
Ketukan pintu di depan kamar kostnya membawa Nandita kembali ke alam sadarnya.
Sangking asiknya melamun, hingga tidak sadar waktu terus berjalan, dan kini sudah menunjuk angka 8.30.
'Astaga ... Aku belum siap lagi.' ucapnya buru-bru bangkit dari atas tempat tidurnya.
"Ngapain sih Ta? Lama banget buka pintunya." Keluh Satya.
Laki-laki itu duduk di kursi depan kamar kost yang memang disediakan Nandita bila ada tamu yang datang.
"Maaf, lagian ngapain jam segini udah datang? Katanya jam 9."
"Itu ... Anak-anak udah gak sabar." Menunjuk mobil dimana ada Kiara dan Dinda di dalamnya.
Nandita melangkah menuju mobil yang dikendarai Satya barusan.
"Ngapain kalian di sini? Gak mau turun dulu?"
"Gak ah kak, nanti lama." Jawab Kiara
"Kalau gitu tunggu ya, kakak mau siap-siap dulu."
"Ok" Ucap dua gadis itu berbarengan.
Setelah kurang dari 20 menit, mereka berangkat ke mall dimana dulu mereka menonton. Mencari toko perhiasan yang juga pernah disinggahi.
Baru Nandita tahu, kenapa dulu Satya mau menemani para wanita berkeliling hingga ke toko perhiasan. Rupanya dia sudah punya niat untuk melamar sang kekasih.
"Oohh jadi kamu emang udah merencanakan dari dulu mau bikin kejutan?" Ucap Nandita ketika Satya dengan lancar menunjuk perhiasan mana saja yang ingin ia beli. Serta cincin yang ia pesan khusus tanpa diketahui yang lain kala itu.
"Kalau semua sudah siap ngapain kamu ngajak kami ke sini sekarang? Udah kaya dayang tau kita bertiga nemenin kamu."
Omel Nandita lagi.
"Kamu itu, ngomel aja dari tadi. Kaya gak iklhas banget mau bantuin aku." Sahut Satya jengah mendengar ocehan Nandita.
"Bukan gak iklhas, kamu gak efisien waktu."
"Justru ini untuk mempersingkat waktu tau, habis dari toko ini kita cari gaun untuk Candra. Nah tugas kamu yang pilihkan dan pastikan ukurannya pas. Sementara dua dayang ku ini bantu cariin pernak pernik lain untuk lamaran." Terang Satya.
Ooo ucap nandita tanpa suara.
"Ok kalau gitu, aku cari sekarang aja ya. Nanti janjian kita ketemu di mana gitu setelah semua selesai sama tugasnya." Ucap gadis itu bergegas hendak keluar.
"Eeh tar dulu ..." Satya menarik tangan Nandita, membuat gadis itu kembali berbalik.
"Kamu mau bayar gaun nanti pakai bulu kaki kamu? Nih." Satya mengulurkan sebuah kartu untuk temannya itu.
"PINnya tanggal lahir Candra." Ucapnya lagi
"Kamu gak ikut pilihkan?" Tanya Nandita
"kamu duluan, aku masih urus ini dulu. nanti kalau sudah selesai, aku menyusul."
"Ooh ok."
Nandita menerimanya. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju toko tempat di mana gaun-gaun cantik nan indah dijual.
Ia tersenyum tipis melihat deretan gaun-gaun yang dipajang begitu menggoda imannya. Ingin mencoba namun ia sadar, ini bukan waktunya.
__ADS_1
Akhirnya setelah lebih dari 3 jam mengelilingi mall tersebut, mereka berempat menyelesaikan tugas masing-masing dan kini tengah mengisi perut di sebuah restaurant cepat saji.
Siapa lagi yang punya ide makan di tempat seperti ini kalau bukan Dinda.
Setelah seperti biasa mendengar perdebatan Kiara dan Dinda, dan akhirnya Kiara mengalah.
"Ta, aku masih membutuhkan bantuan dari kamu. Tolong nanti ajak Candra ke tempat ini ya." Satya menyebut nama tempat yang biasa ia dan Candra datangi.
