
"Bik lagi bikin apa?" Tanya Namira pada Bi Asih yang sedang sibuk di dapur.
"Non Mira, ada yang non pengen?" Tanya wanita paruh baya itu.
Namira menggelengkan kepala. Melihat wajah murung Namira, Bu Asih tahu gadis itu sedang tertekan.
Bi Asih yang tadi sibuk membuat adonan, menghentikan kegiatannya. Meminta asisten lain untuk melanjutkan.
"Bik ... Gimana cara Mira minta maaf sama Daddy ya?" Tanya gadis itu ketika mereka sudah duduk berdua di ruang makan.
Bi Asih mengerutkan keningnya.
"Kalau boleh tahu, apa kesalahan yang sudah non lakukan?" Tanyanya penasaran.
Namira diam. Ragu untuk berkata jujur.
"Kalau non Mira gak jujur, gimana bibik bisa bantu non?"
"Mmm Mira salah ya bik kalau pengen kedua orang tua Mira bersatu lagi?"
Bi Asih berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Gak ada yang salah dengan sebuah keinginan non. Yang salah itu, bila kita memaksakan diri untuk memenuhi hal itu, sementara kenyataannya gak bisa terwujud."
"Kenapa gak bisa bik ... Bukankah harusnya Daddy sama mommy bersama-sama terus kalau pengen liat aku bahagia? Kenapa Daddy harus memilih onty Dita dan meninggalkan mommy?"
Bi Asih menatap intens gadis belia di hadapannya.
"Siapa yang bilang tuan yang ninggalin mommy non? Eeh tunggu dulu. Kenapa kita jadi bahas masa lalu tuan? Kan bibik mau dengar cerita kenapa tuan marah. Jangan bilang, non lagi nyari pembenaran." Tatapan bi Asih terlihat mengintrogasi.
"Gak gitu biik..." Elak Namira.
"Non, kalau non salah itu harus berani mengakui. Minta maaf dengan tulus, jangan mencari kambing hitam untuk membenarkan perbuatan non." Nasihat bi Asih.
__ADS_1
Mira diam.
"Kalau non masih menyangkal, tuan akan tetap mendiamkan non. Bukan karena tuan tidak sayang, tapi karena tuan ingin non menjadi anak yang berbesar hati. Menjadi orang yang bertanggung jawab." Bi Asih menatap Mira dengan lembut.
"Dari kecil bibik yang jagain non kalau tuan lagi sibuk. Bibik tahu non anak yang baik. Cerita sama bibik, biar bibik bisa bantuin non."
"Mira udah jahatin onty Dita bik. Eh tapi bukan jahat kok, orang Mira bicara sesuai fakta." Mira mengawali ceritanya.
Bi Asih menganggukkan kepalanya. Tanda siap untuk mendengar cerita yang selama ini Mira tutupi.
Dan akhirnya semua Mira ungkapkan di depan bi Asih. Dari awal, ia berharap mommynya kembali, bertemu Safira di Singapura, cerita Safira tentang kehidupan mereka dulu sebelum Gunadh menceraikannya (yang bik Asih yakin itu hanya karangan Safira saja untuk mencuci otak sang putri). Namira juga menceritakan permintaan sang mommy yang ingin Mira datang dan mempermalukan Nandita di sekolah. Juga soal kunjungannya ke rumah kakek Cakra tanpa sepengetahuan Gunadh.
Bi Asih menyimak tanpa sekalipun memotong cerita Mira. Meski merasa kesal, ia mencoba sabar agar Mira mau mengatakan semuanya. Apalagi ketika Nandita datang kemari dan diperlakukan tidak baik oleh penghuni rumah.
Hati siapa yang tidak akan sakit hati. Pantas saja Gunadh begitu marahnya.
"Terus, kapan hari pas aku sama Daddy ke mall, kita ketemu sama onty Candra temennya onty Dita. Di depan Daddy dia ungkapin semua perbuatan aku bik. Daddy jadi marah sama aku. Katanya, aku bukan cuman kecewakan dia tapi udah berbuat sesuatu yang menghancurkan orang lain."
"Ternyata ada yang videokan pas aku sama mommy ke rumah kakek itu, terus di post di medsos. Gara-gara itu katanya onty Dita dipecat. Sama, kakek yang aku datengin itu masuk rumah sakit gara-gara dengar cerita aku sama mommy ---"
"Ya ampun non ... Kenapa non tega sama non Dita? Bibik gak nyangka non ... Pantas tuan marah non. Non Mira kaya bukan yang bibik rawat dulu. Dimana hati nurani non?" Bi Asih tidak bisa menahan kesalnya.
