
Gunadh duduk di samping ranjang pasien tempat Mira dirawat. Digenggam, diusap, di ciumnya tangan sang putri berkali-kali.
Rasa bersalah teramat besar kini dirasakan oleh laki-laki tampan itu. Apalagi penyebab sang putri seperti itu adalah karena kelalaiannya.
Mira mengalami trauma akibat rasa takut dan kekerasan fisik yang diterimanya.
"Maafkan Daddy sayang..... Ini semua salah Daddy" Ia lalu mengusap sudut matanya yang basah.
"Tuan,,, nona Nandita ingin bicara"
"Ohh baiklah" Kemudian ia keluar ruang perawatan menuju bangku tempat Nandita duduk.
"Kamu mau bicara apa? Oh ya terimakasih sudah mau mengantar Mira ke sini"
"Mmm saya mau permisi pulang, ini sudah malam. Besok pulang kerja saya ke sini lagi menengok Mira"
"Ah ya baiklah,,,, biar asisten saya yang antar kamu pulang"
"Tidak usah tuan,, anda lebih membutuhkan dia di sini"
"Tidak apa-apa,, saya akan menemani putri saya sendiri. Biarkan dia mengantarmu sebelum ia kembali ke rumahnya"
"Baiklah kalau begitu,, terimakasih banyak Pak"
Alis Gunadh berkerut mendengar sebutan "Pak" yang di dialamatkan untuknya
"Saya tidak setua itu untuk kau panggil bapak"
Nandita hanya mencebikkan bibirnya, enggan menanggapi.
Hari sudah larut saat Nandita tiba di kostannya. Perutnya kembali merasa lapar, dan sialnya ia tidak masak hari ini. Bersyukur masih ada beberapa mie instan juga sosis di dalam kulkas mininya. Jadilah malam ini ia hanya menikmati hidangan darurat itu.
'bisa-bisa aku mengalami gizi buruk kalo sering begini' Gumamnya setelah makanan yang ia buat sudah siap disantap.
Hari yang melelahkan, tubuh gadis itu terasa remuk setelah seharian beraktifitas di luar rumah. Ditambah lagi tadi sempat bertarung hebat yang membuat ia kehabisan banyak tenaga.
Ia segera ke kamar mandi dan membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kecil namun nyaman miliknya itu.
🌟🌟🌟
Pagi-pagi sekali dering ponsel memekakan telinga Nandita. Matanya masih terpejam namun tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidurnya.
"Halooo" suara serak khas bangun tidur
"Kak Ditaaaaa kemana aja siiih,,,? Dari kemaren dicariin ga ada kabar,, jadi ga sih bantuin aku" Mendengar orang di seberang telepon sepertinya menahan emosi,, barulah Nandita membuka matanya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Oohh Kia,,, ada apa??"
Nandita masih tidak nyambung di ajak bicara
Sementara Kiara sudah sangat kesal dibuatnya.
"Iissshh jadi bantuin ga nih? Jangan lama-lama munculin idenya,,,, nanti mereka keburu semakin menjauh....!"
"Ooo soal Candra,,,,. Nanti kakak hubungin kamu lagi, sekarang kakak mau ke kamar mandi dulu, mau ritual" Ia lalu memutus sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa matahari sudah bertahta tepat di atas kepala. Terik yang menyengat, tak menyurutkan niat Nandita untuk pergi ke rumah sakit. Entah apa yang menarik dari gadis kecil itu, sehingga membuat Nandita mau bersusah payah mengorbankan waktu istirahatnya demi datang ke sana.
Tidak lupa ya juga menghubungi Kiara, meminta agar mengajak sang kakak untuk datang juga ke rumah sakit.
Tidak ada yang tau apa yang direncanakan gadis itu. Ia hanya meminta agar Kiara mengatakan bahwa Satya saat ini sedang berada di rumah sakit.
Ia juga menghubungi Satya, meminta laki-laki itu menemui ia dan sahabatnya di rumah sakit yang sama.
Namun ia tak menjelaskan sahabatnya yang mana.
"Kak Dita,,,, aku sama kak Andra udah di lobi rumah sakit, kakak di mana?"
Kiara menghubungi Nandita
"Langsung aja ke lantai tiga,, aku masih di ruangan sahabat aku, cari aja ruang Drupadi no 3"
Candra yang mendengar semakin khawatir, sebab yang ia tahu hanya dirinya dan Satya yang selama ini cukup dekat dengan nya.
"Ditaaaa,,,, siapa yang sakit??" Candra menatap Nandita
"Itu temen aku,, namanya Mira" Nandita menunjuk bed rumah sakit, dimana di atasnya terbaring seorang gadis belia yang masih terlelap.
Alis Candra berkerut sementara Kiara hanya diam saja
"Lho bukannya Satya yang sakit??"
"Kenapa Satya?? Maksudnya kenapa kamu mikirnya Satya yang dirawat di sini?"
Candra berusaha berkelit.
"Ya aku pikir teman kamu itu Satya,,." Lirih Candra mencawab.
Di dalam kamar mandi itu, ia memukul kepalanya berkali-kali.
'Aduuuuh bodoh banget sih aku,, kenapa ga bisa bersikap biasa aja sih.... Kalo begini kan keliatan banget aku masih menyimpan rasa sama Satya.'
Candra mengentikan gerakan tangannya untuk membuka pintu, sebab ia mendengar suara seseorang yang selama ini dia hindari.
