Nanditha

Nanditha
RENCANA LIBURAN


__ADS_3

Onty Eby dan uncle Murat yang kebetulan sedang berada di rumah, menyambut kedatangan Gunadh dengan ramah.


"Kapan kamu tiba?" Tanya uncle Murat, saat menemaninya di ruang tengah.


"Baru saja uncle, cek in hotel, setelah itu menjemput dia." Ucap Gunadh, sembari menunjuk ke arah Nandita yang baru keluar dari dapur, membawa teh khas Turki untuk dihidangkan.


Tatapan penuh rindu yang tidak bisa Gunadh samarkan, membuat uncle Murat tersenyum melihatnya.


"Kenapa sewa hotel segala? Di rumah ini masih ada beberapa kamar yang kosong, kamu bisa menempati yang mana saja kamu mau,"


"Maaf uncle, tapi saya sudah terlanjur booking hotel sejak dari Indonesia." Sahut Gunadh sopan, masih tetap dengan gaya kakunya.


Mereka berdua asyik berbincang, menghabiskan waktu menunggu jam makan malam tiba.


Onty Eby dan uncle murat kompak memaksa Gunadh untuk makan malam di rumah mereka, membuat laki-laki itu mau tidak mau harus menyetujuinya. Ia merasa tidak enak hati menolak permintaan orang tua angkat kekasihnya itu.


Di dapur, Nandita yang sibuk membantu onty Eby menyelesaikan pekerjaannya, hanya diam saja tidak banyak bicara.


Sikapnya menarik perhatian onty Eby yang sejak tadi ingin menggodanya. Namun melihat sikap Nandita yang hanya diam seolah tengah memikirkan banyak hal, ia pun urung melakukannya.


"Ta, ada apa?" Tanya wanita itu akhirnya, tidak tahan memendam rasa ingin tahunya. Ia mendekati Nandita yang tengah termenung di depan bak cuci piring.


Nandita yang merasakan bahunya ditepuk dari belakang, terkejut dan menoleh.


"Kenapa bengong? Kamu ada masalah?" Tanya wanita itu khawatir.


Nandita menatap onty Eby dengan wajah memelas,

__ADS_1


"Onty, aku merasa bersalah sama mas Gunadh," ucap gadis itu sendu.


"Ta ... Onty kan sudah bilang, perasaanmu itu wajar. Toh kamu tidak mengkhianatinya dengan menjalin hubungan lebih dengan Aslan kan?" Tanya Onty Eby, yang tahu maksud ucapan gadis itu.


Nandita mengangguk.


"Bahkan setelah dia berangkat, kamj sama sekali nggak pernah berkomunikasi."


"Ya sudah. Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu. Jangan memikirkan hal yang bukan-bukan. Jalani saja apa adanya. Percaya sama onty, nanti perasaanmu pasti akan kembali padanya seratus persen. Apalagi melihat pengorbanan dia sampai sejauh ini. Rela mendatangimu, meski harus menghabiskan waktu yang tidak sebentar berada di udara. Belum lagi dia punya pekerjaan yang harus di tinggalin demi bertemu kamu di sini. Masa hatimu nggak akan tersentuh dengan siap manisnya sih?" Wanita paruh baya itu mencoba menghibur hati Nandita.


"Sudah, sekarang tolong bantu onty sini. Nggak usah di cuci dulu perabotan itu. Nanti sekalian kita bersihkan."


Wanita itu menyerahkan spatula pada Nandita, meminta gadis itu mengaduk bahan makanan yang baru saja di gorengnya.


Mereka melanjutkan pekerjaan mereka di dapur. Onty Eby sibuk meracik makanan khas, yang Nandita sendiri kurang faham. Sementara gadis itu bertugas menjadi asisten, membantu apa saja yang dibutuhkan wanita berhijab itu.


Gadis itu sibuk memerhatikan cara onty Eby memasak yang cukup gesit.


"Tunggu aja sampai warnanya berubah agak kekuningan. Jangan lupa diaduk Ta, biar nggak gosong."


Nandita tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sembari melakukan apa yang diperintahkan oleh wanita yang saat ini tengah sibuk dengan iga dan bumbu marinasi.


Setelah lebih dari satu setengah jam mereka berdua berkutat dengan bumbu dan bahan makanan, akhirnya menu makan malam siap mereka hidangkan.


"Kamu mandi dulu Ta, kasih tau Gunadh juga untuk membersihkan diri. Habis itu kita makan malam bersama." Tita onty Eby.


"Iya onty,"

__ADS_1


Tidak menunggu lama, gadis itu pergi menuju kamarnya, mengambilkan Gunadh handuk bersih untuk laki-laki itu gunakan di kamar tamu, dan ia pun membersihkan diri di dalam kamarnya.


🌟🌟🌟


"Habis ini kalian langsung berangkat?" Tanya uncle Murat, ke arah Gunadh.


"Iya uncle." Sahut Gunadh sembari memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Kmu bawa kendaraan? Atau mau pakai mobil uncle saja, untuk memudahkan kalian nanti."


"Nggak usah uncle, kamu pakai taksi saja." Sahut Gunadh tidak enak hati.


"Kalian hati-hati nanti ya, kamu tolong jaga Nandita dengan baik."


"Pasti uncle, saya pasti melakukannya."


Obrolan dua pria itu Nandita dengar dengan seksama. Kemana Gunadh ingin mengajaknya pergi? Belum ada obrolan apapun diantara keduanya. Kenapa Gunadh lebih dahulu mengatakannya pada uncle Murat dibanding dirinya?


"Onty," lirih gadis itu yang duduk dekat dengan ibu angkatnya.


"Aku nggak ada rencana apapun sama dia, kenapa mas Gunadh bicara begitu?"


"Turuti saja Ta, kasihan dia datang jauh-jauh."


"Tapi aku nggak enak sama onty, aku juga besok masih kerja."


"Onty nggak masalah, onty ngerti dia perlu waktu berdua sama kamu. Menjalani hubungan jarak jauh tidak mudah, akan ada banyak kesalahpahaman jika kurang komunikasi diantara kalian.Kalau masalah pekerjaan, bicarakan sama dia, pasti dia mengerti."

__ADS_1


Akhirnya meski setengah hati, Nandita menuruti keinginan Gunadh untuk menemani laki-laki itu menginap di hotel.


__ADS_2