
Siang dan malam datang silih berganti, membawa masing-masing kisah yang tidak pernah bisa diulang kembali.
Nandita menjalani hari seperti biasa. Bekerja, membantu beberapa pekerjaan rumah onty Eby, dan sesekali ia keluar mencari angin segar, menikmati musim semi yang akan segera berakhir.
Komunikasinya dengan Gunadh berjalan lancar. Tidak jarang Namira ikut bergabung dalam obrolan keduanya. Meski awalnya canggung, namun seringnya komunikasi yang mereka jalin mampu mengikis kecanggungan itu.
Bahkan Namira sering menghubungi Nandita tanpa sepengetahuan sang Daddy.
Melakukan panggilan video berlama-lama dengan mantan pengawalnya itu.
"Onty, kapan balik ke Indonesia?" Tanya Mira beberapa saat lalu.
"Sekitar dua bulan lagi, Mira."
"Masih lama ya ...." Keluh gadis itu sembari memajukan bibirnya yang membuat Nandita terkekeh kecil.
"Sebentar kok itu. Jangan diingat-ingat terus, biar nggak berasa lama."
"Nggak sabar pengen peluk onty soalnya." Wajah Mira mendadak sendu, entah apa yang ada di pikiran gadis belia itu.
Nandita bisa merasakan perubahan raut wajah, anak yang dulu membuatnya begitu sakit hati itu.
"Maafin Mira ya onty, Mira banyak banget salahnya sama onty. Mira jahat banget sama onty, padahal onty selalu baik sama Mira." Setetes air mata mengalir di pipi gadis itu, membuat Nandita ikut merasa sedih.
"Mira, udaah jangan nangis lagi. Onty udah maafin kamu kok. Jangan bahas itu lagi ya ...."
"Tapi onty janji ya, nanti jangan pergi-pergi lagi. Jangan tinggalin Daddy lagi."
Entah sudah berapa kali gadis itu mengucapkan hal yang sama, setiap mereka berkomunikasi.
Nandita hanya bisa menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan calon anak sambungnya itu.
Ia bisa melihat perubahan sikap Namira yang semakin baik. Cara berbicara, tatapan matanya, Nandita tahu, Namira tulus melakukannya.
Perlahan rasa sayang yang sempat memudar pada gadis itu kini kembali muncul. Rindu yang sejak delapan bulan lalu tidak pernah ia rasakan pada Mira, kini mulai merayap di sudut-sudut hatinya.
Terlebih, saat ia tahu dari sahabatnya Candra, kalau Namira sempat mengalami hal menyakitkan dalam hidupnya, membuat Nandita begitu bersimpati padanya.
"Nandita, week end ini kita mau ada liburan bersama. Kamu ikut ya ...." Salah seorang temannya di tempat kerja, menghampiri gadis itu saat hendak bersiap untuk pulang.
"Kemana?"
__ADS_1
"Ada ... Tempatnya Deket kok ... Kamu harus ikut. Nggak ada alasan menolak lagi, ok."
Nandita sebenarnya malas mengikuti acara-acara seperti itu.
Sejak awal ia bekerja di sana, hanya sekali ia mengikuti kegiatan bersama rekan-rekan kerjanya.
Nandita lebih suka berdiam diri di dalam kamar, menikmati musik sembari membaca buku.
Sejak kepindahannya ke Turki hampir sepuluh bulan lalu, ia menjadi gadis yang lebih pendiam. Membuat orang lain sulit mendekatinya.
"Liat nanti aja ya ... Aku nggak berani janji, takutnya nanti ada kepentingan mendadak yang aku nggak duga." Sahut gadis itu akhirnya, sembari melebarkan senyumnya.
"Mmm ok, tapi usahakan untuk ikut ya ... Kita mau barbeque-an, mau melepas penat. Lagian tinggal beberapa Minggu lagi kamu di sini, biar kita ada kenangan." Teman kerja Nandita itu mengerlingkan matanya, menggoda.
"Masih dua bulan lagi kok ... Masih lama ...."
"Terserahlah, yang pasti kamu harus ikut nanti."
Nandita mengangkat bahunya, tidak mau memastikan keputusannya saat ini.
Keluar dari gedung tempat menghabiskan 10 jam waktunya hari ini, Nandita dibuat tertegun oleh kehadiran sosok laki-laki matang yang menatapnya dengan penuh rindu.
Raut wajah Gunadh berbinar penuh bahagia, meski tetap terlihat datar bagi orang yang belum mengenalnya.
"Mas ...." Ucap gadis itu lirih, seakan tidak percaya kalau yang dilihatnya adalah sang kekasih.
"Nggak mau meluk mas?" Tanya Gunadh sedikit kecewa, sebab reaksi Nandita tidak seperti yang diharapkan.
Nandita tersenyum tipis, lalu segera membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan tunangannya itu.
"Kenapa nggak bilang mau kemari?" Nandita sedikit mendongakkan kepala, demi melihat wajah Gunadh yang beberapa senti berada di atasnya.
"Tadinya pengen liat reaksi bahagia kamu, tapi rupanya aku terlalu banyak berharap." Ucap Gunadh lembut, namun begitu mengena di hati Nandita.
