Nanditha

Nanditha
RENCANA DADAKAN


__ADS_3

Gunadh benar-benar menunjukkan jika dirinya bukan pria romantis yang punya banyak kata, tapi punya banyak ide untuk membuat Nandita tidak bisa berkata-kata.


Belum habis sisa bahagia Nandita, dengan kejutan makan malam romantis yang Gunadh siapkan di pinggir pantai kemarin malam, kali ini gadis itu kembali dibuat tercekat dengan kehadiran Gunadh di sekolah tempatnya mengajar.


"Kita mau kemana, mas? Kenapa nggak bilang kalau mau jemput?" Tanya Nandita saat sudah berada di dalam mobil.


"Nanti juga kamu bakalan tahu." Sahut laki-laki itu dengan senyum sumringah.


Nandita merasa aneh dengan sikap Gunadh. Tidak biasanya laki-laki di sampingnya itu menunjukkan rasa senangnya seperti saat ini.


Bahkan saat peresmian hotel barunya beberapa bulan lalu pun, Gunadh tetap menunjukkan wajah datar tanpa ekspresinya. Padahal bagi Nandita, itu adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.


Berhasil memperluas cabang perusahaan, bukankah sebuah kesuksesan? Namun Gunadh terlihat biasa saja.


Tapi kali ini, apa yang membuat senyum laki-laki itu merekah seperti bunga di musim semi?


Nandita sibuk dengan pikirannya, hingga tidak menyadari kemana laju kendaraan kekasihnya itu.


"Kita sudah sampai," ucap Gunadh mematikan mesin mobilnya.


Nandita menoleh, memerhatikan sekitar. Matanya membola lebar, saat menyadari jika Gunadh membawanya ke sebuah butik gaun pengantin.


"Mas ...." Ucap wanita itu pelan.


"Tadi ayah telepon, katanya nggak ada hari baik untuk pernikahan, sampai dua bulan ke depan."


"Terus kenapa sekarang kita di sini? Kan bisa nanti-nanti datangnya ...." Potong Nandita cepat.


"Denger dulu ... Kata ayah, kecuali Minggu depan." ucap Gunadh membuat Nandita mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Ya Minggu depan kita nikah ...." Sahut Gunadh antusias dengan wajah bahagianya.


"Haah?" Mulut Nandita terbuka, namun tidak dapat mengucap kata.


Gunadh tersenyum melihat wajah terkejut Nandita. Ia segera turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu sang kekasih.


"Ayo sayang ... Setelah ini kita harus liat cincin juga." Ucapnya menarik tangan Nandita.


Wanita itu hanya bisa mengikuti kemana langkah Gunadh, seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya.

__ADS_1


"Mas ... Apa ini nggak mendadak? Kita belum siapin apapun lho ...." Ucap wanita itu setelah mampu menguasai diri.


"Nggak, sayang ... Nggak ada yang mendadak. Semua sudah mas siapin dari awal." Nandita semakin dibuat bingung oleh laki-laki itu.


"Mas udah siapin? Kapan? Kenapa nggak kasih tau aku?" Cecarnya sembari mengikuti langkah Gunadh.


"Udah sejak beberapa waktu lalu. Sekarang tinggal cari baju sama cincin." Sahut laki-laki itu.


"Gedung, katering, undangan, souvenir?"


"Sudah ... Semua sudah siap."


"Kenapa nggak bilang sama aku? Kenapa nggak minta pendapat aku? Kenapa mutusin semua sendiri?" Marah Nandita saat mendengar ucapan Gunadh.


Laki-laki itu menghentikan langkahnya, memandang Nandita yang juga menatapnya dengan tajam.


"Kenapa marah? Mas hanya nggak mau kamu lelah harus mikirin ini itu ... Semua udah mas serahkan sama Arya. Dia yang cari WOnya"


"Tapi tetep aja, mestinya mas kasih tau aku dulu ...."


"Kan mas udah bilang, niatnya pengen kasih kamu kejutan ...."


Nandita tidak lagi bisa mengatakan apapun. Ia hanya mampu menarik nafas pasrah. Mau marah pun semua sudah terlanjur.


