Nanditha

Nanditha
SAHABAT TERBAIK


__ADS_3

Kamu tahu luka apa yang paling sulit disembuhkan?


Luka hati.


Meilin menarik tangan Firda, dengan alasan menemaninya ke kamar sang sahabat.


"Aduuuh Lin jangan tarik-tarik aah ..."


"Temani cari bik Asih." Meilin masih tetap menarik tangan sang sahabat meski Firda berusaha berontak.


Setelah keluar dari kamar Mira, Meilin melepas cengkeraman di tangan Firda.


"Kalian kenapa sih kayak kesel banget sama aku? Emang aku salah apa?" Firda menatap garang gadis bermata sipit itu.


Ia kesal. Di dalam, Gayatri membentaknya, sekarang Meilin juga menyeretnya dengan kasar.


"Kamu tau nggak video apa yang lagi viral itu?" Tanya Meilin pelan, takut terdengar penghuni rumah.


Firda mengerutkan alis.


"Mana aku tahu, kan aku nggak dikasih liat sama mama aku, mangkanya aku nanya sama Mira. Itu aja, bikin kalian heboh!" Ketusnya dengan tangan menyilang ke depan.


Firda tidak bermaksud membuat Mira sedih, hanya saja ia benar-benar tidak tahu masalah apa yang menghampiri sahabatnya.


Bukankah mereka kemari untuk bersenang-senang, merayakan kembalinya Namira dari rumah sakit?


"Ehm ..." Tiba-tiba suara dari arah dapur mengejutkannya.


"Kok kalian di sini? Mau ke mana?" Rupanya Gunadh sejak tadi sudah memperhatikan kedua gadis itu.


Ia yang sedang mengambil air dingin di dapur, ketika mendengar perdebatan mereka.


"Tau nih om, pada nggak jelas semuanya. Tau gini aku mending nggak usah ikut aja." Sahut Firda, dengan wajah merah menahan kesal.


"Nggak gituuu kamu iissh ..." Meilin mencubit lengan temannya.


Mereka saling tatap dengan penuh permusuhan.


Gunadh memperhatikan semua itu.


"Boleh om minta sebentar, waktu kalian berdua?" Pria dingin dan datar itu, kini tengah belajar menjadi orang yang lebih hangat, demi sang putri.


"Bo-boleh o-om ..." Meilin menjawab dengan gugup.


"Mari ikut om." Ajak Gunadh


Dua gadis beranjak remaja itu saling sikut. Firda yang masih kesal pada Meilin menolak tangan sahabatnya, yang hendak menggamit lengannya.

__ADS_1


Sementara, Meilin yang tahu apa yang akan dibicarakan Gunadh menjadi takut.


Pria dengan wajah dingin itu, pasti mendengar perdebatan mereka.


"Duduk," pinta Gunadh lembut, ketika mereka tiba di taman belakang.


Tanpa membantah, mereka menuruti ucapan Gunadh.


"Makasih ya kalian bertiga tetap mau menjadi teman untuk Mira dalam keadaan apapun." Gunadh memulai obrolan.


Keduanya mengangguk.


"Kalian pasti tau berita yang lagi heboh saat ini kan?" Gunadh bertanya sembari menatap satu persatu wajah di depannya.


Meilin menunduk, sementara Firda terlihat masih bingung.


"Tadi om dengar kalian ribut soal ..." Gunadh menarik nafas berat.


"Video mommynya Mira yang lagi viral. Benar?" Berat sekali rasanya Gunadh mengatakan itu.


Namun ia harus memastikan, putrinya dikelilingi orang-orang yang tepat.


"Memangnya itu video apa om? Soalnya aku nggak boleh liat sama mama." Tanya Firda polos. Meilin sampai membelalakkan mata mendengar pertanyaan Firda.


"Ngapain kamu nanyain itu siiih ..." Bisik Meilin. Ia dengan gemas kembali mencubit lengan sahabatnya.


Keduanya mengangguk. Meski Firda belum puas dengan jawaban Gunadh, dan ingin bertanya lebih banyak lagi, namun tatapan sahabatnya membuat ia bungkam.


"Om percaya kalian anak-anak yang baik. Tetap jadi teman yang baik untuk Mira ya. Apapun yang kalian ketahui soal onty Safira, jangan merubah perasaan sayang kalian sama Mira."


