
Tiba di rumah orang tuanya, Nandita disambut tatapan tajam dari sang bunda. Sementara Gunadh, hanya bisa tersenyum kaku.
"Om, Tante ..." Ucap laki-laki itu.
"Ngapain bengong di sana, ajak nak Gunadh masuk ta." Bunda Santi bicara dengan mata menyorot tajam pada anaknya. Kemudian ia melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Nandita masih berdiri di teras.
"Yuk mas."
Nandita terlihat gelisah. Apalagi melihat sang ayah juga ikut berlalu, tanpa berkata apapun. Hanya memperlihatkan senyum tipis, dan usapan kecil di kepalanya.
"Kenapa yank? Kok kaya takut gitu?"
"Ayah sama bunda pasti udah tahu soal video itu mas. Mereka, terutama bunda pasti bakal ngomel nanti." Keluh Nandita.
Gunadh tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Nandita.
"Kamu itu sama preman berani, tapi masa sama omelan bunda takut? Lagian kata kamu semua keluarga kamu udah tahu." Gunadh menatap Nandita.
"Mas gak tahu sih, kalau bunda marah itu seram. Jangankan anaknya, ayah aja gak bisa melawan. Kemarin aku gak kasih ijin Ikha buat kasih tahu mereka. Biar mereka tahunya dari aku langsung.
"Masuuk Taaaa ... Gak usah gosipin bunda di luar!"
Suara bunda menggema.
"Tuh kan ... Dia tahu kalau kita omongin."
"Udah ... Masuk aja yuk, kita hadapi berdua. Nanti biar aku yang jelasin sama bunda." Gunadh membesarkan hati gadisnya.
Mereka melangkah beriringan. Dengan Nandita yang masih merasa was-was.
"Cieee udah kaya pengantin mau ke pelaminan aja ..." Suara Malikha terdengar mengejek, membuat Nandita semakin kesal.
"Awas kamu dek. Dasar tukang adu." Umpatnya pada sang adik, namun dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ayah dan bunda sudah menunggu mereka di ruang tamu. Dengan ragu, Nandita duduk berdampingan bersama Gunadh.
"Ikha ... Buatkan mas Gunadh minum dulu." Perintah sang bunda.
"Ya Bun."
"Biar aku aja Bun ..."
Sahut dua gadis bersamaan.
Mata bunda menyorot tajam pada anak ke duanya.
"Biar adek kamu aja. Kamu di sini aja temani nak Gunadh." Suara ibu masih terdengar dingin.
Nandita melirik sang ayah, berniat meminta pertolongan dengan wajah memelas.
Sang ayah hanya menggeleng dengan tangan terlipat di depan dada.
Merasa tidak ada harapan sang ayah akan membantu, segera Nandita beringsut, mendekati sang bunda. Dipeluknya wanita paruh baya itu dari samping.
Pelukan erat yang membuat sang ibu susah bernafas.
"Maaf Bun ... Semua gak kaya yang bunda kira. Aku mau jelasin sama bunda sama ayah juga, tapi jangan marah."
"Lepas ish kamu ini, gak malu apa di depan calon suami masih aja gelendotan begini." Bunda Santi merasa risih dengan kelakuan anaknya.
Gunadh hanya tersenyum, menundukkan kepala dengan kedua jari tangannya bertaut.
"Mas, jelasin dong sama ayah sama bunda." Nandita menatap Gunadh. Kesal juga dirinya, menunggu pembelaan laki-laki itu, tapi yang ditunggu tak kunjung bersuara.
"Mas Gunadh ini tehnya." Malikha meletakkan cangkir di atas meja tepat di hadapan Gunadh. Dan cangkir satu lagi ia letakkan di hadapan sang ayah, yang duduk di samping sang bunda.
"Ni yah tehnya." Ucapnya lagi
__ADS_1
"Lho dek, kakak gak kamu buatkan juga?" Nandita menatap sang adik, mengendurkan pelukannya di tubuh bunda.
"Kan kata bunda, aku suruh buat untuk mas Gunadh aja."
Malikha menjawab dengan wajah polosnya. Meski dalam hatinya ia tertawa karena bisa mengerjai sang kakak.
Kapan lagi dapat kesempatan balas dendam?
Nandita mendengus. Kesal dengan sikap Malikha yang semakin menyebalkan menurutnya.
