
Gunadh mendatangi kediaman Anton. Rumah yang sama, tempat dimana Nandita menganiaya pria itu dan teman-temannya dulu.
Teet
Teet
Ia menekan bel beberapa kali. Tidak berselang lama, pintu rumah minimalis itu terbuka.
"M-mas Gunadh" Tasya terkejut mendapati kekasih sepupunya berdiri di depan pintu rumah yang ia tinggali saat ini.
"Ada apa ya mas?" Tanyanya lagi, menyadari pria di hadapannya tak kunjung menyapa. Wajah datar masih menjadi pemandangan yang Gunadh tunjukkan meski tengah bertamu.
"Saya mau ketemu Anton. Apa dia ada di rumah?" Tanya Gunadh pada wanita yang tengah hamil muda itu.
"Mmm m-as Anton masih tidur mas." Ucap Tasya ragu, dengan suara mengecil.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, tapi laki-laki penghuni rumah itu masih tidur?
Alis Gunadh berkerut.
"Apa kamu bisa membangunkannya? Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan sama suami kamu." Pinta Gunadh.
Meski ia heran dengan kegugupan Tasya yang seolah tengah menutupi sesuatu, namun ia tidak mau ikut campur urusan itu. Tujuannya datang adalah untuk mencari tahu sesuatu yang berhubungan dengan masalah anaknya.
"Iy-ya mas aku bangunkan dia dulu. Mm mas Gunadh silahkan masuk dulu?" Gestur Tasya terlihat ragu dan sedikit takut.
"Tidak apa, saya tunggu di sini saja." Gunadh menolak dengan halus, dan memilih duduk di kursi kayu dekat pintu masuk rumah tersebut.
Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya Anton muncul dengan wajah khas orang mengantuk.
"Mas, ada apa ya?" Tanya pria itu.
Gunadh sedikit memiringkan badan, menghindari aroma alkohol yang menguar dari mulut Anton.
Gunadh tahu, pria di hadapannya ini tengah berada dalam pengaruh alkohol.
"Kamu mabuk?" Pertanyaan yang coba ditahan Gunadh, akhirnya muncul juga. Ia bukan mau ikut campur, hanya saja ia harus memastikan orang yang akan diajaknya bicara, paham dengan maksud ucapannya.
Anton memijat leher belakangnya, merasa kikuk dengan pertanyaan dan tatapan mengintimidasi dari Gunadh.
"Biasalah mas, malam Minggu party. Kan hari ini libur." Sahutnya dengan malu.
"Tapi nggak masalah kok, 25% lah." Ucapnya meyakinkan Gunadh.
Gunadh menarik nafas. Ok, akan ia coba untuk bertanya. Semoga benar, pria ini tidak sedang hang over.
"Kamu bilang, kamu mengenal Safira dari seorang teman. Bisa kasih tunjuk sama saya, wajah pria itu?" Tanya Gunadh.
__ADS_1
Alis Anton berkerut.
"Anda tidak sedang cemburu bukan?" Tatapan Anton penuh curiga.
"Apa maksudmu?" Kesal Gunadh, dengan tuduhan pria mabuk di depannya.
"Mana tau anda masih menyimpan rasa pada mantan istri anda. Dan ingin membuat perhitungan dengan laki-laki yang mendekatinya. Waah kalau itu terjadi, anda laki-laki bodoh. Safira nggak ada apa-apanya dibanding si Dita itu. Sudah lah dia janda, banyak pula batang yang sudah masuk." Racau Anton.
Hilang kegugupan yang tadi sempat menghampirinya.
Anton yang sebenarnya suka bercanda, kini mulai menampakkan wujud aslinya.
"Jangan bandingkan Nandita dengan wanita seperti Safira. Mereka jauh bagai bumi dan langit." Sahut Gunadh geram.
Ia tidak terima bila orang lain menyandingkan Nanditanya dengan wanita lain, apalagi Safira.
