
"Teman kamu kenapa Ta?" Gunadh masih bingung sebab sejak tadi ia belum menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya.
Nandita menatap kekasihnya dengan raut penyesalan.
"Kemarin teman-teman mengajakku untuk menghabiskan week end bersama mas. Kemarin aku belum bilang iya, tapi tadi dia maksa."
"Kamu mau ikut mereka?"
"Nggak lah. Mana mungkin aku habiskan waktu sama mereka, sementara ada kamu di sini."
"Nggak apa-apa, mas bakal temani kamu kalau kamu mau,"
"Liat nanti aja lah mas, aku nggak tau mereka mau pergi kemana."
Gunadh mengangguk tanda mengerti. Ia tidak lagi membahas perihal teman-teman Nandita. Sibuk dengan pikirannya yang resah belum menemukan jawaban.
Tiba-tiba ia meraih tangan Nandita dan menggenggamnya erat. Diciumnya tangan yang terlihat mungil itu dengan penuh perasaan.
"Jangan marah lagi ya ... Mas akui mas salah soal kemarin. Nggak akan mas ulang lagi kesalahan itu. Kedepan, apapun yang akan kita lewati, mas akan selalu libatkan kamu di dalamnya."
Laki-laki itu menatap mata Nandita dengan penuh rindu.
"Mas merindukanmu sayang, ingin menghabiskan banyak waktu sama kamu, ingin menjadi bagian cerita kamu di negara ini."
"Mas," entah kenapa debaran yang sempat memudar itu, kini kembali Nandita rasakan saat ia menatap dalam manik pria matang di depannya. Dan itu membuat wajahnya menghangat.
Gunadh mengusap pipi yang kini merah merona itu, mendekatkan perlahan wajahnya ke wajah Nandita.
Gadis itu memejamkan mata, saat hembusan nafas beraroma mint menyapa indera penciumannya.
Jemari tangan Nandita mengepal kuat dalam genggaman Gunadh. Gunadh tahu kalau saat ini gadis itu tengah merasakan debaran yang sama dengan dirinya. Merasa grogi hingga rematan tangan mungil itu bisa ia rasakan semakin keras.
Baru saja bibir tebal Gunadh hendak mengecup bibir pink milik kekasihnya, hentakan mobil yang tiba-tiba berhenti mengacaukan momen mereka.
"Maaf tuan," ucap sopir taksi itu merasa bersalah.
Ada seseorang menyebrang secara mendadak, membuat sopir yang sempat kehilangan fokus itu mengerem secara tiba-tiba.
"Tidak apa," sahut Gunadh, bertolak belakang dengan hatinya yang geram. Ingin marah, namun ia tahu itu semua sia-sia.
Suasana intim yang sempat tercipta kini hilang bersama jarak tubuh mereka yang repfleks saling menjauh.
Sementara Nandita sendiri tidak mengucap sepatah kata pun, ia merasa sangat malu karena sadar hampir saja memperlihatkan keintiman mereka di hadapan orang asing.
__ADS_1
Tangan yang semula Gunadh genggam dengan mesra, ia lepaskan dengan cepat. Terlihat sekali gadis itu salah tingkah. Mengedarkan pandang ke sembarang arah, dan merapikan rambut yang ia kuncir kuda, meski ikatan itu masih terlihat rapi.
Nandita tidak sanggup melihat ke depan, ke arah sang sopir yang ia yakin pasti melihat apa yang terjadi di belakang kursi kemudi.
Dalam keheningan, taksi itu kembali melaju. Bersyukur tidak berselang lama, mereka tiba di hotel tempat mereka menginap. Tanpa mengatakan apapun, Nandita berjalan terlebih dahulu mengabaikan Gunadh yang masih menyelesaikan urusannya dengan sang sopir.
"Sayang ... Tunggu." Gunadh berhasil menyamai langkah Nandita ketika gadis itu baru saja memasuki lift menuju lantai kamarnya berada.
"Kenapa malah jalan duluan, tega kamu iih." Gunadh merajuk. Namun sikapnya itu tidak mendapat respon dari Nandita.
"Ta," wajah Gunadh berubah serius. Ia mengangkat dagu Nandita yang menunduk.
"Marah lagi sama mas?" Gadis itu menggeleng.
"Aku malu aja mas ... Hampir aja kita jadi tontonan orang asing. Mas sih, nggak kira-kira,"
Gunadh menahan kekehan nya, tidak ingin membuat Nandita semakin kesal karena merasa ditertawakan.
"Udaaah nggak usah dipikirkan ... Toh kita nggak ngapa-ngapain kan ...." Ucap laki-laki itu sembari merengkuh tubuh Nandita, dan mendekapnya dengan erat.
"Uuhhh rasanya pengen beginiii aja seharian sama kamu yank ...." Lanjutnya lagi sembari mencium ujung kepala gadis itu.
🌟🌟🌟
Saat ini pasangan kekasih itu tengah berbaring bersama di kamar Nanditha. Setelah selesai makan malam, mereka memilih untuk kembali ke kamar.
