
Wajah Mira berbinar, ketika udara luar rumah sakit menyapa tubuhnya.
Gadis itu memejamkan mata dan menghirup sebanyak mungkin oksigen disekelilingnya.
Gunadh tersenyum melihat putrinya seperti tengah memperagakan iklan di pegunungan.
"Kangen ya sama udara luar?" Tanya laki-laki itu, sembari berjalan pelan menuju loby rumah sakit.
Mira mengangguk. Dua Minggu dirinya terkurung dalam ruangan, tanpa bisa bergerak atau menikmati pemandangan. Ia hanya tahu siang atau malam, dari jendela kamar yang letaknya cukup jauh dari ranjang pasien.
"Selama sakit, aku berasa kayak di penjara." Keluh gadis itu.
Gunadh terkekeh, mengacak rambut putrinya yang duduk di atas kursi roda.
"Mangkanya jangan sakit lagi, jangan aneh-aneh lagi, biar bisa selalu menikmati keindahan alam." Ucapnya, sambil terus mendorong kursi roda sang putri, diantara lalu lalang orang-orang.
Bik Asih dan sopir yang selama ini bertugas mengantar jemput Mira, berjalan di belakang majikannya. Membawa barang-barang yang selama ini dibutuhkan oleh dua ayah dan anak itu selama di rumah sakit.
🌟🌟🌟
Mira sudah tidak sabar untuk tiba di rumahnya.
"Dad ... Ponsel aku mana? Aku mau kabarin temen-temen, kalau aku udah boleh pulang hari ini."
"Nanti aja di rumah." Sahut Gunadh malas. Entah kenapa, sejak mobil yang dikendarai sang sopir melaju keluar halaman rumah sakit, laki-laki itu merasa sangat mengantuk.
Mungkin karena selama ini hati dan pikirannya terfokus pada keadaan sang anak, sehingga ia tidak peka pada kondisi tubuhnya.
Mira memanyunkan bibirnya, membuat gadis itu terlihat menggemaskan. Namun melihat sang Daddy tetap memejamkan mata, Mira tidak lagi merengek.
"Bik ... Nanti masakin aku yang enak-enak ya ... Aku mau ajakin temen-temen nginep di rumah." Ucap gadis itu, ketika melihat daddy-nya sudah terlelap.
"Iya non," sahut bik Asih menoleh ke arah majikannya.
__ADS_1
Perjalanan dari rumah sakit ia nikmati dengan melihat sekeliling. Barisan bangunan tinggi dan rendah, toko-toko berjejer rapi, hilir mudik pejalan kaki yang tak perduli dengan sengatan matahari, laju kendaraan yang seakan berlomba untuk tiba paling pertama, semua kesibukan itu ia rekam di Indra penglihatannya.
'aku terlalu bodoh hingga ingin mengakhiri hidup hanya karena perempuan itu. Padahal hidupku jauh lebih baik dari mereka yang tengah menantang matahari di seberang sana.' gumamnya dalam hati, ketika tanpa sengaja matanya menangkap dua orang anak perempuan bertubuh kurus kering dengan penampilan lusuh, menengadahkan tangan ke arah mobil yang berhenti di lampu merah.
Belum lagi seorang ibu dengan bayi dalam gendongannya, melakukan hal yang sama di tempat yang tidak terlalu jauh dari dua anak perempuan tadi.
Semakin membuatnya sadar, hidup bukan hanya soal apa yang pergi, tapi juga apa yang dimiliki.
Meratapi apa yang tidak bisa kita capai hanya akan membuat kita lupa cara bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan beri.
Kembali ia mengalihkan pandangan ke arah samping, dimana sang ayah yang tertidur pulas di sampingnya dengan posisi kepala bersandar di ujung sandaran kursi penumpang.
'sekali lagi maafin aku Dad ... Aku janji akan menjadi anak yang bisa Daddy banggakan kelak. Terimakasih karena masih memeluk aku dengan kasih sayangmu, meski aku sudah begitu banyak menyakitimu.' bisik hati Mira.
Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, mereka akhirnya memasuki wilayah perumahan dimana rumah Gunadh terletak.
"Itu kok rame, ada apa ya?" Bik Asih yang duduk di samping sopir, melirik rekan kerjanya.
"Entah, aku juga nggak tau bik. Itu kayak orang-orang lagi nunggu sumbangan begitu." Sopir itu memelankan laju kendaraannya.
"Sudah sampai ya pak?"
Tanya-nya.
"Eh, belum tuan, ini ... Kok di depan gerbang sepertinya ramai orang ...," Sopir itu berucap ragu.
Gunadh memeprabiki posisi duduknya, agar bisa melihat apa yang dikatakan sopirnya.
Jarak yang semakin terkikis, membuat Gunadh semakin jelas melihat orang-orang yang tengah berkerumun di depan rumahnya.
'wartawan?' gumamnya.
Namun ia masih belum menangkap sinyal masalah yang tengah menghadang di depan mata.
__ADS_1
Para pencari berita itu segera mengerubungi mobil yang ditumpangi Gunadh begitu menyadari kehadiran pengusaha itu.
"Dad ..." Mira memegang erat lengan sang ayah, menyalurkan ketakutan yang terpancar dari sorot matanya.
Melihat tubuh Mira bergetar takut, Gunadh yang bingung kini bertambah kesal. Jangan sampai ini menimbulkan efek buruk bagi Mira yang psikisnya belum sembuh.
"Tenang sayang, mereka cuman mau nanya sesuatu kok sama Daddy. Daddy keluar dulu ya, kamu tetap di dalam." Ucap Gunadh menenangkan.
Mobil sudah tidak bisa lagi bergerak karena beberapa orang sengaja berdiri di depan kendaraan tersebut.
"Pak tetap jalankan mobilnya, jangan ikut keluar. Nanti setelah di rumah, bibik tolong temani Mira di kamarnya."
"Ya tuan," sahut kedua pekerja itu kompak.
"Dad ..." Mira memanggil, hanya dibalas senyum tipis sang ayah.
Gunadh turun dari mobil dengan wajah dingin yang menakutkan, membuat beberapa dari mereka gemetar ketakutan.
"Bubar, jangan membuat keributan di sini." Ucap Gunadh langsung tanpa basa basi.
Ia juga memberi kode pada sopirnya untuk melajukan kendaraannya.
Orang-orang yang tadi menghadang, serempak menyingkir, memberi jalan pada mobil itu.
Setelah dirasa aman, Gunadh pun melenggang tanpa mengucap sepatah katapun.
^_________^^_________^^_________^
promo novel bagus 😍😍
Blurb :
Seorang suster cantik yang bernama Dina Permata Devindra, diam-diam telah jatuh hati pada sahabat di masa kecilnya yang bernama Exsel Wiratama yang sudah mempunyai kekasih yang juga merupakan sahabatnya sendiri. Hingga akhirnya Dina memilih mengalah dengan sahabatnya. Namun seiring berjalannya waktu hubungan antara Exsel dan kekasihnya kandas di tengah jalan karena sebuah perjodohan. Lalu apakah Dina akan berusaha merebut hati Exsel kembali? Ataukah Dina justru lebih memilih orang pilihan keluarganya untuk dijadikan pendamping hidupnya, daripada Exsel yang juga telah dijodohkan oleh keluarganya?
__ADS_1