
Tutup matamu bila kamu tidak suka melihat.
Tutup telingamu bila kamu tak ingin mendengar. Karena kita tidak bisa menutup mulut semua orang agar berhenti membicarakan kita.
Libur semester sudah dekat, tapi sebelum itu baik guru maupun siswa disibukkan dengan ulangan akhir semester.
Mira belajar dengan giat agar ia diijinkan sang Daddy untuk bertemu dengan mommy nya. Itu janji sang Daddy padanya saat gadis itu kembali merengek minta bertemu mommy nya.
Ya meskipun selama ini Mira sudah tidak pernah lagi kabur mencari wanita yang melahirkan nya, namun keinginan anak itu melepas rindu dengan wanita yang sudah beberapa tahun tidak pernah ia lihat itu, tidak lah pernah hilang. Hanya saja, selama ini perhatian nya teralihkan dengan kegiatan belajar dan aktivitas lain yang ia jalani bersama Nandita.
"Ta,,, liburan semester kamu mau ada acara??" Tanya Gunadh disela makan siang nya bersama Nandita. Gunadh sengaja menjemput guru muda itu di sekolah tempat nya mengajar. Akhir-akhir ini mereka sering jalan berdua. Meskipun belum saling mengungkapkan perasaan, tapi mereka seolah memiliki keyakinan bahwa mereka sama-sama memiliki rasa suka satu dengan yang lain.
"Mmmm ada sih rencana liburan, tapi masih ragu mas. Harus siapin banyak hal soalnya."
"Memang mau kemana pake persiapan segala??"
"Aku pengen ke Singapura mas,,." Jawab Nandita dengan senyum manis nya.
"Tapi belum tau juga sih jadi apa gak nya, soalnya aku belum siapin dokumen apa-apa." Lanjutnya lagi
"Memang uang nya udah cukup??" Goda Gunadh.
"Ya dicukup-cujupin lah mas,,,. Aku udah cari info harga tiket sama hotel kok, aku rasa gaji aku dari mas lebih dari cukup malah. Bahkan aku bisa shoping tipis-tipis di sana." Sahutnya dengan senyum sumringah.
Gunadhyia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ya salut dengan kemauan kuat gadis di depan nya ini. Nandita bukan tipe orang yang mudah menyerah, tapi juga bukan orang yang ambisius. Gadis itu akan berjalan perlahan namun tujuannya tidak pernah berubah.
"Baiklah,, soal dokumen kamu ga usah khawatir, biar nanti asisten Arya yang urus. Kamu tinggal kasi data pribadi kamu ke aku."
"Ga usah lah mas,,, ga enak akunya sama pak Arya. Dia kan banyak urusan. Aku biar urus sendiri aja lah." Nandita menolak tawaran Gunadh. Namun bukan Gunadh namanya kalau semudah itu menyerah.
"Ga ada kamu ngerepotin dia. Orang aku yang kasih perintah, masa berani nolak." Jawab nya sombong.
Nandita mencibir
"Jangan sombong,,,. Mungkin ya dia ga berani nolak, tapi siapa tau dalam hatinya dia malah misuh-misuh." Bantah Nandita lagi
"Kamu ini selalu aja suka ngajak debat ya,, nurut aja kenapa sih,,,. Lagian Arya bukan orang seperti itu." Gunadh gemas sendiri pada gadis itu, saking gemasnya ia sampai menarik rambut Nandita agak keras.
"Auuhh mas,,, sakit tau,,,, kenapa sih selalu aja rambut aku yang jadi korban?? Bisa-bisa aku beneran botak ini kalau terus Deket sama mas Gunadh,,." Nandita bersungut sambil mengelus bagian kepala yang rambut nya ditarik tadi.
"Siapa suruh kamu cerewet,,." Jawab Gunadh lagi.
__ADS_1
'dasar ga mau kalah!!' Nandita hanya bisa bicara dalam hati. Sebab akan panjang lagi perdebatan nya kalau sampai Gunadh mendengar umpatan Nandita secara langsung.
Akhirnya acara makan siang mereka kali ini diwarnai dengan adu mulut yang cukup sengit. Dan pemenang nya sudah pasti Gunadh.
Nandita akhirnya pasrah dan menyerahkan urusan dokumen dan perijinan pada Gunadh. Ia hanya menurut saja ketika Gunadh memintanya menyiapkan ini dan itu. Urusan ke imigrasi menjadi tanggung jawab Arya.
🌟🌟🌟
Hari Sabtu pagi-pagi sekali Nandita sudah di kejutkan dengan kedatangan Mira dan Gunadh. Wajah khas bangun tidur nya membuat penampilan Nandita terlihat lucu di mata Gunadh.
"Kalian ngapain pagi-pagi sekali sudah ke sini??" Tanya Nandita dengan mata yang enggan terbuka.
"Ontyyy,,,, ini udah pagi,,,, aku mau ngajakin onty ke sekolahan aku,. Kan hari ini pembagian rapot." Mira dengan tangan bersedekap memandang Mira dengan tajam.
"Emang jam berapa mulai acaranya??" Nandita tidak menanggapi sikap Mira yang merajuk padanya lagian kan memang mereka tidak ada janji untuk pergi bersama.
"Jam setengah sembilan, tapi kita kan harus datang lebih awal,,,." Sahut anak itu lagi.
"Kamu kenapa ngajakin onty mendadak gini?? Kan bisa dari kemarin-kemarin ngajak nya,,,," kini giliran Nandita yang komplain pada Mira.
"Aku tadinya ga berani ajakin onty, kan onty juga ngajar,. Tapi kata Daddy, onty bukan wali kelas, jadi bisa katanya ikut kita." Jelas Mira lagi.