"Iya om ... Aku akan tetap jadi sahabat Mira kok. Kami semua sayang sama Mira." Ucap Meilin tulus.


"Orang tua kalian bagaimana?" Tanya Gunadh ragu. Takut pandangan mereka berubah terhadap putrinya, karena kasus ini.


"Kata mama aku, Mira ya Mira, mamahnya ya mamahnya. Mama aku juga bilang, kita nggak bisa minta lahir dari ibu mana, dari keluarga bagaimana, semua itu udah takdirnya Tuhan. Jadi kalau orang tuanya yang salah, selama anaknya berbuat baik kita nggak boleh jahatin anaknya." Penjelasan Meilin membuat Gunadh terharu. Banyak yang dengan tulus menyayangi anaknya, tanpa memandang siapa dan bagaimana orang-orang di sekitarnya.


"Makasih ya, tetaplah menjadi anak-anak baik. Kalau gitu om permisi dulu. Masih ada kerjaan yang belum beres." Ucap Gunadh setelah sesaat tadi mengelus rambut Meilin dan Firda bergantian.


"Lin ... Memangnya video apa sih? Sumpah aku nggak tau." Firda mengangkat dua jari kanannya membentuk huruf V.


"Jadi kamu beneran nggak tahu? Bukan pengen godain Mira aja?" Meilin memastikan.


Firda mengangkat bahunya, dengan mulut tercebik.


Meilin pun akhirnya menceritakan apa yang mamanya katakan tadi sebelum ia berangkat ke rumah Mira.


"Kata mama aku, mommynya Mira terlibat kasus video po**o. Sekarang lagi viral, mangkanya aku dikasih tau sama mama untuk nggak bahas soal mommynya di depan Mira. Kasihan kan dia, kayak tadi pas kamu ngomong gitu, mukanya langsung pucat."

__ADS_1


Firda ternganga, kaget sekaligus merasa bersalah mendengar penuturan Meilin.


"Jadi kata mama aku video viral itu, video begituan? Ya ampun aku kok jahat banget ya ..." Firda memukul bibirnya berulang kali.


"Udah, jangan disesali. Minta maaf aja nanti sama Mira. Kamu pukul bibir kamu sampe dower juga, kalimat tadi nggak mungkin masuk lagi kan?" Meilin menenangkan sahabatnya.


"Udah yuk." Meilin bangkit dan berjalan memasuki rumah besar itu dengan langkah lebar.


"Lin tungguuu ...." Teriak Firda, namun sahabatnya itu tidak perduli. Tetap berjalan ke arah kamar dimana Mira berada.


"Ketemu bukunya?" Tanya Mira yang kebetulan duduk menghadap pintu. Hingga saat Meilin masuk, ia langsung menyambutnya dengan pertanyaan.


"Ah, oooh nggak jadi Ra, nggak enak ganggu bik Asih lagi sibuk masak dianya." Sahut gadis bermata sipit itu tergagap.


"Terus tadi kemana aja? Lama bangeet?"


"Habis jalan-jalan, si Firda lagi pengen curhat katanya."


"Lhaaa kok aku?" Protes gadis itu dari belakang Meilin. Dan mendapat hadiah sikutan dari sahabat di depannya itu.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


makasih teman-teman yang sudah setia sampai sejauh ini.


maaf alurnya lambat, bukan sengaja muter-muter tapi memang kisahnya panjang.


oh ya seperti biasa, aku nunggu


like,


komen,


vote,


dan gift nya untuk GunTha ya ...


sembari menunggu, mari intip dulu kisah lain karya temanku yuk ...


Perjalanan kisah cinta seorang CEO yang hilang ingatan dan jatuh cinta pada kurir yang telah menabraknya yang ternyata cinta masa kecilnya.


"Cinta itu datang karena terbiasa bersama," ucap Sean Alinskie dengan wajah datarnya.


"Bukan!" bentak Laluna yang tidak mau kalah.


"Cinta itu bisa tumbuh karena kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan," ucap Laluna dengan senyuman manisnya.


Bagaimanakah kisah cinta CEO dingin dengan gadis kecilnya itu? Apakah rahasia di antara mereka bisa terbuka satu demi satu dan memperkuat ikatan cinta mereka?

__ADS_1



__ADS_2