
Nandita bangun di pagi hari dengan malas. Semangatnya menguap entah kemana.
Tidurnya tidak nyenyak kemarin malam. Banyak hal yang selalu membayang setiap ia menutup mata, membuat ia terjaga hingga tengah malam.
Hubungannya dengan Gunadh yang semakin rumit, usahanya yang mulai banyak dikenal orang membuat aktivitasnya semakin padat, hingga sering kali harus PP dari kost ke kampung halaman dan kembali ke kost.
Apa yang dikejarnya? Hingga waktu 24 jam seolah kurang setiap harinya.
Bahkan untuk memanjakan diri di salon atau membeli sesuatu yang diinginkan saja ia tak punya waktu.
'remuk semua badan kuuu.' Keluhnya pada diri sendiri, ketika bangun dari pembaringan, badannya seakan rontok.
Menarik nafas dalam kemudian membuangnya. Nandita masih duduk termenung, enggan memulai aktivitas.
Diambilnya ponsel yang sejak kemarin sepi tanpa ada notifikasi. Ia tersenyum kecut ketika melihat ponselnya. Tidak ada satu pesan pun dari Gunadh yang ia terima.
'semua seakan gak ada artinya.' Gumamnya lagi.
Apa yang ia harapkan dari laki-laki yang sudah mengambil ciuman pertamanya itu?
Tentu sebuah permintaan maaf. Biar bagaimanapun, Nandita adalah seorang wanita. Meski ia tampak tangguh, namun hatinya tetap rapuh.
Bila ia bisa melawan serangan fisik yang dialamatkan padanya, namun ia tidak akan mampu berkelit dari kalimat nyelekit yang terucap dari bibir orang yang dicintainya.
Drt
Drt
Ponsel yang baru saja diletakkannya bergetar. Ia yang hendak masuk ke kamar mandi, tersenyum senang mengira yang mengiriminya pesan adalah Gunadh.
Namun senyum itu menyurut, seiring tangannya membuka layar yang sudah menyala. Rupanya Malikha yang mengiriminya pesan.
M : "Kak, nanti bisa pulang gak? Pesanan dari kota lumayan banyak nih. Kalau pakai kurir kan lama, trus gitu lumayan ongkirnya."
N : "kenapa gak kamu sama Dimas aja yang bawa? Kan udah beres UAS?"
M : "Gak bisa kak. Aku mau ke rumah kakek. Kan kakek lagi sakit."
N : " Sakit kenapa kakek?"
M : " Sakit kangen cucunya yang cantik."
M : "Udah ya pokoknya nanti kakak yang ambil. Itu semua pesanan dari sekolahannya kakak. Sekalian tengok kakek."
Nandita tidak lagi membalas pesan Malikha. Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kemudian berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, lebih awal dari biasanya. Rencananya selepas jam mengajarnya selesai, ia akan langsung berangkat ke rumah orang tuanya.
"Pagi Miss ..."
"Selamat pagi Miss Dita ..."
"Selamat pagi ..."
Sapaan ramah dari para siswa yang juga baru tiba di sekolah, membuat suasana hati Nandita sedikit lebih baik.
"Selamat pagi ... Semangat" Ucapnya tidak kalah ramah dari murid-muridnya.
Senyum dan tawa riang mereka, membuat Nandita melupakan sejenak kerisauan yang melanda hatinya.
Meski tak jarang tingkah nakal beberapa siswa juga membuat ia pusing dan kesal.
Aahh masa sekolah, masa dimana hanya memikirkan pr dan kerja kelompok. Tanpa beban, dan kegalauan. Nandita tersenyum tipis membayangkan kenangan yang sesaat berkelebat di benaknya.
__ADS_1
Waktu berputar dengan cepat. Jam mengajar Nandita telah usai. Ia bersiap untuk pulang ke rumah orang tuanya yang memakan waktu lebih dari dua jam perjalanan. Sengaja ia membawa pakaian ganti, agar tidak perlu kembali ke kost.
