
Mereka akhirnya duduk bersama. Nandita merasa ada sesuatu yang janggal yang harus mereka pecahkan.
"Sekarang ceritakan gimana kejadian sebenarnya." Gunadh yang menjadi penengah, akhirnya membuka suara.
Anton pun menjelaskan bagaimana awal ia bertemu dengan Tasya.
"Aku dihubungi Brian. Kata dia, Safira ngajak pesta. Aku nanya, pesta di mana? Dia bilang di club malam. Aku awalnya nolak, terus Brian bilang bakal ada cewek yang mau dikenalin sama aku. Aku tanya lagi, cewek dari mana? Dia cuman bilang datang aja kalau mau. Akhirnya aku mau. Pas datang ke sana, aku liat Safira sama Tasya. Dari penampilannya, aku nggak tau kalau Tasya cewek baik-baik. Apalagi dia di sana bersama Safira." Anton tidak menjelaskan dengan detail.
"Memangnya kenapa dengan Safira?" Pancing Nandita. Ia ingin Gunadh tahu siapa wanita yang selama ini dia bela.
"Safira itu pemain." Anton memainkan dua jari membentuk tanda kutip.
"Dia simpanan pria berduit, tapi dia juga punya berondong yang setiap saat bisa dia panggil untuk memenuhi keinginannya. Dan salah satunya ya Brian. Temenku."
"Kamu kenal Safira sudah lama?" Gunadh.
"Belum terlalu lama sih, paling sekitar tiga bulanan. Brian yang kenalin."
"Sudah berapa kali kamu ditawari perempuan oleh Safira?" Tanya Nandita lagi.
"Baru saat itu saja."
"Kamu sering ketemu sama dia?"
"Nggak, hanya beberapa kali bertemu di club malam."
"Terus tau dia simpanan om-om dari mana?" Tanya Gunadh lagi.
"Beberapa kali aku liat dia jalan sama pria berbeda tanpa Brian." Gunadh mengangguk mengerti.
"Lanjutkan saat ketemu Tasya." Titah Nandita. Merasa obrolan merek sudah keluar konteks.
"Saat itu Safira memberi kode kalau cewek itu bisa dipake. Aku menganggukkan kepala. Dan benar saja, pas Safira turun dengan Brian, Tasya sengaja menggodaku. Awalnya aku pikir dia menggodaku." Anton menekan kalimat terakhirnya.
"Tapi setelah di dalam kamar aku baru tahu kalau dia benar-benar dalam pengaruh obat, setelah aku sadar kalau dia masih per**an." Nandita memejamkan mata. Tidak bisa membayangkan seperti apa Tasya kala itu. Sebisa mungkin ia menahan emosinya, agar tidak memukul Anton lagi.
"Sayangnya aku nggak bisa nunggu dia bangun. Aku tinggalin dia di hotel sebab paginya aku ada interview kerja. Sejak saat itu perasaanku nggak pernah tenang. Itu sebabnya aku mendesak Safira terus untuk memberi tahu alamat Tasya. Tapi kata dia, Tasya anak dari seorang psk yang tinggal di salah satu tempat pr*stit**i. Aku jadi berpikir ulang untuk mencarinya. Sebab aku merasa dia bukan wanita yang tepat untukku. Namun beberapa hari terakhir kembali aku mengingatnya, sebab dia pernah hadir dimimpiku. Dia dengan wajah pucat, memeluk boneka, sedang di kejar banyak orang. Tapi Tasya diam, hanya memeluk bonekanya dengan erat." Kenang Anton dengan mata menerawang.
" Setelah mimpi itu, aku kembali menghubungi Safira tapi dia nggak mau kasih aku alamatnya. Katanya sudah lupa. Lalu tadi dia menghubungiku, dia bilang akan kasih alamat Tasya kalau aku mau bantu dia." Tutur Anton panjang lebar
__ADS_1
"Bantu apa?"
Kompak Nandita dan Candra bertanya.
"Dia bilang selama ini ada wanita yang sering mengganggunya, dan ia sedang mengarahkan wanita itu ke rumahku. Aku diminta memberi kalian pelajaran, bagaimanapun caranya. Setelah itu barulah ia akan memberi alamat Tasya."
Nandita dan yang lain mengangguk mengerti.
"Kamu itu udah ditipu sama dia. Pertama soal status Tasya. Dia sepupu saya, punya keluarga lengkap dan dari keluarga baik-baik. Kedua, bukan saya yang mengganggu dia tapi sebaliknya." Jelas Nandita
"Sekarang kamu sudah tahu, siapa dan bagaimana keadaan Tasya. Apa yang akan kamu lakukan?"
Meski dengan nada bertanya, namun tatapan Nandita penuh ancaman.
