Nanditha

Nanditha
ME TIME ALA NANDITA


__ADS_3

"Fitnah aja kamu. Aku sama Satya udah kaya saudara."


"Sekarang ya, kalau dulu?"


"Tau ah,."


Nandita bangkit dari posisi nyamannya, menuju tempat Namira dan teman-temannya berenang.


"Udah berenangnya,, makan dulu yuk."


Ajaknya pada 4 gadis belia yang asyik tertawa dan saling menjahili.


"Sebentar onty,, belum lapar."


"Onty sini,," gadis berkaca mata yang bernama Gayatri memanggil Nandita.


"Ya Onty,, sini biar seru." Yang lain ikut menimpali.


"Makan dulu, habis itu baru onty mau ikut."


"Yaaah,, onty maksa." Mereka protes tapi tak urung menuruti kata Nandita.


"Makan dulu, habis itu kita balapan berenang." Rayu Nandita membuat mereka kembali bersemangat.


"Baik, yang kalah harus terima hukuman ya,,. Gak boleh curang." Ucap Namira.


"Ok, siapa takut." Sahut Nandita.


"Tapi karena umur kita beda, jadi kita satu putaran, onty dua putaran ya,"


"Ok, gak masalah."


Jadilah mereka akhirnya menikmati makanan dengan tubuh yang masih basah. Masakan Nandita yang selalu nikmat, membuat makanan itu cepat berpindah tempat ke perut masing-masing.


"Aahh onty, masakannya ngangenin."


Gadis bermata sipit yang terlihat paling cerewet itu berkomentar.


"Lebay kamu Lin, baru juga tadi makannya udah bilang ngangenin." Cibir Mira.


"Udaah, jangan pada ribut. Jadi mau berenang lagi gak?" Nandita menyela.


"Berenang lagi donk, kan mau lomba ..." Jawab Mira.


"Daddy jadi jurinya ya, nanti yang kalah dapat hukuman." Lanjut gadis itu.


"Gak ah, Daddy di sini aja, jagain barang-barang." Sahut Gunadh beralasan. Padahal sesungguhnya ia malas kalau harus ikut urusan begitu.


Akhirnya mereka menuju kolam renang berempat. Acara lomba tidak boleh batal, meski tanpa Gunadh yang menjadi juri.


Nandita merasa ada yang menarik kakinya. Ia menoleh, dan kembali melanjutkan berenangnya. Gadis itu menyimpan prasangka sendiri.


'Mungkin gak sengaja' pikirnya.


Hari beranjak siang, bahkan sudah lewat jam makan siang, ketika mobil Gunadh tiba di kostan Nandita.


"Onty maafin Mira ya, beneran Mira gak sengaja."


Sekali lagi Mira berkata, dengan wajah memelas.


"Yaa, kan onty udah bilang tadi"


"Tapi muka onty kaya kesel gitu sama aku ..." Lirih Namira berucap.

__ADS_1


"Bukan kesel, onty kedinginan ini. Udah ya, onty keluar dulu, mau ganti baju. Dadaaa semuaaa"


Melepaskan pegangan tangan Namira dengan halus. Nandita beranjak keluar dari mobil.


"Mas, aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan." Ucapnya sebelum benar-benar memijakkan kakinya di atas tanah.


Gunadh mengangguk, sambil tersenyum.


"Makasii ya, dan maaf." Ucapan Gunadh hanya dibalas anggukan oleh Nandita.


Setelah Nandita melangkah menuju kamarnya, Gunadh segera memutar mobilnya. Menekan bel beberapa kali tanda pamit, sebelum akhirnya melaju membelah jalanan yang tampak lengang.


Tidak ada percakapan yang terdengar. Teman-teman Namira sudah terlelap, mungkin merasa kelelahan. Begitu pun gadis belia itu, matanya sudah terpejam sedari mobil keluar halaman kostan.


Hari berlalu dengan cepat.


Setelah kejadian piknik itu, banyak kenakalan tersembunyi yang Namira lakukan pada Nandita.


Awalnya, Nandita kira Mira menarik kakinya saat di kolam renang karena gerakan refleks saja. Tapi, saat baju yang ia bawa ke ruang ganti tiba-tiba terjatuh tepat di tempat yang basah, Nandita jadi berpikir mungkinkah Mira sengaja mengerjainya?


Pernah suatu kali, Namira meminta dibuatkan makanan yang banyak. Katanya dia ingin mengajak teman-temannya belajar bersama. Dan Namira ingin masakan buatan Nandita, tapi setelah semua selesai makanan itu tidak tidak jadi diambil. Alasannya, karena acara belajar bersama batal.


Pernah juga ia minta ditemani bermain ke mall, sementara Gunadh tidak bisa menemani. Akhirnya, hanya Nandita dan mira saja yang pergi dengan menggunakan sepeda motor.


Saat tiba di pusat bermain, Namira sengaja menghilang. Membuat Nandita panik, dan terpaksa menghubungi Gunadh yang sedang meeting.


Bersyukur laki-laki itu tidak marah padanya. Seperti kejadian dulu saat di Singapura.


Nandita bingung harus bersikap bagaimana. Bukan karena ia ingin terlihat baik, sehingga dia mau dikerjai oleh anak kecil. Hanya saja, dia belum tahu, apa dan bagaimana Namira bisa berbuat seperti itu.


"Yank ... Kenapa bengong aja dari tadi?" Gunadh menyentak lamunan Nandita, yang sedari tadi hanya diam. Bahkan makanan yang ada di hadapannya, hanya dimakan beberapa suap saja.


Nandita masih diam, hanya menggelengkan kepalanya.


"Gak ada mas ... Lagi suntuk aja."


