Nanditha

Nanditha
MASIH MENJADI GOSIP


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai.


"Aku harus pulang mas ..." Ucap Nandita ketika Gunadh mengatakan sudah membooking hotel di dekat bandara.


"Ta, ini udah malam. Perjalanan juga jauh kan dari sini ke rumah kamu? Besok mas antar pulang." Sahut Gunadh yang tidak ingin mendengar bantahan.


Gunadh menarik koper milik Nandita. Melangkah menuju pintu keluar, di mana Arya sudah menunggu sejak tadi.


Pemuda tampan itu kemudian mengantar pasangan kekasih tersebut ke hotel yang di tuju.


"Mas gak pulang?" Tanya Nandita mengetahui dua key card di tangan Gunadh.


"Gak. Mau di sini jaga kamu." Gunadh menyodorkan satu kartu akses tersebut pada Nandita.


"Udah masuk sana. Mandi lalu istirahat. Ok. Besok jam 5 kita berangkat." Lanjut laki-laki itu ketika melihat tatapan Nandita yang meragu.


Nandita tidak lagi menyahut. Ia menuruti apa yang Gunadh katakan tanpa membantah sekali pun.


Ia sudah lelah berdebat, toh dirinya tidak akan bisa menang.


Setelah Nandita masuk ke dalam kamarnya, Gunadh mengajak Arya juga masuk ke kamar miliknya yang letaknya tepat di depan kamar Nandita.


"Gimana?" Gunadh bertanya pada Arya.


Sang asisten lalu menyalakan tablet yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Kemudian menunjukkan sesuatu yang sudah ia kumpulkan beberapa hari ini.


Gunadh memijit kepalanya yang tiba-tiba merasa pening. Tubuhnya ia sandarkan di sandaran sofa yang ia duduki.


"Masih ada lagi yang lain?"


Arya terlihat ragu untuk menjawab.


"Katakan."


"Sepertinya dugaan anda benar tuan, nona Safira melakukan sesuatu terhadap sepupu nona Nandita. Tapi saya masih harus mengumpulkan bukti yang lebih banyak lagi."


"Apa yang kamu ketahui."


"Hacker yang saya sewa, meretas ponsel non Safira. Di sana terdapat banyak percakapan dengan nomor telepon nona Tasya. Beberapa bulan lalu, tepatnya sebelum kejadian di rumah anda, komunikasi mereka sangat intens. Setelah kejadian tersebut, tiba-tiba nona Safira tidak pernah lagi membalas pesan dari nona Tasya. Bahkan nomor nona Tasya di blokir"


"Apanya yang aneh?" Tanya Gunadh masih memperhatikan tablet di tangannya.


"Isi pesan nona Tasya adalah makian dan sumpah serapah untuk nona Safira. Bahkan nona Tasya juga mengatakan kalau nona Safira telah menghancurkan hidupnya."


Alis Gunadh berkerut dalam.


Teringat ucapan Tasya yang mengatakan dirinya sudah menerima karma buruk, dan menyuruh Gunadh agar menjauhkan Mira dari ibu kandungnya.


Ada apa sebenarnya?


"Selain dengan Tasya, dengan siapa lagi dia intens bertukar pesan saat itu?"


Di sini ada laki-laki yang disebutnya Anton juga Brian. Sepertinya dia memiliki hubungan khusus dengan Brian, sebab orang itu sering meminta banyak hal pada nona Safira. Dan mereka juga sering bertemu di banyak tempat." Arya sedikit canggung mengatakannya.


"Lalu Anton?"


Arya mengambil tabletnya yang Gunadh letakkan di atas meja.

__ADS_1


"Dia hanya berkomunikasi saat kejadian di rumah anda saja tuan. Mengundang Anton untuk berpesta keesokan harinya. Setelah itu tidak ada komunikasi lagi."


Laporan Arya pada Gunadh sepertinya sudah selesai. Laki-laki itu pamit hendak kembali ke tempat tinggalnya.


"Jangan lupa siapkan mobil untu saya bawa besok pagi."


"Baik tuan." Arya membungkukkan tubuhnya sebentar sebelum benar-benar berlalu dari kamar milik Gunadh.


Gunadh merendam tubuhnya di dalam bath up, mencoba merileks kan tubuh dan pikirannya.


Ada banyak benang kusut yang membebani pikirannya.


Informasi yang di dapat, sungguh mencengangkan bagi gunadh


Foto-foto Safira dengan beberapa laki-laki di berbagai tempat, membuat dia menggelengkan kepala. Meski sudah tahu seperti apa Safira, namun ia tidak menyangka wanita itu akan se j*l**g itu menjajakan tubuhnya.


Ia jadi mengerti kenapa akhir-akhir ini Safira tidak lagi terlalu intens menemui sang putri.


Bagaimana kalau Namira tahu? Itu yang menjadi beban pikirannya.


