
Ayah Darma dan Bunda Santi menatap lekat wajah sang putri. Ingin melihat kedalam hati dan pikiran sang anak yang kini telah dewasa.
Melihat tatapan tajam kedua orang tuanya, Nandita akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya.
"Dita udah gak ngajar lagi di Insan Mandiri. Tadi pihak sekolah kirim e-mail ke Dita, rupanya gosip itu sudah berhembus dan banyak orang tua murid yang keberatan kalau Dita masih menjadi salah satu pengajar di sana." Ucap Nandita dengan kepala tertunduk.
Sungguh, hatinya terluka sangat dalam kini. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Pada siapa ia harus marah? Safira kah? Gunadh kah? Atau pada dirinya sendiri?
Kedua orang tuanya datang memeluk erat gadis itu. Mencoba menyalurkan kekuatan dan meyakinkan Nandita bahwa dirinya tidak sendiri.
"Kamu belum cerita sama ayah sama bunda. Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan dari awal, biar kami mengerti seperti apa kami harus bersikap." Ucap ayah Darma.
"Ya Ta, gak mungkin semua terjadi seperti saat ini bila sejak awal tidak ada sesuatu yang kamu coba abaikan." Desak bunda Santi lagi.
Nandita masih bergeming. Rasanya sulit untuk menceritakan apa yang selama ini ia hadapi prihal hubungannya dengan Gunadh.
"Sudah cukup kamu pendam sendiri, setiap masalah yang kamu hadapi. Kami orang tua kamu, ceritakan semuanya. Tidak ada salahnya kamu berbagi." Bunda Santi.
Nandita menatap kedua orang tuanya. Rasanya malu, namun ia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa lagi.
Dita memutuskan untuk menceritakan semua pada kedua orang tuanya, tanpa terkecuali. Termasuk soal Safira yang mengirimi foto kemesraannya dengan Gunadh, juga foto Nandita dan Satya yang diambil oleh seseorang. Menciptakan kesalahpahaman diantara keduanya. Juga soal Namira yang datang ke sekolah, dan keinginan Nandita untuk berpisah dulu dengan Gunadh. Semua ia ceritakan.
"Apa Dita salah Bun? Kasih kesempatan lagi untuk mas Gunadh, dan menjalani hubungan ini sekali lagi?" Ucapnya mengakhiri cerita.
"Itu berarti mantan istrinya mas Gunadh aja yang mesti di gusur kak ... " Ucap Malikha yang duduk di samping bundanya.
"Kamu pikir rumah kumuh digusur?" Bunda Santi menyahut.
"Otaknya dia yang kumuh. Gak keseret banjir bandang aja tu orang. Biar sekalian musnah dari peradaban."
"Uush gak boleh ngomong gitu." Bunda Santi mengingatkan.
"Si Mira juga, punya emak macam bunglon masih juga dibelain sampe segitunya." Sungut Malikha yang gemas dengan cerita kakaknya.
"Kakak juga sih, ngapain gak bilang sama mas Gunadh kalau si Mira pernah datengin kakak ke sekolahan? Biar dia tahu tuh kelakuan anaknya kaya gimana." Ucap Malikha emosi.
Rupanya Malikha bisa bar-bar juga.
"Kan kakak gak tau bakal kaya gini dek ... Kakak pikir mas Gunadh bakal beresin soal foto itu terus bilang ke Mira pelan-pelan." Nandita membela diri.
"Kakak juga gak mau, gara-gara masalah itu, hubungan mas Gunadh sama Mira jadi renggang. Dia pasti bakal tambah gak suka sama kakak."
Malikha mencibir.
"Benar ternyata kata Agnes, cinta gak ada logika. Sebucin itu kakak sama mas Gunadh, sampe takut anaknya gak restuin. Terus ngalah gitu aja diperlakukan begini? Kalau aku jadi kakak ya, aku labrak aja dia. Ceritain semuanya, perduli setan sama pikiran si Mira mau marah atau gak. Dia aja begitu sama kakak, ngapain kakak mikirin dia?" Malikha masih berapi-api.
"Dek kamu punya alter ego ya?" Tanya bunda memecah suasana.
__ADS_1
Malikha dan Nandita saling tatap.
"Biasanya kan kamu yang ceria, polos, manja, lha sekarang malah galak terus berani nyalahin kakak kamu gitu."
"Ya kan selama ini Ikha gak pernah ngadepin masalah seserius ini Bun ... Jadi ya biasa aja Ikha nya. Kalau dipancing juga pasti Ikha bakal keluar emosinya."
Obrolan mereka yang kemana-mana, membuat rasa sedih Nandita berkurang. Ia tidak lagi fokus dengan masalah yang dihadapi
"Udah ... Semua sudah terjadi. Mau kamu salahkan kakak kamu, juga gak ada pengaruhnya pada kenyataan sekarang." Ayah Darma menengahi.
Mereka kembali fokus dengan masalah yang kini tengah dibahas.
"Kamu gak mau selesaikan masalah kamu dulu Ta? Baru setelah itu kamu pikirkan mau melangkah ke mana." Usulnya lagi.
Nandita menggelengkan kepala. Tidak ada lagi yang ingin ia buktikan.
