Nanditha

Nanditha
PELUKAN TERAKHIR


__ADS_3

Setelah memastikan pesawat yang ditumpangi Gunadh dan kedua orang tua Nandita telah lepas landas, rombongan pengantar itu pun bersiap untuk kembali ke kediaman mereka.


"Onty, onty sama uncle balik duluan nggak apa kan? Aku mau jalan-jalan sebentar." Ucap Nandita menghentikan gerakan uncle Murat yang hendak membuka pintu mobil.


Raut wajah gadis itu terlihat gelisah.


"Kamu mau kemana sayang? Kamu baik-baik saja kan?"


Nandita menganggukkan kepala. Tidak ingin membuat orang tua angkatnya khawatir, ia menampilkan senyum manisnya.


"Aku nggak apa-apa onty ... Cuman pengen jalan-jalan aja ... Kemarin pengen beli sesuatu, tapi nggak enak sama mas Gunadh. Kalau sama dia, pasti aku nggak dikasih bayar."


Onty Eby terkekeh sembari menggelengkan kepala.


"Ya sudah, kamu mau naik apa? Biar uncle Carikan," uncle Murat ikut bergabung dalam percakapan mereka.


"Nggak usah uncle, terimakasih. Aku sendiri aja,"


"Ya sudah ... Hati-hati ya, jangan pulang terlalu sore. Kamu kurang istirahat beberapa hari ini," onty Eby membelai rambut Nandita lembut.


"Iya onty," sahut gadis itu, sembari tersenyum, lalu ia mencium tangan onty Eby dan uncle Murat bergantian, sebelum mereka memasuki mobil dan meninggalkan dirinya sendiri di bandara.


🌟🌟🌟


Menggunakan angkutan umum, gadis itu menikmati perjalanan menuju pusat kota Istanbul.


Musim semi yang membawa udara segar, membuat Nandita sesekali mengusap lengannya yang terasa dingin ketika angin Bosphorus menerpanya.


Meski sudah mengenakan outer, namun rupanya angin yang berhembus masih bisa menembus kulitnya.


Gadis itu mencoba mengenyahkan tiap kalimat sang ayah, yang terus terngiang di telinganya.


Melangkah seorang diri, dengan pikiran yang ikut berpetualang.


Hingga akhirnya ia menemukan bangku kosong di dekat sebuah taman, ia memilih menghentikan langkahnya dan beristirahat di sana. Menatap sekeliling, memerhatikan banyaknya masyarakat yang berlalu lalang.


Anak kecil yang bermain di area khusus berumput hijau, menjadikan pagar putih yang seukuran tubuhnya sebagai pegangan, dengan riang mengikuti arahan orang dewasa di depannya. Terus berjalan dengan tertatih, sembari mendengar semangat yang diberikan orang tuanya.


Nandita tersenyum menatap pemandangan manis itu.


Sejenak ia lupa akan kegelisahannya, hingga seseorang ikut duduk di sampingnya, dan mengulurkan box makanan berisi beberapa potong baklava di depan wajahnya.


Sontak Nandita terkejut, namun wajah menyebalkan Aslan membuat keterkejutan itu seketika musnah.


"Aslan ...."

__ADS_1


"Ngapain di sini bengong sendiri?"


"Kamu nguntit aku?"


Tanpa menjawab pertanyaan laki-laki yang duduk di sampingnya, Nandita balik menuduhnya dengan tatapan penuh curiga, namun tak urung meraih makanan yang terbuat dari fillo pastry dengan isian berbagai macam kacang yang dicincang tersebut, dan menikmatinya.


"Pelan-pelan makannya, aku nggak akan minta kok ...." Pria itu menghapus remahan roti yang tercecer di dagu Nandita, membuat gadis itu menghentikan gerakannya.


Suasana canggung menyapa mereka karena kejadian itu. Nandita teringat kembali dengan ucapan sang ayah, kalau Aslan memiliki pesona yang sulit wanita tolak.


Dan sialnya itu benar adanya.


Sementara Aslan, laki-laki itu pun tidak kalah canggungnya, ia merem as jemari tangan yang tadi ya gunakan untuk membersihkan dagu Nandita.


"Maaf, aku melihat wajah gelisah kamu tadi saat di bandara. Jiwa detektifku tergugah untuk mengikutimu,"


Aslan terkekeh setelah mengakhiri ucapannya. Ia ingin mencairkan suasana canggung itu secepatnya.


"Selamat ya ...." Lanjutnya lagi, setelah menyadari tidak ada reaksi apapun dari Nandita atas candaan yang dilontarkannya.


