
Nandita berpikir, lebih baik ia mencari laki-laki yang menghamili Tasya. Gadis itu akan memaksa siapapun dia, untuk bertanggung jawab terhadap sepupunya.
Tapi sebelum itu, Nandita akan memastikan apa yang menjadi keinginan Tasya dan Tante Sari.
"Sya, apa yang kamu mau saat ini?" Nandita bertanya dengan hati-hati.
Tasya mengerutkan keningnya.
"Maksudku, apa rencanamu ke depan? Tidak mungkin kan kamu hanya diam saja di rumah? Jangan pernah berpikir untuk melukai dirimu sendiri lagi." Nandita takut bila Tasya kembali memotong urat nadinya.
Tasya hanya mampu menggeleng. Ia pun tidak tahu apa yang harus dilakukan nanti. Ia bingung harus berbuat apa. Malu, sudah pasti. Takut, apa lagi. Belum lagi setiap hari harus menjalani hari dengan keadaan tubuh yang tidak tentu.
Mual-muntah hebat, terkadang lemas seharian, kadang ingin sesuatu sampai rasanya mau menangis kalau tidak terpenuhi. Semua itu ia alami meski usia kandungannya baru sepuluh Minggu.
"Kalau laki-laki itu mau bertanggung jawab, apa kamu mau menikah dengannya?" Dengan hati-hati Nandita bertanya.
Tasya menatap sepupunya.
"Gimana caranya kamu menemukan dia? Dan lagi, apa dia akan percaya kalau ini anaknya?" Tasya ragu.
"Soal itu kamu tidak perlu khawatir, saya akan menemukan laki-laki itu. Masalah dia percaya atau tidak, kita lihat nanti saja. Yang penting kalian bertemu dulu." Sela Gunadh.
Rupanya laki-laki itu sependapat dengan Nandita. Lebih baik memang bila mereka menemukan orang yang harusnya bertanggung jawab atas keadaan Tasya saat ini.
"Kamu nggak apa-apa kan kalau nanti bertemu dengannya?" Nandita memastikan.
Tasya menggeleng.
"Aku nggak apa-apa kok. Hanya sedikit khawatir, bagaiman kalau dia nggak percaya." Ucap Tasya.
"Jangan pikirkan yang belum terjadi. Yang penting kita berusaha dulu." Nandita memberinya semangat.
"Makasih Ta, sekali lagi maaf atas perbuatanku selama ini." Ucap Tasya penuh penyesalan.
"Udah ... nggak usah dipikirkan lagi. Yang penting kamu cepat sembuh, dan nggak mengulangi semua ini lagi. Ok?"
Tasya mengangguk, dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Kau istirahat dulu ya, biar keadaan kamu cepat pulih. Jangan terlalu banyak pikiran, kasihan dedek bayinya." Nandita mencoba mencairkan suasana.
Tasya membaringkan tubuhnya, dan mencoba memejamkan mata.
Nandita dan Gunadh keluar ruang rawat Tasya, membiarkan gadis itu beristirahat.
__ADS_1
"Gimana Tasya, Ta?" Tante Sari terlihat khawatir.
"Dia lagi istirahat Tan ... Jadinya aku sama mas Gunadh keluar."
Nandita duduk di sofa, sementara Gunadh masih berdiri, menyandarkan tubuhnya di tembok dekat sang kekasih.
"Mmm Tan ... Begini, Tasya merasa takut dan malu kalau sampai ia melahirkan tanpa ada suaminya. Ia juga takut akan cemo'ohan dan gunjingan tetangga. Untuk menggugurkan kandungannya, ia tidak mau. Ia lebih memilih m*ti bersama, daripada harus membunuh bayi itu, sementara ia hidup dalam rasa berdosa dan penyesalan yang tak berkesudahan." Nandita menjeda ceritanya.
Tante Sari hanya menunduk sambil sesekali menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Tangan bunda Santi mengusap punggung sang ipar dengan lembut.
"Tan, kalau seandainya laki-laki yang menghamili Tasya mau bertanggung jawab, menurut Tante gimana?" Nandita bertanya dengan hati-hati.
Tante Sari mendongak, hendak mengatakan sesuatu.
"Tante sih ---"
"Dimana kamu mau mencari laki-laki itu? Gak usah sok jadi pahlawan!" Tiba-tiba Tante Dewi menyela.
