
Sore itu, Nandita memutuskan untuk menjenguk Candra di rumah sakit. Ia pergi ditemani oleh Satya.
Nandita sudah merasa sehat. Karena dia memang bukan tipe orang yang bisa diam, jadi sang bunda tidak bisa memaksa gadis itu untuk istirahat lebih lama.
Setibanya di rumah sakit, dering ponsel Satya menghentikan langkah mereka.
"Sorry Ta, aku angkat telepon dulu ya, kalau kamu mau kesana duluan ga apa kok. Udah tau kan nama ruangannya?" Nandita mengangguk saja, kemudian melangkah sendiri menuju kamar rawat Candra.
Dengan perlahan, Nandita membuka pintu ruang perawatan yang tertutup rapat. Baru terbuka setengahnya, hatinya bergemuruh karena mendengar curhatan Candra yang menceritakan tentang kebenciannya kepada Nandita. Kebetulan di dalam sana ada psikolog yang ditunjuk untuk melakukan sesi konseling bersama Candra.
Nandita mendengar hanya setengah cerita saja. Bagaimana Candra membencinya, dan penyebab yang memicu kebencian itu.
"Lho kak Dita di sini?" Suara Kiara dari belakang, mengagetkan bukan hanya Nandita tetapi juga Candra dan sang psikolog.
"eeee ia Kia, ini aku. Niatnya mau masuk, tapi ga enak kayanya masih ada tamu di dalam. Aku pulang dulu ya, lain kali aja aku jenguk Candra." Nandita hendak berlalu, namun langkahnya terhenti karena ucapan Candra membuat amarahnya memuncak.
"Usir dia dek, jangan biarkan ja**ng itu kesini. Kakak tidak perlu orang munafik kaya dia jenguk kakak." Niat hati ingin membesuk orang sakit, tapi apa daya, bila api yang berusaha ya padamkan malah disiram bensin oleh musuhnya.
Hilang sudah kesabaran Nandita. Tidak etis memang, bertengkar dengan orang yang sedang tidak berdaya. Namun ia juga manusia biasa, yang akan marah bila harga dirinya dilukai.
Dengan langkah lebar ia masuk sembari mendorong pintu dengan kasar.
"Apa kamu bilang? Aku ja**ng? Lancang sekali mulutmu itu!!" Dada Nandita naik turun. matanya nyalang menatap Candra penuh luka.
"Ya kamu ja**ng, kamu munafik. Ga usah berpura-pura baik di depan aku. Aku tahu kamu ga suka sama aku. Aku tau di belakang aku, kamu menertawakan aku kan? Kamu puas sekarang melihat keadaan aku seperti ini? Puas Kamu, karena aku ga bisa lagi cari Satya ke sekolahnya? Kamu tau aku suka sama Satya, tapi dengan ga tau malunya kamu dekati dia!" Candra yang masih labil, meluapkan emosinya.
"Kamu sengaja kan PPL di sekolah tempat Satya ngajar, agar kamu bisa dekat dengan Satya. Agar kamu bisa rebut Satya dari aku. Dasar licik kamu! Apa sih yang kurang dari hidup kamu? Kamu punya segalanya, kamu punya prestasi, keluarga yang sayang sama kamu, kamu bisa menjadi apa yang kamu mau, banyak orang yang bisa kamu dekati selain Satya, tapi kenapa malah kamu mengincar Satya!! Orang yang aku cintai dari dulu!!"
Keluar sudah semua beban yang ada di hati Candra. Ia bisa melampiaskan amarah terpendamnya pada orang yang tepat.
Ia tersenyum mengejek, merasa bisa membungkam Nandita dengan kata - katanya.
" Kenapa diam? Jawab!! Bukankah dari dulu kamu selalu ingin mengalahkan aku? Dan ya,,, kamu berhasil untuk itu. Meskipun bukan dengan cara yang benar. Kamu licik Nandita, dari dulu kamu sangat licik. Kamu mendekati guru-guru agar nilai kamu selalu bisa di atas aku. Kamu mendekati pak Wahyu, agar selalu kamu yang ia kirim sebagai wakil untuk setiap kompetisi. Senyum sok lugu kamu itu membuat aku benar-benar muak!! Kenapa kamu ga pergi aja?!!"