Seperti yang sudah ia ketahui, Safira dengan segala petualangan liar dan kelicikannya.
Gunadh tidak ingin mendengar ocehan Anton lebih banyak lagi. Ia segera mengambil ponselnya, dan mencari rekaman cctv yang sudah dikirimkan Arya.
"Liat ini baik-baik." Gunadh mengarahkan ponselnya ke arah Anton.
Pria itu mengikuti perintah Gunadh.
"Apa kamu tau siapa mereka? Atau salah satu dari mereka, mungkin kamu mengenalnya?"
Anton kembali mengamati.
"Aku nggak kenal mereka, tapi rasanya pernah melihat beberapa kali. Tapi nggak pernah bertegur sapa." Ucapnya.
"Memangnya ada apa kamu cari dia?" Timbul rasa ingin tahu Anton.
"Ada sedikit urusan." Gunadh enggan menceritakan detailnya.
"Ooww .." Anton menjawab acuh. Ia jug tidak terlalu ingin tahu. Hanya sekadar penasaran.
"Eh tapi kalau memang penting, coba kamu cari Brian. Sepertinya dia mengenal mereka. Kayanya profesi mereka sama. Sama-sama penghangat ranj ang tante-tante gir ang." Ucap Anton khas orang mabuk. Dengan tawa garingnya.
"Kmu yakin si Brian itu tahu?" Tanya Gunadh ragu.
"Ya coba aja, kalau nggak dicoba mana tahu. Kalau itu penting ... Kalau nggak ya nggak usah."
"Di mana alamat laki-laki itu?" Tanya Gunadh akhirnya.
Anton terkekeh. Merasa lucu dengan Gunadh yang terkenal dengan wajah datarnya. Dalam keadaan membutuhkan pun, nada bicaranya seolah sedang bertanya pada bawahan.
Pria itu menyebut salah satu gedung apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Safira.
__ADS_1
Gunadh segera berpamitan dan meninggalkan rumah tersebut.
"Terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Gunadh dengan bahasa formal, sebelum benar-benar beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan terlalu formal mas ... Kita kan nanti jadi sodara ..." Ucap Anton
Gunadh hanya tersenyum tipis.
"Kalau begitu saya titip Tasya ya. Ingat, jangan sampai kamu menyakitinya, meskipun Nandita tidak ada di sini."
Anton hanya mengangguk dengan senyum dipaksakan.
Mabuk adalah salah satu caranya melepas stres. Seperti kata Gunadh, ia tidak bisa menyakiti Tasya. Bukan karena takut pada Nandita, lebih dari pada itu ada anak dalam rahim wanita yang baru dikenalnya itu, yang adalah darah dagingnya. Sebejat-bejatnya dia, tidak mungkin ia menyakiti ibu dari anaknya.
Dirinya dan Tasya bertemu di tempat yang salah, sehingga menciptakan pandangan yang salah juga terhadap satu sama lain.
Anton tidak mengenal baik dan buruknya Tasya, begitu juga sebaliknya. Sehingga mereka sering mengalami kesalahpahaman.
"Aku akan menjaganya dengan semampuku." Ucap Anton akhirnya. Kali ini suara pria itu terdengar serius.
Gunadh menepuk bahunya pelan. Meski ia sendiri sedang dalam masalah, namun tidak ada salahnya memberi empati pada orang lain.
"Saya yakin kamu bisa." Ucapnya, kembali dibalas senyum tipis oleh Anton.
^_________^^_________^^_________^
mampir di karya aku yang satunya ya ...
semoga kalian suka dengan cerita yang othor sajikan.
jangan lupa
like,
komen,
vote (kalau ada),
kasih iklan juga bunga ya 😁😁😁
Kisahnya tentang seorang gadis yang patah hati terhadap cinta pertamanya, dan akhirnya menjalani pernikahan atas permintaan sang ayah.
akankah dia bahagia dengan pilihan orang tuanya?
bisakah dia menemukan cinta kedua dalam hubungan itu?
__ADS_1