" Aku sama yang lain mempersiapkan semuanya di sana. Kalau sudah beres aku hubungi kamu. Jangan lupa, gaun yang tadi, kamu kasih dia untuk dipake nanti malam."
Ucapnya lagi.
"Ok. Berarti aku gak ada tugas bantu di sana ya," Ucapnya memastikan. Takut kalau-kalau tenaganya dibutuhkan di tempat lamaran.
"Gak, udah ada beberapa teman yang bantu di sana."
Mereka melanjutkan makan siang mereka, ditemani obrolan ringan penuh canda tawa. Hingga Nandita lupa dengan kegalauannya, bahkan tidak sempat melihat ponsel yang sejak tadi bergetar di dalam tasnya.
Setelah selesai makan siang, Satya mengantar Nandita kembali ke kostannya.
"Sampai depan gang aja Sat, kasihan kalian masih banyak urusan." Ucap Nandita sudah dekat tempat tinggalnya.
"Gak apa nih aku turunin kamu di pinggir jalan?" Ucap Satya ragu
"Gak, santai aja. Timbang nanti harus muter, lama lagi. Waktunya udah memepet" Ucap gadis itu.
"Ya udah. Makasih banyak ia Ta, jangan lupa ajak mas Gunadh juga nanti kalau bisa." Gunadh menghentikan mobilnya tepat di depan gang.
"Ya nanti aku kabarin dia ya, tapi gak janji kalau dia bisa datang." Nandita turun dari mobil. Mengambil beberapa tas belanja berisi perlengkapan Candra. Mulai dari gaun, sepatu, juga perhiasan.
"Daa semuanya, sampai ketemu nanti ya." Ucapnya
"Daaa kak Dita, jangan sampai telat ya." Ucap Kiara dan Dinda kompak
Setelah mobil yang dikendarai Satya menjauh, ia melanjutkan langkahnya menuju kostan tempat ia tinggal.
Tidak lupa menghubungi Candra, memastikan gadis itu tidak ada urusan keluar. Nandita beralasan ingin ditemani ke pesta seseorang. Dan Candra pun menyanggupi.
Tubuhnya terasa lelah. Setelah meletakkan semua tentengannya dengan hati-hati, ya ke kamar mandi mencuci wajah dan kakinya.
'hubungi mas Gunadh dulu deh, semoga dia bisa ikut nanti.' Monolognya
Sembari merebahkan diri di kasur kecilnya, Nandita menyalakan ponsel yang sedari pagi tidak sempat ia sentuh.
'tumben pak duda hubungi aku sampai sebanyak ini.' Ucapnya dalam hati
Ia kemudian menghubungi kekasihnya itu namun sayang tidak dijawab.
"Mas, nanti malam bisa temani aku ke acara lamarannya Satya sama Candra?"
Lama menunggu tidak ada jawaban. Hingga gadis itu ketiduran, dan terjaga ketika waktu sudah menunjuk pukul 15.00
🌟🌟🌟
Sementara itu di kediaman Gunadh.
Laki-laki tampan itu sedikit kesal ketika ia kesiangan bangun. Sudah sejak kemarin ia berencana akan meluangkan waktu untuk pergi berdua dengan Nandita. Tapi sayang, pekerjaan yang banyak memaksa laki-laki itu mengerjakannya hingga larut malam. Jadilah pagi ini ia bangun ketika matahari sudah meninggi.
Semakin kesal ketika Safira yang biasanya rajin datang, hari ini tiba-tiba ada urusan.
__ADS_1
"Mas tolong bujuk Mira agar dia gak ngambek, aku gak bisa datang hari ini soalnya ada teman aku yang ngajakin aku keluar." Ucap wanita itu melalui sambungan telepon.
"Ya nanti aku bujuk anak itu." Ucapnya singkat kemudian memutuskan sambungan telepon.
Ia akhirnya pasrah, kali ini pun rencananya bertemu Nandita harus gagal.