"Tunggu dulu kalau gitu ya,,,,, aku mandi dulu."
"Jangan lama-lama ontyyy,,,!"
"Yaaa,,," jawab singkat Nandita.
Jam 07.30 mereka sudah tiba di sekolah. Nandita bingung sendiri jadinya, sebab ini untuk pertama kalinya ia datang ke sekolah Mira. Dan ia merasa malu sebab mata para orang tua murid terus memandang ke arah nya.
Jujur saja Nandita merasa risih karena tatapan mereka seolah menghakimi.
Ia juga merasa bingung, ada apa dengan mereka??
Baru akhirnya ia sadar setelah ada seorang ibu-ibu muda yang datang menghampirinya.
"Pagi mba,,,,." Sapa ibu itu.
"Pagi juga Bu,,." Nandita hanya tersenyum canggung.
"Mba,, duduk di sana yuk sama ibu-ibu yang lain. Kita ngobrol-ngobrol lah biar akrab, sesama orang tua murid." Ibu muda dengan penampilan seksi itu mengajak Nandita untuk berpindah tempat. Mata nya sesekali mencuri pandang ke arah Gunadh. Nandita bingung di buatnya, sebab kalau menolak ia tidak enak, tapi juga ia merasa tidak se akrab itu dengan ibu-ibu di sana sehingga bisa dengan cepat berbaur dengan mereka.
__ADS_1
Gunadh segera menggenggam erat tangan nya.
"Diem di sini aja" bisik laki laki itu.
Nandita yang memang tidak mengenal orang selain Gunadh pun menurut. Ia juga merasa tidak perlu beramah tamah di sana. Itu bukan lingkungan yang akan sering ia kunjungi, pikirnya.
"Maaf Bu saya di sini aja. Lagian sebentar lagi acaranya akan dimulai." Tolak Nandita dengan sopan.
Ibu itu semakin kepo jadi nya. Dengan tidak tahu malu nya ibu muda itu duduk di samping kiri Nandita, sementara di samping kanan nya ada Gunadhyia yang masih setia menggenggam tangan Nandita.
Ibu muda itu berbisik, bertanya hal yang cukup pribadi bagi Nandita.
"Mba nya ini ibu tirinya si Mira ya?? Pinter bangeet mba nya pilih laki, udah ganteng, kaya lagi. Yaa meskipun udah punya anak,. Eeh mba,, istri pertama nya udah cerai apa belom?? Jangan sampai di jadikan istri ke dua lho mba,, kasian mba nya kan masih muda." Mulut wanita itu terus saja bergerak, membuat Nandita merasa jengah.
"Maaf Bu,, saya ini bodyguard nya Mira. Bukan ibu tirinya. Terimakasih lho sudah mengingatkan saya. Tapi saya rasa tidak ada urusan nya masalah pribadi saya dengan ibu. Jangan suka kepo urusan orang Bu,,. Apalagi kepo urusan saya." Keluar wajah judes Nandita jadinya.
Ia paling malas berurusan sama orang-orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Itu sebab nya dia terkesan judes bila bertemu orang yang tidak disukainya.
Wajah ibu yang tadi sok ramah itu berubah merah seperti kepiting rebus. Merasa sangat malu dan marah karena sikap Nandita yang di anggap angkuh.
Dengan wajah horor nya, ia bangkit meninggalkan tempat duduk nya tadi. Dan kembali ke tempat dimana ibu-ibu yang lain berkumpul.
Sementara ibu-ibu yang lain, ada yang mengabadikan foto Nandita yang duduk bersebelahan dengan Gunadh. Bahkan adegan saat Gunadh menggenggam tangan gadis itu pun tidak luput dari bidikan kamera amatir mereka.
Sepertinya ibu muda tadi hanya dijadikan pion untuk mereka mendapatkan gosip hot di sekolah anak-anaknya.
Setelah acara selesai, Nandita yang mood nya rusak dari awal, hanya menanggapi sekenanya setiap Gunadh ataupun Mira mengajak nya berbicara. Hingga membuat Mira merajuk.
"Onty kenapa sih?? Dari tadi aku ajak ngomong cuman di jawab ya sama gak aja. Onty ga suka ya temenin aku ke sekolah?? Onty ga seneng liat aku dapet rangking??" Gadis kecil itu gampang sekali tersinggung rupanya.
Nandita pun mau tidak mau merubah ekspresi wajahnya agar terlihat lebih ceria.
"Onty lagi kurang enak badan sebenarnya Mira,,, makanya onty diem. Tapi onty seneng kok bisa temenin Mira ke sekolah, apalagi Mira dapet rangking, pas tadi di umumkan onty merasa bangga juga karena ga sia-sia selama ini onty ajarin Mira. Selamat yaaaa,,,." Nandita memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
Gunadh yang melihat itu merasa senang.
'semoga kebersamaan ini bisa selama nya. Aku ingin Dita jadi milikku Tuhan,.' gumam nya dalam hati.
Karena tidak ingin membuat suasana jadi buruk, Nandita memberi ide agar Gunadh mengajak mereka ke mall. Hitung-hitung kejutan untuk Mira yang sudah berhasil mendapat rangking di kelas nya. Sesuatu yang baru pertama kali ia dapatkan semenjak mulai masuk sekolah SD.
Setibanya di mall yang tidak terlalu jauh dari rumah Gunadh, Nandita mengajak Mira bermain sepuas hati anak itu. Puas bermain, mereka makan bersama, penuh canda tawa, selayaknya keluarga bahagia.
__ADS_1