Nanditha

Nanditha
SARAN CANDRA


__ADS_3

Hari berlalu silih berganti, langit cerah berganti gelap, dan kembali cerah, menjadi warna di setiap tanggal yang terlewati. Namun mendung kedukaan masih bergelayut di wajah sendu, gadis belia bernama Namira Arjava.


Benar kata Nandita, penyesalan selalu datang terlambat. Namun kali ini sesal yang memeluk gadis itu, bukan karena di awal ia tidak mau bertemu dengan mommy-nya, melainkan sesal karena takdir begitu tidak adil padanya.


Namira terlalu nyaman bergumul dalam kesedihan, sehingga dia lupa seperti itulah sejatinya hukum alam. Yang datang pasti akan pergi, meski meninggalkan sesak dan perih di hulu hati. Bukan takdir tidak adil, hanya kita sebagai manusia yang terlalu kerdil memaknai anugrah yang Tuhan beri.


Empat bulan sudah Safira pergi, memulai perjalanan baru di dunia yang berbeda, namun sang putri masih berharap semua itu hanya mimpi.


Namira menjadi lebih pendiam, lebih sering mengurung diri di kamar, sangat jarang mau berkumpul dengan sahabat-sahabatnya atau bahkan dengan gunadh dan Nandita sendiri. Ia seolah menciptakan dunia baru, yang hanya dirinya, kenangan serta mimpinya yang ada di sana.


Bahkan Gunadh sulit mendekati putrinya, dan hanya bisa pasrah membiarkan Namira dengan dunia barunya.


Nandita pun demikian, ia yang juga tengah sibuk dengan pekerjaan barunya. Sehingga harus bisa membagi waktu antara bekerja, keluarga, dan urusan pribadinya dengan Gunadh, termasuk Namira. Terlebih saat ini, Candra yang beberapa bulan lalu baru melahirkan buah hati pertamanya, acap kali mencurahkan keluh kesahnya pada Nandita. Dan sebagai sahabat dekat, tentu wanita itu sebisa mungkin hadir menemani Candra.


"Ta,"


"Mmm"


"Gimana kabar kamu sama mas Gunadh?" Tanya Candra, saat Nandita datang ke rumahnya selepas pulang mengajar.


"Baik, memangnya kenapa?"


"Kapan kalian mau ke jenjang selanjutnya? Udah lama lho, aku nggak denger pembahasan soal itu." Cecar Candra lagi.


Meski di masa lalu mereka pernah terlibat konflik, namun saat ini Nandita dan Candra sudah seperti saudara kandung. Apapun masalahnya, mereka bagi tanpa canggung. Bahkan Nandita lebih sering bertukar kabar dengan Candra, dibanding dengan sang kakak yang kini sudah menetap di Paris di negara tunangannya.


Senyum cerah yang semula melekat di wajah Nandita perlahan berubah sendu. Jari telunjuknya masih terus memainkan pipi merah bayi mungil di hadapannya, namun tatapan matanya mulai meredup.

__ADS_1


Ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan Candra seperti apa, sebab dirinya juga tidak tahu akan kemana hubungannya dengan Gunadh kini.


Dulu, mereka sama-sama menggebu hendak segera menikah, setelah Nandita kembali dari Turki. Namun antara rencana dan realita acap kali tidak seiring sejalan.


Musibah kepergian Safira merubah segala romantisme diantara ketiganya. Nanditha, Gunadh, dan Namira kembali di hadapkan pada keadaan yang tidak mendukung mereka untuk bersatu.


"Aku belum tau, Ndra. Etis nggak sih, aku nanyain soal ini ke mas Gunadh? Mira masih berduka, masa kita ngadain pesta pernikahan?" Jawab Nandita akhirnya, setelah diam beberapa saat.


"Mestinya dia sih, yang punya inisiatif. Lagian waktu berdukanya juga kan harusnya udah selesai. Mau sampai kapan kita nangisin orang yang udah meninggal? Toh juga tangisannya Mira, nggak bakal balikin emaknya jadi hidup lagi, kan? Lagian berdukanya sampe gitu banget. Kaya yang mati itu manusia suci yang banyak jasa sama kalian." Ucap Candra dengan wajah judesnya.


"Sssttt nggak boleh gitu, Ndra ... Kamu ih," Nandita menatap sang sahabat dengan tatapan tidak suka.


"Adek jangan dengerin mama kamu ya, nak ... Anggap omongan yang tadi itu nggak ada. Jangan sadis-sadis kayak mama kmu nanti kalau sudah besar." Ucap Nandita pada bayi kecil berjenis kelamin laki-laki tersebut.


"Fakta itu, Ta. Jangan sampai kejadian lalu terulang lagi. Kalian sama-sama nggak saling ngungkapin isi hati, lama-lama jadi bom waktu lho. Lagian apa mas Gunadh nggak sadar, masalah Safira dan Mira selalu berada di atas kepentingan kalian berdua. Kamu mau, selalu dinomor duakan terus sama dia?"


"Ya nggak gitu juga, Ndra ...."


"Hhmmm iya ...." Sahut Nandita enggan berdebat.


Kalau dipikir, memang benar apa yang dikatakan Candra. Dia harus bicara dengan Gunadh. Harus mencari kepastian, sebab bukan hanya Candra yang menanyakan masalah hubungannya dengan Gunadh, Kakek Cakra dan paman-pamannya jug menanyakan hal yang sama.


🌟🌟🌟


Nandita termenung di balkon kostannya yang terletak di lantai dua. Matanya menatap jauh ke depan, dimana awan berarak menghiasi langit, sore itu.


Ucapan sang sahabat terus terngiang, mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Benar, memang selama ini ia mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman di hatinya. Mengalihkan pikiran, dengan hal-hal lain, agar tidak terfokus pada rencana yang tidak kunjung terlaksana.


Jauh di lubuk hatinya, ia pun ingin menanyakan hal ini pada Gunadh, tapi dirinya ragu.


"Asyik ngelamunin apa sih?" Suara Gunadh begitu dekat di telinganya, membuat wanita itu terkejut. Hampir saja ia melayangkan tinjunya. Bersyukur Gunadh sigap memeluknya dari belakang.


"Jiwa berkelahinya masih kuat ternyata ya?" Ucap laki-laki itu lagi, masih tetap memeluk tubuh ramping Nandita.


"Mas ih ... Ngagetin tau nggak. Kenapa nggak ketuk pintu dulu?" Ketus Nandita, menoleh ke arah Gunadh.


"Lagi ada masalah apa, yank?" Tanya Gunadh, tidak menanggapi protes dari kekasihnya itu.


Nandita diam beberapa saat, sebelum akhirnya menggelengkan kepala lemah.


Gunadh melepas belitan tangannya, lalu duduk menyandar di tralis besi pembatas balkon. Menatap intens sang kekasih yang tengah duduk di atas kursi kayu, dengan kepala tertunduk.


Ia semakin yakin, ada yang Nandita sembunyikan darinya saat ini.


"Yank ...."


"Gimana kabar Mira mas?" Nandita memotong ucapan Gunadh.


"Seperti biasa. Dia masih tetap menutup diri." Ucap Gunadh pelan.


Nandita menarik nafas pelan.


"Ada yang mengganggu pikiran kamu yank?" Tanya Gunadh lagi.

__ADS_1


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^



__ADS_2