
"Hai Ndra, Sat, kenapa gak bilang mau kesini?" Tanya Nandita yang mendapati sahabatnya duduk di sofa ruang tamu. Ia pun ikut mendaratkan tubuhnya di sofa, samping Candra.
"Kak ..." Malikha yang ada di belakang sang kakak, juga ikut menyapa pasangan sejoli itu. Dan dibalas senyum serta anggukan oleh keduanya.
"Aku kangen tahu sama kamu, sengaja bikin supres." Candra menjawab . Masih sibuk mengunyah pisang goreng hangat yang di hidangkan bunda Santi barusan.
"Supres ... Inggris murka nanti kamu salah sebutin kata mereka." Nandita
Sementara Satya hanya diam saja, menatap Nandita dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ndra, pacarmu tuh liatin aku segitunya." Adu Nandita.
Candra menoleh ke arah Satya. Kemudian kembali sibuk dengan sisa pisang goreng di tangannya.
"Kenapa gak cerita ada masalah seheboh ini?" Tanya Satya.
"Masalah apa?" Nandita pura-pura tidak tahu.
"Gak usah kayak orang bodoh kamu. Aku udah tahu ceritanya." Ucap Satya masih dengan wajah datar.
Mungkin ia merasa kesal, sebab Nandita tidak memberinya kabar, ketika gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
Suasana hening beberapa saat. Nandita masih mengumpulkan kekuatan untuk kembali membahas masalah yang tengah menghampiri.
"Apa yang mesti aku ceritakan? Kalian pasti udah tahu kan apa yang terjadi?" Tanya Nandita akhirnya.
"Awalnya kami gak tahu Ta ... Kan pas baru pulang itu, aku tepar. Tiga hari gak pegang ponsel. Satya juga ikutan pusing soalnya mama sama papa aku lagi ke luar kota. Kiara juga lagi liburan sama temen-temennya." Jelas Candra.
"Terus kalian tahunya kapan? Darimana?" Nandita penasaran.
"Yank ... jelasin yank" Titah Candra pada sang kekasih.
"Awalnya anak-anak yang ikut silat itu satu persatu keluar grup. Aneh kan? Lalu aku japri mereka. Ada beberapa yang balas katanya gak di kasih sama ortunya. Ya aku hanya bisa pasrah, mungkin banyak kegiatan pikirku.Tapi besoknya ada satu anak baru bales chat, dia bilang dia kecewa sama kamu. Gak nyangka ternyata guru yang dia kagumi di sekolah, maaf ya, katanya gak punya akhlak. Aku kaget donk, kok anak kecil bisa ngomong tajem begitu? Ngatain gurunya sendiri gak ada akhlak. Terus aku telepon anak itu. Diangkat, tapi ibunya yang ngomong, dijelasin lah kalau kamu sudah jadi bahan gosip di grup-grup orang tua, tempat kamu ngajar. Katanya kamu pelakor. Sampe dilabrak sama anaknya Gunadh. Emang bener ya kamu pernah dilabrak?" Terang Satya panjang lebar.
Nandita merasa kaget dengan apa yang di dengarnya.
"Pantesan sekolah kirimin aku e-mail." Gumam Nandita namun masih didengar oleh Candra.
"Pihak sekolah udah tahu?" Tanya Candra
Nandita hanya mengangguk lemah. Menyadari kalau ia benar-benar dipermalukan.
"Mangkanya aku diberhentikan ngajar di sana."
__ADS_1
Satya dan Candra membolakan matanya.
"Kamu dipecat?" Tanya Candra dan Satya kompak.
Kembali, nandita hanya mampu menganggukkan kepalanya.
Meski kenyataannya seperti itu, namun berat bagi Nandita mengakuinya.
"Ini gak bisa dibiarin Ta. Kamu mestinya nuntut keadilan donk ..." Protes Candra
"Untuk apa Ndra? Aku gak mau tambah viral. Udah biarkan saja lah."
"Tapi ini udah kemana-mana tau beritanya. Mau kamu selamanya bakal dicap pelakor? Padahal kenyataannya gak gitu. Kamu udah kaya wanita-wanita di film azab tau gak sih. Yang ngalah nunggu orang dapat hidayah. Ya mana bisa? Kebenaran itu dibuktikan, diperjuangkan, bukan pasrah." Candra terlihat sangat kesal. Sampai Satya memperingatinya dengan menggenggam tangannya lebih erat.
"Sorry Ta, aku emosi." Ucapnya setelah sadar mungkin kalimatnya membuat Nandita tersinggung.
"Gak apa-apa aku seneng malah, tandanya kamu perduli." Sahut Nandita tersenyum tulus.
"Ish ini yang aku gak suka tau kak. Gak cocok kak Dita jadi melow begini." Malikha menimpali.
