Nanditha

Nanditha
JALAN-JALAN MALAM


__ADS_3

Genggam tanganku, nikmati hangat sentuhku.


Peluk tubuhku, dengarkan debat jantungku.


Meski kamu bukan yang pertama, percayalah, doaku kamu selamanya.


Krucuk


Krucuk


Suara perut Nandita menyelamatkan mereka dari suasana canggung yang tercipta.


"Kamu belum makan yank?" Tanya Gunadh, merenggangkan sedikit pelukannya dari tubuh gadis itu.


"Belum mas,,,,." Nandita menunduk, menyembunyikan rasa malunya pada laki-laki di hadapannya.


Gunadh menggelengkan kepalanya. Hilang sudah rasa kesal yang sedari tadi menguasai hatinya.


"Ya sudah, cari makan dulu yuk,,, kita malam mingguan." Ajaknya sembari membelai jejak air mata di pipi Nandita.


Gadis itu mengangguk.


"Mau mandi dulu ya mas, lengket semua badan aku." Suara Nandita masih terdengar serak, sebab tangisnya tadi.


Gunadh menganggukkan kepalanya, sebelum Nandita berlalu menuju kamar.


Laki-laki tampan itu, dengan sabar menunggu gadisnya di teras kost.


Tak lama, Nandita muncul sudah dengan penampilan yang lebih segar.


"Udah kaya pejabat tinggi aja kamu tuh, sibuk dari pagi sampai malam, bahkan untuk makan aja sampai gak punya waktu." Omel laki-laki tampan itu.


Ia kini tengah mengajak Nandita keluar untuk mencari warung makan terdekat.


Nandita hanya diam saja, mengacuhkan kecerewetan sang kekasih. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Gunadh, sebagai respon.


Ya,, mereka kini keluar menggunakan motor matic milik Nandita. Kebetulan sekali niat keduanya sama. Ingin boncengan, agar bisa menikmati kebersamaan dengan lebih intim.


"Mas,, di depan ada tukang nasi goreng enak. Kita makan di sana aja ya,,,." Ajak Nandita.


"Gak nyari kafe atau restaurant aja yank?" Tawar Gunadh


"Gak usahlah, ngapain? Mahal kalau di restaurant mas,,, rasanya sama aja kok."


"Yakin di sana kebersihannya terjamin? Takutnya nanti malah kita sakit perut lagi." Gunadh masih merasa keberatan.


Maklumlah,, dia yang berasal dari keluarga berada, sangat jarang makan di tempat yang kurang terjamin kebersihannya.


Selama ini segala sesuatu yang mengurus adalah sang asisten, Arya. Di kantor ataupun di luar kantor, selama masih jam kerja, semua kebutuhan Gunadh, Arya yang mengurus.


"Kalau gak terjamin, gak bakal seramai itu orang belanja mas,,,." Tunjuknya ke arah warung lesehan, yang semakin jelas terlihat sebab mereka sudah dekat.

__ADS_1


Memarkirkan motor di pinggir jalan, mereka menghampiri tenda nasi goreng tersebut. Dengan tangan yang saling bertaut, terlihat mesra.


Siapa yang tahu? Sebelum ini mereka baru saja berdebat hebat di kostan.


"Mas mau pesan apa?" Nandita menatap kekasihnya mesra.


"Samain aja sama punya kamu, aku gak ngerti."


Nandita hanya mengangguk, lalu kemudian menghampiri mas-mas penjual.


"Mas,,, nasi goreng seafood dua ya,,, ekstra kerupuk sama bawang goreng. Minumnya jeruk hangat dua." Nandita memesan menu kesukaannya.


Setelahnya ia duduk di samping Gunadh. Menunggu pesanan diantarkan, sambil bertukar cerita tentang kegiatan mereka masing-masing.


"Yank,,,, akhir-akhir ini sering banget aku liat kamu promo-promo gitu, kamu terima endorsan?" Tanya Gunadh mengalihkan topik.


Sedari tadi mereka membahas tentang kegiatan Nandita yang mulai padat karena melatih silat di luar sekolah.


"Itu aku bantuin Malikha, yang kerja sama bareng temennya jualan dendeng sama urutan." Jelas nandita.


"Katanya nanti mau nambah jenis olahannya. Mau ada abon sama kerupuk kulit." Lanjutnya lagi.


"Waaahh keren tuh,,,. Hebat ya Malikha, masih muda udah punya usaha. Jadi kamu bantu jualan juga gitu yank? Aku mau donk jadi pelanggan tetap kamu." Gunadh mengedipkan satu matanya, membuat Nandita jengah tapi juga senang.


"Aku baru mau nawarin sama kamu mas,, siapa tahu kamu tertarik nambah menu di restaurant hotel kamu. Dijamin bahan dan kualitas kebersihannya. Harga juga bersainglah. Wort it pokoknya." Dengan semangat Nandita mempromosikan usahanya yang ia sembunyikan.


"Totalitas banget kamu bantuin Malika yank.... Udah kaya kamu aja yang punya usaha itu." Cibir Gunadh.


"Yeeee mas gak tau ya kalau di keluarga aku tuh ya,, semua saling bantu. Usaha adek sama kaya usahaku. Kalau saudara kita maju, bukankah itu kebanggaan?"


Makanan mereka datang, setelah lebih kurang tiga puluh menit menunggu.