"Gak ada jatah tambahan bulan depan untuk kamu." Ucapnya sambil beranjak dari samping sang bunda. Berharap perdebatannya dengan malikha, bisa menyelamatkan dirinya dari pembahasan soal lamaran itu.
"Eeiit mau kemana kamu?"
Dengan cepat bunda Santi menarik telinga Nandita.
"Katanya bunda gak mau dipeluk, ya udah aku balik duduk di sebelahnya mas ..." Nandita tak melanjutkan ucapannya. Kepalanya mengikuti arah tangan bunda menarik telinganya, agar tidak terlalu sakit ia rasakan.
"Bunda ..." Ayah membuka suara. Dan dengan otomatis kuping Nandita terlepas dari tangan sang bunda.
Gadis itu menggosok kupingnya yang terasa panas akibat ditarik sang bunda.
Hilang sudah kesan anggun, mandiri dan wibawa yang diperlihatkan gadis itu di luar sana.
Gunadh setia menjadi penonton drama keluarga itu. Ada sedikit rasa iri melihat kehangatan keluarga calon istrinya.
"Ya sudah sekarang bilang, mau jelasin apa sama bunda?" Meski sudah tidak lagi menjewer kuping putrinya, namun aura menakutkan masih bisa Nandita rasakan.
"Mas," Nandita menunjuk Gunadh dengan dagunya.
"Bukan Gunadh, tapi kamu yang bunda tanya."
Sang bunda tahu, Nandita pasti bingung harus menjelaskan apa. Namun, sebagai ibu ia ingin mendengar, dan ingin melihat sejauh mana Nandita yakin akan pilihan hidupnya.
"Awalnya Dita gak tahu Bun, kalau mas Gunadh akan lamar Dita. Dia bilang cuman jalan-jalan aja. Pas sampai tempat itu, di sana tuh ramai banget. Terus dia lamar aku. Masa aku bilang gak mau?"
"Aku gak tega dia malu di depan banyak orang. Ya ... Meskipun aku kesal juga sama dia. Jadi aku Nerima lamaran dia."
Bunda menatap sendu wajah sang anak. Ada rasa bahagia sekaligus sedih menyelusup ke dalam hatinya.
Dua anak gadisnya kini sudah dewasa, sudah akan dipinang oleh orang lain. Dan keduanya kompak, melakukan lamaran tanpa sepengetahuan dirinya. Bersyukur Nandita masih bisa ia interogasi. Berbeda dengan Bianca, yang hingga kini belum bisa pulang untuk menerima sanksi darinya.
Tanpa terasa air matanya menetes. Nandita yang melihat menjadi panik, takut kalau sang ibu tidak merestuinya.
Ia menggenggam tangan bundanya erat, menggoyangkannya sebagai usaha untuk lebih meyakinkan.
"Bund ... Aku sama mas Gunadh gak buru-buru menikah. Kami sepakat untuk tunangan dulu. Itu juga kalau ayah sama bunda setuju." Nandita menundukkan kepala saat mengatakan kalimat terakhir.
"Gak terasa anak bunda udah besar, udah dewasa. Sebentar lagi akan jadi milik orang lain." Tanpa menanggapi ucapan Nandita, sang bunda malah mencurahkan oerasaannya. Air mata wanita paruh baya itu semakin deras mengalir, namun sebisa mungkin ia menahan isaknya.
"Bunda senang untuk kebahagiaan kalian. Tapi bunda juga sedih, sebentar lagi anak bunda akan jadi milik orang lain." Kini tangis bunda tak mampu lagi ia sembunyikan. Membuat mata nandita juga berkaca-kaca.
"Bunda ... Dita akan tetap jadi anaknya ayah sama bunda. Tetap menjadi putri kalian selamanya." Air mata Nandita akhirnya jatuh juga.
Gunadh tidak tahan melihat kekasihnya menangis. Begitu juga dengan calon ibu mertuanya.
"Tante ... " Gunadh mendekat, berlutut di hadapan bunda Santi.
"Aku memang melamar Dita sebagai istri ku. Tapi bukan berarti aku akan membuat dia menjadi hak milikku seutuhnya. Jangan berpikir tante akan kehilangan seorang putri, justru aku berharap Tante bersedia menganggap ku sebagai anak tante juga."