"Si Tasya aja nggak tahu siapa yang menghamili, dia sok-sokan mau mencari pelakunya. Atau jangan-jangan, kamu yang sudah bikin Tasya mengalami kejadian ini? Kamu menyewa seseorang untuk berbuat bejat pada tasya?"
Bukan hanya Nandita, Gunadh dan bunda Santi pun sontak terkejut dengan ucapan wanita itu.
"Mba! Jangan berkata sembarangan!" Tante Sari menyentak sang kakak.
"Bukan gitu mba, tapi apa yang mbak katakan itu nggak bener."
"Jaga bicara kamu Dewi!" Bunda Santi sudah tersulut emosi. Ibu tiga anak itu sudah akan menyerang, namun dicegah oleh sang anak.
"Sudah! Sepertinya kamu memang lebih percaya sama mereka. Nggak ada gunanya mbak di sini." Dengan kasar Tante Dewi meraih tas tangannya lalu pergi begitu saja.
Suasana menjadi hening.
"Mmm Tante, Dita permisi dulu ya." Nandita memecah kesunyian setelah hampir tiga puluh menit mereka sama-sama diam.
"Kamu mau balik Ta?" Bisik Bunda Santi.
Nandita mengangguk.
"Dita mau urus ini ya Bun ... Mau cari orang yang harus bertanggung jawab sama keadaan Tasya sekarang." Nandita menjelaskan pada sang bunda.
"Kamu jangan gegabah ... Ini nggak main-main Ta." Bunda Santi mengingatkan.
"Nanti aku yang temani Dita cari orang itu Bun ..." Gunadh menyahut, membuat bunda Santi akhirnya setuju.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kalian harus hati-hati ya."
"Ya Bun ... Kalau gitu aku antar bunda pulang dulu, baru habis itu kami ke kota." Ucap Gunadh.
"Nggak usah ... Bunda mau di sini dulu temani Tante Sari. Kalian berangkat saja biar nggak keburu malam."
🌟🌟🌟
Nandita dan Gunadh akhirnya berangkat berdua. Awalnya Nandita ingin membawa sepeda motor agar lebih mudah. Namun rupanya Gunadh keberatan.
Pria tampan itu berkeras mengantar kemanapun Nandita pergi. Dan dengan ijin calon ayah mertua, akhirnya Gunadh lah yang menang.
Dalam perjalanan menuju kota, Nandita hanya diam. Nampaknya gadis itu sedang banyak pikiran.
"Sayang ..." Panggil Gunadh lembut meraih tangan Nandita untuk digenggamnya.
Nandita menoleh, namun tidak mbalas genggaman tangan Gunadh.
"Mas, sebelumnya aku minta maaf. Tapi setelah aku pikir, ini jalan terbaik untuk kita. Lebih baik mas selesaikan urusan masa lalu mas terlebih dahulu. Baru setelah itu mas memulai hubungan yang baru dengan siapapun yang mas ingin." Dengan pelan Nandita melepas genggaman tangan Gunadh.
Setelah ia memikirkan semuanya, rasanya lebih baik mereka menjalani kehidupan masing-masing.
Meski sakit, ia harus memutuskan ini. Terlalu banyak kerugian yang diakibatkan oleh hubungannya dengan Gunadh.
"Maksud kamu apa Ta?" Gunadh bertanya.
"Kamu mau mengakhiri hubungan kita? Apa selama tiga bulan kita berpisah, kamu sudah menemukan laki-laki lain?" Rahang laki-laki itu mengeras.
Nandita menatap Gunadh tajam. Tidak suka dengan tuduhan laki-laki itu terhadap dirinya.
"Aku hanya ingin mas meyelesaikan dulu urusan mas dengan masa lalu mas. Aku nggak mau, kejadian seperti ini terulang lagi."
"Ini nggak akan terulang Ta, aku pastikan itu."
"Yakin ini yang terakhir? Nggak akan ikut campur urusan aku sama Safira dengan alasan apapun.?"
"Maksud kamu?"
"Apapun yang aku lakukan pada Safira, murni karena urusan pribadiku dengannya. Karena ia sudah mengusik keluargaku. Jangan menghalangiku, apalagi itu karena Mira." Dengan tatapan tajam Nandita mengutarakan isi kepalanya.
Gunadh menarik nafas.
"Bisa mas melakukannya? Kalau mas tidak bisa, silahkan cari wanita lain." Nandita memalingkan wajahnya ke arah jalan, mengurai sesak yang menghimpit.
__ADS_1