
Bila kamu dibenci, sebaik apapun kamu akan tetap terlihat buruk. Setulus apapun kamu akan dituduh penuh maksud. Jangankan kamu beraksi, diam pun kamu akan tetap salah.
Jadi tetap menjadi diri sendiri adalah pilihan. Baik atau buruk kamu, bukan dari pandangan orang lain, tapi dari hati dan pikiran kamu sendiri.
Nandita melangkah santai, bersenandung ceria seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Dua cup jus alpukat tanpa gula, ikut berayun di tangan kirinya.
Ia sengaja hanya membelikan orang tuanya saja, hatinya masih panas. Ia tidak rela uang yang ia dapat dengan susah payah dinikmati oleh orang yang tidak pernah menghargainya.
"Bundaaaaa,,,,, kangen bangeeet...." Dari jauh ia sudah mengulurkan tangan agar dipeluk oleh wanita yang sudah melahirkannya itu. Sengaja ia memperlihatkan kekompakan ibu dan anak di mata para wanita julid itu.
Bolehkan ia bersikap kekanakan?? Toh selama ini ia dipaksa dewasa oleh keadaan.
"Aduuuuhh kamu itu masiiiih aja manja,, liat ni ga malu apa sama Tante juga om kamu??" Sang bunda berakting dengan sempurna.
"Kenapa harus malu? Bunda kan bunda aku, hak milik aku, masa malu?? Kalau memanfaatkan hak orang lain untuk diri sendiri baru harus malu...." Rupanya perang belum usai.
Sakit hati Nandita yang di serang oleh dua tantenya tadi, rupanya menjadi pemantik bara yang selama ini ia pendam.
"Ehm kamu bawa apa itu??" Sang ayah mengalihkan topik agar tidak semakin panas. Ia tau, selama ini sang istri juga sering kesal dengan sikap adik-adiknya. Bersyukur bunda Santi sangat menghormati sang suami, sehingga ia selalu menahan diri untuk tidak beradu mulut dengan para iparnya.
"Oya ini jus alpukat tanpa gula untuk ayah bunda,, pemanisnya aku ganti pake madu"
Ucap Nandita tersenyum ceria
"Waaaahh segeeer banget ini,," Bunda berseru sembari mengambil bungkus plastik di tangan anaknya.
"Ini punya ayah" Istrinya memberikan satu gelas untuk sang suami
"Ayah bawa masuk aja ya,, siapa tau kakek mau coba"
Ayah mengambil jus itu dan langsung membawa nya ke dalam kamar rawat kakek.
Nandita dan sang bunda asyik bercerita seolah mereka sedang berdua. Tante Sari dan Tante Dewi di sofa sebelah sedang menonton televisi. Sedangkan para suami sudah pulang.
"Ta kak Byan ada telepon kamu?"
Tanya bunda setelah jus nya habis
"Ga Bun.... Paling cuman chat aja,,,. Kemaren aku bilang kalo kakek sakit. Kata dia maaf belum bisa pulang, ga bisa ijin mendadak katanya"
"Ya bunda juga cuman bisa chat aja, tiap di telepon selalu sibuk"
Bunda jadi curhat dengan anaknya.
Di sofa sebelah dua wanita saling colek saat mendengar obrolan bunda dan anak itu. Mereka mencari celah untuk julid kembali.
"Hidup itu jangan terlalu berambisi untuk punya uang banyak, sampe rela anak disuruh kerja jauh demi bisa pamer kesuksesan"
Tuh kan mulut tanpa filternya Tante Dewi beraksi.
"Biasa lah mba,,,, biar cepat kaya,. Maklum selama ini kan ada yang ga suka kita yang lebih disayang bapak, ketimbang anak laki-laki."
Tante Sari menimpali.
Sedangkan bunda Santi dan Nandita saling pandang. Tidak menyangka kalau obrolan mereka didengar oleh duo serigala itu.
__ADS_1
"Lagian uang ga bakal dibawa mati juga, ambisi banget jadi orang. Emang kalau nanti sakit, dikira enak apa ga ada yang urus sebab anak merantau jauh." Tante Dewi kembali menyindir iparnya
"Kita juga ga tau kan mba,,, anak beneran kerja apa ngapain di sana?? Anak jaman sekarang kalau di kasih bebas kan,,, kebablasan. Biar dikira hebat pulang bawa uang banyak, taunya hasil jual diri. Uuups"
Tante Sari menutup mulutnya, seolah menyadari kesalahan ucapan nya.
