
"Hati-hati yank. Jangan berpenampilan mencolok biar gak mengundang perhatian. Pastikan semua kartu identitas aman. Paris memiliki tingkat kriminal yang cukup tinggi. Jadi kamu harus waspada." Pesan Gunadh ketika mengantar Nandita ke bandara.
Candra dan Satya yang duduk di belakang hanya bisa tersenyum melihat keduanya.
Gunadh sudah seperti seorang ayah yang menasihati anak SD nya ketika akan tamasya.
"Ya, kan di sana ada orangnya Louis yang akan nganterin aku kemana-mana. Mas gak usah khawatir ya, biar aku gak takut juga." Ucap Nandita meyakinkan.
Louis adalah tunangan Biyanca yang merupakan seorang pengusaha asli negara mode tersebut.
Pria yang belum pernah Biyanca perkenalkan secara resmi itulah, yang mengatur segala keperluan Nandita selama di negaranya. Meskipun ia tidak sedang berada di Paris, namun orang-orang kepercayaannya lah yang mengatur segalanya.
Nandita berangkat bersama Candra. Menempuh perjalanan 9 jam 30 menit, mereka tiba di Hamad airport Doha. Dari Doha barulah mereka terbang lagi menuju Paris dengan durasi waktu terbang 7 jam 10 menit.
Meski mengalami delay yang lumayan lama, yakni hampir 8 jam dari Doha menuju Paris, tidak membuat dua gadis itu hilang semangat.
Mereka memilih melakukan kegiatan seru selama transit di Bandara Hamad Doha Qatar.
"Ta bosen nunggunya lama banget. Kamu cape gak?"
"Ya juga sih. 8 jam kita nunggu ini." Meski mereka bisa beristirahat di lounge yang sudah disediakan, namun kesempatan mengelilingi Doha lebih menarik bagi mereka.
"Ndra, kata kak Bian biasanya di sini ada tur keliling Doha gitu kalau pesawatnya delay. Mau ikut gak?" Tawar Nandita.
"Mm boleh deh, daripada bosen nunggu lama." Ucap Candra.
Nandita melakukan reservasi langsung ke meja Doha City Tour di bandara.
Setelah mengisi perut, mereka memilih mengikuti tur keliling Doha yang diselenggarakan maskapai penerbangan.
Tempat wisata yang mereka kunjungi adalah Pearl Qatar, surganya pecinta kemewahan sebab di sana terdapat banyak restaurant dan mall besar nan mewah.
Katara Cultural Village, merupakan wilayah dekat pantai yang dijadikan sebagai pusat budaya orang Qatar.
Nandita dan Candra mengambil begitu banyak foto di setiap sudut tempat yang mereka anggap menarik. Salah satunya di depan Pigeon tower yang menjadi ikon di Katara Village yang berdekatan dengan Katar Masjid.
Tempat ketiga yang mereka kunjungi yakni Museum for Islamic Art. Sebuah museum yang terletak di ujung Corniche yang memiliki panjang 7 kilometer di ibu kota Qatar, Doha. Didesain oleh arsitek I. M. Pei, museum ini dibangun di sebuah pulau di semenanjung buatan dekat dengan pelabuhan perahu tradisional dhow (perahu Qatar yang terbuat dari kayu).
Sebuah taman dibangun untuk mengelilingi bagian timur dan selatan, dengan 2 jembatan yang menghubungkan bagian depan selatan bangunan dengan semenanjung utama yang di dalamnya terdapat taman. Bagian barat dan utara terdapat pelabuhan yang menampilkan masa lalu pelayaran Qatar.
Dan yang terakhir adalah Souq Waqif. Sebuah pasar tradisional yang merupakan salah satu tempat wisata penting di kota Doha, ibu kota Qatar. Pasar ini menggabungkan antara warisan dan tradisi dengan peradaban modern, dan merupakan tempat wisata dan budaya yang paling terkenal dan dikunjungi oleh para wisatawan dan masyarakat setempat. Pasar ini juga terkenal menjual kerajinan tangan, serta penyajian makanan Arab, tradisional dan internasional.
Sebagian besar toko-toko di pasar ini buka sejak pukul 10 sampai pukul 12 zuhur, kemudian pukul 4 sore sampai jam 10 malam, dan merupakan satu-satunya pasar yang menjadi tempat penting di Doha. Di dalamnya juga terdapat berbagai rumah makan yang menyajikan makanan tradisional Qatar dan makanan khas Timur Tengah lainnya.
Nandita dan Candra sepakat tidak membeli banyak hal di tiap tempat yang dikunjungi. Sebab tujuan utama mereka adalah Paris. Mereka hanya mencoba beberapa makanan khas Timur Tengah yang sebagian besar tidak bisa mereka nikmati rasanya.
"Aaa cape Ta" keluh Candra ketika rombongan tur yang mereka ikuti kembali memasuki wilayah bandara.
"Sabar, nanti di pesawat puasin deh tidurnya." Ucap Nandita yang juga merasa lelah.
__ADS_1
🌟🌟🌟
Setelah lebih dari 7 jam berada di dalam pesawat, mereka tiba di airport Paris-Charles de Gaulle. Atau yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Roissy (atau hanya Roissy dalam bahasa Prancis), adalah bandar udara internasional terbesar di Prancis. Namanya diambil dari Charles de Gaulle (1890-1970), seorang pemimpin Pasukan Prancis Merdeka dan pendiri Republik Kelima Prancis.