Gunadh menatap dalam calon ibu mertuanya.
Gunadh mengambil nafas dalam. 'Ini saat yang tepat' pikirnya. Kemudian ia menatap bergantian wajah ayah Darma dan bunda Santi.
"Bila kemarin aku melamar Nandita sebagai istriku, hari ini aku melamar ayah dan bunda sebagai orang tuaku. Bersediakah kalian menerima aku sebagai anak laki-laki kalian?" Ucapnya dengan tulus.
"Repotkan aku, minta apapun padaku, tegur aku saat berbuat salah, aku akan sangat bahagia untuk itu."
__ADS_1
"Mas ..." Nandita sangat terharu mendengar ketulusan hati Gunadh.
"Nak ..." Hanya itu ucapan yang keluar dari bibir kedua orang tua itu.
"Boleh aku memanggil kalian sama seperti Nandita?" Pintanya lagi
"Ya nak ... Kami orang tuamu kini." Ayah Darma berucap, setelah beberapa saat diam.
Pria paruh baya itu bersyukur, ada laki-laki yang begitu tulus mencintai putrinya. Bukan hanya menginginkan anaknya saja, tapi juga menginginkan keluarganya.
Ia menepuk-nepuk dengan lembut bahu Gunadh yang masih bersimpuh di depan sang istri.
"Bangkitlah," ucapnya lagi yang di turuti oleh Gunadh.
Akhirnya suasana haru berakhir. Bunda dan Nandita menyiapkan makan malam, sementara ayah dan Gunadh masih mengobrol di ruang tamu.
"Kak ... Jalan-jalan yuk" Malikha muncul dan memeluk sang kakak.
"Ke mana?"
"Ke mana aja ..."
"Gak ah, males kalau gak ada tujuan."
"Biarkan kakakmu istirahat dulu dek ... Masa baru sampai udah diajak pergi lagi."
Malikha memanyunkan bibirnya seraya menjauh dari dapur.
Nandita tidak ikut berkomentar. Ia juga merasa sangat lelah, rasanya ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
"Panggil yang lain Ta." Perintah sang bunda saat semua hidangan sudah siap.
"Ya Bun." Gadis itu berlalu menuju ruang tamu untuk memanggil dua laki-laki yang tengah asyik mengobrol. Entah apa yang dibahas.
Setelahnya ia juga memanggil Malikha yang ada di dalam kamarnya.
"Besok rencananya mau kemana aja?" Bunda bertanya.
"Mau ke rumah kakek dulu Bun, habis itu mungkin langsung ke rumah om." Nandita menjawab. Sementara yang lain hanya menyimak sambil asyik menikmati makanan yang tersaji di piring masing-masing.
"Besok, kalau dengar omongan gak ngenakin, gak usah diambil hati ya. Jangan ribut di depan kakek, kasihan udah sakit-sakitan." Kini ayah yang bicara.
Nandita dan Gunadh saling pandang. Kemudian Gunadh menjawab
"Tenang aja yah, aku yang jadi pawangnya Dita besok." Kelakar laki-laki itu.
Yang lain hanya tertawa mendengar gurauan Gunadh. Hanya Nandita yang tampak kesal dengan bibir mengerucut.
Obrolan mereka pun berlanjut hingga makan malam usai, dan berpindah tempat ke ruang tv.
Waktu menunjukkan pukul 22.30 barulah mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing. Seperti biasa, saat Gunadh menginap, kamar Nandita akan ditempati oleh laki-laki itu. Sementara dia, tidur bersama Malikha.
"Gimana kabar Dapur Kita dek?" Tanya Nandita.
Dapur Kita, adalah nama usaha olahan daging yang mereka jalani bersama.
"Lancar kak, besok aku kasih liat pembukuannya."
"Terus Sasa gimana?"
"Aku suka, dia orangnya pintar. Aku terbantu sama kehadiran dia."
"Syukurlah."
Obrolan mereka terhenti. Kedua gadis itu sudah terlelap, begitupun penghuni rumah yang lain.
Hari ini terlewati dengan baik. Nandita dan Gunadh sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Nandita. Berharap besok hal yang sama juga akan mereka dapatkan di rumah kakek Cakra, dan juga Om serta Tante Nandita yang lainnya.
__ADS_1