PLAK
__ADS_1
Tamparan dari Nandita membuat senyum di bibir Candra menghilang.
"Serendah itu kamu menilai guru-guru kita? Sehina itu kamu menilai pak Wahyu? Hingga kamu merasa, mereka bisa tertipu olehku. Kenapa kamu tidak berkaca pada diri kamu sendiri? Pantaskah kamu mendapatkan semua itu? Sekerdil itu ternyata dirimu." Nandita menggelengkan kepalanya. Meraup udara sebanyak yang ia bisa, untuk melegakan sesak yang menghimpit.
"Jangan iri dengan hidup aku Ndra, kalau kamu tidak mampu mensyukuri kehidupanmu sendiri. Jangan ingi jadi aku, kalau menghadapi ujianmu saja kamu masih belum sanggup. Kamu ga tau bagaimana aku, bagaimana perjuangan orang tuaku. Bagaimana masa kecil yang aku lalui, kamu ga tau itu. Kamu ga akan paham bagaimana rasanya menjadi seorang Nandita!! Kamu ga akan pernah mengerti arti sebuah pengorbanan. Ga akan tau bagaimana rasanya berjuang tanpa uang, berkompetisi meraih prestasi agar bisa mewujudkan mimpi diri sendiri. Aku bukan kamu yang hanya cukup berkata, lalu semua sudah ada di depan mata. Bila ada yang harus marah itu aku!" Nandita menunjuk dadanya dengan tatapan terluka.
"Berapa kali kamu berbuat curang padaku? Berapa kali kamu memfitnah aku, aku diam! Kamu menyalahkan semua yang menimpamu kepada orang lain. Kamu salahkan aku, papa mamamu, Tuhanmu, semuaa salah di matamu! Kamu selalu merasa menjadi korban ketidak adilan, kamu yang paling teraniaya, kamu yang paling tersakiti. Kamu tau?? Kamu yang membuat diri kamu tidak memiliki nilai! Kamu ingin orang lain mengerti kamu, pernahkah kamu belajar mengerti orang lain?" Dengan nafas yang memburu Nandita bersuara.
Suasana dalam kamar rawat itu menjadi sunyi, bahkan psikolog yang tadi melakukan sesi terapi pun tidak tahu harus berbuat apa.
"Kamu muak sama aku kan,,?? Aku pergi, anggap kita tidak pernah saling kenal. Bila pun nanti kamu melihatku, jangan menyapaku! Jangan sekalipun kau menyebut namaku. Anggap aku tidak ada. Begitupun sebaliknya, aku ga akan menganggap kamu ada dalam hidupku. Bila kamu menginginkan Satya,, ambil!! Aku tidak butuh, karena memang tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan dia. Aku tidak mencintai siapapun!" Nandita membalikkan badan, berlalu meninggalkan tempat itu dengan hati yang hancur.
Candra tidak bisa berkata apa-apa, bibirnya kelu. Ia tidak menyangka Nandita bisa beringas dan menakutkan seperti ini.
Ia masih menatap tidak suka pada punggung yang sudah berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Dan pertemanan mereka pun kini tinggal kenangan. Melebur bersama amarah, air mata, dan rasa kecewa.
Di sudut lain, hati Satya berdenyut sakit mendengar penuturan Nandita. Ia tidak menduga perasaan yang selama ini ia rasa ternyata tak berbalas. Ia kecewa namun ia coba meredam rasa kecewa itu.
Nandita masih tidak habis pikir, bagaimana seorang Candra bisa sepicik itu pikirannya? Seorang Candra iri pada Nandita? Apa dari diri Nandita yang tidak Candra miliki??
Mereka sama - sama pintar, sama - sama berprestasi, memiliki orang tua yang lengkap, bahkan dari segi materi Nandita kalah jauh dibandingkan seorang Candra.
Kalau soal rasa suka, bukan salahnya juga bila orang lain lebih menyukai dirinya dibanding Candra. Bukan merasa lebih baik, hanya saja perasaan tidak bisa dipaksakan.
Bukan haknya mengatur perasaan orang lain. Tidak adil bagi Nandita bila ia harus dipersalahkan atas patah hati yang Candra alami saat ini.