Sementara itu,, Satya datang terburu-buru saat Nandita mengatakan sahabatnya masuk rumah sakit.
"Dita,,,, Candra mana? Gimana keadaan nya?"
"Lho,,,, ini kan bukan Candra,,,"
Satya kaget saat yang dilihatnya berbaring di ranjang pasien bukanlah Candra.
"Iiisssh pelankan sedikit suaranya,,, Mira baru aja tidur itu. Nanti dia bangun trus nyari bapaknya, repot urusannya. Lagian kalian kenapa sih,, kompak banget"
Semprot Nandita ketus
Alis Satya berkerut, masih tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Tadi kamu bilang sahabat kamu sakit,, aku kira itu Candra" Satya jelas sekali merasa di prank Nandita.
"Nah Candra juga mikirnya gitu,, ia kira kamu yang sakit Sat. Kalian udah kaya punya telepati gitu berdua,, sweet bangeeet" Ledek Nandita.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh deh Ta,,,. Aku sama Candra itu ga ada apa-apa. Dia ngehindarin aku sekarang, ga tau salah aku apa. Kamu inget ga pas kita ketemu di kedai bakso itu? Nah dari saat itu Candra ngehindarin aku. Tiap aku chat jarang banget dibalas, biasanya dia ga pernah gitu" akhirnya tanpa sengaja Satya curhat pada temannya.
"Mungkin ada hal yang kamu sampaikan atau sikap kamu yang bikin dia ga nyaman. Jangan bilang kamu muji aku di depan dia,, apalagi kamu bilang masih suka sama aku" mata Nandita melotot,, sungguh akting yang bagus.
"Enggak ya,,, aku udah anggap kamu sebagai adik aku. Lagian aku ga ada puji-puji kamu depan dia"
"Aku tuh sebenernya suka sama dia, cuman aku masih ragu, ini aku beneran suka apa hanya rasa sesaat aja. Nah aku bilang gitu ke dia. Masa sih gegara itu dia marah??"
"Aku mana tahu,, aku bukan pakar cinta,,,. Tanyain langsung aja ke orangnya tuh,, dia lagi ngumpet di kamar mandi"
"Candra beneran ada di sini?? Kenapa ga bilang dari tadi??" Satya melempar bantal sofa pada Nandita saking kesalnya.
Saat yang sama Candra keluar, wajahnya masih memerah. Ia dan Satya saling tatap. Seakan ingin menuangkan kerinduan yang terpendam.
Cinta memang membuat orang jadi bodoh dan terkadang membuat orang tidak tahu malu.
Mereka lupa kalau ini adalah rumah sakit, dan ruang perawatan seseorang.
Di mata keduanya mungkin ini adalah taman yang indah tempat yang tepat mengungkap rasa.
"Mending tatap-tatapannya kalian lanjutin nanti deh di tempat lain. Ga enak kalau lama-lama di sini. Nanti Mira keganggu lagi. Sat ajak tuh si Candra keluar, jalan ke mana kek. Kiara biar di sini temenin aku" Nandita membuat keputusan dan disetujui oleh mereka semua.
Jadilah Satya menarik tangan Candra keluar ruangan itu, entah mereka akan ke mana.
"Nanti kakak pulangnya bareng kak Satya dek" Hanya itu yang ia ucapkan kepada Kiara sebelum menghilang di balik pintu.
Sementara di dalam ruangan Nandita dan Kiara ber tos ria.
"Misi berhasil,,," Seru mereka
kegirangan.
Namun kesenangan seketika terhenti sebab tak berselang lama, suara rintihan Mira membuat Nandita dan Kiara panik.
"Mommy,,,,,, Mira ikut.... Mira takut.....
Mommy mereka jahat,,, sakit,,,," Tubuh Mira gemetar, matanya terpejam namun air matanya meleleh, badan nya pun masih panas.
Nandita mengelus lembut kepala anak itu, dan segera memanggil perawat lewat tombol di dinding atas ranjang pasien.
'Apa aku hubungi bapaknya ya' Sembari menunggu petugas datang, ia segera menghubungi Gunadhyia.
Bersyukur tadi laki-laki itu tidak lupa memberikan nomor ponsel pribadinya pada Nandita.
"Halo pak,,,, ini Mira mengigau, manggil-manggil mommynya. Badannya gemetaran, suhu badannya juga masih tinggi. Aku udah hubungi perawat jaga, mungkin sebentar lagi dia datang"
"Tolong jagain dulu ya,,,, saya masih ada rapat, sedikit lagi selesai"
"Baiklah"
Telepon ditutup.
Perawat datang bersama dokter yang menangani gadis itu. Memeriksa dengan teliti agar tidak salah memberi diagnosa pasien.
"Apa pasien memiliki trauma atau tekanan mental selama ini??"
__ADS_1
"Saya kurang tau soal itu dokter, tapi kemarin sebelum dilarikan kesini anak itu memang sedang dikejar beberapa preman. Ia sempat mengalami kekerasan fisik. Tapi lebih detailnya nanti mungkin orang tuanya bisa menjelaskan"
"Oohhh kalau begitu baiklah,, nanti kalau orang tuanya sudah datang, tolong untuk segera menemui saya di ruangan ya" Dokter itu tersenyum ramah dibalas anggukan dan senyum tak kalah manis oleh Nandita.