Nanditha

Nanditha
SARAPAN BERSAMA


__ADS_3

Gunadh membuka matanya yang masih terasa berat. Kantuknya belum hilang, sebab laki-laki itu baru memejamkan mata ketika waktu menunjuk pukul satu dini hari.


Banyak hal yang ia dan Aslan bicarakan, membuat waktu istirahatnya berkurang.


Dan sekarang, ia harus segera bersiap sebab keluarga besar Nandita mengundangnya untuk sarapan pagi, di hotel tempat acara kemarin berlangsung.


"Uuuhh" lenguhnya.


Otot-ototnya terasa kaku, leher belakangnya begitu pegal. Mungkin karena pikiran dan ketegangan yang selama beberapa hari terakhir ia alami. Namun mengingat keajaiban yang sudah terjadi kemarin malam, ia menepis rasa sakit dalam tubuhnya.


Rasa bahagia itu kembali membuncah menciptakan rona merah di wajah datar pria itu.


Gunadh segera bersiap. Tidak ingin waktu terbuang begitu saja. Ia ingin segera bertemu dengan kekasih hatinya.


Tidak sabar menatap wajah gadis yang dulu ia panggil biji ketumbar itu .


"Nandita itu unik. Ia terlihat tangguh, tapi juga rapuh diwaktu bersamaan. Itu sebabnya aku ingin selalu menjaganya, ingin selalu berada di dekatnya." Ucap Aslan, saat mereka duduk berdua di sebuah bar yang sengaja Aslan pilih untuk mereka menghabiskan waktu bertukar cerita.


"Dia pintar menutupi luka. Tidak ingin orang lain tahu, sepilu apa tangisnya dalam diam." Lanjutnya lagi, seolah laki-laki itu sudah mengenal Nandita cukup lama.


Namun Gunadh tidak membantahnya.


Ia membiarkan pria yang usianya lebih muda darinya itu, menuang segala apa yang ada dalam pikirannya. Melepas beban di hati Aslan yang pasti begitu berat melepaskan gadis yang dicintai bersama orang lain.


Selain itu juga, Gunadh membenarkan ucapan pria yang baru dikenalnya itu.


Ia yang tidak peka, menganggap Nandita selalu baik-baik saja hingga semuanya terjadi, baru lah ia sadar, bila kekasihnya juga adalah manusia biasa yang bisa terluka.

__ADS_1


Gunadh terlambat mengerti gadis itu. Dan itu sangat disesalinya.


"Nanti, belajarlah lebih peka. Belajar mengerti apa maunya tanpa ia mengucapkan langsung padamu. Aku ikhlas dia kembali padamu. Tapi ingat, jangan pernah melukainya lagi. Karena aku tidak akan membiarkan kamu seburuntung itu, untuk memiliki kesempatan kedua."


Meski Gunadh tahu, Aslan pasti terluka dengan keputusannya, namun ia akui cinta pria itu begitu tulus pada Nandita.


Bahkan mungkin dia sendiri tidak akan sanggup berkorban sebesar itu untuk wanita yang dicintai.


"Terimakasih banyak, kamu sudah menyatukan kami kembali. Terimakasih karena sudah percaya pada saya, dan memberi saya kesempatan untuk memiliki Nandita."


Hanya itu yang dapat Gunadh katakan.


Meski dirinya berterimakasih dengan tulus, namun wajah datar dan bahasanya yang kaku membuat Aslan tertawa kecil.


"Kenapa Nandita bisa jatuh cinta pada pria seperti dirimu? Sungguh, aku meras jauh lebih baik darimu." Aslan memerhatikan Gunadh membuat laki-laki itu merasa kesal.


Aslan terkekeh, menutupi segala pedih di hatinya dengan menjadi sosok menyebalkan di hadapan Gunadh.


Siapa yang tidak akan berduka, bila wanita yang dicintainya bersanding dengan pria lain? Namun sekali lagi, cinta Aslan tidak sedangkal itu.


Ia percaya, mengenal Nandita menjadikannya sosok yang lebih baik lagi. Menjadi ikhlas dan dewasa, meski dengan ujian ia harus melepaskan Nandita bersama orang lain.


🌟🌟🌟


Meja yang dipilih keluarga Nandita, penuh dengan hidangan yang sengaja dipesan onty Eby dan uncle Murat untuk sarapan mereka pagi ini.


"By ... Makasih banyak ... Kamu lakuin hal besar ini untuk putriku" dengan menggenggam tangan onty Eby, bunda Santi mengucap rasa terimakasih.

__ADS_1


Tempat yang mereka pilih terletak dipojok restaurant, sebab mereka tidak ingin terlalu bising, sehingga keintiman mereka terganggu oleh pengunjung lain.


Wanita berhijab itu tersenyum, menatap sahabat masa mudanya.


"Jangan berterimakasih San ... Apa yang kami lakukan, nggak seberapa dibanding dukungan kamu sejak dulu buat aku. Aku bisa di sini sekarang, dikelilingi keluarga yang menyayangiku dengan tulus, tidak lepas dari dukungan kamu. Saat orang-orang menyudutkan aku, menilai negatif tentang aku, kamu selalu percaya dan selalu ada di belakangku."


Bunda Santi menggeleng.


"Udah jalan hidup yang harus kemu jalani seperti ini By, apa yang kamu raih hari ini, semua memang karena usaha dan perjuangan kamu."


"Tapi kamu satu-satunya orang yang nggak menyudutkan aku. Bahkan aku masih ingat dengan semua yang kamu ucapkan, yang membuat aku yakin akan keputusan aku."


Mereka berdua larut dalam kenangan masa lalu. Masa dimana onty Eby dan bunda Santi masih sama-sama sendiri.


Meski mereka tidak terlalu sering berkomunikasi, namun ikatan pertemanan mereka terjalin hingga kini.


Disisi lain, Aslan dan para sepupunya begitu puas menggoda Nandita yang sudah mereka anggap seperti saudara.


Gadis itu hanya bisa tersipu menanggapi candaan yang terlontar untuknya.


Sementara Gunadh yang masih merasa canggung, hanya bisa tersenyum tipis menanggapi setiap candaan Aslan serta beberapa sepupunya.


Bersyukur wajahnya yang datar menutupi perasaan gugup laki-laki itu.


Meski ia adalah pria matang yang sudah memiliki pengalaman dalam berinteraksi dengan berbagai macam orang, namun tetap saja ini adalah hal berbeda dan baru dalam hidupnya.


Pasangan yang baru kemarin malam melaksanakan pertunangan itu pun saling lirik, dengan tangan mereka saling bertaut di bawah meja.

__ADS_1


Rindu yang masih menggebu mereka salurkan lewat kehangatan genggaman satu dengan lainnya.


__ADS_2