"Mau gimana lagi, mas. Udah terlanjur ...." Ucap Nandita menahan kesal.


Sebagai perempuan, tentu dia memiliki pernikahan impian. Ingin momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya itu, memiliki kesan yang tidak akan terlupakan.


Dia ingin menyiapkan semua secara matang. Ingin terlibat langsung dalam segala urusan, demi pernikahan impiannya itu. Tapi sekali lagi, manusia hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang mengatur apakah rencana itu sesuai keinginan atau tidak.


🌟🌟🌟


Kekesalan Nandita tidak sampai disitu saja.


Ia mencoba mengerti perihal Gunadh yang tidak memberitahunya soal rencana dadakan itu. Tapi kedua orang tuanya? Bukankah mereka tidak sama dengan Gunadh, yang tidak pandai berkomunikasi?


Bahkan tadi pagi sebelum dirinya berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, ia masih menyempatkan diri menghubungi sang bunda, sekadar menanyakan kabar orang rumah. Saat itu wanita yang telah melahirkannya itu tidak sedikitpun mengungkit masalah pernikahan.


Setibanya di kostan, setelah lelah diajak berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, Nandita akhirnya berkesempatan meluapkan kekesalannya pada orang rumah, yang seakan kompak mendukung rencana Gunadh.


"Bunda, ayah mana?" Tanyanya saat panggilan teleponnya baru diangkat oleh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Ngapain cari ayah? Ayah lagi sibuk." Sahut bunda, yang terdengar menyebalkan di telinga Nandita.


"Sibuk apa, Bun ... Aku mau ngomong sama ayah, sebentar ... Ini penting Bun ...." Ucapnya memelas.


"Ngomong aja sama bunda, sama ajak kan?"


"Cieeeee ... Yang mau nikah ... Jangan lupa ... restu adik itu penting!" Suara Malikha juga terdengar, namun Nandita sama sekali tidak ingin menanggapinya.


Ini bukan saatnya berdebat, atau membahas hal yang nggak penting. Ini menyangkut masa depannya kelak.


"Bun ... Ayo lah ... Ayah mana?" Rayu Nandita lagi, berusaha menahan kesal.


"Ayah lagi ke rumah Kadus." Ucap bunda Santi akhirnya.


"Kamu mau nanyain apa sama ayah? Ngomong ke bunda aja nggak bisa?"


"Bun ... Kenapa nggak ada yang bilang soal rencana yang udah disusun mas Gunadh?" Tanya Nandita, sesuai tebakan Bunda Santi.


"Itu mau dia. Katanya dia nggak mau nganggu fokus kamu yang baru beberapa bulan bekerja."


"Tapi kan aku juga punya mimpi, Bun ... Ini pernikahan sekali seumur hidupku lho ...."


"Iya, bunda tau ... Tapi mau gimana? Orang dia langsung ngomong sama ayah."


"Apa gara-gara dia tau, kakek sama yang lain nanyain ini terus, jadi dia ambil keputusan buru-buru?" lirih Nandita, masih dapat didengar oleh bunda Santi dari seberang.


"Kayanya nggak deh Ta ... Orang kata ayah, dia duluan yang bahas masalah nikah, baru setelah itu ayah bilang soal desakan kakek. Sudah lah ... Anggap aja memang dia sepemikiran sama keluarga kita, hanya waktunya untuk ngomong ke kamu yang nggak ada. Jalani saja, jangan ini dibesar-besarkan."


"Tapi aku maunya pernikahan yang berkesan Bun ... ini sekali seumur hidup aku."


"Ya kan ini nggak kalah berkesan, Ta ... Dia siapin sendiri tanpa mau kamu kelelahan. Kurang romantis apa, nak Gunadh itu?"


Puji bunda Santi membuat Nandita semakin malas mendengar.


"ya udah deh, Bun ... Aku mau mandi dulu ...." Tanpa menunggu jawaban sang bunda, Nandita memutus panggilan telepon mereka.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Waaah cobaan menjelang pernikahan emang beda-beda ya ... adaaa aja hal yang bikin satu sama lain marah atau kesal.


Nandita yang sabar ya ... kanebo kering emang suka gitu kan 🤭🤭🤭

__ADS_1



__ADS_2