Nanditha

Nanditha
MAWAR MERAH DAN LAVENDER


__ADS_3

Senyum itu, jangan pernah memudar dari wajah cantikmu. Akan aku beri apapun, agar aku bisa melihat lengkung bibir itu tiap saat, tiap waktu.


Nandita merasa lebih lega setelah berbincang dengan sang bunda. Masuk ke dalam kamar, dengan senyum menghiasi bibirnya


Ia jadi punya arah dan tujuan dalam menjalani hubungan dengan Gunadh. Ia akan membuka hati selebar-lebarnya untuk Gunadh. Membiarkan laki-laki itu tau, dan mengenal baik juga buruk dirinya. Begitu juga dengan masalah pekerjaan, restu yang diberikan kedua orang tuanya, cukup untuk membuat ia lebih semangat lagi.


N : "Mas lagi apa?" Pesan yang ia kirim untuk Gunadh.


G : "lagi mikirin kamu" jawab duda satu anak itu.


N : "Iiissshhh,,, males deh kalau gini..πŸ™„πŸ™„πŸ™„"


G : " kok males? πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί"


N : "Mas gak pernah serius kalau aku tanya,,,.😈😈😈"


Drt


Drt


Drt


Ponsel Nandita bergetar, panggilan video dari Gunadh.


"Ya mas,,,," ucap gadis itu begitu wajah Gunadh terlihat di layar ponselnya.


"Kok marah?" Senyum menawan laki-laki itu merekah setelah bertanya.


Berbeda dengan Nandita, ia mengerucutkan bibirnya begitu mendengar pertanyaan sang kekasih.


Gunadh tergelak, gemas melihat ekspresi Nandita yang seperti anak kecil. Hal yang baru ia sadari, Nandita bisa juga bersikap manis seperti itu.


"Aku serius lho tadi, waktu kamu nanya lagi apa? Aku beneran lagi mikirin kamu,,." Masih dengan wajah penuh senyum, Gunadh berkata.


"Gak tau aah,,,,." Nandita salah tingkah dibuatnya. Begini rasanya punya pacar. Ada yang selalu menggodanya, yang membuat ia merona merah dan menguasai pikirannya.


"Mira mana mas?" Gadis itu mengalihkan pembicaraan.


"Ada di kamarnya. Sudah tidur paling. Tadi dia main sama temannya sampai sore."


"Main ke mana?"


"Ke rumah temennya,,,."


Nandita menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa detik saling diam, Nandita membuka suara.


"Maasss,, aku ngantuk...." Rengek Nandita, yang kini sudah mulai berani bersikap manja pada sang kekasih. Gadis mandiri itu menunjukkan sisi kekanakannya, yang jarang orang lain tahu.

__ADS_1


"Ya udah tidur aja,, tapi ponselnya jangan dimatikan."


"Gimana bisa,,,?"


"Tuh pake bantal di samping kamu. Aku ingin temani tidur kamu sayang...." Ucap Gunadh.


"Apa sih mas...." Nandita malu mendengarnya. Meski ia belum pernah pacaran, tapi ia sudah dewasa. Mendengar kata temani tidur, pikirannya berlayar entah kemana.


Gunadh yang melihat semu merah di pipi sang gadis, semakin ingin menggodanya.


"Sekarang aku harus puas, temani kamu tidur lewat video, nanti kalau kamu udah siap, aku temani kamu dengan arti sesungguhnya." Katanya lagi.


Hati Nandita berdesir, ada sesuatu yang tak ia mengerti kini menjalar, menggelitik seperti kupu-kupu. Rasa degdegan, malu, juga ada rasa asing yang tak ia tahu itu apa.


"Yang,,,, kita nikah yuk,,." Ajak Gunadh lagi dengan wajah jenaka.


Laki-laki pelit senyum, yang dulu pertama kali ia lihat, kini seolah hilang entah kemana.


"Ayoooo...." Jawab Nandita bersemangat, membuat mata Gunadh melebar karena terkejut.


"Tapi pastikan dulu Mira akan menerima hubungan kita." Ucap Nandita disertai senyum tipis


Gunadh pun tersenyum getir, itulah yang selalu menghantuinya. Putrinya itu, kenapa sulit sekali rasanya menyiarkan pada gadis belia itu, bahwa ia dan Nandita saling mencintai?


🌟🌟🌟


Liburannya kali ini begitu berkesan bagi kekasih Gunadhyia Arjava itu. Selain ke Singapura, yang menjadi pengalaman pertamanya, ia juga memiliki usaha baru kali ini.


Bahagia rasanya bisa berguna bagi orang lain. Dan hal itu memang selalu ia lakukan setiap ada kesempatan.


"Terimakasih nak,,, atas kemurnian hati kamu membantu keluarga bapak,,." Ucap pak Brata, saat dirinya ke sana untuk menyerahkan modal usaha.


