Nanditha

Nanditha
MENJADI ORANG TUA TUNGGAL


__ADS_3

"Mas ... Aku mohon maafin semua kesalahan aku ..." Tubuh ringkih itu dengan tertatih hendak bangkit dan mendekati Gunadh.


"Berhenti." Gunadh tidak ingin mantan istrinya mendekat. Rasanya amat muak, melihat wanita yang dulu ia cintai itu.


"Kamu bilang maaf? Untuk apa? Saya sudah tidak ada urusan denganmu lagi." Gunadh enggan menatap mantan istrinya.


"Arya setelah perempuan ini pergi, suruh cs kemari membersihkan ruangan saya." Ucapnya, lalu laki-laki itu berlalu dari hadapan Safira, dan keluar meninggalkan ruangannya.


Entah ia harus bersikap seperti apa menghadapi wanita itu.


Ia tidak habis pikir dengan dirinya yang dulu begitu buta, hingga bisa jatuh cinta pada sosok yang kini terlihat sangat menyedihkan.


Setelah kepergian Gunadh, Arya meminta Safira untuk segera meninggalkan ruangan majikannya.


"Pergilah nona, tuan Gunadh tidak mau melihat anda lagi." Ucap asisten itu dengan wajah datar.


Safira menoleh, menatap penuh permohonan pada laki-laki yang menjadi kepercayaan Gunadh itu.


Wanita itu mendekat dengan tangan tercakup di depan dadanya.


"Arya, aku mohon ... Bantu aku agar bisa bertemu dengan anakku. Kenapa majikanmu begitu tega memisahkan aku dengan buah hatiku sendiri ...?" Dengan berurai air mata, Safira memohon.


"Pergilah nona, jangan lagi mempermalukan diri anda dengan datang ke tempat ini. Jangan merasa seolah-olah anda adalah korban yang patut dikasihani." Sergah Arya dengan wajah dingin dan datar.


Ia sudah tahu semuanya. Gunadh menceritakan apa yang Namira alami hingga gadis itu berniat mengakhiri hidupnya.


"Nggak! Aku nggak akan pergi sebelum kalian mempertemukan aku dengan anakku! Kenapa kalian tega pada wanita tak berdaya ini?" Safira yang tadi bertingkah lemah, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Wanita itu mengusap air matanya, dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu.


"Aku akan tetap di sini sampai putriku datang dan melihat bagaimana kalian memperlakukan mommy-nya." Dengan kepala terangkat, ia bicara tanpa takut pada Arya.


Arya tersenyum sinis, sudah menduga apa yang dilakukan wanita ular itu hanyalah akting belaka.


Arya merogoh ponsel dari saku jasnya. Menghubungi seseorang, untuk cepat datang ke ruangan Gunadh.


Tidak menunggu lama, dua petugas keamanan, serta seorang cleaning service datang.


"Bawa wanita ini keluar, dan tandai dia agar tidak bisa masuk ke sini lagi." Titahnya pada dua pria tersebut.

__ADS_1


"Dan kamu, bersihkan seluruh ruangan ini. Lap semua barang yang ada di sini agar tidak ada bekas manusia tidak tahu malu itu di sini" Arya bicara sesuai perintah sang majikan.


"Baik tuan." Sahut ketiganya kompak.


Dua petugas keamanan dengan tubuh atletis itu mendekati Safira.


"Maaf nona, silahkan ikut kami." Ucap salah satunya dengan sopan.


"NGGAK! Aku sudah bilang, sebelum aku bertemu dengan Namira, aku nggak akan pergi dari sini. Kalian jangan macam-macam, saya bisa menyeret kalian ke penjara, Karen perbuatan tidak menyenangkan yang kalian lakukan." Cerocos wanita yang tengah berbadan dua itu.


Petugas itu melempar pandang dengan teman kerjanya. Bingung harus berbuat apa.


"Seret saja keluar, kalau dia tidak mau diajak bicara baik-baik." Titah Arya yang tengah mengawasi mereka berdua bekerja.


"Tapi tuu...an" petugas itu tidak lagi melanjutkan kalimatnya, begitu melihat tatapan mematikan Arya.


"Bb-baik tuan, akan kami laksanakan."


Dengan terpaksa mereka menarik tangan Safira yang tengah duduk di atas sofa ruangan itu.


🌟🌟🌟


Gunadh memasuki rumah besar dimana selama ini ia dan Namira tinggal.


Meski waktu belum menunjukkan jam pulang kerja, namun karena suasana hati laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja, ia memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, setelah lebih dari satu jam berada di luar menghindari Safira.


"Dad ..." Panggil Mira yang hendak turun dari lantai atas rumah itu.


Gunadh tersenyum. Sengaja diam menunggu sang anak datang menghampirinya.


"Kok tumben Daddy udah pulang?" Tanya remaja kelas satu SMP itu.


"Iya lagi nggak terlalu banyak kerjaan." Bohong Gunadh pada putrinya.


"Ooww" respon gadis yang tengah bergelayut di lengan kanan sang Daddy.


"Nanti kita makan malam di luar mau? Udah lama kita nggak jalan-jalan kan?" Ajak Gunadh pada Namira. Gadis itu mengangguk antusias.

__ADS_1


"Siap Dad ... Jam berapa aku bersiap?"


"Terserah kamu saja, Daddy nggak ada acara kok hari ini."


"Ok, nanti aku pikir lagi mau pergi kemana." Sahut Mira dengan senyum yang tidak pernah pudar menghiasi wajah gadis itu.


Gunadh pun mengacak rambut sang putri, sebelum berlalu menuju kamarnya di lantai dua.


Dalam hatinya, ia takut senyum itu tidak akan muncul lagi, saat nanti Mira tahu seperti apa keadaan mommy-nya saat ini.


Sebab ia yakin, Mira masih begitu menyayangi wanita yang melahirkannya itu.


Acap kali ia melihat putrinya termenung dengan tatapan kosong. Ia tahu Mira masih sering mengingat wanita itu, meski rasa marah, kecewa, sedih, juga terluka belum sepenuhnya bisa Mira lupakan


Gunadh sebisa mungkin hadir mengisi kekosongan hati putrinya. Meski ia sadar tidak akan bisa menjadi sosok mommy dan daddy yang sempurna di saat bersamaan, namun ia tidak ingin putri kecilnya merasa kesepian.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


jangan lupa


like,


komen,


vote kalau ada,


juga gift ya.


sembari nunggu GunTha up besok, aku kasih recommend novel lagi nih.


***


Ditinggalkan saat pernikahan berlangsung dua hari lagi memang tak dapat Vanye bayangkan, tapi semua terjadi padanya ketika Satria memutuskan untuk pergi meninggalkan dia tanpa pamit.


Semua persiapan matang telah dilakukan, tapi pengantin lelaki telah pergi. Namun, ditengah-tengah semua masalah ini datanglah seorang lelaki lebih muda dari Vanye dan ingin menggantikan posisi pemelai laki-laki. Mungkinkah Vanye menerima kebaikan lelaki yang ternyata adalah calon adik iparnya sendiri?


__ADS_1


__ADS_2