Ia pun tidak menyangka kalau ternyata Satya suka padanya. lalu ia harus bagaimana? Marah pada Satya? Bukankah itu konyol?
'hidup kenapa serumit ini' Gumamnya sambil memandang kosong hamparan langit yang tanpa bintang. Sepi, hanya ada awan-awan kecil melangkah perlahan entah akan kemana.
Cuaca menjelang malam yang suram, seperti halnya hatinya yang kini tengah muram.
Kenapa Satya harus mencintainya, kenapa Candra tidak berterus terang padanya, benarkah Satya suka padanya? Aaahh memikirkan semua itu kepala Nandita kembali berdenyut sakit.
__ADS_1
Samar ya mendengar suara langkah mendekat. Ia menoleh namun tidak menemukan siapapun di sana.
Kembali ia menatap langit sore menjelang malam itu, meski hembusan angin terasa begitu dingin menyentuh kulit.
"aaauuuch" Nandita tersentak kaget, saat kepalanya dilempari batu kecil dari arah belakang. Ia menoleh, rupanya ada seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun yang menatap dirinya dengan senyum polos. Namun percayalah anak itu tak sepolos senyum yang ditampilkannya.
Ia menghela nafas berat, niat hati ingin menenangkan diri tapi ia malah bertemu dengan orang yang tambah membuatnya kesal.
"Sorry aunty aku ga sengaja ngelempar batu itu ke kepala aunty,,,." Anak kecil itu berucap lirih.
"Ia ga apa, ngapain kamu sore-sore berkeliaran di sini? Sendiri lagi. Awas lho nanti ada penculik anak yang tangkap kamu, kamu dikarungin lalu dijual" Nandita menakut nakuti anak itu.
"Masa sih aunty ada yang seperti itu? Aduuuh aku jadi Takut,, bagaimana dong ini...." Ia masih berpura - pura lugu.
Sesungguhnya ia sengaja kabur dari para penjaga yang Daddy nya sewa untuk melindunginya. Gadis kecil yang cerdik itu sudah lama tidak membuat ulah, tapi kali ini entah apa pemicunya, kegemarannya menghilang kembali lagi.
🌟🌟🌟
Di sudut lain di kota itu, seorang pria tinggi dengan wajah tampan menatap bengis sang asisten pribadi.
"Perintahkan semua anak buahmu untuk menemukan Mira segeraaa!!" Ucapnya menekan diakhir kalimat.
"Baik tuan, mohon maafkan keteledoran saya tuan." Sang asisten menunduk hormat pada tuannya.
Ya Namira Savitri, putri tunggal dari seorang Gunadhyia Arjava, pengusaha perhotelan yang cukup terkenal di kota itu. Yang disegani banyak orang, tentu juga dimusuhi banyak orang itu, berhasil meloloskan diri dari penjaganya.
Tadi sekitar pukul 15.00 ya mengeluh sakit perut pada bodyguard yang selalu setia menemaninya. Ia ingin segera diajak ke rumah sakit terdekat. Aktingnya sangat meyakinkan, hingga tanpa pikir panjang bodyguard yang malang itu memerintahkan supir untuk segera mengantar mereka ke rumah sakit terdekat.
Namun siapa sangka, begitu sampai di parkiran, saat sang sopir baru membuka kunci otomatis pintu mobil tersebut. Sang gadis langsung berlari, menyelinap di antara orang orang dewasa yang berlalu lalang.
Dan di sinilah ya sekarang, tengah mendalami aktingnya menjadi seorang gadis kecil polos yang tidak tahu apa-apa.
"Kamu belom jawab aku lho dari tadi, kamu ngapain di sini sendirian? Ini sudah mendekati malam. Kamu ga takut? Apa jangan-jangan kamu anak salah satu kuntilanak penghuni rumah sakit ini?" Sepertinya karena lelah bertengkar dengan Candra, otak Nandita jadi sedikit lamban berpikir. Bagaimana bisa mahluk yang tidak terlihat malah melahirkan manusia biasa??
Hilang sudah kemarahan yang sedari tadi menguasai hatinya, berganti rasa geli karena pikirannya sendiri.
__ADS_1
'bicara dengan anak kuntilanak? Yang benar saja,,.' Pikirnya berusaha menepis praduganya itu.