Halo" Suara datar dari Gunadh


"Mas,,,, ini Fira, aku udah di bandara. Bisa minta tolong untuk jemput aku ga? Sekalian ajak Mira." Alis Gunadh berkerut tanda tidak suka


"Kamu bisa cari taksi kan? Atau minta sopir hotel jemput kamu. Kenapa harus merepotkan orang lain?? Mira juga masih mandi, masih lama baru selesai." Jawaban bernada ketus laki-laki itu lontarkan.


"Siapa dad??" Rupanya gadis yang baru disebut namanya sudah muncul


"Ooohhh ini mommy kamu." Gunadh menjawab terbata


"Mana dad,,, aku mau ngomong" Dengan cepat Mira mengambil ponsel dari genggaman sang Daddy


"Halo mommy?? Kapan jadi kemari??" Mira sangat senang bisa bicara dengan sang mommy


"Mommy sudah di Singapura sayang, tapi belum ada yang jemput. Kata Daddy, gak bisa jemput mommy sama kamu" Suara Safira terdengar sedih. Mira yang sangat merindukan wanita yang sudah melahirkannya itu menjadi ikut sedih.

__ADS_1


Mira memandang sang Daddy dengan tatapan memohon. Gunadh tau arti tatapan mata itu, tapi dia juga tidak mungkin menuruti mau sang mantan istri.


Nandita yang sedari tadi memperhatikan, hanya diam saja. Ia juga tidak mendengar apa yang di katakan si penelpon hingga membuat wajah Gunadh menjadi tidak bersahabat. Sementara Mira dengan ekspresi sedih.


Setelah sambungan telepon terputus tanpa solusi, Mira melangkah mendekati sang Daddy bermaksud membujuk agar mau menjemput mommy nya.


"Dad,,,,,."


"Ini sudah siang Mira, kita bahkan belum sarapan. Perjalanan kita juga jauh. Biar mommy kamu cari taksi untuk ke mari." Gunadh yang tau niat anaknya, memotong ucapan Mira.


Nandita menghampiri Mira yang berdiri sambil menunduk, memainkan jari-jarinya. Sungguh ia merasa kasihan dengan gadis kecil itu.


"Kenapa?" Bisiknya di telinga Mira


"Mommy sudah di bandara, tapi gak ada yang jemput. Minta tolong Daddy, tapi Daddy ga mau jemput." Mira sudah menangis, suaranya juga terbata.


Ekor mata Nandita melirik Gunadh yang berkacak pinggang di depan jendela. Menatap keluar, mungkin ingin mengalihkan pikiran.


"Mas,,,," Nandita menyentuh pundak Gunadh dengan lembut. Ini untuk pertama kalinya ia melakukan itu.


Gunadh menoleh, wajahnya menampakkan raut kesal.


"Kasihan Mira,," Bisiknya lagi


"Tapi Ta,,, mommynya bukan baru pertama kali ke sini. Dia sudah biasa, dan sudah tau apa yang harus dilakukan. Ga harus aku yang urusin jemput dia segala."


"Sssst kecilin suaranya, nanti Mira dengar tambah sedih lagi anak itu. Mungkin mommy nya kangen banget sama Mira. Ingin segera bertemu, jadi minta anaknya agar menjemput. Demi Mira mas,,,, kasihan dia" Nandita memelas pada sang kekasih.


"Tapi kamu??" Ucap Gunadh ragu


"Aku biar makan sendiri di bawah. Habis itu aku tunggu kalian di kamar. Nanti kalau kalian sudah sampai, telepon aja biar aku turun."


"Beneran kamu ga apa-apa aku jemput Safira??"


"Gak apa mas,,,,. Kan jemput doang, sama Mira lagi. Ya kan??"


"Ya mana mau aku sendiri. Tapi kamu janji makan dan tungguin kita ya,,,,. Jangan kemana-mana sendirian."


"Mira,,, Daddy mau jemput mommy" Ucapan Nandita membuat Mira mengangkat wajahnya.


"Beneran Dad?? Hayooo sekarang,,,,." Cepat sekali berubah ekspresi wajah nya. Di tariknya tangan sang Daddy agar segera keluar. Namun kembali berbalik menemui Nandita yang masih diam di tempat.


