Nanditha

Nanditha
KEGALAUAN GUNADH


__ADS_3

Waktu terus berlalu


Tanpa kusadari yang ada hanya


Aku dan kenangan


Masih teringat jelas


Senyum terakhir yang kau beri untukku


Tak pernah ku mencoba


Dan tak ingin ku mengisi hatiku


Dengan cinta yang lain


'Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku


Bila aku harus mencintai (mencintai)


Dan berbagi hati (berbagi hati), itu hanya denganmu (denganmu)


Namun bila ku harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta


Ho-oh, hanya dirimu yang pernah


Tenangkanku dalam pelukmu


Saat ku menangis


....


Lagu kenangan mengalun lembut menemani malam sepi Gunadh. Pria satu anak itu, begitu menghayati tiap bait nada sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Rindunya pada sang kekasih membawanya ke suatu tempat dimana ia pernah menghabiskan malam bersama Nandita.


Perjalanan lebih dari dua jam, tak membuatnya lelah. Deburan ombak, kerlip perahu nelayan, menemani langkahnya menyusuri kenangan menapaki batu karang.


"Jadikan aku laut tempatmu berbagi segala rasa, yang tak bisa kau ucap dengan kata, mas." Kalimat yang dulu pernah Nandita ucapkan kala hatinya resah. Namun saat itu Gunadh tetap bungkam. Membiarkan kekasihnya menerka apa yang menjadi kegelisahannya.


Kini, tidak ada sosok itu di sampingnya. Gadis ceria itu menyerah, membiarkan dirinya berkutat dengan masa lalu seorang diri.


Lebih dari delapan bulan ia tak lagi pernah mendengar suara gadis yang penuh semangat itu. Bahkan kenangan yang tercipta sebelum perpisahan, kembali membuat hatinya berdenyut nyeri.


Penyesalan selalu datang terlambat. Seperti halnya ia dan juga Namira, yang baru merasakan betapa kehadiran Nandita sangat berarti bagi hidup mereka.


Namun untuk menemui gadis itu, ia masih belum punya nyali. Terlebih, masalah Safira belum benar-benar selesai. Entah di mana wanita itu kini.


Setelah pengusiran yang ia lakukan beberapa waktu lalu, wanita itu belum pernah lagi datang.


Ia juga masih belum sempat menanyakan perasaan Namira yang sesungguhnya, sehingga hatinya kini masih terasa gamang. Apakah gadis belia itu akan menerima Nandita diantara mereka? Apakah putrinya mau menerima sepenuh hati, Nandita menjadi ibu sambungnya? Ia tidak mau gegabah lagi, hingga membuat salah satu atau justru mereka bertiga sama-sama terluka.


"Aaaa!!!" Berjarak beberapa meter darinya, terlihat seorang pemuda berteriak kencang dengan penuh emosi.

__ADS_1


Memanggil nama seseorang, lalu kemudian menangis dengan pilu.


Banyak nelayan berlalu lalang yang ikut melihat kejadian itu. Seperti sudah terbiasa, mereka hanya menatap dengan wajah datar lalu pergi.


Lamunan Gunadh terusik, hingga ia menelisik wajah laki-laki itu dari jauh.


"Nggak ada bosennya tu orang tiap malem teriak di sini. Emang dia pikir, dengan begitu kekasihnya bakal kembali?" Seorang yang baru saja lewat di belakang Gunadh, berucap dengan rekannya.


"Ya namanya juga orang lagi depresi, siapa sih yang mau mengalami hal itu." Sahut lawan bicaranya.


"Mangkanya, kalau punya pacar ya di jaga. Jangan dikit-dikit curiga, dikit-dikit bertengkar, sekarang giliran ditinggal nikah sama orang lain, depresi. Cemen jadi laki kalau begitu."


Obrolan mereka sedikit mengusik hati Gunadh. Laki-laki itu merasa apa yang dilakukannya saat ini, mirip seperti pemuda yang tengah menangis itu.


Menggampangkan saat ada di dekatnya, lalu menyesal saat sudah ditinggalkan.


Segera ia tersadar, kemudian melangkah kembali menuju mobilnya.


Ada sesuatu yang jauh lebih penting harus ia lakukan, daripada meratapi rindu di tempat itu.


Setiba di rumahnya, Gunadh mendapati Mira masih setia menunggunya di ruang televisi.


"Mira, kamu belum tidur sayang?" Mira menoleh sambil tersenyum.


"Belum dad ... Masih nunggu Daddy." Gadis belia itu menjawab.


