Nanditha

Nanditha
MENYUSUN RENCANA


__ADS_3

"Kita mau ke mana mom?" Tanya Namira


"Udah, kamu diam aja. Nanti juga bakalan tahu. Kita mau ketemu seseorang. Tadi mommy udah telepon dia."


"Terus kapan kita menjalankan rencana rahasia yang mommy bilang itu?"


Safira menarik nafas, mencoba bersabar menghadapi Mira yang cerewet.


"Kamu ikuti aja yang mommy katakan ya sayang. Biar mommy yang mikir. Kamu gak usah ikut mikir. Nanti kalau sudah waktunya, mommy pasti akan kasih tahu kamu."


Namira diam. Rasa ingin tahu anak itu memang sangat besar. Sehingga ketika sang mommy mengatakan memiliki rencana rahasia, ia merasa tidak sabar untuk melakukannya. Rencana apa? Ia sendiri pun tidak tahu. Yang pasti kata sang mommy, bila itu terlaksana kemungkinan Nandita berpisah dengan Gunadh akan sangat besar.


Hingga tibalah mereka di sebuah mall.


Mira dibantu sang mommy berjalan menuju restaurant yang menyediakan makanan khas Korea yang kini banyak diminati anak muda.


"Pelan-pelan sayang." Kata Safira saat Mira terlihat kesulitan berjalan.


"Kita mau bertemu dengan orang yang akan bantuin kita melancarkan rencana itu." Ucap Safira saat sudah mendaratkan pantatnya di kursi yang dipilih.


"Tapi kamu harus janji, jangan katakan apapun pada Daddy kamu ya. Oh ya pastikan dulu, benar gak Daddy kamu menginap di sana?"


"Ya mom." Namira kemudian menghubungi sang Daddy. Namun panggilannya tidak diangkat oleh laki-laki itu.


"Gak dijawab mom. Mira chat aja kali ya." Ucapnya dengan mata masih terus sibuk menatap layar ponsel.


Sementara Safira hanya merespon dengan anggukan kepala samar. Ia masih sibuk berbalas pesan dengan sugar Daddy yang memeliharanya sejak kemarin.


"Maaf aku telat." Suara seorang gadis berusia lebih muda dari Nandita mengejutkan ibu dan anak yang sedang asyik dengan ponselnya masing-masing.


"Gak apa. Duduklah." Jawab Safira singkat. Mengamati penampilan orang yang dikenalnya lewat media sosial itu dari ujung kepala hingga kaki.


Penampilan yang lumayan berkelas, dengan pakaian mahal yang melekat pada tubuh gadis itu.


"Pesan makanan dulu, setelahnya baru kita obrolin rencana yang akan kita jalankan." Ucap Safira sedikit lebih ramah dari sebelumnya.


Gadis itu menuruti apa yang dikatakan wanita di depannya itu. Tidak menyangka, ia akan memiliki teman yang bisa diajak bekerja sama menghancurkan Nandita.


'Kita lihat, setelah ini apakah kamu masih bisa mengangkat kepala menatap orang-orang di sekelilingmu nandita.' Bisik iblis yang ada dalam diri gadis itu.


🌟🌟🌟


Gunadh tiba di tempat tujuan ketika waktu menunjukkan pukul 7.30


Ia masih memiliki waktu 1,5 jam lagi sebelum melakukan pertemuan dengan para investor .


"Tuan mau istirahat dulu, atau kita ke proyek melihat perkembangan pembangunan?" Tanya Arya ketika mobil sudah masuk wilayah tempat Gunadh membangun hotel.


Di daerah itu, memang banyak terdapat penginapan-penginapan kecil yang berjajar di sepanjang jalan.

__ADS_1


Alam yang indah, dan masih terbilang asri dengan laut yang tepat dijadikan tempat diving oleh para penyelam, merupakan surga bagi para wisatawan yang memiliki jiwa petualang.


Gunadh dan beberapa investor berencana membangun hotel dan tempat wisata di daerah tersebut. Dan pembangunan sudah mulai berjalan.


Tentu dengan memenuhi beberapa syarat dari pemerintah setempat.


Namun setiap usaha pasti ada kendala. Dan akan ada pesaing yang mencoba menjatuhkan dengan cara terselubung ataupun terang-terangan. Dan itu yang sedang dialami Gunadh kini.


"Kita ke lokasi saja. Saya mau melihat sudah sejauh mana proyek ini berjalan." Ucapnya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk meninjau lokasi.


Untuk sementara, proyek itu dihentikan. Tidak terlihat ada buruh yang bekerja. Hanya beberapa mandor yang memang ditugaskan untuk menjaga keamanan di sana.


Gunadh menghela nafas dalam. Bila sampai proyek ini terhenti, berapa banyak kerugian yang harus dirinya alami? Pembangunan sudah sejauh ini.


Matanya liar, berkeliling memandangi bangunan yang memakan dana tidak sedikit itu.


"Kita harus segera mencari dari mana sumber masalah ini Arya." Ucapnya pada sang asisten.