Cup


"Makasih onty...." Mira mengecup pipi Nandita kemudian kembali menemui sang Daddy.


Mereka berpisah di pintu masuk restaurant hotel. Dimana Nandita masuk ke dalam restaurant, sementara Gunadh dan Mira melanjutkan perjalanan menjemput Safira. Gunadh menyewa sebuah mobil, sedianya mobil itu ia gunakan untuk mengajak Nandita berkeliling nanti. Namun hari ini jadwalnya terpaksa sedikit dirubah.


Sementara itu, Safira yang mendapat pesan singkat dari Gunadh tertawa senang. Rencana pertamanya berhasil. Dia ingin menunjukkan pada Nandita, bahwa dirinya masih cukup penting bagi seorang Gunadh.


Ia sudah menyusun berbagai rencana guna menggagalkan liburan pasangan yang baru menjalin kasih itu.


'tidak semudah itu mengambil apa yang sudah menjadi milikku.' Senyum licik tersungging di bibir tipisnya.


Setelah menunggu beberapa saat, dia yang suda mengatakan tempat penantiannya, segera beranjak begitu melihat laki-laki tegap yang keluar dari sebuah mobil dengan pakaian santai. Baju kaos berkerah, dengan celana pendek abu-abu serta sepatu sport membuat penampilan Gunadh terlihat lebih muda dari usianya. Belum lagi kaca mata hitam, menambah kesan dingin bagi siapa pun yang melihat.


Laki-laki itu berputar membukakan pintu samping, kemudian mengulurkan tangan untuk pegangan sang putri.


Semua itu tidak luput dari perhatian Safira yang menyaksikan dari dalam kafe tempatnya menunggu.


Segera ia keluar, guna menyambut dua orang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.


"Mira,,,,," Safira mengulurkan tangan agar segera di sambut oleh sang putri.


Namira masih diam memperhatikan sekitar. Ada rasa ragu sebab sudah lebih dari tiga tahun dirinya tidak bertemu dengan sang mommy.


"Dipanggil mommy tuh, cepat hampiri." Bisik Gunadh melihat anaknya diam tak bereaksi

__ADS_1


Namira segera berlari mendekat pada sosok yang ia rindukan.


"Mommy,,,, Mira kangen. Mommy kemana aja??" Luruh sudah air mata anak itu. Entah kenapa ia menjadi sangat cengeng


"Maafkan mommy sayang, mommy juga kangen sama Mira. Kita masuk dulu yuk,,, kamu pasti belum sarapan ya??"


Anggukan Mira membuat senyum Safira semakin terkembang. Sementara Gunadh, rasanya enggan untuk ikut sarapan bersama. Namun demi Mira, ia akan berusaha bersikap biasa saja pada mantan istrinya.


"Mas,,, apa kabar?" Safira sedikit canggung ketika bertemu pandang dengan Gunadh.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik. Bahkan sangat baik kalau kamu tidak merusak pagiku seperti sekarang." Ucapnya sambil berlalu, masuk mendahului Safira yang masih mematung di depan pintu kafe.


"Mommy,,," Safira tersentak dari lamunannya saat menyadari tangannya ditarik oleh sang putri.


"Ayo...."


Safira segera menyusul Gunadh masuk ke dalam kafe.


"Mejaku sebelah sana mas,, aku juga sudah pesankan makanan kesukaan Mira sama kamu. Sebentar lagi pasti datang"


Safira berusaha mencairkan suasana.


Gunadh diam saja, hanya mengikuti arah Safira menunjuk tempat duduknya tadi.


Mereka makan dengan diam. Suasana ini sangat canggung bagi Mira. Ia ingin bertanya banyak hal, bercerita banyak hal dengan sang mommy, namun melihat wajah datar sang Daddy, semua itu urung ia lakukan.


"Kalian lanjutkan makannya, aku tunggu di luar. Mira jangan lama-lama ya sayang, kasihan onty Dita nunggunya lama." Gunadh memecah keheningan, berdiri lalu kemudian keluar dari kafe. Bahkan makanan yang dipesan Safira tak disentuhnya sama sekali. Ia hanya meminum kopi yang ia pesan sendiri.


Namira merasa perlakuan sang Daddy pada mommy nya jauh berbeda dibanding pada Nandita.