Belum lagi soal Tasya. Gunadh merasa sepupu Nandita itu pasti mendapat perlakuan tidak baik oleh Safira hingga ia memaki mantan istrinya itu dengan kata-kata kotor. Dan anehnya seorang Safira tidak meresponnya.


Merasa tidak bisa menemukan solusi, Gunadh pun mengakhiri acara mandinya. Ia membaringkan tubuhnya dan dengan cepat terlelap.


🌟🌟🌟


Pukul 04.55 pagi, Nandita sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia keluar kamar hotelnya dan mengetuk pintu kamar Gunadh.


"Ta, jam berapa ini?" Tanya Gunadh dengan wajah khas bangun tidur.


"Mas mandi dulu ya, kamu mau tunggu di dalam?"


"Gak mas, aku tunggu di kamarku aja."


"Nanti mas panggil kamu kalau sudah selesai." Ucap Gunadh.


Nandita menganggukkan kepalanya.


Setengah jam setelahnya, giliran Gunadh mengetuk pintu kamar Nandita.


Gadis itu sudah lengkap dengan jaket dan celana panjang membalut tubuh mungilnya.


"Udah siap semua? Gak ada yang ketinggalan kan?"


"Udah semua mas."


Nandita menarik kopernya keluar kamar. Hal yang sama juga dilakukan Gunadh.


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, dimana mobil Gunadh sudah disiapkan oleh Arya kemarin.


Jalanan yang masih gelap, dan udara dingin perlahan berganti ketika bias sinar matahari sedikit demi sedikit merubah warna langit.


"Mau cari sarapan dulu?" Tawar Gunadh, ia merasa butuh kopi hitam saat ini.


Nandita menoleh sekilas ke arah Gunadh.


"Cari warung kopi aja mas, kalau sarapan bisa nanti di rumah." Sahut Nandita.

__ADS_1


Akhirnya mereka beristirahat di sebuah warung kopi sederhana.


Mereka menikmati kopi panas dan pisang goreng yang baru di angkat dari penggorengan.


Suasana kebersamaan seperti ini mengingatkan Gunadh akan kegiatannya beberapa bulan lalu.


Dulu ia sering datang pagi-pagi ke kostan Nandita bila akhir pekan.


Gadis itu akan melayaninya membuatkan kopi dan membelikan jajanan pasar di warung dekat kostannya. Gunadh merindukan masa itu.


Mereka masih diam dengan pikiran masing-masing. Gunadh dengan kenangan tentang masa yang berlalu beberapa bulan lalu, sementara Nandita merasa canggung untuk membuka obrolan. Toh tidak ada yang ingin ia katakan pada laki-laki itu.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Tepat pukul delapan mereka baru tiba di rumah orang tua Nandita.


Kedatangan Nandita disambut oleh ayah bundanya di teras rumah.


Hampir tiga bulan Nandita pelatihan, wajar kalau kedua orang tuanya begitu merindukan sang putri.


"Kok kamu kurusan sih Ta? Pasti gak teratur ya makannya?"


Bunda Santi memindai tubuh sang putri dari atas sampai bawah.


"Justru Dita makannya semakin banyak bund ... Tapi memang kegiatannya padat." Sahut Nandita


"Udah, ajak masuk dulu. Nak Gunadh juga pasti capek kan. Masuk dulu nak." Sela ayah Darma


Gunadh mengangguk. Bunda Santi juga memberi senyum pada laki-laki itu.


"Ayo masuk nak ..." Ajak bunda Santi.


Di saat yang bersamaan beberapa tetangga yang kebetulan melintas, melihat kehadiran Nandita dan Gunadh.


"Eeh nak Dita lama ya gak kelihatan ... Dari mana aja?" Sapa ibu-ibu yang terlihat paling subur.


Mereka masuk ke halaman rumah, sekadar untuk menyapa.


"Ya Bu Indah, Dita ada kerjaan di luar kota." Nandita menjawab santun.


"Ini bukannya laki-laki beristri yang dulu itu ya?" Celetuk ibu yang lain.


Gunadh yang merasa ditunjuk menoleh ke arah ibu-ibu tersebut.


"Eh ya bener ... Dita, kamu balikan lagi sama dia? Ingat lho, kamu perempuan juga. Jangan suka merebut milik orang, ingat karma. Nanti milik kamu direbut juga lho sama orang lain."


Wajah Nandita berubah pias. Tidak menyangka kalau kejadian itu masih menjadi gosip di lingkungan sekitarnya.


^_________^^_________^^_________^


Teman-teman ada yang suka novel fantasi kah?


Ini aku ada recommend kisah percintaan anak manusia dengan raja dari dunia berbeda.


Sambil nunggu Nanditha up besok, bisa nih coba dilirik.


__ADS_1


__ADS_2