
Terkadang pasrah pada kenyataan adalah pilihan terbaik, ketika harapan tak kunjung membawa kebahagiaan.
Sudah lebih dari sepuluh pesan yang Nandita kirim ke nomor ponsel Gunadh sejak kemarin, namun jangan kan menerima balasan, tanda pesan itu diterima saja tidak ada.
Ketukan pintu mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi tertuju pada bayangan masa lalu.
Masa di mana ia dan Gunadh melewati waktu bersama.
Laki-laki yang pertama kali ia kenal, begitu kaku dan datar, namun perlahan bisa mengimbangi sifatnya yang ceria.
Laki-laki yang menjadi cerewet karena ia yang selalu mengajaknya bicara.
Laki-laki dingin, namun memiliki kehangatan untuk keluarga yang jarang orang lain tau. Laki-laki yang sat ini begitu ia rindukan.
"Onty," sapa Nandita begitu membuka pintu, dan mendapati onty Eby berdiri dengan senyum lembutnya.
"Sayang, lagi apa?" Suara lembut seperti biasa terdengar dari bibir wanita itu.
Sudah tidak lagi Nandita temukan keresahan di raut wajah wanita beranak dua itu.
Nandita melebarkan pintu, agar onty Eby bisa masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Nggak ada onty," sahutnya sembari tersenyum kaku. Ia duduk di samping onty Eby, yang baru saja mendaratkan pantatnya di atas dipan.
"Begini nak, rencananya besok onty sama uncle Murat mau ke rumah Oma mempersiapkan keperluan acara pertunangan kamu dan aslan. Kamu nggak mungkin ikut ke sana bukan? Jadi mulai besok hingga acara selesai onty minta kamu untuk stay di hotel tempat acara berlangsung ya ... Kalau di rumah, onty nggak tenang tinggalin kamu sendirian." Wanita itu menjelaskan tujuannya sembari membelai rambut Nandita dengan lembut.
"Di hotel, nanti kamu melakukan treatment dari atas sampai bawah. Onty udah siapkan semuanya. Kamu tinggal ikuti apa aja yang diminta sama orang yang udah onty siapkan untuk melayani kamu di sana."
"Onty ... Apa nggak berlebihan itu? Ini kan hanya acara pertunangan, bukan nikahan. Kenapa harus treatment? Aku lagi nggak pengen ngapa-ngapain ...." Gadis itu mencoba menolak.
Merasa enggan melakukan sesuatu yang membuatnya semakin menyadari kenyataan, kalau sebentar lagi ia akan bertunangan dengan seseorang yang tidak ia cintai.
"Ini acara special kamu dan Aslan. Jangan lupa, Aslan cucu pertama Oma yang akan melangsungkan pertunangan. Oma mengundang banyak rekan bisnisnya. Onty nggak mau kamu terlihat 'menyedihkan' saat acara nanti." Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membentuk tanda kutip saat mengucap kata menyedihkan.
"Onty tau kamu masih merasa berat menerima ini. Tapi semua sudah berjalan, sementara laki-laki itu belum juga datang. Oma sendiri sudah mengantongi restu orang tua kamu, jadi nggak mungkin kan kamu membuat dua keluarga malu saat ini? Onty minta kamu stay di hotel, tujuannya juga agar kamu nggak harus bolak balik dari rumah ke tempat perawatan terus balik ke rumah lagi, yang pasti bakal habisin waktu dan tenaga kamu."
"Semua yang terjadi adalah takdir yang harus kamu jalani sayang. Jangan siakan kesempatan yang Tuhan kasih. Kesempatan untuk meraih bahagia, meski bersama orang berbeda. Ingat, kamu bisa mengupayakan agar apa yang kamu mau, terwujud. Tapi ada tangan tak kasat mata yang mampu membolak balikkan keadaan, dan menunjuk jalan terbaik mana yang harus kamu pilih." Wanita itu menjeda ucapannya, mengamati reaksi yang ditunjukkan Nandita.