'kenapa aku gak minta dia datang ke sini aja ya?' pikirnya kemudian menghubungi sang kekasih. Hingga panggilan kelima, panggilan Gunadh tidak juga mendapat jawaban. Bertambah kesal sajalah dia.
"Dad, kenapa diam aja?" Tanya Mira ketika melihat Gunadh murung, memainkan ponselnya.
Mira yang kini sudah mulai belajar berjalan tanpa alat bantu, mendekati sang ayah yang duduk di ruang keluarga.
"Hati-hati nak." Gunadh menghampiri sang putri, yang berjalan merambat.
"Daddy kenapa? Kok diem aja?"
"Gak ada. Daddy gak kenapa-napa." Ucap Gunadh tersenyum.
Mereka baru saja selesai makan siang, yang hanya berdua saja.
Hingga ponsel di tangan Gunadh berdering tanda pesan masuk.
Gunadh menatap ponselnya dengan raut wajah yang tak bisa ditebak.
Menggeser layar pipih itu dengan nafas yang memburu.
'Apa ini' Batinnya
Antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya. Foto-foto kebersamaan Nandita dengan Satya yang membuat darahnya mendidih. Seseorang cukup pintar mengambil gambar, hingga hanya Satya dan Nandita lah yang terlihat. Sementara Kiara dan Dinda tidak terlihat dalan tangkapan kamera.
Terlebih gambar saat Satya mengambil tangan Nandita, dan juga ketika ia menyerahkan sesuatu pada gadis itu, terlihat manis. Apalagi dari sudut pandang Gunadh yang terbakar cemburu. Tentu foto itu sangat romantis terlihat.
'Jangan bermain-main dengan perasaanku Dita. Kalau sampai kamu melakukan itu, mari kita hancur bersama.' Ucapnya penuh amarah.
Rasa kesal sudah bertumpuk sedari pagi. Sebab semua yang ia rencanakan gagal. Ditambah dengan kiriman foto dari seseorang yang tidak ia kenal. Membuat amarahnya memuncak.
Gunadh bangkit menuju ruang kerjanya. Menghubungi Arya, meminta sang asisten melacak keberadaan Nandita.
"Nona Nandita saat ini ada di kostannya tuan." Ucap Arya melalui sambungan telepon.
"Kamu yakin?"
"Ya tuan. Apa perlu saya datang ke sana untuk memastikan?"
"Tidak usah. Biar saya yang ke sana." Ucap Gunadh kemudian memutus sambungan telepon itu.
Laki-laki itu segera meninggalkan ruang kerjanya, melangkah tergesa menuju kamar pribadinya untuk mengganti pakaian. Sangking terburunya, hingga ia meninggalkan ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja.
Tiba di kost gadisnya, Gunadh mengetuk pintu. Namun tidak kunjung ada yang membuka. Ia menggoyangkan gagang pintu, rupanya tidak di kunci.
Gunadh kemudian masuk dan mendapati Nandita terlelap dengan pakaian yang sama dengan yang ada di foto.
Gunadh melihat sekeliling. Dan menemukan beberapa tas belanja. Gunadh meraihnya, memeriksa isinya. Alis Gunadh mengkerut.
Semakin curiga dengan kekasih yang beberapa hari terakhir dirasanya berubah.
'Apa yang kamu rencanakan sayang? Mau pergi meninggalkanku dengan laki-laki lain?' Ucapnya penuh luka. Melihat gaun yang dikira milik Nandita. Gaun indah yang memang cocok untuk acara pesta.
Pikir Gunadh, kemana Nandita akan pergi menggunakan gaun seperti itu jika bukan untuk acara pertunangan atau pernikahan. Dia tahu Nandita bukan orang yang suka berpesta. Kalau bukan hal penting, rasanya tidak mungkin gadis itu akan menggunakan pakaian yang feminim seperti ini.
__ADS_1
Gunadh menatap lekat wajah Nandita. Berusaha keras menahan diri agar tidak bersikap di luar batas. Bersamaan dengan Nandita yang menggeliat hendak terjaga.
Mata gadis itu melotot kaget melihat sosok yang ada di depannya.