
Nandita baru saja menyelesaikan pelatihan terakhirnya. Ia bersiap kembali ke kost.
Raut lelah menghiasi wajah manisnya. Ia berjalan pelan dengan kepala menunduk. Sesekali memijat pundak dan lehernya yang terasa kaku.
"Ta ..." Terdengar samar suara yang begitu ia rindukan.
Nandita berhenti, lalu memejamkan mata. Menepis halusinasi yang menghampiri.
'Gak mungkin dia di sini' gumamnya.
Meski ia marah, namun tak dapat dipungkiri sering kali ia merindukan Gunadh.
Tubuhnya menegang, ketika seseorang memeluknya dari belakang.
Wangi khas seseorang menguar, menyapa indra penciumannya.
"Maafin aku, maaf untuk semua yang udah terjadi." Ucap Gunadh masih memeluk tubuh gadisnya.
Nandita diam. Tanpa bereaksi apapun. Meski sadar kini ia tengah ada di pinggir jalan, menjadi tontonan beberapa orang.
Menyadari Nandita masih mematung, Gunadh melepas pelukannya. Mengubah posisi tubuhnya ke depan gadis itu.
"Sayang ..." Gunadh memegang kedua bahu Nandita. Namun segera ditepis gadis itu.
Nandita bergegas menjauh, begitu kesadarannya terkumpul. Yang ia kira khayalan rupanya nyata. Gunadh ada di hadapannya kini. Bersikap seolah tidak terjadi apapun diantara mereka. Memeluk tubuhnya dengan lancang, setelah kalimat menyakitkan yang laki-laki itu lontarkan dulu.
Gundah membiarkan Nandita berjalan menjauh. Setelah tubuh gadis itu tidak lagi tampak, barulah ia masuk ke dalam mobil yang ia parkir tidak jauh dari tempat itu.
Perjuangannya baru akan dimulai kini. Menaklukan hati Nandita kembali. Yang ia yakin, lebih sulit dibanding saat awal mereka saling mengenal.
Nandita menghempas tubuhnya ke atas kasur empuk tempatnya tinggal selama ini. Kost-kostan yang lebih besar dan lebih bagus dari kostannya di kota sebelumnya.
Ia gelisah. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa menghadapi Gunadh.
Segera Nandita mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang untuk meminta saran.
"Ndra ... Mas Gunadh di sini. Aku mesti gimana?" Tanyanya pada Candra melalui sambungan telepon.
"Gimana apanya? Ya kamu temui lah ..."
"Aku gak mau! Enak aja dia, setelah membuat masalah, terus gak ada kabar, lalu sekarang tiba-tiba muncul seolah gak ada sesuatu yang terjadi?" Emosi Nandita terpancing. Candra tersenyum mendengarnya.
"Itu kamu bilang baik-baik aja dari dulu?" Sindir Candra.
"Jangan pendam masalah kamu Ta, ungkapkan isi hati kamu. Biasakan untuk bicara dari hati ke hati." Nasihat Candra.
__ADS_1
Nandita diam.
"Masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Selesaikan semua dengan baik dan dewasa. Apapun yang hati kamu mau, ungkapkan. Agar tidak ada penyesalan kedepannya."
Nandita masih diam.
"Ta, halo ... Kamu masih denger gak sih?" Kesal Candra yang tidak mendapat sahutan dari Nandita.
"Ya aku denger, lanjut." Ucapnya singkat, sambil mengawasi seseorang yang turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah kamarnya.
"Kalau kamu masih sayang sama dia, dan sekiranya kesalahan mas Gunadh masih bisa kamu maafkan, kasih dia kesempatan. Tapi kalau kamu ingin semua berakhir, katakan baik-baik."
"Ok aku ngerti. Dia udah di depan kamar kost aku. Aku tutup dulu ya bye." Tanpa mendengar sahutan Candra, Nandita memutus sambungan teleponnya.
Belum sempat ia menarik nafas, ketukan pintu membuatnya semakin gelisah.
Takut menimbulkan keributan, Nandita segera membuka pintu.
Mata mereka bertemu, debaran jantung Nandita semakin cepat seperti lari maraton.
"Boleh mas masuk?"
Nandita sadar dari lamunannya ketika mendengar suara berat Gunadh.
"Mmm masuk aja mas." Ucap gadis itu sedikit terbata.
