
'Astagaaa, mas Gunadh benar-benar ya! Niat banget bikin kehebohan begini. Aku harus telepon dia sekarang.' sungutnya menutup media sosial miliknya.
Dengan kesal ia menghubungi Gunadh.
Tuut
Tuut
Tuut
Panggilan terhubung namun tak kunjung diangkat oleh laki-laki itu. Semakin membuat Nandita kesal.
Akhirnya ia mengirim voice note untuk kekasihnya. Meminta Gunadh agar mau ikut pulang mempertanggungjawabkan kehebohan yang dibuatnya.
Tidak lupa ia juga men screen shot percakapannya dengan orang-orang terdekat, mengenai lamaran yang dilakukan Gunadh.
"Besok aku tunggu mas di kost, setelah makan siang. Kita harus pulang, temuin keluarga aku."
Isi pesan suara pertama.
"Liat tuh ... Semua pada ledekin aku maaas, kamu sih ih."
Pesan suara kedua
Sementara, Gunadh baru saja tiba di rumah besarnya.
Ada amarah yang terlukis di wajah tampannya. Tidak menyangka, putri yang selama ini ia bela, ia lindungi, tega mengatakan hal buruk terhadap dirinya.
Flashback
"Mas aku balik dulu ya," Ucap Nandita, setelah pertemuan mereka dengan anak bi Asih yang bernama Sasa, selesai.
"Langsung mau ke tempat latihan?"
"Ya mas, nanggung juga kalau mesti balik ke kost."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya."
Cup
Ia mengecup kening kekasihnya, sebelum Nandita berbalik dan keluar dari ruangannya.
Hatinya senang, sebab merasa bisa diandalkan. Bisa membantu sang kekasih mengatasi kesulitannya.
Hingga panggilan masuk dari Namira membuat kebahagiaan yang tadi ia rasakan menguap bersama udara.
"Ya sayang," Ucapnya dengan lembut.
"Daddy lagi di mana?"
"Masih di kantor, kenapa? Kamu mau dijemput? Biar nanti om Arya ke sana jemput kamu ya." Masih dengan suara lembut ia bicara dengan putrinya
Ia, beberapa hari ini Namira tinggal bersama sang mommy. Saat ini, Safira menyewa sebuah apartemen biasa yang letaknya tepat di tengah kota.
"Gak usah jemput Dad, Mira biar tinggal sama mommy saja di sini. Mira gak mau hidup bareng orang yang udah rebut Daddy dari Mira. Orang yang udah jahat sama mommy, dan bikin Mira harus hidup terpisah dari mommy. Daddy urus aja dia, gak usah urusin Mira lagi." Gadis yang belum genap berusia 10 tahun itu bicara ketus.
Tentu hal itu membuat Gunadh terkejut. Ia tahu Namira anak yang keras kepala, pemberani, bahkan nekat. Tapi ia tidak menyangka, Namira akan berani bicara lancang padanya.
Sakit hati dan kecewanya tertutup oleh amarah.
__ADS_1
"Siapa yang mengajari kamu bicara selancang itu sama Daddy?" Suaranya terdengar berat, penuh penekanan.
"JAWAB!!" Teriaknya, setelah menunggu beberapa saat namun Namira tak kunjung bersuara.
Untuk pertama kalinya, Gunadh membentak Namira sekeras itu. Bahkan dulu, saat Namira suka kabur ia tidak pernah meninggikan suaranya seperti yang dilakukan barusan.
"Mas, jangan keras begitu pada Mira ... Dia masih kecil. Belum mengerti apa-apa." Suara Safira terdengar dari seberang.
Mungkin, Namira menyalakan pengeras suara saat menelepon tadi.
"Jadi ini tujuanmu mendekati Mira? Agar kamu bisa bebas menghasutnya dan menciptakan kebencian di dalam hatinya?"
"Mas, kamu salah paham ... Aku gak pernah mengajari Mira hal-hal yang gak baik. Kenapa kamu selalu berprasangka buruk terhadapku mas?" Suara Safira terdengar sedih dan terisak. Namun Gunadh tahu, itu hanya akting belaka.
"Jangan kemana-mana, nanti aku kesana."
Perintah Gunadh, sebelum ia mengakhiri panggilannya.
Setelah jam pulang kantor, Gunadh bergegas menuju tempat mobilnya terparkir. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Setibanya di gedung apartemen milik Safira, Gunadh segera menghubungi mantan istrinya itu.
"Lantai berapa unit kamu?" Ucapnya tanpa basa-basi.
"Lantai tujuh mas, no 74A" Ucap Safira
Tanpa mengucapkan terimakasih, Gunadh memutus sambungan telepon.
Setibanya di unit yang dituju, Gunadh memencet bel dengan tidak sabar.
"Saya gak mau basa- basi, suruh Mira keluar dan ikut pulang sama saya." Ucapnya begitu pintu terbuka. Bahkan Safira belum sempat menyapanya.
"Sebentar mas, duduk dulu. Aku buatkan teh madu kesukaan ..."
Belum selesai kalimat yang diucapkan Safira, Gunadh sudah memotongnya.
Safira tersenyum kecut menanggapi ucapan Gunadh.
Wanita itu bergegas menuju kamarnya.
"Mira, dipanggil Daddy" Ucapnya pada sang putri yang tengah belajar.
"Mira gak mau pulang. Mira mau tinggal di sini sama mommy."
"Paling gak, temuin Daddy kamu dulu sayang ... Bicara baik-baik, biar bagaimanapun dia tetap Daddy kamu." Ucap Safira bijak.
Dengan malas, Safira bangkit menemui sang Daddy.
Dari pintu kamar, Namira sudah melihat punggung sang ayah. Ada rasa takut yang muncul di hatinya, namun ia merasa ini saatnya memberontak. Tidak ingin lagi berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.