"Maaf mas, aku hanya terkejut. Lagi pula siapa bilang aku nggak bahagia?" Ia segera melepaskan dirinya dari dekapan Gunadh. Ingin melayangkan protes atas sindiran yang diucapkan laki-laki itu.
Gunadh merapikan anak rambut kekasihnya, yang liar meriap menganggu penglihatannya.
"Kamu bahagia mas ada di sini?" tanya laki-laki itu memastikan.
"Kok nanyanya gitu sih mas? Jelaslah aku bahagia ...." Nandita menatap mata Gunadh dalam.
__ADS_1
"Aku merindukanmu mas, sangat merindukanmu. Jangan meragukan aku, hanya karena masalah tadi," ucap Nandita dengan rambut, dan tanpa Gunadh duga, gadis itu mengecup sekilas bibirnya, sebelum memeluknya kembali dengan lebih erat.
Nandita sadar, reaksinya yang terkesan biasa membuat Gunadh merasa kecewa. Tapi mau bagaimana lagi?
Meski ia bahagia, namun kedatangan Gunadh yang tiba-tiba membuatnya benar-benar terkejut.
🌟🌟🌟
Taksi yang Gunadh sewa membawa mereka menuju rumah orang tua angkat Nandita. Rencananya, laki-laki itu ingin meminta ijin pada onty Eby dan uncle Murat untuk mengajak Nandita menghabiskan akhir pekan berdua.
Di dalam taksi, Gunadh tidak banyak bicara membuat Nandita merasa bingung. Adakah yang salah dengan dirinya? Apa Gunadh marah padanya?
"Mas," panggil gadis itu, menyentuh lengan Gunadh yang duduk di sampingnya.
"Iya sayang," sahut laki-laki itu menoleh ke arah Nandita.
"Ada apa? Kenapa diam saja?"
Nandita yang terbiasa menghabiskan waktu dengan Aslan yang banyak bicara, membuat ia lupa kalau Gunadh adalah laki-laki kaku yang tidak pandai merangkai kata.
Gunadh tersenyum.
Benar apa yang dikatakan ayah Darma ketika mereka berada di dalam pesawat beberapa waktu lalu.
Dia harus bisa membiasakan Nandita kembali dengan dirinya. Semua kejadian yang terjadi diantara keduanya, serta kedekatan gadis itu dengan laki-laki lain meski hanya sebatas teman, sedikit banyak mempengaruhi perasaannya pada Gunadh.
Awalnya Gunadh tidak menyadari itu, ia terlalu sibuk dengan perasaan suka cita karena bisa mendapatkan kekasihnya kembali. Namun setelah ia amati beberapa saat, apa yang ayah Darma katakan ada benarnya.
"Perpisahan kalian dulu karena alasan yang tidak baik. Keraguanmu atas dirinya, pasti menimbulkan luka yang cukup dalam, hingga ia memutuskan untuk pergi. Di sana, ia menemukan laki-laki seperti Aslan, yang kamu sendiri tahu seperti apa perasaan laki-laki itu terhadap Nandita." Ayah Darma menghentikan sejenak ucapannya. Ia berusaha merangkai kata sebaik mungkin agar Gunadh tidak meras kecewa.
"Ini hanya perkiraan ayah sendiri. Mengingat bagaimana Aslan memperlakukan Nandita, bukan tidak mungkin, tanpa dia sadari perasaannya mulai terbagi antara kamu dan laki-laki itu."
Awal mendengar ucapan ayah Darma, jantung Gunadh seakan berhenti berdetak. Tubuhnya seakan terhempas dari atas ketinggian, meluncur bebas ke dasar jurang.
"Bukan ayah ingin mengecilkan hati kamu, membuat kamu merasa tidak berdaya. Niat ayah mengatakan ini, agar kamu bisa lebih awas. Jangan sia-siakan kesempatan kedua yang diberikan takdir padamu. Kalau kamu tidak ingin kehilangan anak ayah kembali, ada baiknya kamu berusaha meraih hatinya lagi. Jangan terlena dengan keyakinan, kalau kalian dulu pernah saling mencintai. Tumbuhkan kembali perasaan itu, agar semakin dalam dan besar. Jangan biarkan ada celah bagi orang lain untuk masuk di dalamnya." Nasihat calon mertuanya, begitu kuat Gunadh genggam dalam hatinya.
Dan kini usaha itu tengah ia lakukan. Datang menemui Nandita, menempuh perjalanan yang tidak singkat, demi merayu hati gadis itu agar mau kembali padanya secara utuh.
"Mas!" Nandita memanggil namanya dengan sedikit lebih keras, memuat Gunadh tersentak kaget.
"Aku ajak ngomong kok malah tambah diem sih?" Protes gadis itu, dengan wajah jengah menahan kesal.
__ADS_1
"Mas hanya ingin menikmati kebersamaan kita sayang. Berapa waktu yang telah kita lewati tanpa satu sama lain? Mas ingin membayarnya sedikit demi sedikit, menciptakan kenangan kita di manapun kita berada."
Ucapan manis Gunadh, menghadirkan senyum tersipu bagi gadis itu.