"Mommy,, kenapa Daddy kaya marah gitu ya sama kita?"


"Daddy ga marah kok sayang, mungkin lagi capek aja banyak kerjaan. Ya udah yuk makan dulu, nanti kita hibur Daddy" Safira ingin menunjukkan sisi keibuannya pada Mira.


Sambil makan, Safira menggali informasi tentang Nandita pada anaknya.


"Sayang,, tadi Daddy bilang kalian ditungguin Tante Dita? Siapa dia??"


"Ooohh onty Dita,,,. Dia itu yang selama ini jagain aku mom,,,, suka temenin aku belajar, ajarin aku silat juga. Pokoknya dia teman sekaligus pelindung deh buat aku." Antusias sekali Mira menjelaskan tentang Nandita.


"Waaaahh hebat dia ya,,, memang dia kerjanya apa?? Lalu sekarang ada di mana??"


"Dia jadi guru di SMP Insan Mandiri Mom.... Sekarang dia lagi nungguin kita di hotel. Kan kita mau ke Universal studio. Cepetan makannya Mom,,, kasihan onty nunggu lama." Namira ingat akan pesan sang Daddy


"Sayang,,,, tapi kan kita baru ketemu ... Masa Mira gak mau kita pergi bertiga aja sih?? Gak kangen sama mommy?? Kalau ada orang lain, pasti canggung." Suapan terakhir urung di masukkan ke dalam mulut nya, sebab kini Mira tengah memikirkan ucapan sang mommy.


Benar juga,, berapa tahun mereka tidak bertemu? Sudah sangat lama Mira merindukan saat bersama kedua orang tuanya. Lalu kenapa sekarang harus ada orang lain yang diikut sertakan. Tapi ia juga merasa kasihan pada Dita, pasti ontynya sudah menunggu kedatangan mereka.


Kepalanya menunduk, tangan yang semula memegang sendok dan garpu, kini saling bertaut menandakan ia sedang berpikir.


"Mira gak pengen ya kita bisa pergi bertiga kaya dulu lagi?? Apa cuman mommy aja yang sangat merindukan kalian?? Sementara kalian hanya menganggap mommy sebagai pelengkap saja?" Akting Safira sungguh bagus sekali, memainkan perasaan sang anak demi ambisi diri sendiri.


"Gak gituu Mom,,, tapi kan kasian onty Dita kalau kita tinggal...."


"Coba mommy tanya, untuk apa dia ikut ke sini, padahal tau kalau kalian akan ketemu mommy dan liburan bareng di sini?? Apa jangan-jangan dia sengaja pengen gangguin kebahagiaan kita?"


"Mommy jangan gitu aaah,, gak baik tuduh orang sembarangan. Onty Dita orang baik kok.... Gak mungkin niat ganggu kita."


Mira mendebat sang mommy. Tidak terima kalau Nandita dikatakan sebagai pengganggu.


"Maaf mommy salah, mungkin kamu memang lebih nyaman sama dia daripada sama mommy. Tau begini mending mommy balik saja ke Jerman. Kamu lebih percaya sama onty Dita itu daripada mommy."


"Gak gituu Mom,,,,"


"Buktinya kamu lebih belain dia daripada mommy. Mommy hanya punya waktu saat ini saja bisa bareng sama kalian, nanti kalau sudah di Indonesia, onty Dita pasti akan pisahin kita lagi. Bikin mommy sama Daddy ga bisa bersama seperti yang dia lakukan selama ini" Safira mengeluarkan air mata, membuat Namira semakin dilema.


"Selama ini mommy selalu mengalah, mendiamkan setiap ketidak adilan, Daddy kamu sampai pisahin kamu sama mommy, dan mendekatkan kamu sama onty Dita, mommy diam aja. Tapi masa hanya waktu beberapa hari aja, dia gak mau ngerti sih??"

__ADS_1


"Mommy,,,,, jangan nangis lagi,,, Mira janji waktu Mira sama Daddy akan full untuk mommy selama kita di sini. Aku gak nyangka kalau onty Dita yang bikin aku susah ketemu mommy selama ini." Muncul rasa kecewa dalam hati Mira pada Nandita.


Senyum culas terbit di bibir Safira, senyum yang tidak bisa Namira lihat. Ia sudah termakan omongan sang mommy.


__ADS_2