
Cinta kah ini?? Bila rasanya enggan sekali aku membiarkan mu pergi.
Cinta kah ini?? Bila semakin kuat hasrat ini untuk memiliki.
Nandita duduk di samping Gunadh. Meski canggung, namun tidak mungkin kan ia dengan tidak tahu malunya duduk di belakang?? Memang Gunadhyia supir nya apa??
"Mas mau ke mana tadi" tanya Nandita memecah keheningan.
"Mau keluar aja cari angin. Di rumah lagi gabut soalnya" terang nya pada gadis itu.
Padahal sebenarnya ia sengaja keluar saat melihat Nandita tidak bisa menyalakan motor nya.
"Ooohh...." Nandita hanya menjawab sekena nya.
"Kamu belum makan kan?? Kita cari makan dulu yuk,,." Ajak Gunadh selanjutnya.
"Ga usah lah mas,,, nanti aku masak mie rebus aja di kost." Tolak gadis itu, sebab merasa tidak enak hati pada Gunadh.
" Kamu jangan sering makan mie lho,,, jaga kesehatan. Mie itu ga baik untuk tubuh, banyak pengawet dan menyerap sintesisnya."
"Ga sering kok mas,,, kalo pas kepepet aja. Biasanya kalo waktu ku luang, aku sempetin untuk masak. Cuman tadi mas tahu sendiri kalo Mira lagi kumat manja nya." Terang Nandita.
"Ya makanya itu aku tahu kamu belum makan,,. Udah kita cari makan dulu. Tenang aja aku yang bayar kok. Aku traktir kamu karena udah mau temenin Mira sampe malem." Ucapan yang tidak bisa di tolak oleh Nandita. Lagian cowo ganteng yang ajak masa ditolak?? Ups
Gunadh mengarahkan mobil nya ke parkiran sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman dari luar.
Pengunjung bisa memilih mau duduk di dalam dengan nuansa klasik, atau memilih diluar dengan pemandangan yang tak kalah menarik. Gunadh mengajak Nandita duduk di luar, sebab kafe tersebut memiliki taman yang cukup luas dan tertata rapi. Ada kolam dengan air mancur nya juga, dan yang pasti lampu-lampu temaram menambah kesan romantis tempat tersebut. Belum lagi alunan musik live dari dalam kafe. Sungguh rasanya Nandita saat ini sedang diajak kencan oleh laki-laki beranak satu itu.
"Tempat nya asyik banget di sini mas,,,,. Pasti mahal deh." Antara senang dan khawatir Nandita jadinya.
"Nikmatin aja,,,, ga usah pikirin soal uang nya. Aku masih sanggup bayar kok. Kalau kamu suka tempat dan makanan nya, kapan-kapan kita ke sini lagi." Ajak Gunadh pada gadis itu.
Tiba-tiba wajah Nandita memerah karena tawaran dari bos nya. '
Diajak ke sini lagi?? Berarti dia mau ajak aku jalan lagi?? Bundaaaaa,,,, aku malu,,,,' jerit hati Nandita.
Entah kenapa dia jadi lebay begini. Dulu saat Satya belum pacaran dengan Candra, mereka juga sering jalan berdua. Tapi Nandita tidak pernah merasa se mendebarkan ini. Aaahh ini rasanya jantung Nandita seperti naik seluncuran air dari ketinggian ektrim. Mendebarkan, namun menyenangkan.
"Hey.... Kamu kenapa?? Senyum sendiri udah kaya orang stress aja. Ditungguin tuh sama mba nya, mau pesen apa??" Tepukan Gunadh di bahunya membuat Nandita terkejut setengah mati. Wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa, karena ketahuan sedang melamun.
"Aku mau nasi goreng seafood aja mba ya,, sama minumnya lemon tea aja. Trus bisa pesan tambahan kerupuk kan mba??" Ucap Nandita lancar setelah bisa mengendalikan rasa malunya.
__ADS_1
Pelayan kafe menganggukkan kepala dengan senyum manis yang tidak pernah lepas dari bibir nya.
"Mas,,, motor aku gimana dong itu?? Besok aku ada ulangan lagi,, harus ke sekolah lebih awal untuk nyiapin semua nya." Keluh Nandita, yang semakin lama semakin merasa nyaman dekat dengan Gunadh.
Mungkin kah karena ia tidak memiliki saudara laki-laki?? Dan dengan Gunadh ia merasa mendapatkan sosok mengayomi seperti ayah nya, namun tidak se pendiam sang ayah.
