
Pagi di hari yang sama saat bik Asih bercerita tentang masa lalu Safira dan Gunadh.
Pagi-pagi sekali Gunadh sudah bersiap. Ia memutuskan untuk datang menemui orang tua Nandita juga kakek Cakra. Ingin meminta maaf dan meluruskan masalah yang terjadi.
Meski ia sadari semua sudah terlambat, namun hatinya terus menginginkan untuk datang.
Ayah dan bunda Nandita menyambut kedatangan Gunadh dengan baik dan tetap sama seperti dulu.
"Ayah, bunda, saya minta maaf atas semua keributan yang terjadi. Jujur saya gak tahu semua itu. Saya kira semua akan baik-baik saja, meski Mira masih belum menerima hubungan kami. Tapi yang terjadi malah ---" Gunadh tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya mampu menggelengkan kepala
"Ya gak apa-apa. Namanya cobaan hidup, datangnya dari mana saja. Kita tidak pernah tahu." Sahut ayah Darma.
Gunadh merasa bersyukur ayah Darma memperlakukan dia dengan baik.
Sementara Bunda Santi hanya diam saja. Meski hatinya tidak menyalahkan Gunadh sepenuhnya, namun ada rasa sakit saat mengingat bagaimana orang memandang sang putri dengan tatapan mencela.
"Ambil hikmahnya saja, dengan kejadian ini kamu jadi bisa lebih berhati-hati lagi. Bisa mengawasi anak kamu dengan lebih baik lagi. Anak seusia Mira, sedang dalam masa rawan. Salah pergaulan akan sangat buruk pengaruhnya untuk sifat dan karakter dia kelak."
"Ya yah, saya yang salah dalam hal ini. Melepaskan Mira dibawah pengaruh sang mommy. Padahal saya tahu seperti apa mantan istri saya itu." Sesalnya.
"Mas Gunadh, maaf ya Ikha potong. Mas kan udah tahu kalau mba Safira itu udah kaya bunglon, pintar berkamuflase. Kenapa masih memberikan dia kesempatan untuk dekat sama Mira? Kan gini jadinya. Bukan cuman hubungan kalian yang bermasalah, kak Dita juga harus kehilangan pekerjaan, belum lagi omongan orang di luar sana. Bikin kuping panas." Cecar Malikha.
Obrolan mereka berlanjut.
Gunadh pamit setelah lebih dari satu jam ia bicara dan meminta maaf pada kedua orang tua Nandita pun dengan Malikha.
Meski ayah dan bunda Nandita memaafkan Gunadh, namun mereka belum mau memberi tahu keberadaan anaknya pada laki-laki tersebut.
Biarlah dia berjuang sendiri mencari tahu. Cinta pasti akan menemukan jalannya. Pikir ayah Darma.
Setelahnya, ia memutuskan untuk datang ke rumah kakek Cakra.
Hal yang sama juga ia lakukan. Menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya, meminta maaf atas kelakuan Namira, juga minta maaf karena tidak bisa membela Nandita.
Berbeda dengan reaksi ayah Darma, kakek Cakra justru terlihat marah pada Gunadh.
__ADS_1
"Kamu tahu? Gara-gara kamu saya menyalahkan cucu saya. Gara-gara anak kamu, cucu saya dipermalukan. Menjadi bahan gunjingan, dan harus pergi jauuh dari keluarganya." Kakek Cakra terlihat begitu emosi.
Maklum saja, ia merasa selama ini sudah begitu kejam dan juga bodoh. Lebih percaya orang lain daripada cucu sendiri.
"Ajari anakmu bagaimana bersikap yang baik, bagaimana memperlakukan orang dengan baik. Dia sudah memfitnah cucu saya. Anak sekecil itu sudah bisa melakukan perbuatan seperti yang anakmu lakukan. Bayangkan kelak ia besar nanti, apa yang sanggup ia perbuat demi memenuhi keinginannya?!" Ucap kakek Cakra dengan wajah merah.
Sementara Gunadh hanya bisa diam dan menganggukkan kepala. Tidak sekalipun ia ingin menyela ucapan laki-laki sepuh tersebut.
