Nanditha

Nanditha
BIMBANG


__ADS_3

"Ta ... Ada apa? Kenapa sarapannya nggak kamu habiskan?" Onty Eby yang sejak tadi memerhatikan sikap Nandita, menegur gadis itu.


"Ah, kenapa onty?" Nandita yang tengah melamun, tergagap ketika onty Eby menyebut namanya.


"Mmm maaf onty, uncle, aku lagi kurang enak badan. Jadi nafsu makanku berkurang," lanjutnya ketika menyadari dimana letak kesalahannya.


"Kamu sakit, nak? Mau ke klinik, atau uncle panggilkan dokter?"


"Eemm nggak perlu uncle, nanti istirahat aja udah cukup kok."


"Kamu ngga kerja hari ini?"


"Kerja sih, onty ...."


"Udaah ... ijin aja hari ini kalau lagi sakit. Dari pada nanti di tempat kerja ada apa-apa." Usul uncle Murat lagi.


Nandita merasa serba salah. Rupanya kebohongan yang ia lakukan, merembet ke banyak hal.


Dia baik-baik saja, kenapa harus tidak bekerja? Sementara bulan ini pekerjaannya lumayan padat.


Nandita menatap onty Eby, dengan tatapan mengiba. Dia berharap wanita itu mau membantunya mencari alasan agar bisa berangkat ke tempat kerjanya.


"Udah ijin ke atasan kamu?" Tanya Onty Eby, dibalas Nandita dengan gelengan kepala.


"Gampang, nanti uncle yang urus cuti kamu." Sahut uncle Murat lagi, membuat Nandita tidak bisa berkutik.


Begitu pun wanita berhijab yang dimintai tolong untuk menyelamatkan dirinya dari suasana ini, jug tidak bisa berbuat apa-apa.


🌟🌟🌟


Seusai sarapan, Nandita kembali ke kamarnya.


Ia tidak tahu harus melakukan apa hari ini.


"Ta ...." Suara dari ambang pintu, membuat gadis itu menoleh.

__ADS_1


"Onty,"


"Ada masalah apa?" Tanya wanita itu, langsung pada pokok pembicaraan.


Nandita sedikit ragu untuk menceritakan kegalauan hatinya. Lama gadis itu diam membuat onty Eby kembali bersuara.


"Sebentar lagi, kamu akan kembali ke Indonesia. Jangan sampai masalah yang ada di sini, kamu bawa pulang ke tanah air," tutur lembut onty Eby membuat gadis itu merasa sedikit tenang. Terlebih usapan tangan wanita yang menjadi ibu angkatnya itu, mampu memberi kenyamanan bagi hatinya.


"Onty ... Onty pernah nggak merasa bimbang pada jalan yang sudah onty ambil? Atau merasa sedikit menyesal dengan keputusan itu?"


Onty Eby mengerutkan dahinya.


"Kamu bimbang kenapa?"


"Kok aku sih, onty? Aku kan nanya, onty pernah nggak merasa bimbang?"


"Iya kamu nanya begitu, pasti karena kamu mengalaminya kan?" Nandita tidak mampu menjawab pertanyaan wanita itu.


Haruskah ia jujur? Tapi ia merasa malu. Tidak seharusnya dia yang sudah dewasa itu, memiliki perasaan ambigu seperti ini.


"Aku malu onty ...." Cicitnya dengan kepala tertunduk.


"Kenapa harus malu? Perasaan bimbang, takut, ragu, itu manusiawi. Siapapun pasti pernah merasakannya. Hanya saja, bagaimana kita mengatasi perasaan itu, itu yang terpenting."


"Aku ... Jatuh cinta sama Aslan, onty." Ucap Nandita lirih, namun masih bisa didengar dengan jelas oleh onty Eby.


"Apa? Kenapa bisa?"


Wanita itu cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Nandita.


"Aku jug nggak ngerti onty, perasaan itu muncul tanpa bisa aku cegah. Sebisa mungkin aku menyangkal. Meyakinkan kalau rasa ini hanya perasaan kagum saja, hanya perasaan nyaman karen terbiasa bertemu dan bersenda gurau. Tapi semakin lama, aku semakin nggak bisa membujuk hatiku. Aku merasakan debaran yang sama, seperti yang aku rasakan pada mas Gunadh. Itu sebabnya aku berusaha keras terus mengingat mas Gunadh, agar perasaanku pada Aslan perlahan tersingkir. Tapi dia ada di sini, menemaniku, mewarnai hari-hariku, membuat rasa itu terpupuk sempurna. Terlebih saat dia membawa mas Gunadh datang kemari, membuat rasa kagumku padanya semakin besar. Dia berkorban begitu banyak untukku, Onty." Ucap Nandita akhirnya.