"Besok aku panggilkan bengkel untuk benerin motor kamu, untuk urusan antar jemput nanti aku yang urus. Untuk besok pagi aku yang jemput."
Obrolan mereka terhenti sebab pesanan makanan sudah datang.
Gunadh juga memesan makanan yang sama. Entah selera mereka memang sama, atau Gunadh hanya mengikuti Nandita saja.
Saat asyik menyantap makanan, ponsel Nandita berbunyi tanda pesan masuk.
"Asyik pacaran, sampe lupa sama temanโน๏ธโน๏ธ" pesan dari Satya membuat Nandita tersedak.
Gunadh dengan cepat mengambilkan minuman, dan menepuk pelan punggung Nandita.
"Makanya kalau makan jangan sambil liat hape,, ga fokus jadinya sama makanan." Gunadh memarahinya.
Nandita pun hanya diam sebab apa yang dikatakan Gunadh benar. Tidak baik makan sambil memegang ponsel. Baru saja hendak memasukkan ponsel itu ke dalam tas, masuk lagi pesan baru, kali ini dari Candra.
"Uuuuh romantis sekaliiii,,,, kita jadi iriii๐๐๐." Setelah membaca pesan itu, Nandita celingukan mencari dua sosok penyebab dirinya tersedak barusan.
Nandita melambaikan tangan memanggil dua teman nya itu. Setelahnya ia berbisik pada Gunadh, meminta ijin agar membiarkan mereka bergabung.
"Boleh ya mas,,, mereka gabung di sini,. Jarang aku ketemu mereka soalnya." Terang Nandita saat Gunadh hanya diam saja.
Gunadh menganggukkan kepala nya. Tidak tega juga dia membiarkan Nandita kecewa. Sorot mata yang sayu penuh permohonan, rasanya Gunadh ingin mendekap gadis itu. Sambil berbisik 'apapun akan selalu ada kata YA untuk kamu, asal kamu terus bersamaku.'
Akhirnya mereka makan berempat. Bisa dibilang seperti Doble date di malam Senin.
Gunadh berkenalan dengan kedua teman Nandita. Tidak ada kecanggungan karena sejatinya mereka bukan orang yang kaku. Obrolan mereka sangat seru, hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 baru kah mereka mengakhiri pertemuan itu. Setelah Gunadh dan Satya saling bertukar nomor ponsel.
๐๐๐
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gunadhyia sudah tiba di depan kost Nandita. Ini adalah kali pertama dirinya kesana dengan tujuan yang berbeda. Kalau sebelum nya ia kesana pasti ada hubungan nya dengan Mira, namun kali ini ia datang karena ingin mengantar gadis incarannya itu ke sekolah tempat nya mengajar.
Lucu juga kalau dipikir, ia sudah seperti anak ABG yang baru merasakan cinta monyet. Begitu menggebu, begitu menggelora, dan lupa diri. Lupa bahwa segala sesuatu tidak boleh berlebihan.
"Dita aku udah di depan ini,," ia berbicara dengan Nandita lewat sambungan telepon.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku keluar sekarang." Sambungan telepon ditutup.
"Maaf ya mas aku ngerepotin,,." Gadis itu merasa tidak enak hati.
"Ga apa,, aku ga repot kok." Sahutnya
"Oya motor kamu di bawa ke bengkel, katanya ga bisa diperbaiki di rumah aja,soalnya ada alat nya yang rusak harus di ganti." Terang Gunadh, padahal ia yang sengaja memotong kabel dinamo agar motor gadis itu tidak mau menyala.
"Gitu ya mas,,,, padahal aku ga pernah lupa servis motor itu tiap bulan lho,, tapi kok bisa rusak ya??" Nandita mengeluh dengan wajah sedih.
"Ga usah dipikirin,, kalau memang sudah banyak rusaknya, mending di ganti aja sama yang baru." Usul Gunadh dan di balas gelengan oleh Nandita.
"Gak lah mas,,,, masih bisa dipake kok. Paling bayar perbaiki sama beliin alat yang rusak ga seberapa, daripada harus beli yang baru, kasihan uang nya." Jelas Nandita lagi.
