Nanditha

Nanditha
SIAPA YANG SALAH?


__ADS_3

Nandita menatap wajah tenang, yang tengah terlelap di atas ranjang tempat tidurnya.


Tangannya terulur, merapikan anak rambut yang meriap di sekitar pipi dan hidung Namira.


"Mmh," lenguh Namira, merasa tidurnya terganggu. Tangan lentiknya mengusap permukaan wajah yang terasa gatal akibat sentuhan Nandita.


Nandita memerhatikan setiap gerakan gadis belia itu. Nafas Mira kembali teratur, setelah sesaat lalu bergerak gelisah menarik guling yang sedikit menjauh.


'kasihan sekali kamu sayang ... Di usia yang masih belia ini, kamu harus menghadapi begitu banyak tekanan, yang mengguncang jiwa kamu. Tetap menjadi kuat ya nak, onty akan selalu menemani kamu, menjaga kamu agar tidak ada lagi yang bisa mengusik ketenangan hatimu.' janji Nandita dalam hati.


Apa yang Gunadh ceritakan beberapa menit lalu, benar-benar menyayat hati, membuat dadanya sesak, hingga rasanya sulit bernafas. Nandita sama sekali tidak pernah menduga, Mira akan mengalami kisah menyakitkan yang mengguncang jiwanya.


Siapa yang mampu menerima hantaman kenyataan yang menyakitkan, secara bertubi diwaktu bersamaan? Merasa dikhianati, dibodohi, saat sudah begitu banyak hal ia berikan untuk orang yang begitu dipercaya, tapi kenyataannya, dia hanya badut yang dijadikan pion pelindung.


Hati anak mana yang tidak akan hancur? Melihat wanita yang dicintai dan dipercaya, melebihi diri sendiri, tega mengkhianati dan memainkan perasaannya. Terlebih karena ulahnya membela orang yang salah, justru telah merampas kebahagiaan orang lain, yakni Daddy-nya sendiri, dan orang yang selama ini begitu dekat dengannya.


"Bagi Mira, mommy-nya sudah mati. Tepat saat dia meninggalkan apartemen milik Safira." Ucap Gunadh dengan suara beratnya. Ada rasa perih, tiap kali ia menceritakan kembali kejadian menyakitkan yang dialami putrinya itu.


"Itu sebabnya dia berniat mengakhiri hidupnya, dengan menab rakkan diri di jalan raya."


Nandita yang mendengar, hanya bisa menganga tidak percaya dengan cerita Gunadh.


"Mira mengalami depresi. Setiap kali dia teringat akan kejadian itu, atau seseorang menyebut nama mommy-nya, dia pasti akan muntah hebat. Perasaan jijik yang dirasa saat melihat kejadian di apartemen, kembali dia rasakan." Ucap Gunadh lagi.


"Maaf mas, apa yang sebenarnya terjadi di apartemen itu?" Sela Nandita, yang begitu penasaran.


Gunadh melirik sekilas wajah Nandita, lalu kembali menunduk merasa berat untuk menjelaskan. Bukan tidak percaya pada sosok di sampingnya, tapi menceritakan itu kembali, sama seperti mengorek luka yang baru saja mengering.


"Kalau aku nggak boleh tau, nggak apa-apa, mas," ucap Nandita merasa tidak enak hati. Takut terlalu jauh mencampuri urusan, yang sejatinya bukan urusannya.


"Nggak apa-apa. Kamu harus tau semuanya. Mas nggak mau menutupi apapun lagi dari kamu." Sahut Gunadh akhirnya.

__ADS_1


Apa yang diceritakan Gunadh, benar-benar membuat Nandita kehilangan kata-kata. Safira sungguh telah membuat kesalahan yang sangat fatal terhadap putrinya.


Pantas saja Mira begitu membencinya. Perbuatan wanita itu memang tidak pantas, dan celakanya Namira melihat semuanya secara langsung.


Tanpa Nandita sadari, sudah lebih dari tiga puluh menit ia berada di dalam kamar. Ia yang semula berniat membangunkan Mira, justru larut dalam lamunan, duduk menatap kosong ke arah gadis belia itu.


"Ta," panggilan dari depan pintu, mengejutkannya.


"Lho, kamu belum bangunin Mira? Sudah ditunggu sama ayahnya lho ...." Bunda Santi mendekat ke arah ranjang. Ia melihat Namira masih terlelap dengan memeluk guling.


"Aah,i iya Bun, aku bangunin sekarang." Sahutnya kaku.


"Mira, bangun sayang," ucapnya lembut, menepuk pelan bahu Namira.


Perlahan Mira menggeliat, dengan mata yang masih terpejam.


Nandita kembali memanggilnya, agar Mira segera membuka mata.


"Mmhh, onty ..." Dengan malas Namira membuka mata, lalu bangkit masih dengan menahan kantuk.


"Jam berapa ini? Kok cepet banget sih, pulangnya?" Keluh gadis itu.


Bunda Santi yang masih berdiri di kamar nandita, tersenyum melihat tingkah remaja SMP itu.


"Ini sudah sore, besok kan Mira harus sekolah ... Nanti akhir pekan bisa kesini lagi," ucapnya ikut membujuk Mira.


Tiba-tiba wajah Mira menoleh ke arah calon ibu sambungnya.


"Onty ... Aku nggak mau pulang, mau di sini sama onty." Rengeknya dengan mata berkaca.


"Sayang ... Kan besok kmu sekolah ...?"

__ADS_1


"Tapi ...." Mira kembali menangis, namun kali ini hanya air mata yang menetes tanpa erangan, tanpa sedu sedan.


"Kenapa?" Mira mengusap lembut rambut gadis rapuh itu.


"Onty, janji nggak akan pergi ya ... Janji nggak tinggalin aku sama Daddy lagi." Ucap Mira dengan tatapan memohon.


"Iya sayang ... Nggak akan. Onty akan selalu sama Mira. Tapi kamu nggak boleh gini, kamu harus kuat. Nggak boleh cengeng. Buang semua rasa takut yang berlebihan itu. Semua akan baik-baik saja," nasihat Nandita.


"Tapi tadi aku dengar, Daddy ngomongin soal wanita itu. Aku nggak mau berhubungan lagi sama dia." Lirihnya.


Nandita dan bunda Santi saling melempar pandang. Mereka sama-sama menarik nafas pelan, mencoba memanjangkan sabar, menghadapi Mira yang tengah kacau.


"Kmu temani Mira dulu, tunggu sampai dia merasa lebih tenang. Biar bunda yang ngomong sama Gunadh di luar." Ucap bunda Santi, lalu meninggalkan kamar putrinya.


Nandita tidak menyahut, hanya menganggukkan kepalanya sedikit, sebagai tanda setuju.


Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan?


Namira kah yang terlalu cengeng dan berlebihan dalam menyikapi perasaannya?


Atau Gunadh yang telah gagal menjaga dan melindungi putrinya, hingga trauma psikologis seperti ini, harus Mira rasakan saat ini?


Bukan waktunya saling menyalahkan. Karena tidak ada yang menginginkan sebuah penderitaan, bukan?


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


haiii jangan lupa like, komen, n vote nya untuk karya mamak ya ...


besok GunTha up lagi 🙂🙂


Oya, mampir di karya teman mamak yuk, ambil nunggu GunTha up.

__ADS_1



__ADS_2