"Benar ga ada apa-apa?"


"Beneran mas, aku gak apa-apa kok."


Berpikir sebentar, Nandita melanjutkan kalimatnya.


" Mmm mas, Sabtu sama Minggu besok aku mau jalan sama Candra ya."


"Mau kemana? Week end kan waktunya kita bertiga menghabiskan waktu Yank ..."


"Sekali ini aja mas. Aku mau hilangkan suntuk. Mau memanjakan diri, nonton, seru-seruan sama temanku." Bujuknya.


"Baiklah, nikmati waktu kamu sayang. Tapi jangan lupa kabarin aku." Ucap Gunadh akhirnya.


Laki-laki itu sadar, Nandita punya dunia sendiri yang tidak boleh ia rebut paksa. Selama ini, gadis itu sudah cukup mengalah dengan selalu meluangkan waktu untuknya dan sang putri.


Gunadh pun tahu, Mira sering berbuat hal tidak menyenangkan pada Nandita. Selalu dia yang minta maaf atas sikap tidak baik sang putri. Namun untuk menegur Mira, ia belum lakukan. Gunadh ingin menyelidiki, siapa yang membuat anak gadisnya jadi seperti itu.


🌟🌟🌟


Jadilah saat Sabtu pagi, setelah sarapan dan membersihkan diri, Nandita tiduran santai sambil menikmati tayangan TV.


Hal yang selama ini jarang ia lakukan, sebab dirinya yang selalu memiliki acara rutin bersama Gunadh dan Mira.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Ta aku masuk ya ..."


Pintu diketuk, bersamaan dengan suara Candra terdengar dari luar.


"Masuk aja Ndra,"


Masih belum beranjak, Nandita hanya menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar kaca.


"Eh jadi pergi gak nih? Kok malah santai banget gini?"


"Jadilah, aku nungguin kamu tau! Lama banget, katanya jam 08 udah sampai, ini udah jam 09. Aku ngantuk nunggunya."


Nandita merentangkan tangan, meregangkan otot-ototnya.


"Sorry, tadi masih ada urusan sedikit. Ya udah yuk."


Mereka akhirnya keluar kostan, membelah jalanan yang mulai ramai.


"Kemana dulu kita nih?"


"Nyalon yuk, sekalian spa." Ajak Candra.


"Boleh juga, badan aku rasanya pegal semua. Habis itu kita ke mall." Jawab Nandita dengan antusias.


Beberapa Minggu ini, ia sibuk mengurus orang lain, tanpa sempat memanjakan diri sendiri. Bahkan ia hampir jatuh sakit karena kecapekan. Bersyukur, Satya mau menjadi pelatih pencak silat. Jadi kegiatan Nandita sedikit berkurang. Sehingga ia memiliki lebih banyak waktu istirahat.


Setelah sampai di salon n spa terbesar di kota tersebut, mereka memilih perawatan dari atas sampai bawah.


"Rambut dulu apa badan dulu?" Tanya Candra


"Badan dulu deh, udah gak sabar." Cengir Nandita.


Setelah memilih jenis perawatan yang akan diambil, mereka diarahkan menuju ruangan khusus.


Niat hati ingin berbagi cerita dengan sang sahabat, Nandita malah ketiduran saking enaknya menikmati pijatan terapis yang melayaninya.


Candra yang melihat hanya bisa tersenyum.


'Pasti kamu sangat lelah dengan semua aktivitasmu Ta.' Gumam Candra dalam hati.


Setelah memanjakan badan selama dua jam, mereka kemudian melakukan perawatan rambut.


Berbeda dengan Candra yang mewarnai ulang rambutnya dengan warna coklat terang, Nandita hanya memotong dan melakukan perawatan creambath saja untuk rambutnya.


"Dari dulu rambut kamu begituuu aja, apa gak bosen Ta? Cobain diwarna kek, dismoothing, apalah gitu. Biar lebih segar."


"Rambut aku gak usah diwarna juga warnanya udah begini." Sambil mengangkat sedikit rambutnya yang tengah dikeringkan. Warna rambut Nandita memang bukan hitam legam, melainkan dark brown.


Tak ada sanggahan dari Candra. Benar memang kata Nandita, apa yang harus dirubah dari rambut gadis itu? Rambut bergelombang ya cukup cantik dengan warna alaminya. Bahkan banyak orang menginginkan rambut seperti yang nandita miliki bukan?


Sambil menunggu Candra yang belum selesai dengan cat rambutnya, Nandita memilih duduk di sebelah sang sahabat.


"Ndra, kalau kamu jadi aku apa yang bakal kamu lakuin?"


Candra yang paham arah pertanyaan Nandita, menghela napas dalam. Tidak habis pikir dengan kesabaran yang Nandita miliki untuk Namira.


"Bilang aja sama Gunadh, kalau kamu tidak nyaman dengan kelakuan anaknya. Biar dia tahu, apa yang dilakukan si Mira itu bisa merusak hubungan kamu dengannya,"


Menjeda sebentar untuk menarik napas. Candra Kembali melanjutkan ucapannya.


"Lagian si Mira itu gak tau diri banget ya. Syukur kamu mau sama ayahnya dan gak merebut semua perhatian Gunadh darinya. Bahakan kamu memberikan dia kasih sayang dan perhatian yang mungkin emaknya sendiri gak mau kasih ke dia. Pakai gaya-gayaan ngerjain kamu lagi. Anak bau kencur begitu aja belagu." Emosi Candra akhirnya keluar.

__ADS_1


Selama ini, dialah yang menampung segala curhatan Nandita. Tentang semua kelakuan nakal Mira pada gadis itu.


__ADS_2