
Perasaan bersalah tentu begitu kuat menampar Nandita saat itu.
Ia bukan orang yang suka melukai orang lain, namun kenyataannya saat ini ada hati yang pasti hancur melihatnya berpelukan dengan laki-laki lain.
"Aslan ...! Tunggu ...!" Teriaknya, mempercepat langkah menghampiri calon tunangannya yang sudah berbalik hendak pergi.
"Aslan ... Ini nggak seperti yang kamu kira, aku nggak bermaksud berpelukan dengannya, aku hanya ...."
"Menikmati pelukannya?" Potong Aslan, dengan mata menghunus tajam.
"Nan, dengar ... Aku tau kamu masih belum mencintaiku, tapi bukan berarti kamu boleh mempermalukan aku seperti ini." Ucap Aslan dengan tatapan penuh kecewa.
Nandita menggeleng kuat, pria di hadapannya tengah salah sangka.
"Nggak gitu ... Kamu salah paham ..."
"Nanti saja kita bahas, waktu kita tidak banyak. Sebaiknya kamu masuk, temui tamu-tamu kita."
"Lalu kamu?"
"Masih ada sedikit urusan yang harus aku bereskan." Aslan melirik ke arah Gunadh yang masih berdiri sedikit jauh dari jarak mereka.
Meski khawatir, tapi Nandita tidak bisa mencegah pria itu. Sebab pasti akan ada masalah baru lagi yang muncul, bila ia menghalangi niat Aslan.
Bahkan ketika laki-laki itu mengecup keningnya pun, ia tidak berani menolaknya.
Sementara Gunadh yang melihat adegan itu, hatinya teriris sakit, namun tidak dapat melakukan apapun.
Sudah cukup baginya melihat kekalahan di depan matanya, Gunadh berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Jangan berkali-kali menjadi seorang pecundang. Berkali-kali menghadirkan masalah untuk dia, dan meninggalkannya begitu saja." Ucap Aslan menggunakan bahasa Inggris.
Gunadh menoleh, bisa ia lihat sosok laki-laki tampan berkulit putih, yang usianya mungkin sebaya Nandita itu, berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana kain abu-abu, yang dikenakannya.
Gunadh tahu, pria itu adalah calon tunangan Nandita.
Ia enggan menanggapi ocehan orang asing, yang sudah merebut kekasihnya itu.
__ADS_1
"Aku heran, kenapa Nandita begitu mencintai pria sepertimu? Yang dengan mudah melepas, dengan mudah pergi, menganggap dia gadis yang tidak berarti," Aslan kembali memanasi Gunadh.
"Jaga ucapanmu! Kamu tidak tau hidupku, jadi cukup diam saja." Potong Gunadh yang mulai dikuasai emosi.
Aslan tersenyum mengejek.
Ia melipat kedua tangannya di depan dada, seolah menantang Gunadh yang wajahnya sudah memerah.
"Setiap orang punya masalah dalam hidupnya, jangan merasa paling tersakiti, merasa paling menderita." Ucapnya menatap gunadh.
"Aku tidak ingin ikut campur soal hidupmu. Aku menemui mu hanya ingin mengatakan, kalau kamu benar-benar ingin memastikan Nandita bahagia, tetap di sini dan lihat bagaimana aku membawa kebahagiaan itu untuknya. Kalau kamu bukan pecundang, harusnya kamu berani menghadapi kenyataan."
Aslan meninggalkan Gunadh yang masih mematung.
Membiarkan pria itu melawan dilema yang membelit hatinya.
Meski sakit yang Aslan rasa begitu menyiksa hatinya, menghadirkan sesak yang membuat dadanya seakan terbelah, namun ia yakin jalan yang dipilihnya sudah benar.
Bila Gunadh tidak bisa memberi Nandita kebahagiaan, Aslan yang akan menarik pusat bahagia Nandita itu, agar mendekat padanya.
'Kamu berhasil membuat aku mengerti apa itu cinta, Nandita. Semoga apa yang aku lakukan bisa membuat kamu bahagia.' Gumamnya di antara langkah kakinya yang terasa berat.
Gunadh terpaksa mengikuti langkah Aslan yamg terlebih dahulu menuju ballroom, tempat pertunangan berlangsung.