Nandita yang baru pertama kali ke sana, merasa bingung. Apalagi mengingat pesan Gunadh, yang mengatakan tempat yang ia kunjungi memiliki tingkat kriminal yang cukup tinggi.
"Ndra, aku kok jadi over thinking gini ya?"
"Kepikiran sama omongan Gunadh?"
Nandita menganggukkan kepalanya.
"Jangan segitunya juga kamu khawatir. Nanti gak bisa menikmati perjalanan tau."
"Ya juga sih. Tapi penampilan aku biasa aja kan?" Kembali Nandita bertanya.
Gadis yang biasanya tenang itu terlihat sekali gugup saat ini.
"Biasa. Udah yuk." Candra menarik tangan Nandita, menuju pintu keluar.
Tepat di depan pintu, berdiri seorang laki-laki muda memegang kertas bertuliskan nama Nandita dan Candra.
Melihat itu, raut khawatir di wajah gadis itu perlahan menyurut.
"Hai, kamu temannya Louis ya?" Tanyanya sopan pada pemuda itu, sesuai dengan perintah sang calon kakak ipar.
"Baiklah, kenalkan aku Nandita dan ini temanku Candra"
"Saya Ahmed nona." Ucap laki-laki itu mencakupkan kedua tangannya di depan dada.
"Oh maaf" Nandita menyadari kesalahannya, ikut mencakupkan kedua tangannya.
"Mari nona, saya antar kalian ke hotel dulu."
"Oh y ya." Ucap Nandita. Fokusnya sempat terpecah tadi.
"Kata tuan Louis, saya harus menemani liburan kalian selama 14 hari di sini. Untuk itu, saya memberi tahukan pada kalian, besok pagi saya akan menjemput kalian jam 7.00."
"Ok." Nandita dan Candra kompak menjawab singkat.
Rasa lelah mereka rasakan sejak turun dari pesawat. Meskipun di dalam pesawat mereka lebih banyak tidur, namun tentu berbeda rasanya dengan tidur di atas kasur di dalam kamar.
Ahmed mengendarai mobilnya dari bandara menuju hotel yang sudah ia pilih untuk dua tamu tuannya tersebut.
Tidak banyak bicara, Nandita menuju kamar yang sudah disediakan. Ia sengaja meminta kamar satu berdua dengan Candra. Selain karena merasa tidak enak sebab semua biaya selama ia di sini ditanggung oleh calon kakak iparnya, ia juga merasa takut bila kamarnya terpisah dengan Candra.
"Terimakasih karena sudah mengantar kami. Maaf merepotkan Anda." Ucap Nandita setelah tiba di depan pintu kamarnya.
Ahmed berada tepat di belakang mereka dengan dua koper di tangannya.
__ADS_1
Sebenarnya Nandita dan Candra menolak pelayanan yang berlebihan itu, namun dengan alasan itu adalah perintah dari Louis, Ahmed memaksa melakukan itu.
"Saya tidak meras direpotkan nona. Silahkan beristirahat, besok saya datang lagi." Ucapnya dengan bahasa yang sangat formal.
"Baiklah." Nandita masuk menggunakan key card, diikuti Candra dibelakangnya. Menyempatkan diri membungkuk sebelum menutup pintu.
"Aaah akhirnya sampai Taa." Candra merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan ukuran king size itu.
Nandita pun ikut menyusul temannya.
"Aku jat lag Ndra. Masih berasa kaya di pesawat tiap kali tutup mata." Ucap Nandita sembari merubah posisi tidurnya dari telungkup menjadi terlentang. Sementara kakinya ia biarkan menjuntai menyentuh lantai.
"Di Indo jam berapa ya sekarang?" Candra segera bangkit, melihat jam di pergelangan tangannya.
"Jam 8 lewat 15" gumamnya masih dapat di dengar oleh Nandita.
Jam milik Candra masih menggunakan waktu Indonesia.
"Telepon orang rumah dulu Ndra. Aku juga mau telepon ayah nih." Dengan sedikit malas Nandita meraih tas yang ia letakkan di sampingnya.
Setelah memberi tahu ayah bundanya, Nandita berniat untuk mengabari Gunadh. Namun ternyata laki-laki itu lebih dulu menghubunginya lewat sambungan video
"Halo mas, aku baru mau telepon kamu."
Gunadh tersenyum. Ia tahu Nandita baru tiba. Ia sudah menghitung waktu keberangkatan dan perkiraan Nandita sampai di hotel.
"Udah makan?" Tanpa menanggapi ucapan Nandita, Gunadh bertanya hal lain.
"Tadi sudah. Sekarang mau tidur aja. Capee banget." Dengan mata terpejam Nandita menjawab pertanyaan Gunadh.
"Pasti belum mani kamu. Mandi dulu, ganti bajunya. Itu kotor lho." Perintah Gunadh
"Ya mas. Bentar lagi."
"Sekarang yank."
"Masih ada Candra di dalem. Dia tadi kebelet katanya mau sekalian mandi."
"Ya sudah, kalau gitu mas tutup dulu ya. Ingat jangan tidur dulu, sebelum mandi dan ganti baju. Pakai air hanya yank, di sana udah larut banget kan ini?"
"Ya mas. Daaa"
"Daa sayang. Muach" Gunadh mengakhiri obrolan mereka dengan sun jauhnya.
^_________^^_________^^_________^
Masih sibuk dengan acara adat, mohon maaf telat up nya.
Jangan lupa dukungannya manteman ....
__ADS_1