Nanditha

Nanditha
TAKDIR TUHAN


__ADS_3

Gunadh benar-benar merasa sangat malu, ketika menyadari dirinya menjadi tontonan beberapa orang.


Ia yang tadi sempat melamun, membayangkan tengah baku hantam dengan pria bernama Murat itu, tanpa sadar memegang pipinya dan terkejut hingga langkahnya mundur ke belakang.


Ia hanya bisa tersenyum kaku, ketika bunda Santi menyentuh pundaknya dan menanyakan keadaannya.


"Aah maaf bunda, saya tadi agak kurang fokus." Ucapnya menahan malu.


Bunda Santi tersenyum lembut, mengajak laki-laki itu duduk di sampingnya setelah bersalaman dengan anggota lain yang duduk di meja yang sama.


Hening


Nampak sekali suasana canggung menyelimuti tempat tersebut.


Setelah terdiam beberapa saat, Gunadh yang tidak betah berada dalam suasana seperti ini akhirnya bersuara.


"Yah ... Maaf, apa kita bisa bicara berdua sebentar?" Tanya Gunadh.


Ayah Darma menarik nafas, lalu mengangguk.


Ia tahu, waktunya sudah tiba, dimana ia harus berhadapan dengan Gunadh, dan memberi penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.


Sejujurnya laki-laki itu merasa kasihan pada Gunadh, namun ia juga membutuhkan kepastian. Tidak ingin putrinya hidup dalam angan dan harapan palsu.


Selam ini, ia sudah cukup sabar menunggu. Membiarkan dua anak manusia itu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Namun sudah hampir setahun Gunadh melepas putrinya, tidak sekali pun laki-laki itu berniat menyusul, sekadar memastikan apakah Nandita baik-baik saja di negeri orang atau tidak.


Meski ia enggan mengakui, namun sejauh yang ia tahu, justru Aslan lah yang sering kali membantu Nandita. Menjadi teman baik juga pelindung gadis itu di negara asing ini.


Ayah Darma mengerti, Gunadh memiliki banyak masalah dalam hidup yang harus laki-laki itu selesaikan. Namun, tidakkah ada waktu sedikit saja untuk putrinya?


Bila tidak bisa datang, setidaknya berkomunikasi jarak jauh, halnyang saat ini tidak sulit dilakukan.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada yang lain, ayah Darma mengajak Gunadh berjalan menuju pintu belakang ruangan tersebut.


Melewati lorong yang tidak terlalu panjang, mereka tiba di sebuah taman yang cukup sepi.


Hanya gemericik air kolam, yang memberi kesan berisik di tempat itu.


Gunadh memilih mendekati kolam tersebut, menatap gelembung-gelembumg air yang tercipta, saling mengejar, lalu pecah dan menghilang.


Seperti hatinya saat ini. Luka tanpa darah yang ia alami, tak berharga layaknya gelembung yang menghilang, pecah di tengah jalan.


Sementara ayah Darma yang memilih duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat Gunadh berdiri, menatap punggung pria tegap itu dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.


"Nak Gunadh," panggil ayah Darma pada akhirnya.


Tidak ingin terlalu lama meninggalkan pesta sang putri.


Gunadh menoleh, lalu melangkahkan kakinya mendekati ayah Darma.


Seakan mengerti maksud panggilan tersebut, Gunadh duduk bersampingan dengan pria paruh baya itu.


Gunadh menarik nafas, lalu menghembuskan perlahan.


"Huuuuh," laki-laki itu menoleh sekilas ke arah mantan calon mertuanya.


Ia tersenyum miris.


"Kenapa jadi seperti ini ya Yah? Tidak pernah sedikit pun terlintas, kalau Nandita akhirnya benar-benar pergi dari hidup saya." Ucapnya lirih.


"Tadinya saya pikir, dia masih terluka, masih memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka itu. Berdamai dengan keadaan dan kenyataan, hingga saya tidak berani menganggunya." Ayah Darma menyimak, tanpa sekali pun menyela ucapan Gunadh.


"Apa yang sebenarnya terjadi yah? Apa Nandita benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki itu? Atau ada hal lain yang saya tidak tau, telah terjadi padanya?"

__ADS_1


Ayah Darma melirik sekilas, lalu menggeleng lemah.


"Tidak terjadi apapun pada Nandita, dia baik-baik saja. Mungkin ini memang sudah jalan takdir, serta jodohnya bertemu di sini." Ucap ayah Darma tenang.


Ia lalu menepuk pelan bahu Gunadh.


"Ikhlaskan Nandita, mungkin ini yang terbaik untuk kalian. Kita hanya bisa berencana, berusaha, tapi segala sesuatu semua atas kehendak Tuhan. Jalan hidup kamu masih panjang, jangan berlarut dalam masalah ini. Tidak bisa menjadi pasangan, Kalian masih tetap bis menjadi teman, bukan?" Ucap ayah Darma.


Gunadh terdiam.


Masih ada rasa tidak terima bergelayut dihatinya, namun ia bisa apa?


Keputusannya melepas Nandita. Memilih membiarkan gadis itu melangkah sendiri di negeri asing, tanpa sekali pun ia menanyakan keadaannya.


Siapa yang salah dalam hal ini?


Ia mengusap wajahnya, merasa frustasi.


Merelakan wanita yang dicintainya bersanding dengan laki-laki lain, tidaklah mudah. Namun ucapan ayah Darma benar adanya.


Manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan akan terwujud atau tidak rencana tersebut.


Manusia hanya wayang yang digerakkan oleh dalang kehidupan, yakni Tuhan.


Kita menjadi apa, bertingkah seperti apa, semua adalah desain Tuhan sejak kita baru lahir.


Meski akal budi Tuhan berikan, namun sebagai makhluk terbatas, tidak jarang karunia itu tidak bis kita manfaatkan dengan baik.


"Takdir hidup tidak ada yang tahu. Yang hari ini kamu kira adalah luka, mungkin besok bisa jadi kamu syukuri sebagai anugrah." Lanjut ayah Darma lagi.


Gunadh menggeleng.

__ADS_1


"Tidak perlu memberi penghiburan ayah. Tenang saja, saya tidak apa-apa." Sahut Gunadh


"Benar kata ayah, semua sudah digariskan oleh-Nya. Saya hanya bisa berharap semoga Dita mendapatkan kebahagiaan yang selama ini begitu sulit saya berikan untuknya. Tapi ... Sebelum saya benar-benqr harus melepasnya, bolehkah saya menemuinya untuk terakhir kali yah?" Tanya Gunadh.


__ADS_2