"Asal kalian percaya sama Dita, itu udah cukup. Apapun kata orang, Dita udah gak perduli. Mungkin ini jalanNya biar Dita bisa mencapai mimpi-mimpi yang selama ini terpendam."
"Memangnya kamu mau melamar kerja di mana? Apa gak sebaiknya di sini saja?"
"Belum tahu sih yah, ini mau cari-cari dulu."
"Ya sudah kalau gitu. Pikirkan baik-baik rencana kamu. Ayah sama bunda akan selalu mendukung apapun keputusan kamu."
🌟🌟🌟
Hari berlalu, sudah lebih dari satu Minggu Nandita di rumah orang tuanya. Jenuh? Sudah pasti. Namun ia bisa apa? Bersyukur ia punya Dapur Kita, hingga waktu luangnya bisa sedikit bermanfaat.
Nandita hanya mengangkat bahunya sekilas, tanpa berniat menjawab pertanyaan sang adik.
"Kenapa sih kakak niat banget ke luar negeri? Ikha yakin, bukan hanya gara-gara kakak dipecat aja kan?"
Mata Nandita menatap tajam pada sang adik.
"Ya ya bukan dipecat. Lalu apa donk? Diberhentikan? Kan sama aja." Malikha yang semakin dewasa, semakin berani meledek sang kakak.
"Ke luar negeri itu kan mimpi kakak dari kecil Dek. Tiap liat tayangan di tv, liat orang main salju, jalan-jalan ke pantai atau monumen-monumen bersejarah, menikmati wisata terkenal negara tertentu, kayanya seru gitu. Dulu mimpi itu kakak jadikan motivasi belajar dan latihan silat agar punya prestasi. Kakak selalu berharap suatu saat, Kakak akan menikmati dinginnya salju, menikmati apa yang kakak lihat di tv. Jadi mungkin inilah jalannya."
"Tapi baru kemarin lho kakak ke Paris. Emang kakak punya uang untuk berangkat lagi?"
"Itu juga yang lagi kakak pikirkan. Jujur saja kepergian kakak ke Paris waktu ini, gak banyak kakak habisin biaya. Soalnya pas di sana, semua diatur sama anak buahnya Louis. Terus tiket pesawat juga kakak bayar yang pas berangkat aja. Pas baliknya, mas Gunadh yang urus."
"Ooh ..." Malikha mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi menurut aku kak, sebaiknya pikirkan lagi matang-matang apa yang sebenarnya kakak mau. Agar kedepannya, gak ada penyesalan." Ucap gadis itu lagi.
"Uluuuh ... Dewasa banget kamu sekarang Dek ... Berasa ngobrol sama Marry Riana kakak tuh." Goda Nandita
__ADS_1
"Yee dikasih tau malah gitu. Udah lah ... Ikha males sama kakak." Malikha merajuk. Menghentakkan kakinya meninggalkan sang kakak yang masih tertawa geli melihat sikapnya.
Nandita termenung sendiri setelah ditinggal oleh Malikha.
Ada kekosongan hati yang coba ia tutupi dari orang sekitar. Tidak semudah itu ia bisa melupakan Gunadh. Namun egonya juga terlalu tinggi untuk datang mencari laki-laki itu dan menjelaskan semua dengan gamblang.
Ia juga merasa terganggu dengan tatapan orang lain terhadapnya. Meski ia katakan pada ayah bundanya bahwa ia tidak perduli, itu semua hanya agar kedua orang tuanya tidak mengkhawatirkan dirinya.
Drt
Drt
Drt
Ponsel di saku celananya bergetar. Panggilan dari Candra mengejutkan lamunannya.
"Halo Ndra ..."
"Ta, kamu di mana?" Tanya Candra dari seberang.
"Aku di rumah, ada apa Ndra?"
"Aku sama Satya di rumah kamu, tapi kamu gak ada. Kamu di rumah mana?"
"Ah? O ooh aku di Dapur Kita lagi packing pesanan. Kamu ngapain tumben ke sini?" Tidak menyangka sahabatnya datang tanpa berkabar.
"Kita ngobrolnya di telepon aja nih?" Sindir Candra.
"Ya ya ini jalan mau pulang. Kenapa sih sensi banget?"
"Nanti aja ngomongnya. Aku tunggu. Eh sekalian bawain dendeng sama urutan masing-masing satu kilo ya.
"Yank kamu mau apa?" Terdengar Candra seperti bertanya pada orang di sampingnya.
"Aku juga sama, tambahin abon aja lagi setengah kilo, si Dinda suka banget soalnya."
"Tuh Ta, udah dengar kan? Satya juga mau pesanannya sama kaya punya ku. Tapi punya dia tambah abon setengah ya."
"Abonnya yang pedas apa ori nih?" Tanya Nandita.
"Ori aja." Sahut Satya yang suaranya terdengar agak jauh.
"Ok." Nandita menutup sambungan telepon, dan menyiapkan pesanan mendadak teman-temannya.
"Dek ... Kakak pulang duluan ya, ada Candra sama Satya di rumah." Pamit Nandita pada sang adik.
"Ikut kak ..." Malikha yang tengah mengupas bawang putih beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Mbak kami pulang dulu ya. Nanti kalau Dimas udah datang, bilang aku udah balik." Ucap Malikha.
"Iya mbak. Hati-hati." Ucap karyawan yang masih sibuk dengan bawang putih yang menggunung.