"Nah itu dia Sari,,,,, jangan sampe bikin nama baik keluarga jadi rusak. Kaya anak teman mba sekolah dulu, katanya kerja di luar kota, pulang taunya sudah berbadan dua. Begitu ditanya dipaksa sama bapak ibunya, dia ga tau ayah dari anak dalam perutnya. Sebab yang gituin dia banyak."
Nah jangan sampe keluarga kita kaya begitu,,,. Sok-sokan jadi pramugari taunya jual diri. Kerja jauh dari orang tua, biar bisa bebas tidur dengan banyak pria." Ucapan Tante Dewi memang setajam silet, menyayat hati seorang ibu.
Bu Santi berdiri, melangkah lalu menyambar lengan Tante Dewi meremasnya dengan kuat.
"Kamu terlalu banyak bicara Dewi!!" Suara bunda terdengar berat penuh penekanan.
"Siapa kamu berani menilai anak saya sehina itu? Saya diam selama puluhan tahun, karena saya sangat menghormati mas Darma suami saya. Tapi kalau kamu hina anak saya, lupakan saya sebagai seorang istri!! tapi ingat saya sebagai seorang ibu!!
Belum puas hanya meremas lengan saja, tangan satunya memegang dagu Tante Dewi dengan kuat juga.
"Suami dan anak-anak saya mungkin tidak akan melakukan ini terhadapmu, meskipun kamu menyakiti mereka dengan sangat. Karena ada darah yang sama yang mengalir di tubuh kalian. Tapi saya, saya tidak akan segan membuat mulut busuk kamu ini berdarah kalau sampai saya mendengar ucapan sampah keluar dari sini sekali lagi!!"
Bunda Santi melepas kedua cengkraman tangan nya. Ia melangkah, menarik tangan Nandita lalu meninggalkan ruangan itu dengan emosi yang masih membara.
Sementara dua manusia julid itu masih sangat-sangat terkejut dengan kejadian barusan. Begitu cepat, begitu menakutkan. Bahkan rasanya mereka tidak berani untuk bernapas.
Wajah Tante Dewi pucat. Seolah darah pun takut mengalir. Tangannya gemetar bahkan sekadar untuk mengambil minum dari tangan Tante Sari pun ia tidak sanggup. Sehingga Tante Sari yang membantu mendekatkan ke mulutnya.
"Kalian kenapa?" Pak Darma keluar dari ruangan sang bapak, dan bingung mendapati wajah ketakutan dua saudara tirinya itu.
"Tanya sama istri dan anak mas,, mereka apain Dewi sampe ketakutan seperti ini? Anak sama ibu sama aja, sama-sama bar-bar. Ajarin tuh mereka mas,, agar bisa memperlakukan keluarga lebih baik lagi" Tante Sari mengomel.
"Santi yang lakuin ini??" Wajah pak Darma memerah.
"Ini mas lihat, tangan sama pipi mba Dewi sampai begini dianiaya istrimu. Anak kamu juga mas,, ngancam mau merobek mulut mba Dewi tadi"
Pak Darma menarik napas dalam. Mencoba menekan amarah pada dua wanita di hadapannya. Ia sangat tau bagaimana istri dan anaknya. Bila sampai istrinya melakukan kekerasan, itu berarti perbuatan mereka sudah keterlaluan. Apalagi Nandita sampai berbicara tidak sopan pada Tantenya. Itu tandanya mereka sudah membangkitkan sisi lain dari diri anaknya itu.
Pak Darma tidak bisa menyalahkan dua wanita yang dicintainya itu. Ia bahkan sangat bersyukur memiliki Bu Santi sebagai istrinya. Sebab di balik sikap bar-barnya, ia adalah wanita yang baik dan berhati lembut. Begitu sabar, tidak pernah menuntut.
Tapi yang namanya ibu, selembut apapun dia, ia tetap akan berubah menjadi singa bila keluarganya diusik.
