
Setelah proses upacara adat di rumahnya usai, Nandita diboyong ke rumah Gunadh untuk melakukan upacara penyambutan dan upacara adat lainnya.
"Maaf ya sayang, mas hanya ditemani karyawan saja datang menjemput kamu. Kamu tau sendiri mas nggak punya keluarga." Ucap Gunadh, saat mereka masih dalam perjalanan menuju kota tempat tinggalnya.
Ia merasa bersalah dan malu, sebab di rumah Nandita, ia disambut oleh dua keluarga besar yakni dari keluarga ayah Darma, dan bunda Santi. Belum lagi tetangga sekitar yang juga hadir, seakan menunjukkan jika wanita yang dinikahinya itu memiliki begitu banyak kerabat.
Sementara dirinya? Ia yang hidup sebatang kara, hanya bisa mengandalkan para pekerja serta ketua RT dan RW di tempatnya tinggal.
Sifatnya yang introvert, membuat dia tidak memiliki banyak teman. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Sehingga disaat seperti ini, ia benar-benar merasa sendiri.
"Iya mas, jangan dipikirkan. Toh keluarga aku udah tau semuanya kan?" ucap Nandita lembut.
"Tapi bagaiman dengan tetangga-tetangga kamu?"
"Sejak kapan mas pusing dengan pendapat orang lain? Lagian kenapa harus dipikirkan? Kita yang menjalani, mereka hanya menjadi penonton. Biarkan saja mau berpikir seperti apa."
Gunadh menarik nafas dalam. Meski merasa menyesal, namun ucapan istrinya ada benarnya. Kenapa ia harus takut dengan pendapat orang lain? Toh mereka berdua yang menjalani. Selagi kedua orang tua Nandita mendukung, harusnya ia tidak memusingkan apapun pendapat orang di luar sana.
Tidak banyak obrolan yang terjalin setelah itu. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih dua jam, mereka akhirnya tiba di rumah besar milik Gunadh.
Pengantin baru yang didampingi keluarga Nandita, langsung diarahkan menuju tempat dimana upacara penyambutan akan dilakukan. Proses yang hampir sama seperti saat di rumah Nandita sebelumnya.
Gunadh benar-benar harus mengucapkan banyak terimakasih kepada Arya, sebab asistennya lah yang paling sibuk menyiapkan segala sesuatu mulai dari upacara agama, tamu undangan, persiapan resepsi di hotel, itu semua hasil pikiran Arya. Gunadh hanya mengawasi melalui sambungan telepon saja.
Tahapan demi tahapan upacara berjalan dengan lancar. Meski lelah, namun Gunadh merasa puas dengan semua proses yang dilalui.p
Hari sudah gelap ketika semua proses upacara selesai dilakukan.
Keluarga serta kerabat yang mengantarkan Nandita ke rumah suaminya pun, sudah kembali beberapa saat lalu.
Suasana di rumah besar itu perlahan sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berlalu lalang di sana.
__ADS_1
"Capek?" Tanya Gunadh, saat melihat Nandita duduk bersandar di sofa kamarnya.
Wanita itu membuka matanya yang terasa berat.
"Hmmm" sahutnya kembali terpejam.
Gunadh mendekat, ia mengangkat kedua kaki Nandita yang berselonjor di sofa panjang itu, membuat pemiliknya terkejut.
Refleks Nandita berniat membenarkan posisi duduknya, namun dicegah oleh Gunadh.
Dengan tersenyum, ia mulai mengurut telapak kaki hingga betis Nandita menggunakan minyak khusus.
"Mas ngapain?" Tanya wanita itu.
"Pijitin kaki kamu lah. Dari tadi pagi pakai high hills, pasti capek." Sahutnya sembari tangannya terus memijat kaki Nandita dengan lembut.
"Nggak usah, mas. Aku nggak pa-pa." Nandita menarik kakinya, namun ditahan lagi oleh Gunadh.
Nandita tiba-tiba merasa berdebar. Pikirannya sudah berpetualang kemana-mana. Ia ingat ucapan kakak sepupunya sesaat sebelum wanita itu pergi.