"Daddy pulang aja, Mira mau di sini temani mommy." Ucapnya ketika Gunadh membalikkan badan dan menatapnya dengan tajam.
"Daddy ke sini bukan untuk tawar menawar. Kemas barang kamu, dan kita pulang."
"Gak! Mira gak mau pulang."
Dengan berani, Mira melawan tatapan mata ayahnya. Rasa takutnya hilang, saat membayangkan foto Gunadh tengah memasangkan cincin di jari Nandita.
Hatinya terluka, dan kecewa. karena bukan itu yang ia harapkan.
__ADS_1
"Miraaa!" Kembali, Gunadh membentak anaknya.
"Mas ... Tenang dulu, jangan ikut emosi."
Safira meminta Mira untuk masuk ke dalam kamar.
"Biarkan Mira di sini untuk beberapa waktu. Aku janji, dia akan kembali. Tapi sekarang jangan paksa dia." Ucapnya setelah yakin Namira tidak mendengar percakapan mereka.
Safira memperlihatkan raut khawatir yang membuat Gunadh merasa benar-benar muak.
Wanita di depannya ini, benar-benar manusia bermuka dua. Ingin rasanya Gunadh memaki dengan segala umpatan kasar, namun ia sadar Namira ada di sana. Gadis kecil itu pasti akan semakin salah paham nantinya.
"Saya tahu siapa kamu. Jangan ciptakan kekacauan lagi dalam hidup saya, kalau kamu tidak ingin Namira tahu bagaimana kamu sebenarnya. Pastikan dalam satu atau dua hari paling lambat, anak itu mau pulang. Kalau tidak, kamu rmtahu akibatnya." Terpaksa ia mengalah. Toh percuma juga kalau ia memaksa gadis itu saat ini, sebab Mira pasti akan memberontak. Dan ia tidak mau, hal buruk menimpa putrinya.
Akhirnya dengan kasar ia membanting pintu apartemen milik Safira sebagai pelampiasan atas kekesalannya sedari tadi.
Flashback off
Wajah Gunadh yang menegang, dan rahang yang mengeras, semakin memperlihatkan wibawa yang dimilikinya.
"Tuan, mau saya siapkan makan malam sekarang?" Suara bi asih terdengar di depan pintu kamarnya, ketika ia baru saja selesai membersihkan diri.
"Gak usah Bi, saya belum lapar. Bibi istirahat saja." Ucapnya tanpa membuka pintu kamar. Rasanya sangat lelah.
Ia merebahkan tubuhnya, dan tak terasa akhirnya ia terlelap.
Di lain tempat, Safira berusaha membujuk sang anak agar mau ke rumah sang Daddy. Dia tidak mau Gunadh benar-benar marah dan menyerahkan Namira seutuhnya pada dirinya. Di mana mencari uang untuk memenuhi biaya hidupnya nanti? Ia tidak punya pekerjaan, dan uang yang dimilikinya sudah semakin menipis.
"Mira, mommy mau bicara." Ucapnya
"Ya bicaralah mom." Mira masih fokus pada buku yang ia pegang.
"Mira jangan kasar begitu ngomong sama Daddy. Nanti dikira mommy yang ajarin kamu begitu sayang."
"Mira gak bisa diam aja Mom, Mira marah sama Daddy. Mira kecewa, kenapa Daddy harus sama onty Dita?"
"Bukan Daddy kamu yang salah sayang, itu semua pasti maunya wanita itu. Tugas kamu adalah menjaga agar Daddy tidak jadi menikah dengan dia. Kalau kamu terus di sini, maka wanita itu akan leluasa menguasai Daddy kamu."
Namira nampak termenung. Ia bingung harus melakukan apalagi.
Nandita terlalu sabar, dia tidak pernah marah meski Namira sering membuat wanita itu kesal.
"Aku harus gimana lagi mom? Selama ini aku udah berusaha bikin dia marah sama aku, biar Daddy gak suka sama dia. Tapi dia gak pernah marah, meskipun aku buat banyak masalah."
"Kamu pura-pura nurut saja sama Daddy dulu, nanti soal wanita itu biar mommy yang urus."
"Baiklah mom. Tapi mommy janji ya, jangan pergi jauh lagi kalau aku tinggal sama Daddy." Tatapan Mira penuh permohonan.
"Ya sayang, mommy gak akan ke mana-mana kok. Mommy akan tetap di sini temani Mira. Tapi Mira harus janji, mau turuti ucapan mommy."
Namira hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
Ada kelegaan terpancar di wajah Safira. Ia tidak bermaksud memanfaatkan sang anak, hanya saja keadaan yang memaksanya melakukan itu.
Pergi dari Jerman hanya dengan sedikit uang. Sebab di sana ia tidak bekerja. Cukup menjadi teman tidur Reyhan, segala kebutuhannya terpenuhi.
Gaya hidup mewah yang dijalani, membuatnya tidak memiliki cukup simpanan, seberapa banyak pun uang yang diberikan Reyhan untuk nya.
Apalagi beberapa waktu lalu Reyhan mulai mengurangi jatah untuknya. Sebab perusahaan laki-laki itu mengalami penurunan. Ia mulai menjual barang-barang mahal miliknya, untuk menutupi biaya hidup sosialitanya.
__ADS_1
Dan setelah bertahan beberapa saat, ia akhirnya menyerah. Tidak mampu hidup dalam keterbatasan, ia meninggalkan Reyhan yang kini tidak lagi memiliki apapun.
Kembali ke Indonesia, berharap bisa mengambil lagi sesuatu yang dulu pernah ia tinggalkan. Meski tahu, itu tidak akan mudah.