"Saya duluan ya ..." Ucapnya ketika bertemu rekan sesama guru di koridor sekolah.
"Tumben pulang cepat Miss?" Tanya temannya
"Ya, ini mau pulang kampung. Mau ambil pesanan." Jawab Nandita dengan tersenyum ramah.
"Oohh hati-hati ya Miss. Oya mau donk dendengnya." Ucap sang teman lagi.
"Boleh. Mau berapa?"
"Setengah kilo aja Miss."
"Ok besok saya bawakan ya. Makasih" Ucap Nandita dengan senyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.
Salah satu trik marketing Nandita adalah, selalu menyisipkan informasi usahanya dalam setiap obrolan. Dan selalu berusaha melayani pembeli dengan baik meski pesanannya tidak banyak.
🌟🌟🌟
Nandita tiba di rumah ketika ayah bundanya baru selesai makan siang.
"Lho Ta, tumben pulang gak bilang-bilang." Ucap bunda Santi, saat Nandita mencarinya di dapur. Sementara sang ayah sudah kembali ke peternakan.
"Ituu anak kesayangan bunda, pesanannya gak mau dibawa ke kota. Malah suruh aku yang ambil." Sungutnya mengadu pada wanita yang melahirkannya itu.
"Kamu sama siapa pulang?" Tanya bunda lagi, tidak menanggapi aduan Nandita.
"Sendirilah Bun. Ya kali aku ngajak penghuni sekolah untuk ikut kemari."
Mata bunda melotot.
"Ditanya baik-baik kok ngegas." Ucap bunda tidak terima.
"Hehehe maaf Bun. Lagi pms, bawaannya sensi." Gadis itu berkata sembari memeluk sang bunda yang sedang mencuci piring.
"Udah makan kamu?"
Nandita menggelengkan kepalanya. Bunda Santi melihat sekilas, sebelum kemudian menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit.
Nandita masih menunggu di dapur. Memperhatikan kegiatan wanita yang melahirkannya itu dengan tubuh ia sandarkan pada meja beton dibelakangnya.
"Tungguin di meja makan sana, bunda siapkan makanan untuk kamu."
"Gak usah bund. Dita ambil sendiri aja." Kata gadis itu, kemudian menuju rak piring.
Bunda Santi memperhatikan wajah putrinya yang terlihat sendu.
Sebagai wanita yang mengandung dan merawat sang anak dari kecil, ia tahu ekspresi wajah itu. Nandita sedang banyak pikiran. Senyumnya tidak lepas.
"Kenapa liatin aku begitu Bun" Tanya Nandita
"Gitu gimana?"
"Aku berasa diawasi bos tahu bund." Ucapnya lagi, sambil berlalu membawa piring yang sudah terisi aneka makanan menuju meja makan.
Ia melahap masakan yang dibuat oleh bundanya.
Bunda Santi tidak lagi berkomentar. Membiarkan Nandita menikmati hidangan di depannya dengan hidmat. Wanita itu hanya duduk diam menemani sang anak.
Setelah semua makanan itu tandas, dan Nandita sudah duduk kembali di tempatnya semula setelah mencuci tangan dan piring kotornya, barulah bunda Santi mulai bicara.
"Ta, boleh bunda tanya?" Ucapnya hati-hati
__ADS_1
"Tanya apa Bun?"
"Sudah beberapa kali kamu pulang, tanpa Gunadh yang menemani. Apaa kalian ada masalah?" Tatapan sang bunda mengintrogasi.
Nandita diam, masih memikirkan apakah harus bercerita atau tidak pada ibunya.
"Mmm dia lagi sibuk bund." Ucap Nandita akhirnya dengan kepala menunduk. Masih menutupi masalah yang tengah dihadapi olehnya dan Gunadh.
Bunda Santi menghela nafas. Sifat tertutup Nandita inilah yang membuat ia sulit memahami isi hati anaknya.
Ingin memaksa, namun ia sadar anaknya sudah dewasa. Sudah bisa memutuskan sesuatu sendiri.