"Onty, apa aku murahan karena telah menyukai lebih dari satu laki-laki?" Lanjutnya lagi, menatap onty Eby dengan tatapan frustasi.


Wanita berhijab yang awalnya terkejut itu pun, akhirnya mengulas senyum tipis. Baru ia sadar kenpa selama ini Nandita begitu keras menolak Aslan. Bukan karena gadis itu tidak suka, tapi justru sebaliknya. Nandita jatuh cinta pada pemuda itu, dan sadar kalau perasaannya itu salah.

__ADS_1


"Nan ... Gunadh pacar pertama kamu ya? Sebelumnya pernah nggak kamu jatuh cinta sama laki-laki lain?"


Nandita menggeleng.


"Dulu aku nggak pernah mikirin pacaran, onty. Mas Gunadh adalah cinta sekaligus pacar pertama aku."


"Oohh ... Jadi Gunadh adalah pengalaman pertama kamu menjalin hubungan dengan lawan jenis, begitu kan? Pantas saja kamu merasa takut." Ucapan onty Eby membuat Nandita semakin bingung.


"Nan ... Nggak ada yang bisa menyalahkan sebuah rasa. Tapi akan menjadi masalah, saat kamu sudah berkomitmen dengan seseorang, tapi kamu masih membiarkan perasaanmu itu bercabang." Tutur onty Eby lembut.


"Lalu aku harus gimana onty?"


Kalau boleh jujur, ada kehampaan yang Nandita rasa, saat hari-hari yang dijalaninya begitu tenang tanpa gangguan dari Aslan.


Delapan bulan belakangan ini ia selalu ditemani oleh laki-laki itu, meski tidak setiap hari mereka bertemu.


Salahkah Nandita, bila tanpa sadar dia mulai terbiasa dengan kehadiran Aslan? Berdosakah ia bila rasa yang ia jaga untuk Gunadh, tanpa sadar juga tumbuh untuk laki-laki itu, yang mirisnya kini ia harus bisa memendamnya, membiarkannya kering tak terpelihara agar layu dan mati?


"Apa yang membuat kamu merasa nyaman dengan Aslan, yang tidak kamu dapatkan dari mas Gunadh?"


"Di dekatnya, aku bisa menjadi diri aku sendiri onty, aku bisa tertawa terbahak tanpa khawatir akan membuatnya malu. Kalau sama mas Gunadh, kami menjalani hubungan yang monoton. Entah kenapa, selera humor ku hilang saat bersamanya. Aku bingung, entah aku yang tidak bisa mengimbanginya, atau sifat dia yang memang kaku, aku nggak tau."


"Apa kamu tidak nyaman saat bersama Gunadh?"


"Aku nyaman onty. Dia selalu memperlakukanku dengan baik."


"Kalau begitu, cobalah jadi dirimu yang apa adanya di depan dia. Jangan berusaha menunjukkan kedewasaan dan menutupi sisi kekanakan kamu di depannya. Onty yakin, dia pasti akan menerima baik buruknya kamu."


Nandita menganggukkan kepalanya. Gadis itu benara-benar seperti seorang siswa yang tengah melakukan les privat.


"Apa alasan terkuat kamu memendam perasaan sukamu sama Aslan?"


"Onty pastii sudah tahu jawabannya. Selain karena keyakinan, aku masih sangat berat melepaskan mas Gunadh, onty. Aku masih berharap bisa memperbaiki hubungan ku dengan dia."


"Semua itu bisa kau jadikan tolok ukur dalam menghadapi kebimbangan ini. Kamu tahu? Ujian akan selalu ada dalam setiap hubungan. Nggak ada perjalanan yang selalu mulus untuk kita lewati. Akan selalu ada keraguan, akan selalu ada godaan yang datang entah dari luar atau dari dalam diri kita sendiri. Tugas kita lah yang harus bijak menyikapi setiap rintangan yang menghadang. Sebenarnya ujian yang paling sulit, bukan menghadapi lawan dari luar, tapi menghadapi musuh dari dalam diri sendiri. Dan saat ini, ujianmu adalah itu. Melawan ego mu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2