
Namira tergesa menuju rumah sakit, saat bel tanda pulang sekolah berbunyi. Ada perasaan tidak nyaman yang ia rasakan sejak beberapa saat lalu.
Setibanya di lorong rumah sakit, ia yang ditemani sang sopir semakin mempercepat langkahnya, ketika melihat beberapa tenaga medis melangkah cepat menuju ICU, di mana sang mommy dirawat selama ini.
'ada apa ini?' batinnya gelisah. Dan semakin khawatir saat melihat sang Daddy juga menyusul di belakangnya.
"Dad ... Apa yang terjadi? Mommy baik-baik aja kan?"
Gunadh tidak bisa menjawab, ia meraih tubuh putrinya dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kamu kuat sayang, kamu anak yang hebat." Ucap Gunadh, yang sama sekali tidak memberi jawaban apapun atas pertanyaan Namira.
Gadis itu melepas pelukan ayahnya, dan berlari mendekati ruang ICU. Ingin masuk, namun beberapa petugas melarangnya.
"Kami sedang berupaya menyelamatkan ibu anda, mohon kerja samanya agar tidak menganggu konsentrasi para medis." Ucap salah satu perawat yang menghadang langkah Mira.
"Tapi mommy aku baik-baik aja kan?" Tanya gadis itu penuh harap. Perawat tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Hanya meminta Namira untuk mendoakan sang mommy.
Selintas Mira dapat melihat tim dokter tengah menekan dada Safira dengan alat kejut jantung, yang membuat tubuh kurus itu tersentak. Namun hanya sebentar gadis belia itu dapat menyaksikannya, sebab perawat segera menutup gorden pada tembok kaca di depannya.
Kembali Gunadh meraih tubuh putrinya, yang menggigil menahan tangis.
"Sssttt ... Mereka pasti bisa menyelamatkan mommy kamu. Kamu harus percaya itu."
Tidak menunggu lama, satu persatu tim medis keluar, dan Safira segera menghampiri salah satu dokter.
"Gimana mommy aku dok?"
"Syukurlah, tadi sempat mengalami sedikit masalah, tapi syukurnya sudah bisa diatasi. Mungkin sebentar lagi pasien akan sadar."
__ADS_1
"Bener kan dok, nggak bohong? Mommy aku akan sadar?" Tanya Mira lagi, sebab sejak dirinya pertama kali datang ke rumah sakit, perawat ataupun dokter yang ditanyainya selalu mengatakan hal yang sama, namun tidak pernah terbukti hingga kini.
"Doakan saja ya ...." Jawab dokter lembut, sebelum berlalu dari hadapan Mira.
Dan benar saja, setelah lebih dari satu jam menunggu, kabar bahagia yang dinantikan Namira pun tiba. Safira sadar setelah beberapa lama.
Tangis haru tidak dapat Namira tahan, saat tangan kurus sang mommy mengusap pelan wajahnya.
"Mom ...." Hanya itu yang bisa Mira ucapkan. Selebihnya mereka hanya berkomunikasi lewat tatapan mata.
Safira masih penuh dengan alat medis di sekujur tubuhnya. Hal itu membuat wanita yang pernah menempati hati Gunadh, tidak leluasa berkata-kata.
Perlahan tangan kurus Safira, melepas alat bantu nafas di hidungnya.
"Mom ... Jangan ...." Cegah Mira, namun Safira tetap melakukannya.
"Mi Ra ... Ma aafin mom yyy iiyaaa ...." Ucap Safira terbata, dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Mom ...." Namira panik melihat nafas Safira tersengal. Ia berniat memasangkan kembali alat tersebut pada mommy-nya, namun Safira menggeleng.
"Mo mmy ca peek. Ma uuu tii duuur ...." Ucapnya semakin lemah. Perlahan nafas Safira semakin berat, membuat sang putri berteriak histeris.
"Mom ... Mommy ...!" Beberapa perawat kembali masuk ke ruangan Safira, meminta Mira untuk keluar dari tempat tersebut.
"Nggak. Aku mau di sini. Mommy aku kenapa? Aku mau di sini tungguin mommy." Sahut Mira berurai air mata.
Karena memaksa, gadis belia itu sampai harus ditarik keluar oleh dua perawat yang bertugas.
Gunadh yang baru datang dari toilet, sontak terkejut melihat putrinya menangis histeris di depan ruang perawatan mommy-nya.
__ADS_1
"Mira ... Kamu kenapa?"
"Dad ... Mommy ... Mommy sesak nafas. Dia tadi buka ituu selangnya ...." Terang Namira panik.
"Terus sekarang gimana?" Tanya Gunadh ikut khawatir.
"Dokter masih di dalem ... Dad ... Aku takut ...." Lirih gadis itu lagi, membenamkan wajahnya ke dada sang ayah.
Mira begitu tertekan. Melihat Safira yang seperti sangat kesakitan, ia merasa jika ucapan wanita yang melahirkannya itu, seolah menjadi ucapan perpisahan untuknya.
Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh, namun entah kenapa perasaan itu begitu kuat menekannya.
Namira begitu ketakutan, hingga tangis pilunya terdengar menyayat hati.
Meski sebisa mungkin ia berpikir positif, mencoba mengenyahkan pikiran buruk yang membuat hatinya tidak nyaman, namun semua itu sia-sia. Bayang kehilangan terus menghantuinya.
"Mira, sudah ... Kamu harus kuat. Tenangkan hati kamu, kita doakan agar mommy kamu bisa melewati semua ini." Gunadh memapah putrinya agar duduk di kursi tunggu.
"Tapi aku takut Dad ... Dia tadi minta maaf sama aku, dan bilang capek. Katanya mau tidur ... Dia baru bangun, Dad ... Masa mau tidur lagi?" Sahut Mira dengan isaknya.
Gunadh hanya mengusap punggung Namira, tanpa mengatakan apapun. Dia memiliki firasat tidak baik kali ini.
Dan benar saja, berita yang disampaikan dokter membuat dia tidak bisa berkata apapun lagi.
Safira meninggal setelah berjuang beberapa hari di ruang ICU rumah sakit tersebut. Tangis Mira semakin pilu, membuat hatinya ikut sesak menyaksikan putrinya kembali terpukul dan kehilangan. Namun ia tidak bisa ikut larut dalam kesedihan. Ia harus mengurus semuanya. Safir tidak memiliki siapapun lagi, keluarganya di luar kot sudah tidak menganggapnya ada semenjak dia dan Gunadh resmi bercerai. Terlebih kelakuan wanita itu yang mempermalukan keluarga, membuat mereka semakin tidak ingin mengenal Safira lagi.
^_________^^_________^^_________^
Sedikit lagi bakalan end. jangan lupa dukungannya ya ...
__ADS_1
oh ya mampir di karya temen mamak juga ya ...