Meski Mira adalah nona kecil rumah itu, namun Bu asih adalah orang yang merawat Mira dari kecil. Sudah menganggap gadis itu cucunya sendiri.
"Kok bibi jadi menyalahkan Mira sih?" Kesal gadis itu.
"Bibik gak salahin non, tapi perbuatan non. Coba non pikir, andai non ada di posisi non Dita? Gimana perasaan non kalau diperlakukan seperti waktu ini? Non lupa, siapa yang udah melindungi non saat dikejar preman itu? Bayangkan apa yang terjadi kalau non gak diselamatin oleh non Dita dulu? Ingat-ingat lagi, siapa orang yang kasih perhatian dan kasih sayang dulu, sebelum mommy non datang kembali? Non Dita begitu tulusnya sama non, baik sama semua orang di sini, gak pernah membeda-bedanan orang, sama kaya non Mira dulu ---"
"Dia baik kan karena digaji sama Daddy bik" Potong Namira.
"Meskipun dia digaji, non gak boleh melakukan itu. Ngatain dia pelakor, ya Tuhan non ..." Bi Asih tidak habis pikir, kenapa Mira sampai melakukan itu.
"Pasti sangat terluka hatinya. Dia wanita baik-baik, pekerja keras ---"
__ADS_1
"Wanita baik-baik gak akan rebut Daddy dari aku sama mommy bik. Udah lah, kalian sama aja." Namira kesal. Niatnya bercerita agar mengurangi beban di hatinya dan mendapat solusi untuk minta maaf, justru dirinya dipersalahkan.
Dia bangkit hendak meninggalkan bik Asih.
"Non, duduk dulu." Suara bik Asih tidak lagi lembut seperti biasanya. Kini wanita itu berubah menjadi tegas.
Mira tahu, kalau sudah begini tandanya bik Asih marah padanya. Sejak mulai masuk SD bila dirinya melakukan kesalahan atau kenakalan bi asih akan bersikap seperti itu. Dan diijinkan oleh Gunadh.
Mira duduk, meski wajahnya masih ditekuk.
"Mestinya bibik gak ceritakan ini sama non Mira. Kata tuan, ada saatnya non tahu semuanya. Tapi ini sudah keterlaluan. Non sudah salah menilai orang. Bibik gak berhak cerita semuanya. Tapi yang pasti, apa yang non tahu dari mommy non itu semua salah. Tuan sangat menyayangi kalian. Dia adalah suami dan ayah yang baik. Jangankan untuk berselingkuh, waktunya ia habiskan untuk bekerja keras. Hanya saat non lahir tuan jarang pulang malam. Sebab ia sangat sayang pada non Mira. Kalian hidup bahagia. Meski sikap non Safira yang suka seenaknya, sering minta liburan keluar negeri, tuan selalu menuruti." Bi Asih menarik nafas. Merasa sedih bila mengingat kehancuran tuannya dulu.
" Mungkin karena tuan jarang ada waktu untuk istrinya. Non Safira kesepian, dan kedapatan berdua dengan laki-laki lain. Yang selingkuh itu mommy non Mira. Bukan tuan Gunadh." Ucap bik Asih pelan.
JDAAARR
Namira seperti merasakan sengatan listrik tegangan tinggi di kepalanya. Begitu cepat, tanpa aba-aba namun sanggup membuatnya tersentak.
Sesaat suasana hening. Bi Asih menatap Mira, memastikan gadis itu menyimak tiap kata dengan baik.
"Non ---"
"Bik ... Bibik bohong kan? Gak bener kan kalau mommy yang selingkuhi Daddy?" Tubuh Namira gemetar, ya terus menggelengkan kepala mencoba menolak kenyataan yang diungkap oleh pengasuh masa kecilnya.
"Non ---"
"Bibik bohong! Katakan kalau bibik bohong!" Teriak gadis itu.
Otak pintarnya bekerja dengan cepat. Kalau itu benar, berarti selama ini ia ditipu oleh mommynya. Namira mencoba menolak. Tidak mungkin mommynya setega itu pada anaknya sendiri.
Namira berlari keluar rumah, berteriak memanggil sopir untuk mengantarkannya ke kantor Gunadh.
Ia ingin mengetahui kebenaran dari cerita Bu Asih. Ia ingin mendengar dari mulut Gunadh, kalau semua cerita itu bohong.
__ADS_1