Sementara di dalam sana, Nandita yang baru tiba, seolah ditelanjangi oleh semua pasang mata yang hadir di sana. Termasuk keluarganya dan keluarga Aslan.
"Bunda ...." Panggilnya, mendekati wanita yang melahirkannya itu.
"Dari mana aja kamu? Bikin kekacauan aja!" ketus bunda Santi sedikit menarik lengan Nandita.
"Memangnya ada apa? Perasaan aku tadi keluar sebentar biasa aja," sahut Nandita membela diri.
Memang benar, Nandita berusaha bersikap biasa saja saat sang ayah mengatakan kalau Gunadh datang namun tidak bisa menemui dirinya.
Rasa rindu dan marahnya pada laki-laki itu, membuat ia memutuskan untuk keluar menemui Gunadh.
"Kamu tau neneknya Aslan begitu protektif sama kamu. Pas tadi dia liat kamu tergesa keluar ruangan, apalagi belum sempat menyapa tamu, dia jadi gusar sendiri. Dia meminta seseorang untuk panggil Aslan, biar langsung susul kamu. Orang kan jadi mikir, ngapain kalian berdua keluar tergesa begitu?" Jelas bunda Santi.
__ADS_1
"Sekarang Aslan nya di mana? Acara udah mau dimulai dari tadi, kalian berdua pake acara ngilang dulu." Tanya bunda Santi lagi melongok ke arah pintu.
"Dia lagi sama mas Gunadh di luar," lirih Nandita pelan.
"Ya udah sana, kamu temui teman-teman kamu dulu, masa tuan rumah nggak nyapa tamunya sih."
Nandita menurut, meninggalkan sang bunda dan melangkah menuju meja-meja tamu undangan.
Tidak berselang lama, Aslan datang disusul Gunadh di belakangnya.
Peria asal Turki itu langsung menuju stage di mana MC biasa memberi sambutan.
Aslan yang santai, mampu mencairkan suasana dan membuat semua orang tidak merasa tegang.
"Selamat malam semuanya, terimakasih karena sudah bersedia datang dalam cara keluarga kami. Sesuai undangan yang kalian terima, hari ini adalah hari pertunangan sahabat, sekaligus kakak perempuan saya dengan seseorang." Aslan menjeda ucapannya. Melirik Nandita yang tengah duduk bersama teman kerjanya.
"Iya, kakak perempuan, sebab usianya dua tahun lebih tua dari saya. Sebenarnya, saya nggak ikhlas membiarkan gadis manis itu bersanding dengan orang lain. Kalau bisa, saya ingin mengurungnya di dalam rumah agar tidak memiliki kesempatan bertemu dengan seseorang yang bisa membuat jantungnya berdebar kencang. Saya ingin menjadi satu-satunya laki-laki yang ada dalam hidupnya, tentu selain orang tuanya ya ...." Kekeh Aslan dengan senyum getir.
Wajah gadis itu mendadak tegang, merasa ada yang aneh dengan ucapan Aslan.
"Mau bagaimana lagi, ternyata cinta itu memilih rumahnya sendiri. Andai cinta bisa diarahkan, andai cinta bisa ditentukan pada siapa, maka sejak ia datang ke negeri ini, akan saya beritahukan kalau inilah rumah yang tepat untuknya." Aslan menunjuk dadanya, membuat orang yang mendengar tertawa sekaligus meringis, menyadari apa yang diucap laki-laki itu begitu dalam maknanya.
Dada Nandita terasa dihimpit, hingga ia sulit meraup oksigen. Menatap tidak percaya pada Aslan yang saat ini melangkah mendekatinya.
"Hayooo, waktunya sudah tiba." Ucap laki-laki itu tersenyum lembut.
Nandita menggeleng, tidak tau harus berbuat apa.
Namun ia tidak berdaya ketika tangannya ditarik pria itu.
Di tempat yang sedianya ia dan Aslan akan bertukar cincin, Aslan meninggalkan Nandita seorang diri.
Tidak berselang lama, Oma dan onty Eby naik membawa nampan berisi kotak kaca mungil, yang di dalamnya terdapat sepasang cincin berbahan emas putih.
Wajah dua wanita itu sulit untuk Nandita mengerti ekspresinya.
Suasana hening semakin menambah ketegangan, membuat jantung Nandita berdegup semakin kencang.
__ADS_1