Semua beralih menatap anak bungsu tersebut.
"Kak Dita itu bucin sama mas Gunadh. Sebucin, sampai dia mau mengalah kayak sekarang ini. Ini bukan dia bangeet. Kak Dita yang aku kenal itu garang, gak akan terima kalau dilukai. Nah ini? Sudah tahu dampaknya kemana-mana, suruh melabrak bunglon satu itu aja dia gak mau."
"Itu si Safira dibilang bunglon sama dia." Sahut Nandita terkekeh.
Kemudian ia melanjutkan kalimatnya lagi.
"Sebenarnya aku udah sempat cari Safira, dan pas ketemu di rumahnya mas Gunadh ---"
"Kamu labrak dia?" Tanya Candra antusias.
"Niatnya gitu ... Tapi endingnya kaya di film-film." Sahut Nandita lemah.
"Kaya film gimana?"
"Ya aku gak tahan sama mulut lemesnya dia. Ngatain aku sama ngomong aneh-aneh lah. Kesel, aku gampar aja dia. Eeh mas Gunadh datang. Ya aku jadi berantem sama mas Gunadh. Habis itu aku pergi. Sampe sekarang gak komunikasi lagi sama dia." Ucap Nandita. Akhirnya ia menceritakan masalahnya pada Candra
"Aku masih sakit hati sama mas Gunadh Ndra. Gak nyangka, rasa percayanya sama aku itu masih tipis banget. Dia masih mudah dibohongi sama anaknya. Masih mudah terbawa arus jadi gak bisa berpikir jernih. Itu sebenarnya yang bikin aku males meluruskan masalah ini. Biarkan dia tau sendiri, sadar sendiri kalau apa yang dilakukan sama aku waktu itu salah dan nyakitin aku banget." Nandita
"Sabaar Ta ..." Candra mengelus punggung Nandita lembut.
"Lagian aku gak benar-benar diam aja kok. Nanti juga bakal ketahuan Safira itu kaya gimana." Nandita
__ADS_1
"Emang apa yang bakal kamu lakukan?"
"Lihat nanti aja." Sahutnya dengan senyum kecil di bibirnya.
"Ngeri aku liat senyum kamu. Kaya psikopat Nemu mangsa." Cibir Candra.
"Sembarangan kamu!" Nanditha.
"Eeh ngomong-ngomong, rencana kamu kedepan gimana?" Tanya Satya.
" Aku sih pengen nyari kerja di luar. Siapa tahu Nemu bule ganteng dan tajir di sana." Sahut Nandita dengan senyum kudanya
"Aku nanya serius!" Sungut Satya
"Aku serius. Masih nyari tempat dan informasi yang lengkap. Doakan ya semoga segera bisa berangkat." Pinta Nandita.
Candra menatap sedih sahabatnya itu.
"Kenapa Ta?" Tanyanya dengan tatapan dalam ke manik mata Nandita
"Kenapa apanya?"
"Kenapa sejauh itu kamu harus berlari? Sebegitu berartinya kah Gunadh untuk kamu?"
"Hahahaha siapa bilang aku lari? Aku naik pesawat." Sahut Nandita tertawa sumbang.
Namun hanya ia yang tertawa sementara yang lain menatapnya dengan tatapan iba.
"Kalian kenapa sih? Kalian pikir aku selemah itu? Patah hati kemudian lari ke luar negeri? Heh, ini bukan cerita novel, yang bisa pergi kemana aja tanpa mikir biaya."
"Lalu kamu, apa coba namanya?"
"Aku can manfaatin momen aja. Kerja di luar adalah mimpi aku sebenarnya. Hanya saja, ayah dulu kurang setuju. Sebab aku belum punya pengalaman kerja. Saran ayah nyari kerjaan di sini dulu, sambil mempersiapkan diri kalau mau berangkat. Tapi faktanya, aku malah larut sama kerjaan itu dan ---"
"Pacaran" Potong Satya. Nandita hanya tersenyum mengiyakan ucapan sahabatnya.
"Nah sekarang, semua yang bikin aku melupakan niat awalku udah gak ada. Jadi gak salah kan kalau aku memulai menata mimpiku dulu?" Semua mengangguk, mengerti dengan niat Nandita.
"Terus sekarang tujuan utama kamu negara mana?"
"Ini masih cari info Ndra ... Kalau bisa sih aku pengen Eropa. Tapi belum tahu juga nanti pastinya di mana."
"Baiklah ... Apapun keputusan kamu, semoga itu yang terbaik. Aku berharap kamu selalu baik-baik saja dimanapun kamu berada." Ucap Candra tulus, menghampiri lalu memeluk Nandita erat.
__ADS_1