"Semoga putri saya kelak bisa mencontoh kamu. Seorang yang bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga mulia hatinya." Suara pak Brata bergetar menahan haru. Sekian lama mengalami kesulitan hidup, tidak ada yang benar-benar perduli, mengulurkan tangan untuk membantu. Bahkan tidak jarang istrinya malah mendapat hinaan dari orang, ketika hendak meminjam uang untuk biaya sekolah sang anak.


"Kak Dita,,, makasi ya tas barunya,,,,. Sekarang gak akan ada lagi yang ejek aku di sekolah, karena pake tas belanja untuk bawa buku." Ucapan polos dari anak seusia Mira itu, membuat air matanya mendesak keluar.


Nandita sangat bersyukur, bisa memberi secercah harapan bagi orang lain, untuk hidup lebih baik.


Kini, usaha yang belum genap sepuluh hari itu, mulai berjalan. Semua ia serahkan pada Malikha dan Dimas untuk mengelolanya. Dirinya hanya membantu promosi di media sosial saja.


"Hai Ta,,,, baru balik?" Seorang tetangga kost menyapanya, ketika sedang mengepel lantai depan kamarnya.


"Eh ya mba.... Ini belum selesai bebersih." Sahutnya ramah.


"Kamu jualan dendeng itu?? Ada testernya nggak?"


"Bukan aku sih yang jualan, tapi aku ada stok makanan itu. Nanti kalo udah digoreng, aku bagi ke mba ya..." Janji Nandita.


"Ooh ok,, nanti kalau aku mau pesan bisa lewat kamu?"

__ADS_1


"Langsung ke akun medsosnya aja mba,,, ada adminnya kok yang biasa terima orderan." Nandita memberi tahu nama akunnya, dan juga wa admin tempat biasa dia melakukan pemesanan.


"Baiklah,, aku icip punya kamu dulu ya,,, semoga sesuai lidah aku." Nandita menganggukkan kepala, kemudian melanjutkan aktifitasnya.


Nandita tidak mau, orang lain tahu usaha itu miliknya. Dia ingin menjadi orang dibelakang layar saja. Bahkan Gunadh pun tidak tahu akan hal itu.


Hingga sore dia masih berkutat pada kemoceng, sapu, dan alat pel. Maklum, sebulan ia meninggalkan kamarnya itu, wajar kalau debu mulai menghuni tiap sudut ruangan.


"Sayang.....!" Panggil seseorang dari luar, ketika Nandita baru saja mengguyurkan air ke tubuhnya.


Namun karena samar, ia melanjutkan aktifitas mandinya lagi.


Tok


Tok


Tok


Suara itu menghentikan kegiatannya menggosok gigi.


'Siapa sih pagi-pagi udah rempong' ia geram juga. Lupa kalau hanya ada satu orang yang berani memanggilnya sayang.


Buru-buru ia menyelesaikan mandinya. Mengeringkan Tubun dan menggunakan baju dengan cepat kilat.


Saat membuka pintu,, dirinya dibuat terkejut oleh laki-laki tampan yang tersenyum manis di hadapannya. Bukan orangnya yang membuat ia kaget, tapi buket bunga yang laki-laki itu sodorkan padanya.


"Terima donk yank,,, atau aku kasi ke orang lain aja,,." Goda Gunadh.


Nandita mengambil buket bunga itu, belum sadar dengan kalimat lanjutan Gunadh tadi.


"Mas bilang apa tadi?" Tanyanya dengan wajah polos.


"Kalau kamu gak mau, aku kasihkan ke orang lain,,,." Tegas laki-laki itu dengan senyum jahilnya.


Mata Nandita langsung mendelik tidak terima.


"Kalau mau kasihkan ke orang, ngapain jauh-jauh datang ke sini. Nih aku balikin." Kesalnya, seraya mendorong buket itu ke dada Gunadh.


Gunadh terkekeh, senang melihat raut cemburu di wajah Nandita.


"Becanda sayang, mana mungkin aku kasih itu ke orang lain. Kamu tau makna bunga itu apa?" Tanyanya dengan wajah serius


Nandita menggeleng, mana dia tau urusan begitu. Dapat buket bunga begitu juga baru pertama kali.


"Mawar merah lambang cinta dan hasrat, sedangkan lavender lambang kesetiaan. Aku setia sama kamu, dan hanya kamu yang aku cinta. Gak akan ada wanita lain selain kamu." Gunadh menggenggam tangan gadisnya dengan lembut. Sementara sang gadis, wajah merona, tak bisa ia sembunyikan.


"Apa sih mas,,, pagi-pagi udah ngegombal aja,,,." Nandita pura-pura kesal, menutupi rasa malunya.


Aahh senang rasanya, paginya diawali dengan kebahagiaan yang Gunadh berikan.

__ADS_1


__ADS_2