
Dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, Nandita terus saja memikirkan apa yang onty Eby katakan.
Aslan pria baik yang selalu menemaninya, selama ia tinggal di sini. Wajah tampan, dengan senyum manis yang tak pernah luntur, selalu membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya.
Nandita yang tidak fasih berbahasa Turki, sangat terbantu oleh Aslan yang pintar berbahasa Inggris.
Namun, sepertinya peribahasa tidak ada persahabatan yang tulus antara laki-laki dan perempuan itu benar adanya.
Aslan mengutarakan cintanya terhadap Nandita, membuat gadis itu perlahan menjauh. Ia tidak ingin membuat orang lain terluka, namun tidak bisa juga memberi harapan palsu yang akan mendatangkan kecewa.
'aku harus ketemu Aslan secepatnya.' gumam Nandita dalam hati, sebelum memasuki gedung tempatnya bekerja.
Ia menghubungi Aslan, mengajak pemuda itu bertemu. Mungkin ini saatnya ia berterus terang, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Selama ini, meski ia menolak pernyataan cinta Aslan, namun Nandita tidak pernah memberi alasan yang tepat. Ia hanya mengaku belum ingin menjalin hubungan serius dengan lawan jenis. Tidak ingin semua menjadi abu-abu, Nandita memutuskan akan menjelaskan semua pada pemuda itu.
🌟🌟🌟
Pukul lima sore, ia sudah keluar dari tempatnya bekerja. Berjalan beberapa menit menuju halte, gadis itu menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama teman-teman kerjanya.
15 menit perjalanan ia tempuh, Nandita tiba di sebuah taman bernama Emirgan Park. Taman kota penuh sejarah, yang kini lebih dikenal karena festival tulip yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, selama satu bulan penuh.
Dan kedatangannya kali ini, bertepatan dengan acara tahunan tersebut.
Hamparan tulip beraneka warna menyambutnya, begitu memasuki taman itu. Ia berjalan seorang diri diantara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang menikmati keindahan alam sore hari.
Puas berkeliling, Nandita menuju tempat favoritnya di taman itu.
Tempat yang lebih sunyi, dengan gemericik air danau yang terdengar samar. Ia duduk di sebuah kursi piknik yang banyak tersedia di sana. Menghirup dalam aroma khas yang tak dapat ia temui di tempat lain.
"Hai ..." Seseorang menepuk lembut pundak gadis itu dari belakang.
Nandita menoleh, sedikit terkejut sebab ia tidak menyangka pemuda itu akan tiba secepat ini.
Ia menghadirkan senyum lembut, ketika tatapannya bertemu dengan manik biru laki-laki itu.
Nandita menepuk tempat di sampingnya, meminta Aslan untuk duduk di sana.
"Kamu kangen ya? Tumben ngajak aku ketemu di sini?" Aslan membuka obrolan.
Nandita tersenyum, membenarkan posisi duduknya agar terasa lebih nyaman.
"Apa kabar Aslan?" Tanya Nandita, tidak menanggapi candaan pemuda itu.
Aslan membuka lebar kedua tangannya. Membiarkan Nandita melihat kalau dirinya baik-baik saja.
"Kamu gimana?" Tanyanya kemudian.
"Aku baik."
Sepi,
Tidak ada percakapan diantara keduanya.
Mereka terlihat canggung, apalagi ketika candaan yang dilontarkan Aslan tidak ditanggapi gadis itu.
__ADS_1
"Sampaikan ucapan terimakasih ku sama Oma dan opa ya ... Baklava-nya enak sekali, aku sangat menyukainya." Ucap Nandita setelah diam cukup lama. Ia melirik Aslan yang menoleh ke arahnya.
"Sampaikan juga permintaan maafku, kalau ternyata aku mengecewakan mereka."
Aslan tersenyum miring, menatap intens gadis yang kini menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanyanya dengan senyum kecut. Ia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Kalau hanya karena kita berbeda, aku bisa mengikuti kamu. Aku akan mempelajari keyakinan mu ...."
Nandita menggeleng cepat.
"Bukan ... Bukan soal itu."
"Lalu?" Pancing Aslan.
"Apa aku kurang tampan? Kurang mapan? Jangan lupa, aku cucu kesayangan Oma Opa. Sebagian aset mereka akan menjadi milikku." Ucapnya dengan senyum pongah.
Nandita tahu Aslan tidak serius di kalimat terakhirnya, namun ia tidak bisa menimpali candaan laki-laki itu.
"Nggak ada hubungannya dengan status kamu. Kamu itu sempurna baik rupa maupun harta. Tapi aku menganggap kamu hanya teman biasa. Aku nggak punya perasaan berdebar saat bersama kamu ..."