Gunadh jadi merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu bersedih. Namun ia tidak punya cara lain untuk lebih dekat dengan Nandita. Meskipun ia berusaha menyangkal perasaan nya, namun hati dan akalnya tidak sejalan. Dan ia menyerah pada hasrat nya untuk dekat dengan gadis itu, apapun caranya. Toh soal bengkel pasti dia yang akan bertanggung jawab bukan??
"Terserah kamu aja kalau gitu,, aku cuman kasih saran aja. Kalau kamu mau, biar aku yang cariin motor yang pas buat kamu, tapi kalau tidak ya aku cuman bisa bantu cariin bengkel yang bagus untuk benerin nya. Lagian apa kamu ga malu, motor kamu itu udah lumayan lama lho tahun nya??" Gunadh mencoba mempengaruhi pikiran Nandita. Namun gadis itu tetap bertahan pada keinginan nya.
"Kenapa mesti malu, justru aku bangga mas, motor itu penuh kenangan. Itu aku beli patungan sama ayah. Aku setengah, dan ayah setengah bayarnya. Kalau ga salah waktu itu pas aku baru mau daftar kuliah." Nandita menceritakan kisah motor tersebut.
"Kamu dapet uang dari mana sampe bisa patungan sama ayah kamu??"
"Kan aku atlet silat dari SMA mas,,, aku belajar dari SD kelas dua, SMP sudah mulai ikut kejuaraan namun belum terlalu sering. Dan jarang menang. Lalu pas SMA baru aku bisa lebih menonjol, mulai sering menang kejuaraan. Nah uang nya aku tabung, karena memang aku pengen banget punya motor sendiri. Pas mau kuliah baru terkumpul setengahnya, jadi ayah bantuin lagi setengah."
"Ooohhhh... Tapi kenapa ga minta sama orang tua kamu aja untuk beliin motor?? Kan kamu masih jadi tanggung jawab mereka hingga kamu bisa bekerja?" Gunadhyia tertarik dengan kisah hidup Nandita.
"Aku itu lahir dari keluarga yang biasa aja mas,,,,. Memang kakek aku orang yang kaya, tapi tidak berarti ayah aku juga kaya. Adalah kisah dimana ayah sama bunda aku hidup tanpa bantuan dari kakek. Sehingga kami anak-anak nya terbiasa mandiri, berhemat, dan berjuang sendiri. Kalau ayah sih selalu ingin memberikan apa yang anaknya inginkan, bahkan beliau rela kerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi bunda tidak seperti itu. Bunda bukan tipe ibu yang selalu menuruti kemauan anak nya dengan mudah. Kami akan diajarkan berusaha dulu untuk mendapatkan sesuatu. Bahkan dari kecil aku sudah di gaji Kho mas sama bunda aku,,." Nandita berkisah dengan bangga nya.
Sementara Gunadhyia memiringkan kepalanya mendengar penuturan Nandita. "Kalau di gaji, berarti kamu disuruh kerja dong sama bunda kamu. Bukan nya itu nama nya eksploitasi anak ya??"
"Ya ga sampe ekploitasi lah,,, emang aku disuruh jadi kuli. Bunda juga ga sekejam itu kali,,." Nandita tidak terima.
"Nah terus apa dong?"
"Yaaa tugas dirumah,,, misalnya nyapu, ngepel, cuci piring, beresin tempat tidur, yang gitu-gitu,,,. Nah masing-masing punya tugas tuh. Aku dapet tugas nyapu sama beresin tempat tidur, kakak aku tugas nya ngepel sama cuci piring. Tiap hari kami di gaji lima ribu, gajian nya tiap malam menjelang tidur. Uang nya wajib kami masukkan ke dalam celengan. Tiap hari raya, atau ulang tahun baru deh kamu bongkar, nah uang itu kami belikan sesuatu yang kami mau. Kebiasaan itu hingga kini masih kami lakukan jika sedang berada di rumah."
"Masih di gaji??" Tanya Gunadh lagi
"Ya gak lah mas,,,, sejak SMP udah ga di gaji lagi, udah jadi tanggung jawab dan kebiasaan. Bunda pinter kan??" Nandita bangga dengan cara bunda mendidik mereka.
Gunadh pun setuju namun ia hanya menganggukkan kepala saja.
__ADS_1
Tidak terasa sudah sampai di depan gerbang sekolah. Perjalanan sedikit lebih lama sebab pagi, waktu nya orang berangkat bekerja, jadi agak macet. Bersyukur Gunadh menjemputnya lebih pagi jadi Nandita tidak terlambat sampai sekolah tempat nya mengajar.