"Mungkin bagi kamu, onty sama Oma terlihat kejam saat ini. Memaksa kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Tapi percayalah, tidak ada satu pun dari kami yang ingin kamu bersedih. Orang yang pantas mendapatkan cinta kamu, adalah orang yang berjuang se kuat tenaganya untuk membahagiakan dirimu. Bukan dia yang pasrah dan mudah menyerah seperti tunangan kamu itu."
Nandita mengangkat kepalanya perlahan, dengan mata sayu dan tidak berdaya, ia membalas tatapan lembut onty Eby.
"Percayalah sayang, akan ada pelangi setelah badai. Dan untuk melihat keindahan itu, kamu harus melewati badai itu dengan berani. Melangkah dengan pasti, lupakan janji yang mengungkung kamu pada asa semu. Lepaskan masa lalu yang merantai kamu, sehingga langkah kakimu menjadi lebih ringan. Percayalah, Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Kamu membutuhkan seseorang yang tegas, ada di sisi kamu saat terbaik ataupun saat terburuk. Bukan orang yang dengan mudah melepas tangannya, ketika menyadari ada duri diantara pertautan itu."
__ADS_1
"Hidup bukan hanya perkara cinta. Kamu bisa hidup dengan orang yang tidak kamu cintai, tapi nggak akan bisa hidup dengan orang yang tidak bisa menghargai kamu." Nasihat onty Eby begitu merasuk di hati Nandita. Ia seolah disadarkan akan kenyataan bahwa selama ini ia hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Bila Gunadh mencintainya, harusnya dia datang, harusnya ia memperjuangkan hubungan mereka. Bukan kah masalah Safira sudah berlalu? Apa lagi yang harus ditunggu, untuk menariknya kembali? Tapi sayangnya pria itu tidak melakukannya. Mungkin benar kata onty Eby, sudah saatnya ia melepas bayangan masa lalu yang memberinya kebahagiaan semu.
Gadis itu menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Baiklah onty, jam berapa aku berangkat ke hotel besok?"
"Besok Aslan bakal jemput kamu. Tunggu dia datang aja ya,"
Nandita mengangguk patuh.
Selepas kepergian onty Eby dari kamarnya, untuk terakhir kalinya gadis itu menulis pesan untuk Gunadh.
💌 : "Mas, bila kamu membaca pesan ini hari ini, mungkin kamu masih punya waktu untuk datang, dan mungkin kisah kita masih bisa kita rangkai menjadi lebih indah lagi. Tapi bila tidak, mungkin jalan kita memang di gariskan Tuhan seperti ini. Besok hari terakhir batas waktu yang diberikan oma. Bila besok kamu belum juga datang, maka aku memutuskan hubungan yang terjalin antara kita. Terimakasih untuk waktu lebih dari dua tahun yang mas luangkan untukku. Terimakasih karen pernah menjadi bahu ternyaman untuk aku bersandar saat lelah. Terimakasih untuk kenangan yang pernah kita lewati bersama. Terimakasih untuk pengalaman luar biasa yang mas berikan untukku. Maaf karena aku nggak bisa menunggu kamu lebih lama lagi. Semoga kita menemukan kebahagiaan dengan cara kita masing-masing."
Nandita memejamkan mata sembari menekan tanda kirim, pada aplikasi chat itu. Berharap Gunadh segera membuka dan membacanya.
Namun seperti pesan-pesan sebelumnya, ia hanya mendapat rasa kecewa ketika menunggu begitu lama, namun tak kunjung mendapat balasan.
'baik, terimakasih. Selamat tinggal.' ucapnya dalam hati, melempar ponsel ke sembarang arah, lalu ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut.
__ADS_1
Tanpa gadis itu tahu, di luar sana kekasih yang ia rindukan juga tengah berjuang mencari tahu tempat tinggalnya sat ini. Namun sepertinya alam belum memihak pada keduanya. Gunadh begitu sulit mencari alamat Nandita. Seolah gadis itu sengaja disembunyikan seseorang.