Nanditha

Nanditha
SERANGAN NANDITA


__ADS_3

🔥🔥Mengandung kek eras an 🔥🔥


^_________^^_________^^_________^


Merasa sudah cukup lama menunggu, Gunadh mengajak Satya untuk menyusul Nandita ke apartemen milik Safira.


"Kita susul mereka sekarang."


Tanpa banyak tanya Satya mengangguk.


Kemudian laki-laki itu bersiap.


"Kenapa nggak dari tadi kita ikutin mereka?" Tanya Satya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Dita nggak mau saya ikut campur. Kalau tadi kita langsung mengikutinya, dia pasti akan marah lagi sama saya. Sementara dia menolak dengan tegas ketika saya ingin menemaninya ke sana."


"Kenapa gitu?" Satya penasaran.


"Dikiranya saya lebih membela mantan istri saya dibanding dia." Keluh Gunadh.


Satya mengangguk. Tidak lagi bertanya apapun.


Disisi lain, Nandita melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Amarah yang ia pendam sejak dari rumah sakit siap untuk meledak. Kali ini ia tidak perlu lagi menahan sesak di hatinya.


"Ta ... Hati-hati." Ucap Candra memeluk erat pinggang sang sahabat, yang hanya dibalas anggukan oleh Nandita. Sementara laju kuda besi itu, masih tetap sama.


Candra memejamkan mata, sambil merapalkan banyak doa yang ia tahu. Gadis itu semakin erat memeluk pinggang sahabatnya. Nandita seperti orang kesurupan. Menyalip truk, dari kiri dan kanan.


Tiba di alamat yang Gunadh beri, Nandita memarkir motornya sembarangan. Gadis itu segera memasuki loby apartemen, tidak perduli dengan omelan petugas jaga yang kesal dengan kegaduhan yang ditimbulkan gadis itu.


"Ta tunggu ..." Candra yang sebelumnya harus meminta maaf terlebih dahulu terhadap penjaga keamanan gedung, harus berlari mengejar langkah lebar sahabatnya.


"Hhhuussshh" De sah nafas Candra, begitu berhasil mengejar Nandita di depan lift.


Mereka memasuki lift dalam diam. Nandita bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Tiba di depan unit Safira, gadis itu memencet bel berulang kali. Tatapannya datar, seperti sungai berarus tenang namun mampu menghanyutkan apapun yang melewatinya.


Dari dalam ruangan, Safira yang kesal karena aktifitasnya terganggu dengan kasar membuka pintu.


Kedua wanita itu saling tatap penuh dendam.


"Ngapain kamu ke sini?" Dengan wajah judes Safira bertanya.


PLAK


Tanpa banyak kata, Nandita melayangkan tamparan pada pipi Safira.


"Aaauuh ..." Safira memegang pipinya.

__ADS_1


"Bang**t! Dasar cewek ---"


PLAK


Tanpa memberi Safira kesempatan melanjutkan ucapannya, Nandita kembali menampar pipi janda beranak satu itu.


Safira mundur beberapa langkah hingga membentur meja makan. Tidak bisa dipungkiri, dirinya merasa takut dengan tatapan nyalang Nandita yang siap menelannya hidup-hidup.


"Katakan dimana alamat laki-laki yang menodai Tasya?!" Tanya Nandita Tanpa basa-basi.


Safira terkejut. Namun secepat kilat rasa terkejutnya menjadi senyum kemenangan. Senyum licik kini tersungging di bibirnya.


"Kenapa? Apa j**ang kecil itu sudah mengadu? Hahahaaaa sangat mudah membodohi kalian orang-orang kampung." Safira tertawa mengejek membuat Nandita kembali naik pitam.


Dengan cepat ia menjambak rambut Safira, membuat wanita itu menjerit kesakitan.


"Lepas ...! Sakit sia**n!" Sambil menahan sakit, Safira mengumpat.


"Katakan atau rambutmu saya buat rontok semuanya." Ancam Nandita.


Di dalam kamar Safira, seorang pria paruh baya yang baru saja membersihkan bekas percintaan di kamar mandi, mendengar teriakan wanita yang baru saja memuaskannya. Dengan cepat ia memakai celana yang tercecer di lantai.


"Apa yang kamu lakukan? Siapa kamu?!" Teriaknya ketika mendapati Safira dalam keadaan tidak berdaya. Dengan sudut bibir berdarah dan rambutnya masih dijambak oleh seorang gadis yang tidak dikenalnya.


Nandita menoleh sekilas, dengan senyum sinisnya. Namun kemudian kembali menatap Safira.


"Katakan! Jangan kira saya tidak sanggup melakukan apa yang saya katakan." Gadis itu semakin mengeratkan cengkraman tangannya di rambut Safira.


"Jangan ikut campur!" Tegas Candra, masih memposisikan kakinya di atas punggung si pria.