"Kenapa? Tumben,"


"Hhmmm,"


Mendengar sang putri menjawab dengan gumaman, Gunadh melangkah mendekati putrinya.


"Lalu?"


"Boleh nggak aku ikut? Sama Firda juga."


Gunadh masih belum menanggapi.


"Mamahnya Meilin sama Gayatri ikut, mereka ada acara di sana." Lanjut gadis itu lagi.


"Berapa hari?"


"Rencananya sih Rabu pagi balik,"


"Lalu sekolah kalian?"


"Kan Senin sampai Rabu libur dad, kakak kelasnya lagi ujian."


Gunadh nampak berpikir.


"Besok saja kita obrolin ya, ini sudah malam. Besok sekolah kan?"


Namira mengangguk lemah.


"Ya udah dad, selamat malam ..." Ucapnya sambil melangkah gontai.

__ADS_1


Gunadh pun mengikuti langkah sang putri menuju kamarnya.


🌟🌟🌟


Bila Gunadh saat ini tengah gelisah karena rindu, berbeda dengan Nandita yang hari-harinya tidak lagi tenang, semenjak Aslan mengumumkan dirinya menjadi kekasih.


Pria yang dulu begitu baik padanya, kini berubah menjadi sangat menyebalkan.


"Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain menganggu hidupku Aslan?" Sangking kesalnya Nandita, gadis itu akhirnya mengeluarkan taringnya di hadapan pria Turki itu.


Bukannya marah, Aslan justru tersenyum manis, yang bagi Nandita adalah senyum menjengkelkan.


"Oma sama opa memberiku keringanan di kantor, sebab ada misi yang lebih penting harus aku selesaikan." Sahutnya, bersandar pada body mobil di belakangnya.


Nandita memutar bola matanya, malas. Selalu begitu jawaban pria itu tiap kali ia menyindirnya.


"Silahkan masuk tuan putriku, pangeranmu siap mengantar kemanapun kamu pergi." Aslan mengerlingkan mata, sembari memperlihatkan barisan gigi putihnya.


Nandita menarik nafas lelah. Ingin menolak, namun ia takut akan kena ceramah Oma dan opa, mertua dari onty Eby-nya.


Pasangan berusia senja itu begitu menyayanginya. Menganggap ia seperti cucunya sendiri. Sehingga Nandita begitu menghormati mereka berdua.


Dan Aslan memanfaatkan hal itu. Beberapa waktu lalu, Nandita menolak ikut. Alhasil, Oma dan opa yang mendapat aduan dari cucunya langsung menghubungi Nandita dan menasehati gadis itu panjang lebar.


"Kamu tau Aslan, jika kamu adalah pemuda dari negaraku, aku sudah memberimu pelajaran saat ini juga." Geramnya, memasuki mobil dan menutup pintu dengan keras.


Namun seperti bermuka tembok, Aslan justru tertawa melihat ulah gadis itu.


"Aku jadi semakin tergila-gila padamu, melihat sikap bar-barmu ini Nandita," ucapnya sambil menyalakan mobil dan melajukannya.


Bolehkah Nandita berteriak memanggil nama Gunadh saat ini? Akankah laki-laki itu hadir di sini, bila ia menyebut namanya tiga kali?


Lelah dengan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, Nandita memilih memejamkan mata. Berpura-pura terlelap adalah pilihannya, demi menghindari obrolan bersama pria yang tengah mengemudi itu.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


jangan lupa


🌷, 👍,💗,🔪🔪🔪,☕,


di Turki kan lagi musim dingin, Nanditha lagi pengen yang hangat-hangat ☕☕☕ 😁😁😁


oh ya hampir lupa, aku mau promo karya othor lain yang mungkin kalian suka. cuus di intip ⬇️⬇️


***


Braaakk


Suara pintu kamar dibanting keras oleh Desta, ia adalah suami Vanessa.


"Tutup perlahan, aku tidak tuli !" Maki Vanessa kearah Desta.


Pernikahan Vanessa dan Desta terjadi akibat perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka. Rumah tangga mereka tak cukup harmonis dan hanya berjalan 2 tahun lamanya.


Penyatuan 2 sikap yang sama-sama memiliki watak yang keras dan tidak mau mengalah satu dengan yang lain, membuat keduanya sulit untuk menjalani rumah tangga yang akur dan baik-baik saja.

__ADS_1


Akibat sikap egois mereka masing-masing, harus berdampak buruk terhadap kelangsungan biduk rumah tangga mereka berdua.



__ADS_2