Nanditha

Nanditha
BERENDAM TENGAH MALAM


__ADS_3

Detik berlalu menjadi menit, jarum pendek itu pun perlahan berganti posisi. Namun mata Nandita tak bisa terpejam.


Resah di hatinya semakin menjadi tiap kali teringat akan kerumitan yang tengah ia hadapi.


Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas, menyalakannya, kemudian menghubungi nomor seseorang.


"Halo,"


Suara yang sebenarnya enggan ia dengar untuk saat ini. Namun ia harus menyelesaikan masalahnya satu persatu.


"Baru san kita berpisah, kamu sudah kangen sama calon suamimu ini?"


Aslan menggoda Nandita dengan gurauannya.


"Berhenti bicara hal yang bukan-bukan Aslan. Aku sedang tidak ingin bercanda." Suara Nandita terdengar serius dan galak.


Aslan terkekeh.


"Untuk apa kamu menghubungiku malam-malam begini?"


Suaranya kini terdengar lebih serius. Nandita berharap laki-laki itu benar-benar serius saat ini.


"Kenapa kamu diam saja saat Oma meminta kamu melakukan hal itu? Kamu tahu aku akan menolaknya, tapi kenapa kamu diam saja?"


"Kamu mendengar obrolan kami?" Aslan sebenarnya tidak terlalu terkejut, sebab sesaat ia sempat melihat bayangan gadis itu mendekat, ketika perdebatan terjadi.


Nandita diam. Membiarkan pria Turki itu menjawab pertanyaannya sendiri.


"Kalau kamu keberatan, harusnya kamu datang dan bicara pada Oma. Bukan malah bersembunyi dan menguping, seperti seorang pencuri." Sindir Aslan membuat Nandita bungkam.

__ADS_1


"Masalah itu untuk dihadapi Nandita, bukan untuk dihindari." Lanjut pemuda itu lagi.


"Kamu nggak akan mengerti Aslan, aku nggak bisa menolak secara langsung keinginan Oma saat itu juga. Aku nggak mau melihatnya kecewa."


"Kalau begitu ayo menikah ...."


"Aslan ...." Nandita frustasi.


"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu Nandita. Kamu terlalu takut mengambil langkah, yang akhirnya akan merugikan dirimu sendiri. Boleh aku katakan kamu itu pengecut?" Aslan memancing kemarahan gadis itu.


Nandita memejamkan mata.


"Terserah kamu mau memberi aku penilaian seperti apa. Aku tidak perduli tentang itu untuk saat ini. Niatku menghubungimu adalah meminta tolong padamu, tolong ... Beri pengertian pada Oma kalau kita tidak bis memenuhi keinginan dia."


"Bukan kita Nandita, tapi kamu. Aku setuju dengan keinginan Oma. Bukankah aku sudah bilang, kalau kamu tidak bersedia maka aku yang akan mengikuti keyakinan kamu " suara Aslan terdengar bersungguh-sungguh.


Gadis itu kehabisan kata. Bicara dengan pemuda itu tidak akan menemukan jalan keluar. Hasilnya akan tetap sama. Selain membuatnya sakit kepala, tidak ada hal mengenakkan lain yang ia dapatkan.


Nandita melirik mesin pengatur waktu yang tiap satu jam sekali berdenting.


"jam sebelas malam." gumamnya.


Rasanya tidak mungkin menghubungi orang-orang dari negaranya.


Nandita memaksa memejamkan mata, membayangkan hal-hal menyenangkan, berharap bisa membawanya ke alam mimpi. Namun nihil.


Hingga waktu menunjukkan pukul satu dini hari, gadis itu masih tetap terjaga.


Merasa kesal, ia akhirnya bangkit dan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Menyiapkan air hangat sembari menyibukkan diri membersihkan ruangan kecil itu, Nandita berharap bisa merasa semakin lelah sehingga ia dapat beristirahat.


Gadis itu mandi di malam hari. Merendam dirinya dalam air hangat, sembari mendengarkan musik melow kesukaannya akhir-akhir ini.


Tanpa sadar ia terlelap di dalam bath up. Hingga rasa kaku pada lehernya membuat gadis itu terjaga.


Dengan malas ia mengeringkan tubuh, lalu berpakaian ala kadarnya. Kemudian segera berbaring di atas ranjang empuknya.


Hidup memang seperti itu. Tidak selamanya kenyamanan dan kemegahan bisa membuat hati seseorang menjadi tenang. Ada kalanya kita tak berdaya atas diri kita sendiri. Seolah hati dan pikiran saling berkhianat, menciptakan kebimbangan yang justru membawa kita dalam api kegamangan.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_


permisi ... aku mau promosi lagi 🤭🤭🤭


Sembari nunggu GunTha, boleh banget kamu mampir di sini ⬇️⬇️


***


.Janji hati Raditya dan Andhini, sampai pada kebahagiaan pernikahan, paska Andhini di wisuda mereka melangsungkan pernikahan mewah yang di cita-citakan.


Berjalannya waktu tak ada yang lain selain kebahagiaan dan kedua orangtua mereka yang bangga dengan keharmonisan rumah tangga anaknya, Tahun berganti, Andhini mulai gelisah dengan keadaan dirinya yang belum menunjukkan adanya perubahan di tubuhnya, Andhini menginginkan anak dan semua itu membuatnya begitu cemas hingga jatuh sakit.


Dalam keadaan sakit Andhini dirawat seorang perawat yang di ambil dari yayasan yatim-piatu bernama Karina. Dari kedekatan mereka timbul niat Andhini menjodohkan suaminya dengan Karina, dan menghasilkan satu kesepakatan diatas kertas.


Terkadang cinta memang tak ada logika, sanggup melawan arus dan menerjang rintangan apapun, apalah artinya kekayaan kalau tak memberinya kenyaman.


Apa Karina juga mau menerima tawaran untuk mengubah kehidupannya?


~ Andhini : 'terkadang atas nama cinta seseorang harus rela berkorban, walaupun itu sesuatu yang sangat dicintainya.'

__ADS_1


~ Raditya : sanggupkah aku menjalani apa yang diminta istri tercintanya? walaupun itu di luar kewajaran.'



__ADS_2