Sambil menahan sesak, dengan susah payah pria itu bertanya.


"Sii-apaa kk-al-iaan?"


"Tidak perlu tahu. Cukup diam!" Sahut Candra.


Sementara Nandita yang melihat tangan Safira hendak meraih sesuatu di atas meja makan, dengan keras mendorong tubuh wanita itu ke depan. Hingga Safira terbanting dengan posisi telungkup.


Sadiskah Nandita?


Siapa yang akan diam saja ketika keluarganya dihancurkan? Bahkan Safira juga membuatnya harus kehilangan pekerjaan.


Safira masih belum menyerah.


"Kamu yang membuat Tasya hancur!" Teriaknya setelah berhasil bangkit.


"Seandainya kamu tidak membuat saya marah, saya tidak akan melakukan itu pada Tasya. Jadi kalau mau menghukum, harusnya kamu menghukum diri kamu sendiri." Ucap Safira.


"Aku membencimu. Kamu, orang yang sudah merebut Namira dan Gunadh dari hidupku. Kamu bahkan berani menampar dan menyakitiku berulang kali. Lalu apa salahnya kalau aku menyakitimu dengan menghancurkan keluargamu? Kita impas bukan? Jadi, jangan salahkan orang lain atas keadaan Tasya. Dia seperti sekarang karena ulahmu yang sok berani." Safira berharap bisa memprofokasi Nandita. Apalagi ketika melihat wajah pias Nandita, ia yakin gadis itu akan berhenti menyerangnya.

__ADS_1


"Kamu kira saya akan terpengaruh dengan ucapanmu?" Nandita menghampiri Safira.


Bug


Ia meninju uluh hati Safira, membuat gadis itu jatuh meringkuk menahan sakit.


Hanya kekerasan yang bisa Nandita jadikan senjata untuk mendapatkan alamat pria itu. Sebab Safira bukan manusia yang bisa ia ajak bicara baik-baik.


"Katakan, atau saya buat kamu sekarat?" Tidak ada rasa kasihan untuk wanita di hadapannya. Pikir Nandita.


"Bbaa-ik ... Ttuung-gu ..." Safira yang masih meringkuk terkena pukulan, berusaha bangkit.


"Katakan sekarang." Kembali Nandita menginjak telapak tangan Safira yang ia jadikan penopang untuk bangkit.


Dengan terbata Safira menyebut alamat yang segera dicatat oleh Candra, lewat perintah mata Nandita.


Setelah mendapat apa yang dicarinya, Nandita dan Candra meninggalkan Safira dengan keadaan diri dan apartemen yang berantakan.


Mereka kembali menyusuri jalan menuju alamat yang diberikan oleh Safira.


Tanpa diketahui Nandita, Gunadh dan Satya membuntuti mereka sejak dari apartemen Safira.


Tiba disebuah rumah minimalis yang terlihat sepi, Nandita memarkirkan motornya di depan gerbang.


"Ndra hati-hati. Atau kamu tunggu di luar aja." Titah Nandita. Ia merasakan sesuatu yang buruk di sekitarnya.


Gadis itu membuka gerbang yang rupanya tidak terkunci. Matanya awas melihat sekeliling.


Baru beberapa langkah ia mencapai halaman rumah tersebut, muncul beberapa orang laki-laki dari dalam rumah.


"Jadi ini tamu yang dimaksud Safira." Seorang laki-laki tampan berkulit putih, dengan tato di tangan dan lehernya menyapa Nandita dan Candra.


"Cantik-cantik, tapi sayang bukan untuk kita nikmati di atas ranjang. Hahahaha" Pria lain dengan kulit lebih gelap ikut berkomentar.


"Ssst ... Jangan bikin kesal. Lihat wajah mereka sudah memerah. Hot sekali." Pria paling pendek dengan wajah paling buruk menimpali. Ia datang mendekati Nandita dan Candra.


Tangannya dengan lancang hendak menyentuh pipi Nandita.


^_________^^_________^^_________^


Manteman ... Ada lagi nih novel bagus yang bisa kamu intip sembari nunggu aksi Nanditha selanjutnya.


Diingat judulnya ya ...


Putri seorang gadis cantik, sangat pintar dan dari keluarga kaya raya di tambah mempunyai seorang tunangan yang sangat tampan dan juga kaya raya.


Orang mengira hidupnya sangat sempurna namun di balik itu semua ternyata Putri tidak bahagia karena sahabat baiknya mengkhianati dirinya dengan cara berselingkuh dengan tunangannya.


Rasa kecewa teramat sangat membuat Putri tidak percaya dengan yang namanya cinta dan membenci semua pria.

__ADS_1


Adakah pria yang bisa mengobati luka hati Putri dan menjadikan Putri sebagai istrinya?



__ADS_2