Selama ini, mereka tidak pernah bercerita dari hati ke hati. Obrolan mereka selalu hanya masalah ringan yang biasa terjadi sehari-hari.
"Nggak usah liatin gitu ... Kaya nggak pernah liat cewek cantik aja," ucap Nandita sembari menarik hidung Gunadh yang saat ini tengah tidur di pangkuannya. Gadis itu salah tingkah, karena diperhatikan sejak tadi.
Namun bukannya menuruti ucapan gadisnya, Gunadh justru semakin intens menatap wajah yang tengah fokus menatap layar televisi.
"Bersyukur banget mas bisa liat wajah ini lagi tau yank ... Tuhan sayang banget sama mas dengan mengembalikan kamu ke samping mas lagi."
"Mengembalikan, memang aku pernah dipinjam apa? Pilihan katanya gitu banget ...." Kekeh gadis itu, kali ini menatap lawan bicaranya.
Tangan Nandita tak henti mengusap rambut tebal milik Gunadh, menciptakan rasa nyaman bagi laki-laki itu.
"Memang benar kan. Dulu saat kamu pergi, rasanya dunia mas hancur. Gelap semua jalan yang mas lalui. Ingin memperbaiki keadaan, tapi rupanya justru semakin buruk." Gunadh terkenang kembali dengan apa yang sudah terjadi sesaat setelah kepergian Nandita.
Nandita pun ikut terhanyut dengan masa lalu. Masa dimana ia memulai hidupnya di negara itu dengan hati yang masih berdarah-darah.
"Oh ya sayang, gimana kabarnya Aslan?" Tanya Gunadh setelah beberapa saat hening.
__ADS_1
"Ngapain mas nanyain dia?" Tanya Nandita merasa tidak nyaman. Susah payah ia melupakan laki-laki yang selama ini mewarnai hari-harinya. Setelah berhasil kenapa kini diingatkan lagi dengan sosok tampan itu?
"Nggak ... Nanya aja, emang nggak boleh?"
"Ck, jangan bahas orang lain lah mas kalau kita sedang berdua." Tiba-tiba suasana hati Nandita berubah.
"Aku ke toilet bentar ya mas," dengan wajah yang tidak lagi secarah sebelumnya, Nandita mengangkat kepala Gunadh, memindahkannya ke atas bantal.
Gunadh memperhatikan sikap kekasihnya, ia tahu ada yang coba Nandita tutupi darinya.
'Maaf Ta, maaf mas egois. Kesempatan yang Tuhan kasih kali ini nggak akan mas sia-siakan lagi. Kamu harus tetap ada di samping mas, semampunya akan mas berikan apapun yang kamu mau agar kamu kembali seperti dulu.' batinnya.
Meski ia merasa sakit, namun ia mencoba tetap tersenyum.
Perasaan Nandita yang tak lagi seratus persen untuknya, membuat ia sadar perjuangannya masih panjang untuk menggapai bahagia.
Sementara di dalam toilet, Nandita memandang wajahnya pada cermin. Mencoba menyelami apa yang hatinya mau saat ini.
'kenapa harus kamu ungkit nama dia lagi mas. Tidak cukupkah aku ada di sampingmu saja? Aku tengah berjuang mas. Menarik rasa yang terlalu jauh berkelana, membawanya kembali ke tempat semestinya ia bertahta. Andai kamu tahu apa yang menjadi gelisahku, masihkah kamu percaya padaku mas? Aku tidak ingin kita saling menyakiti dan merasa tersakiti.' keluhnya dalam hati.
Ia berharap Gunadh tahu apa yang menjadi kegelisahannya, tanpa harus ia jelaskan sendiri dengan kata-kata.
Nandita membasuh wajahnya beberapa kali. Berharap bisa mengembalikan suasana hati seperti semula.
Ia menarik nafas dalam sekali lagi. Sadar jika ia sudah melakukan kesalahan. Lagi.
Kenapa dia harus marah? Bukankah Gunadh tidak tahu apa yang ia rahasiakan selama ini? Kemelut rasa yang menyiksanya selama ini.
"Sayang ...." Gunadh sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa lama sekali di dalam?"
"Aku ... Aku kebelet mas ... Maaf ya ...." Bohong gadis itu.
"Kirain ada apa. Kamu nggak marah kan?"
"Mas, kenapa selalu berpikir kalau aku marah sih?" Nandita merasa jengah, sudah tiga kali laki-laki itu bertanya hal serupa dalam satu hari ini.
"Aku takut aja kalau kamu marah, aku takut kamu pergi lagi." Sahut Gunadh dengan kepala tertunduk.
Hati Nandita mencelos mendengar ucapan Gunadh.
Ia raup wajah Gunadh dengan kedua tangannya, menarik mata laki-laki itu untuk menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Aku di sini mas, nggak akan pernah pergi." Ucapnya dengan lembut.
"Jangan ucapkan kalimat itu lagi, aku sakit melihat kamu selemah ini." Sambungnya lagi, sembari mendekatkan bibirnya untuk ia satukan dengan bibir Gunadh.