"Seperti yang aku bilang, aku memang ingin bertemu dengannya. Kapan kita bisa ke sana?" Tanya Anton.
Nandita dan Gunadh saling tatap.
"Mau balik sekarang?" Tanya laki-laki itu.
"Besok aja Ta, tidur di rumahku dulu sekarang." Tawar Candra.
"Ok, kalau gitu besok kita bertemu di dekat hotel Lampion. Ini kartu nama saya. Jam setengah delapan sudah di sana." Gunadh mengakhiri obrolan.
Akhirnya mereka sepakat untuk kembali ke kampung halaman Nandita esok harinya.
Gunadh mengantar Nandita ke rumah Candra, sementara Candra berboncengan dengan Satya.
Dalam perjalanan, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut ke duanya. Baik Nandita maupun Gunadh sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Besok mau dijemput jam berapa?" Akhirnya Gunadh bertanya, setelah mobil memasuki halaman rumah Candra
"Gak usah dijemput mas, aku nebeng sama Candra aja besok." Sahut Nandita.
Gunadh menarik nafas panjang. Merasa frustasi dengan sikap Nandita yang masih acuh padanya.
"Gimana caranya untuk kamu bisa maafin aku Ta?" Tanyanya jengah.
"Ya nggak gimana-gimana mas. Minta maaf untuk apa?" Nandita mengelak. Dengan suara yang sedikit meninggi ia bertanya.
__ADS_1
"Pendendam sekali ternyata kamu." Ucap Gunadh.
Hening.
Nandita masih berpikir mengeluarkan kalimat yang tepat.
"Mas, aku telepon bunda dulu ya, mau kabarin kalau aku nggak pulang." Nandita mengalihkan topik. Tanpa menunggu jawaban Gunadh, gadis itu keluar dari mobil sambil memainkan ponselnya.
Gunadh mengusap wajahnya kasar. Sangat sulit menaklukan hati Nandita. Namun ia sudah bertekad, akan tetap berjuang demi gadis itu.
"Mungkin selama ini aku selalu merasa hubungan kita aman Ta, hingga aku terlalu menggampangkan kamu dan perasaan kamu. Tapi akan aku buktikan kalau perasaan ini nggak sedangkal yang kamu tuduhkan." Ucapnya sambil menatap punggung Nandita yang sudah menjauh, dengan ponsel menempel di telinganya.
Ia tidak akan lagi memaksa Nandita seperti keinginannya. Gunadh sadar, Nandita masih meragukannya. Itu juga karena kesalahannya.
Teringat kembali dari awal mereka bertemu. Nandita yang ceria dan tak takut apapun, bahkan berani menantangnya. Lalu ia melihat sisi dewasa dari gadis itu ketika ia menjaga dan mendampingi Namira. Dan kini ia melihat sisi lain lagi dari sosok yang dicintainya itu. Nandita adalah wanita yang tak mudah goyah, pendendam dan keras kepala. Wanita tangguh yang penuh perhitungan.
Gunadh tersenyum miris, menyadari perjuangannya untuk menekan ego akan sangat sulit.
^_________^^_________^^_________^
Akhirnya bisa up juga.
Berperang dengan rasa malas akibat flu dan pusing ternyata sulit pemirsaaa 🥺🥺🥺.
Btw, untuk kalian yang suka dengan kisah religius, coba baca karya temen aku deh ... ⬇️
Aulia, seorang gadis belia yang jatuh pada pergaulan bebas. Dia sampai hamil di luar nikah dengan Rangga, anak dari majikan tempat ayahnya bekerja sebagai sopir. Orang tua Rangga menolak untuk menikahkan mereka. Malahan menjodohkan laki-laki itu dengan wanita dari kalangan atas.
Aulia harus kehilangan Ayahnya yang meninggal karena penyakit jantung. Dia pun tidak jadi melanjutkan kuliahnya dan memilih mencari pekerjaan.
Suatu hari Aulia menolong seorang Kakek bernama Yusuf yang hendak tertabrak mobil. Sehingga dia sendiri yang mengalami keguguran.
Sebagai tanda ucapan terima kasih, Yusuf dan Halimah mengangkat Aulia sebagai anak mereka dan mengajaknya tinggal bersama di desa. Di sana Aulia pun mendalami agama dari pasangan lansia ini.
Kecantikan, kecerdasan, dan keramahan Aulia, membuat Gus Fathir jatuh hati padanya. Dia adalah cucu pendiri Pesantren Al-Ikhlas. Saat akan melakukan khitbah, tersebar gosip kalau Aulia pernah hamil dan keguguran.
Akankah Aulia mendapatkan kebahagiaan?
__ADS_1