"Pak ... Sudah ... Nanti tekanan darah bapak naik lagi. Jangan menuruti emosi." Tante Dewi yang duduk di sebelahnya mengelus punggung kakek Cakra. Mencoba menenangkan sang ayah.
"Kamu sudah lihat bagaiman kondisi bapak saya. Tujuan kamu kesini juga sudah terpenuhi. Jangan buat beliau tertekan lagi. Cukup anakmu saja yang membuat bapak masuk rumah sakit, jangan kamu juga." Tante Dewi menatap tidak suka pada Gunadh.
"Maaf kek, maaf Tante saya gak bermaksud membuat kakek sakit atau apa. Saya hanya ingin meluruskan semuanya. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Gunadh menyalami kakek Cakra, yang diterima oleh laki-laki tersebut.
"Hati-hati di jalan." Ucap kakek Cakra singkat.
Gunadh baru saja hendak membuka pintu mobil, ketika seseorang menepuk bahunya.
"Maaf hubungan kamu sama Nandita jadi hancur. Aku ikut andil dalam masalah ini. Aku yang memberikan alamat ini pada Safira. Tapi aku udah menerima karma burukku. Saranku jauhkan Mira dari wanita itu. Dia kejam. Semoga aja dia cepet dapat balasan." Rupanya orang yang menepuk bahu Gunadh adalah Tasya.
"Jadi benar kamu yang menyebarkan video tersebut?" Tatapan Gunadh menukik. Tasya sampai memundurkan langkahnya karena takut.
"Apa salah Nandita terhadapmu hingga kamu tega merusak nama baiknya?" Tanya laki-laki itu lagi.
"Aku tahu aku salah, dan sudah ku bilang aku sudah menerima karma burukku. Semua sudah terjadi, jadi lebih baik selesaikan masalahmu dengan Safira. Sebelum wanita itu berbuat lebih kejam lagi pada Nandita."
"Apa maksudmu?"
"Cari tahu sendiri. Permisi." Tasya segera berlari, masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Gunadh yang semakin pusing oleh ucapan gadis itu. Tasya bukan memberinya solusi tapi teka teki.
Gunadh kembali ke kantor. Melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Sebab sedari tadi Arya sudah menghubunginya.
__ADS_1
Gunadh telah melewatkan meeting dengan klien, ia tidak boleh terlambat untuk penandatanganan kerja sama yang telah disepakati.
Meski dalam suasana hati sedang tidak baik, namun ia tetap harus melakukan pekerjaan sebagai mana mestinya.
Waktu tempuh yang biasa ia habiskan dua setengah jam kini hanya satu jam dua puluh menit ia sudah tiba di kantor.
Pikiran Gunadh menerawang. Rasa marah, menyesal, juga tak berdaya bergelayut di hati laki-laki berusia kepala tiga tersebut.
Bahkan ketika penandatanganan kontrak kerja sama pun, fokus Gunadh terganggu. Sungguh, pengaruh Nandita begitu kuat bagi duda satu anak itu.
🌟🌟🌟
Gunadh memijit pelipisnya, bingung harus melakukan apa pada mantan istrinya itu agar berhenti menganggu kehidupannya.
Bruk
Pintu ruang kerja Gunadh dibuka dengan kasar dari luar.
Sontak Gunadh terkejut, mendongakkan kepalanya yang masih terasa berat.
Tatapan matanya menajam.
"Dad ..." Rupanya Namira yang datang.
"Ada apa? Daddy masih sibuk." Gunadh mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Namira mendekati Daddy nya. Hatinya masih sakit tiap kali mengingat ucapan bik Asih saat di rumah.
"Kata bibik, mommy sama Daddy berpisah gara-gara mommy selingkuh. Mommy ninggalin Mira diasuh sama Daddy, sementara mommy pergi sama cowo lain. Itu semua bohong kan Dad? Bik Asih becandain Mira kan Dad?" Tanya gadis itu dengan perasaan takut. Tidak dapat ia sembunyikan isak tangisnya.
Gunadh bangkit dari kursinya. Menatap Mira sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca besar di samping meja kerjanya.
"Kalau semua ucapan bi Asih benar, kamu mau apa?"
Pertanyaan sang Daddy membuat kaki Namira seakan berubah menjadi jelly.
__ADS_1