Tempat tinggal Nandita kini lebih bebas dari kostan sebelumnya. Ketika Nandita masih mengajar.
Di sini tidak ada yang perduli satu dengan lain. Selagi tidak menggangu penghuni lain.
"Ta ..."
"Mas..."
Mereka saling memanggil secara bersamaan. Membuat suasana canggung kembali tercipta.
Untuk beberapa saat mereka kembali terdiam.
Nandita meremas kedua tangan di atas pangkuannya. Mengurai gugup yang tiba-tiba menyerang.
Sementara Gunadh hanya memperhatikan tingkah wanita di sampingnya dengan jantung yang sama berdebar hebat.
Saat ini mereka sama-sama duduk di atas kasur milik Nandita. Sebab kamar itu tidak memiliki meja ataupun kursi untuk duduk.
Meski luas, namun tidak banyak perabotan yang Nandita miliki di kamarnya.
__ADS_1
Gunadh memberanikan diri meraih tangan Nandita. Membuat gadis itu terkejut dan refleks menepis tangan Gunadh.
"Maaf mas ..." Ucapnya ketika menyadari sikapnya yang berlebihan.
Gunadh tersenyum.
"Aku yang mestinya minta maaf." Sahutnya, lalu kembali diam.
Otaknya tidak dapat menemukan susunan kalimat yang tepat untuk ia ucapkan pada Nandita.
Nandita mendongakkan kepalanya. Menatap laki-laki yang coba ia hapus dari pikirannya.
"Minta maaf untuk apa?" Tanya gadis itu.
"Untuk semua kesalahan yang aku lakukan sama kamu, sadar ataupun gak. Untuk semua rasa sakit dan kecewa yang sudah aku hadirkan di hati kamu. Untuk kebodohan dan egoku yang melukai kamu. Untuk masa lalu aku yang mempengaruhi kehidupanmu. Untuk semua itu, aku minta maaf." Akhirnya kalimat itu lolos dari mulut Gunadh.
Nandita diam. Menatap Gunadh dengan wajah datar yang tak dapat Gunadh mengerti artinya.
"Kamu boleh memukul, menampar, mencaci aku untuk semua kesalahan yang aku lakukan. Tapi maafkan semua kesalahanku." Gunadh mengambil tangan Nandita dan memukulkan ke dadanya sendiri.
Nandita melepas genggaman Gunadh di pergelangan tangannya.
Gadis itu menatap lawan bicaranya dengan penuh selidik.
"Apa mas datang hanya untuk meminta maaf?" Tanpa sadar Gunadh mengangguk.
"Aku udah maafkan semuanya mas. Tapi aku belum bisa atau mungkin tidak akan bisa melupakan apa yang mas lakukan saat itu. Hati aku masih sakit tiap kali mengingat ucapan mas. Mas gak mau mendengar apa yang ingin aku katakan. Malah memaksaku untuk minta maaf pada Mira." Nandita tersenyum kecut.
"Sekian banyak waktu yang kita lalui, tidak bisa membuat mas mengenal aku seperti apa. Aku tidak lebih berharga dari masa lalu kamu mas." Nandita sakit saat mengatakan itu. Pun Gunadh, yang merasa dadanya dihujam belati. Perih, sakit, dan tak berdaya.
Nandita terluka, dan itu karena dirinya.
"Gak seperti itu sayang ... Saat itu semua lagi kacau. Pekerjaan dan masalah proyek menguras tenaga dan pikiran, lalu tiba-tiba melihat kamu seperti itu, dan melihat tangisan Mira. Aku gak bisa berpikir jernih." Terang Gunadh. Berharap Nandita mengerti keadaannya.
Nandita menggeleng.
"Jika di sini kamu yakin akan diriku, apapun yang terjadi tidak akan meruntuhkan keyakinan kamu mas." Nandita menunjuk dada Gunadh.
Gadis itu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kenyataannya perasaan itu masih rapuh mas. Rasa mas tidak sebesar itu untukku." Tuduh gadis itu.
Gunadh menggeleng, hendak menyahut.
"Maaf mas, udah malam. Aku capek. Aku mau istirahat." Usir Nandita secara halus.
__ADS_1
"Ya sudah kamu istirahat ya. Jaga diri baik-baik." Ucap Gunadh seraya berlalu dari hadapan Nandita
Dalam hati ia berjanji akan berjuang semampunya untuk mendapatkan maaf juga hati Nandita kembali.