"Saya sudah menghubungi orang yang bisa membantu kita menyelidiki masalah ini tuan. Dia sudah bekerja sejak kemarin. Semoga secepatnya ia bisa memberi laporan." Terang Arya.


Sementara Gunadh hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Sudah lebih dari satu jam, apakah para investor sudah datang?" Tanyanya lagi sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Akhirnya pertemuan dengan para investor berjalan lancar. Pertemuan itu dilakukan di sebuah restaurant dekat area proyek. Rapat itu, menghasilkan beberapa kesepakatan. Salah satunya, Gunadh harus bisa menyelesaikan masalah perijinan yang kini menjadi penyebab proyek sementara dihentikan. Dan waktu yang diberikan tidak lebih dari satu bulan untuk menuntaskan semua itu.


"Kita tidak bisa kembali hari ini Arya. Paling tidak, sampai detektif kita memberikan laporan penemuannya."


"Baik tuan." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir asisten tampan itu.


Hingga matahari tepat di atas kepala, pertemuan itu baru berakhir.


Gunadh mengajak tamu-tamunya untuk makan siang bersama. Sebagai bentuk penghormatannya pada para investor yang sudah memberi kesempatan dan kepercayaan pada dirinya.


Masalah perusahaan menguras tenaga dan pikiran Gunadh.


Sibuk melihat proyek, melakukan pertemuan, dan memeriksa berkas yang dibawa dari kantornya, membuat Gunadh tidak sempat memikirkan hubungannya dengan Nandita.


Tanpa sadar, hingga matahari terbenam, dua laki-laki tampan itu masih berkutat dengan berkas dan laptop.


"Tuan, apa mau saya pesankan makanan sekarang?" Tanya sang asisten.


Gunadh melirik jam tangannya.


"Astaga sudah jam segini." Gumam Gunadh ketika jarum jam menunjuk angka 07.20 malam.


" Kita keluar saja Arya, sekalian cari angin" Ucapnya memutuskan.

__ADS_1


"Baik tuan."


Akhirnya mereka keluar dari penginapan yang disewa. Mengendarai mobil mencari tempat makan yang dirasa cocok untuk mereka singgahi.


"Tuan, Marco mengirimi pesan." Ucap Arya ketika mereka baru saja tiba di sebuah rumah makan sederhana yang menyediakan makanan khas daerah setempat.


Setelah berkeliling cukup lama, yang membuat Arya merasa kesal namun hanya bisa memendamnya.


"Dimana dia sekarang? Kalau bisa, sekalian saja dia suruh kemari. Kita bicara sambil makan malam."


"Baik tuan."


Tidak berselang lama, laki-laki bernama Marco itu datang.


Bila dilihat dari penampilan, rasanya tidak mungkin ia adalah seorang detektif yang bisa menyelidiki masalah-masalah rumit seperti kasus yang sedang dihadapi Gunadh.


"Kamu yakin? Dia terlihat seperti laki-laki Korea yang suka berjoget itu." Bisik Gunadh pada sang asisten. Ketika Arya menunjukkan seseorang yang baru turun dari sebuah mobil.


"Tuan, jangan selalu melihat seseorang dari luarnya saja. Anda lupa, dulu Anda juga meragukan nona Nandita. Tapi buktinya, bukankah karena ketangguhannya membuat anda jatuh cinta pada nona Nandita?" Ucap Arya.


"Kau jangan mengingatkan ku padanya lagi." Ucap Gunadh dengan raut yang tak bisa ditebak.


Baru saja Arya hendak bertanya, suara dari seseorang menghentikan niatnya.


"Maaf tuan harus menunggu." Rupanya suara milik Marco.


"Tidak apa. Duduklah." Arya yang menjawab.


"Silahkan pesan dulu." Ucap asisten itu lagi


"Terimakasih tuan, tapi saya sudah makan."


Bersamaan dengan itu, makanan pesanan mereka datang.


"Pesan minuman saja kalau begitu." Titah Arya.


Gunadh dan Arya melanjutkan makan malamnya terlebih dahulu sementara Marco hanya memesan minuman. Setelah selesai dengan urusan perut, barulah mereka membahas masalah proyek.


Marco menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ke arah dua orang yang ada di depannya.


"Seseorang yang anda percaya sebagai salah satu penanggung jawab di sini, menerima suap dari rival anda. Di dalam amplop itu segala bukti mulai dari rekaman cctv, bukti transfer dan beberapa foto yang bersangkutan bersama seseorang yang dicurigai ingin menjatuhkan anda, ada semua di sana." Marco menjeda kalimatnya. Melihat ekspresi wajah dua laki-laki yang menyewa jasanya.


"Namun, saya masih terus melakukan penyelidikan. Sebab ada yang janggal yang saya rasakan di sini."


Lanjutnya lagi


"Apa itu?" Tanya Arya. Sementara Gunadh hanya diam mengamati percakapan keduanya.


"Untuk saat ini saya tidak berani mengatakannya. Sebab kecurigaan saya belum terbukti. Setelah semuanya jelas, saya akan memberitahukan pada tuan." Tegas Marco

__ADS_1


__ADS_2