Gunadh merasa cocok dengan cita rasa makanan di sana.


"Enak yank,,,, gak kaya makanan pinggir jalan. Ini kalau yang bikin punya restaurant, udah pasti bakalan terkenal nih restorannya."


"Nah kan,,,, apa aku bilang? Enakkan? Makanya,,, jangan menilai makanan dari tempatnya. Yang penting bersih dan enak, udah masuk aja. Gak harus ke restaurant untuk bisa menikmati makanan yang nikmat."


Gunadh tersenyum melihat sang kekasih yang sedari tadi sangat bersemangat.


"Kamu udah kayak calon DPR sedang berorasi yank,,, semangat bangeeet. Jadi pengen gigit." Kalimat terakhir Gunadh ucapkan dengan berbisik di telinga Nandita.


"Aaaaa,,,," Gunadh meringis, ingin berteriak namun ia tahan sebab di tempat umum.


Ia hanya mengusap pahanya pelan. Cubitan Nandita seperti gigitan kalajengking ia rasa.


Sedikit, tapi menciptakan rasa sakit dan panas sampai ke tulang.


"Sakit yank,,, kamu kasar banget." Dengus duda beranak satu itu.


"Ganjen banget kamu, bikin aku kesal tau gak? Siapa sih ini, perasaan dulu kamu gak kayak gini mas?" Nandita tak habis pikir dengan tingkah Gunadh.

__ADS_1


Laki-laki dingin, kaku, datar, terkesan sombong yang dulu menolaknya menjadi bodyguard, kini hilang entah kemana.


Di depannya kini, hanya ada Gunadh yang posesif, cemburuan, suka bercanda, dan omongannya suka nyerempet ke hal-hal begitu.


Nandita geli sendiri, membayangkan 'hal begitu' yang dibahas Gunadh.


"Kamu yang bikin aku begini tau yank... Di dekat kamu, aku jadi mikirnya kemana-mana." Mata Nandita mendelik, serasa mau keluar.


"Mas jadiin aku objek fant mmmm." Mulut Nandita dibekap Gunadh.


"Tempat umum yank,,, kamu iih. Udah yuk kita pulang." Gunadh menurunkan tangan yang tadi digunakan untuk menutup mulut gadisnya.


Syukur hanya beberapa orang saja yang masih di sana.


Mereka memang makan dengan santai cenderung lambat. Menikmati kebersamaan yang jarang mereka rasakan.


Nandita antara kesal dan lucu melihat tingkah Gunadh. Bisa juga rupanya laki-laki itu merasakan malu. Wajahnya memerah, membuat Nandita gemas melihatnya.


"Pengen jalan-jalan deh mas,, tapi udah malem...." Antara curhat atau mengeluh gadis di belakang Gunadh ini.


"Memang kenapa kalau malam? Besok juga week end kan? Yuklah kita keliling kota." Respon Gunadh diluar dugaan.


Nandita pikir, laki-laki itu akan menolak tapi ternyata malah sangat bersemangat.


🌟🌟🌟


Hal yang tidak pernah Gunadh pikirkan adalah, merasakan menaiki sepeda motor berkeliling kota bersama orang yang dicintai.


Dulu, bahkan untuk sekadar membayangkan saja rasanya Gunadh tidak pernah.


Hidup dengan Safira, yang ia kira adalah cinta sejatinya, Gunadh tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini.


Dari awal pacaran dengan mommy Namira itu, ia selalu dituntut agar bisa memenuhi kehidupan mewah yang gadis itu mau.


Menjadikan materi sebagai tolok ukur cinta, membuat Gunadh diperbudak proyek dan kerja sama agar bisa membuktikan cintanya pada sang istri.


Namun kini, gadis di boncengannya ini, bahkan meminta menaiki sepeda motor agar bisa lebih dekat dengannya.


"Pengen tau mas, merasakan pacaran seperti teman-temanku saat kuliah dulu." Ungkapnya saat Gunadh menanyakan alasan, kenapa harus keluar dengan motor.


"Kamu gak malu yank jalan sama aku? Jarak usia kita hampir dua belas tahun lho...." Gunadh memancing reaksi Nandita, mencoba mengetahui isi hati gadisnya itu.


"Ya mau gimana lagi mas? Masa tiap keluar mas harus pake masker? Malu gak malu ya ditahan aja." Nandita menahan tawanya.


Ia tahu, bukan itu yang ingin di dengar Gunadh dari bibirnya. Hanya saja ia ingin membuat kesal laki-laki yang sudah membuatnya menangis tadi.


Diam, hening, hanya suara klakson dari pengguna jalan lain yang mewarnai perjalanan mereka.


Nandita mengeratkan pelukannya.


"Aku cinta kamu, apa adanya kamu mas. Gak perduli orang melihat aku seperti sugar baby atau apa, karena jarak usia kita. Yang pasti aku nyaman di dekat kamu. Kalau aku malu, mungkin aku gak akan mau menjalani kerumitan ini."

__ADS_1


Aaaaahhhh boleh kah Gunadh berteriak senang sekarang? Rasanya ia ingin melompat, melakukan selebrasi layaknya pemain bola ketika berhasil menggawangkan bola.


Gunadh bahagia, sangat bahagia hari ini. Meski sebelum ini, harus ada drama air mata yang tumpah di wajah Nandita.


__ADS_2