"Untuk?" Gadis itu mengerutkan alisnya, tidak mengerti maksud ucapan Aslan.


"Untuk pertunangan kalian. Kan aku belum sempat ngucapin selamat buat kamu ... Om-om mu itu terlalu posesif, tidak memberiku kesempatan untuk mendekatimu."


Meski dengan terkekeh, namun ada kegetiran yang coba Aslan sembunyikan dari candaannya itu.


Keduanya saling menatap, mencoba menyelami perasaan masing-masing.


"Aslan ...."


"Aku turut bahagia untuk semua yang terjadi. Bisa mengantarkan kamu pada orang yang tepat, sungguh membuat aku meras lega."


Nandita menatap pria yang usianya lebih muda itu, dengan sorot mata sendu.


Aslan tersenyum, menatap lurus ke depan.


Semilir angin menerpa keduanya, menghadirkan rasa dingin yang menyeruak menembus kulit.


Pohon-pohon di sekitar, sedikit bergoyang dengan daun-daun muda yang baru saja tumbuh menahan dirinya sekuat mungkin agar tidak gugur tertiup angin.


Mereka membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku masih belum paham, kenapa kamu melakukan semua ini?"


Akhirnya tanya itu meluncur dari bibir Nandita. Menatap dalam mata biru yang kini juga tengah memperhatikannya.

__ADS_1


"Karena aku tahu, kita tidak akan mungkin bersatu. Aku sadar, ada begitu banyak hal yang membuat kita berbeda dan sulit untuk melangkah bersama. Dan satu yang pasti, cinta Gunadh padamu begitu besar, sangat sulit menemukan seseorang yang tulus seperti dia. Aku percaya dia bisa memberimu kebahagiaan."


Nandita tersenyum getir. Menundukkan kepala, mencoba meresapi alasan yang diberikan Aslan untuknya. Bukan hanya menerima alasan itu, tapi juga meyakinkan hatinya, apa yang laki-laki itu ucapkan adalah benar.


"Kamu bahagia dengan keputusan yang kamu buat untukku?" Tanya gadis itu akhirnya.


Jujur ia tidak ingin Aslan tahu apa yang ia rasa saat ini, terhadap laki-laki di sampingnya itu.


Perasaan yang coba ia enyahkan dengan bersikap ketus dan menjauh dari Aslan. Perasaan nyaman yang membuat dia tersiksa. Rasa suka yang perlahan muncul tanpa permisi. Perasaan yang juga membuatnya ingin segera pergi dari negara itu.


Benar apa yang diucapkan ayah Darma. Siapa yang mampu menolak pesona Aslan? Pria dengan begitu banyak kelebihan yang dimilikinya.


Tampan, punya harta, lucu, dan tentu baik dan sopan.


Dibalik sikapnya yang terlihat sesuka hati, ada ketulusan dan kedewasaan yang laki-laki itu miliki.


Semakin Nandita mencoba menghindar, semakin kencang arus rasa yang membuatnya goyah.


Terlebih, saat pertunangan itu terjadi. Saat dengan penuh kesadaran Aslan membawa Gunadh datang ke hadapannya, semakin membuat Nandita sadar kalau laki-laki itu layak untuk dicintai.


"Apapun yang membuat kamu bahagia, pasti membuatku juga bahagia."


"Ck,"


Nandita berdecak kesal.


"Gombalanmu tidak berarti,"


"Hahahaha aku serius, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan untukku."


Aslan membelai rambut panjang Nandita saat mengucapkan kalimat itu.


Gadis itu meraih tangan Aslan. Menolak sentuhan yang diberikan laki-laki itu. Ia menggeleng.


"Jangan begini Aslan ... Jangan membuat aku merasa bersalah seperti ini. Cari kebahagiaan kamu, jangan selalu memikirkan aku."


'Jangan membuat aku semakin dalam menyelami perasaan ini,' lanjutnya dalam hati.


"Carikan aku gadis yang seperti kamu," dengan senyum menggoda, Aslan berucap membuat Nandita memutar bola matanya malas.


Sikap Aslan seperti ini, sering membuat Nandita merasa kesal, namun hal itu juga yang menumbuhkan perasaan aneh di hatinya.


Dengan kesal Nandita bangkit dari tempat duduknya, melangkah meninggalkan laki-laki itu seorang diri.


Namun pelukan seseorang dari belakang tubuhnya membuatnya membeku di tempat.

__ADS_1


"Maaf, tapi ijinkan aku melakukan ini beberapa saat saja." Lirih Aslan yang tidak dapat Nandita tolak.


__ADS_2