"Bunda percaya, kamu lebih dari sekadar mampu untuk menyelesaikan semua dengan baik. Apapun masalahnya, selesaikan tanpa ada yang harus tersakiti."
Nandita mendongak, menatap sang bunda dengan perasaan bimbang.
"Bunda tahu, pasti ada masalah antara kalian berdua. Tapi bunda gak akan ikut campur dalam hal itu. Yang pasti, bunda percaya sama kamu. Dan berharap kamu tidak mengecewakan bunda." Ucapnya membuat Nandita merasa bersalah karena tidak mau terbuka pada orang yang sudah melahirkannya.
"Aku masih belajar menjadi dewasa bund. Dan ternyata itu sulit."
Sang bunda tersenyum mendengar keluh putrinya.
"Nikmati saja tiap prosesnya. Asal bukan menyangkut harga diri dan kehormatan, dan selagi kamu masih bisa cobalah perbaiki. Kalian dua dewasa yang memiliki karakter masing-masing. Dari latar belakang dan cara hidup yang berbeda. Tentu akan banyak ketidak cocokan, apalagi Gunadh sudah pernah menikah dan gagal. Sudah pasti itu juga berpengaruh dengan pola pikirnya."
Nandita hanya menganggukkan kepalanya samar. Dalam hati ia setuju dengan apa yang dikatakan sang bunda. Namun untuk mengerti dan memahami dalam praktiknya sangatlah sulit.
"Sudah berapa lama kalian tidak saling sapa?" Tembak bunda langsung
Sontak membuat Nandita terkejut. Dari mana wanita di depannya ini tahu?
Melihat ekspresi sang anak, bunda Santi tertawa.
"Muka kamu kusut kaya kain rayon gak disetrika. Pandangan mata kamu juga sendu begitu."
"Gak lah Bun. Kami baik-baik aja, hanya sedikit beda pendapat." Nandita masih menutupi masalahnya
Lelah memancing, bunda Santi akhirnya menyerah. Anaknya memang sangat sulit dikorek isi hatinya.
Sebagai seorang ibu, meski ia menghargai urusan pribadi sang putri, tapi tetap ada rasa khawatir di hatinya. Takut anaknya terluka, takut anaknya merasa sendiri, takut anaknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Itu sebabnya ia terkesan kepo pada urusan anak-anaknya.
"Kak ..." Sapaan Malikha membuat dua wanita yang tengah melamun itu serentak menoleh.
"Dari tadi ditungguin dirumah Dimas, malah bengong di sini kaya orang patah hati."
"Ngapain kamu tungguin kakak di sana?"
"Ya kan siapin pesanan ..." Malikha menjawab dengan nada suara meninggi.
"Bisa kali dek suaramu gak usah ngegass gitu." Kesal Nandita.
"Lagian kakak nanyanya aneh. Ngapain aku di sana kalau bukan urusan dendeng, urutan, dan sebangsanya?"
"Ya mana kakak tahu. Itukan urusanmu." Nandita tak kalah ketusnya pada sang adik.
"Eeh perasaan dari kecil bunda kasih kalian makan nasi beras pulen. Kenapa kelakuan kalian sengak begini?"
Bunda Santi merasa jengah dengan perdebatan anaknya yang tiada henti.
"Dita, kamu sudah dewasa, kamu itu seorang pengajar. Kamu itu panutan bagi anak didik kamu. Apa yang begini ini pantas jadikan panutan? Kamu juga!" Kali ini tatapan bunda menajam ke arah Malikha.
"Belajar menghormati saudara yang lebih tua. Bicara yang pantas. Tahu tempat kalau mau berdebat. Jangan sampai ayah bunda dianggap tidak bisa mendidik anak." Ketusnya.
"Maaf Bun." Ucap dua kakak beradik itu kompak. Memilih menundukkan kepala agar tidak melihat wajah sang bunda yang sudah marah.
__ADS_1
"Sudah, bunda mau beresin cucian di belakang. Dita, kamu istirahat dulu baru nanti pergi lagi." Titah sang bunda diangguki oleh Nandita.