"Perasaan itu akan muncul seiring berjalannya waktu Nan ... Kita bisa jalani dulu beberapa waktu, setelah itu baru kamu bisa putuskan apakah aku pantas untuk kamu atau tidak." Aslan terus mendesak.
"Aku nggak bisa Aslan ... Maaf?" Cicitnya.
"Apa ada orang lain yang kamu sukai?" Pancing pemuda itu.
Nandita menoleh. Cukup terkejut dengan pertanyaan pemuda yang usianya lebih muda darinya itu.
Tatapan mereka bertemu. Ada perasaan bersalah yang muncul di hati gadis itu.
Aslan tersenyum mengejek.
"Boleh aku meragukan ucapanmu kali ini?" Tanya pemuda itu.
"Mana ada orang tunangan, tapi hidup kesepian? Selama aku mengenal kamu, tidak sekalipun aku melihat seseorang menemui kamu di sini."
Nandita bingung harus menjelaskan seperti apa. Haruskah ia menceritakan kisah miris percintaannya dengan Gunadh, pada orang yang baru beberapa bulan dikenalnya ini?
"Tidak semua hal harus diketahui orang lain bukan?" Sahut Nandita pada akhirnya
"Dan tidak semua hal juga bisa kamu tutupi kebenarannya bukan?" Aslan membalik pernyataan Nandita.
"Maksud kamu?" Tanya gadis itu dengan alis berkerut.
"Aah m-maksudku, tidak semua bisa kamu tutupi dengan kebohongan bukan?" Aslan tergagap karena pernyataan awalnya. Pria itu hampir saja keceplosan mengatakan sesuatu.
"Aku tidak berbohong Aslan ... Aku serius."
"Benarkah? Lalu dimana dia sekarang? Di negaramu? Kenapa tidak pernah datang menemui kamu di sini? Atau paling tidak menghubungi kamu."
"Bagaimana kamu tahu kalau dia tidak menghubungiku?" Kesal nandita
"Karena kamu nggak pernah bercerita tentang hal itu terhadapku." Sahut Aslan
__ADS_1
"Tidak semua harus aku ceritakan sama kamu bukan?" Nandita emosi, sebab Aslan terkesan memojokkannya.
"Benar. Tapi bukan berarti tidak bercerita sama sekali ...." Sahutnya.
"Ooh aku tahu ... Apa kamu nggak pernah cerita, karena dia menyakitimu? Atau dia hanya ilusimu?" Cecar Aslan lagi, memiringkan kepala dengan senyum mengejeknya.
Nandita kehabisan kata-kata. Tidak menyangka pemuda yang ia kenal ramah dan baik hati, kini bisa berubah keras kepala dan menyebalkan.
Niat hati ingin bicara baik-baik, kini justru berakhir dengan perdebatan sengit.
"Terserah kamu mau berpikir bagaimana. Aku sudah kasih tau kamu apa yang sebenarnya. Aku nggak ingin Oma sama opa terus memupuk harapan itu. Aku nggak mau mereka kecewa.
"Harapan itu akan jadi kenyataan Nan ...." Sahut Aslan lagi.
"Aslan ...."
"Iya, sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kekasihmu hadir di sini. Aku nggak akan percaya kalau kamu sudah bertunangan." Jawabnya menunjukkan keteguhan hatinya.
"Nggak bis gitu donk ...! Siapa kamu maksa aku ngelakuin apa yang kamu mau?"
"Terserah. Aku kasih waktu hingga kontrak kerja kamu di sini berakhir. Selama laki-laki khayalan kamu tidak datang, aku adalah kekasih kamu. Dan bila hingga batas waktu itu ia tidak juga muncul, aku yang akan ikut denganmu ke Indonesia.
Nandita kehabisan kata untuk membantah ucapan Aslan. Ia hanya bisa berharap, sebuah keajaiban bisa membawa Gunadh datang menemuinya di kota itu.
^_________^^_________^^_________^
Pusingkan Nandita?
Sama saya juga ....
Man teman jangan lupa
like,
komen,
bagi iklan dan hadiah,
sama vote ya ....
sambil nunggu GunTha muncul besok, cek di bawah lagi yuk ...
**
Wanita mana yang mau hamil tanpa memiliki seorang suami?
Terlebih jika ia masih berstatus sebagai seorang pelajar SMA.
Tentu hal itu bagai mimpi buruk bagi wanita yang menanggungnya.
Dan, hal itu tengah di alami oleh Rosa. Seorang pelajar SMA yang akhirnya hamil akibat rayuan gombal pacarnya.
Pacar yang di anggap memberi warna cerah di hati dan harinya. Justru malah menorehkan warna gelap.
Rosa jatuh sejauh-jauhnya.
__ADS_1
Lalu, apakah yang harus dilakukan Rosa dalam menghadapi masalahnya?