"Persiapkan diri kamu nanti malam. Aku yakin suami kamu pasti langsung meminta haknya." Bisik Nindya sembari mengerlingkan mata.
"Apaan sih kak ...." Nandita merasa malu mendengar ucapan kakak sepupunya itu. Meski ia belum pernah melakukannya, namun ia adalah wanita dewasa yang tentu sudah tahu apa maksud ucapan kakak sepupunya itu.
"Tapi kak, aku takut ...." Lanjutnya lagi, saat menyadari jika ucapan Nindya sebentar lagi akan terbukti.
"Nggak usah takut ... Nanti insting kamu yang akan menuntun. Kalau dia memanjakan kamu, pasrah saja. Itu tandanya dia sedang merayumu. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Semua akan mengalir tanpa kamu sadari."
Pipi Nandita kembali merona. Tanpa sadar, ia tersenyum sendiri mengingat obrolannya beberapa saat lalu, bersama kakak sepupunya.
"Lagi mikirin apa?" Tiba-tiba sebuah suara begitu dekat menyapa telinganya. Bahkan bulu kuduknya sampai meremang, karena hembusan nafas hangat begitu terasa.
Nandita terperanjat.
__ADS_1
"Mas ...." Rasanya jantung wanita itu mau meloncat sangking terkejutnya.
"Kenapa tiba-tiba ada di sini? Tadi kan ...." Ia bingung melanjutkan ucapannya.
"Kamu ketiduran sayang. Tapi anehnya, kok ada ya orang tidur sambil senyum-senyum begitu? Kamu mimpi apa barusan?" Gunadh bicara sembari mengangkat tubuh istrinya untuk ia pangku.
Nandita ingin turun, ia belum terbiasa dengan perlakuan intim ini. Namun siapa yang bisa lepas dari lengan berotot milik Gunadh?
"Mas ...."
"Kita udah sah sayang. Tidak ada larangan lagi untuk kita melakukan ini." Ucap Gunadh, menatap istrinya dengan mata penuh kabut.
Nandita akhirnya pasrah, membiarkan Gunadh melakukan semua yang laki-laki itu mau.
Awalnya hanya kecupan singkat, namun semakin lama, kecupan itu berubah menjadi lumattan. Gunadh benar-benar lihai memainkan lidah istrinya, hingga Nandita yang awalnya kaku dan sering kehabisan nafas, semakin lama semakin bisa mengikuti permainan mantan duda tersebut.
Ada yang membuncah di dada Nandita. Sesuatu yang membuatnya berdebar, panas dingin, dan menciptakan rasa tidak nyaman pada area sensitifnya.
"Mas ...." Kembali ia memanggil nama suaminya, saat Gunadh membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Gunadh tidak menanggapinya. Ia terus melancarkan aksi, menjelajahi setiap inci tubuh yang masih menggunakan pakaian lengkap, namun sebagian kancing piyama itu sudah terbuka.
"Mmmhhh" lenguhan pertama yang lolos dari bibir Nandita, saat suaminya mengecup puncak gunung berwarna coklat muda miliknya. Tangan wanita itu tanpa sadar merrem as rambut sang suami. Matanya terpejam, menikmati sensasi yang baru sekali ia rasakan seumur hidupnya.
"Maaaasss" kembali ia memanggil suaminya, saat laki-laki itu semakin liar menj amah bagian atasnya. Kali ini bukan hanya satu, namun kedua puncaknya dipermainkan oleh Gunadh.
"Mmm" kembali Nandita hendak melenguh, namun sebisa mungkin ia menahannya.
Gunadh mendongak, menghentikan aktifitas mulutnya sejenak.
"Jangan ditahan sayang, keluarkan saja. Mas ingin mendengar suara dess ahanmu."
Ucapan Gunadh membuat Nandita semakin merona. Ia malu, namun tidak dapat dipungkiri jika ia menikmati perlakuan suaminya itu.
__ADS_1