"Kalian terlalu remeh menilai anak dan istriku. Aku tidak akan menghalangi mereka melakukan itu, sebab aku tahu bila sampai itu terjadi, itu artinya kalian sudah di luar batas. Selama ini kenapa istriku diam saat kalian berulah? Sebab dia masih menganggap kalian saudara ipar, dia masih menghormati aku sebagai suami, dan bapak sebagai mertuanya. Tapi kalau dia hingga melalukan kekerasan pada kalian, itu artinya sisi lain dirinya sebagai seorang wanita, seorang ibu, sudah kalian lukai."
Suara pak Darma terdengar menyeramkan. Membuat dua adiknya ketakutan.
"Aku tau siapa kalian, bahkan dari kecil aku sudah mengenal kalian. Rasa iri, dengki, dan ambisi yang ditanamkan oleh ibu kalian membuat semua jadi seperti ini. Aku diam kalau hanya harta ayah saja yang kalian kuasai. Aku sudah ikhlaskan semua itu. Ambil semuanya, aku tidak masalah. Tapi jangan sekali-sekali kalian berani mengusik keluarga kecilku. Karena aku tidak akan bersedia melindungi kalian dari amarah anak-anak dan istriku." Dua orang di depannya itu hanya diam menundukkan kepalanya.
🌟🌟🌟
Dua hari sudah Nandita cuti, dua hari pula ia tidak bertemu Mira. Sang kakek yang merasa sudah sembuh, rupanya belum diijinkan pulang sebab ada diagnosa lain yang di dapat oleh dokter yang memeriksa. Sehingga beliau masih harus dirawat beberapa hari lagi di rumah sakit. Dan Nandita yang memang tidak memiliki kesibukan, menawarkan diri untuk menjaga sang kakek. Anggaplah itu bhaktinya kepada orang yang lebih tua.
"Ditaaaa,,,,," sang kakek memanggil nya. Entah kenapa orang tua itu merasa nyaman dengan cucu yang jarang di temuinya. Ada rasa sayang yang muncul dengan begitu kuat hingga ia tidak mau cucunya itu jauh darinya.
"Sebentar kek,,, Dita masih buatin susu untuk kakek."
"Jangan terlalu panas,, kakek ga suka. Trus tambahin gulanya, jangan kaya kemaren rasanya Ambar."
"Ini kek,, udah Dita kasi tambahan gula jagung. Jangan minta tambah lagi, ingat gula darah kakek tinggi. Jangan sampe dokter nahan kakek di sini lebih lama lagi."
__ADS_1
Ancaman sang cucu hanya dibalas cebikan bibir oleh laki-laki itu.
"Itu dokternya aja yang berlebihan, mangkanya kakek ga dibolehin pulang. Orang di rumah kakek makan seperti biasa aja kok,, ga pernah kakek makan gula-gula begitu. Masa ya dibilang gula darah tinggi"
"Kek,,,, orang yang gula darahnya tinggi itu bukan hanya mereka yang makan banyak gula secara langsung. Banyak makanan-makanan yang mengandung gula yang juga harus dihindari."
"Nasi putih contohnya. Apalagi yang masih panas, itu diyakini memiliki kandungan gula lebih tinggi dibanding nasi yang udah di dinginkan. Pisang juga, kalau sudah terlalu tua, sampe sudah ada bintik-bintik hitam di kulitnya, itu juga tandanya punya kadar gula lebih tinggi." Nandita menjelaskan dengan sabar pada sang kakek.
"Makanan yang mengandung karbohidrat juga mesti dihindari. Nanti aku Carikan makanan apa aja yang boleh kakek makan setiap hari."
Sedang asyik mengobrol bersama sang kakek,, ponsel nya berbunyi menghentikan percakapan mereka.
'Mas Gunadh' gumam nya lalu segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ya mas,,,, ada apa??"
"Kamu masih di rumah orang tuamu Dita??" Gunadh balik bertanya.
"Ya mungkin besok sore aku balik, soalnya lusa aku udah harus ngajar. Ga enak kalau cuti lama-lama. Mas ada apa hubungin aku??"
"nggak ada apa-apa. Cuman mastiin aja, besok Mira belum bisa ke kost kamu berarti ya?"
"Ya belum donk mas.... Kecuali kalau mas mau temenin Mira di sana, bisa kalau gitu" Niat hati Nandita bercanda, namun ditanggapi serius oleh Gunadhyia.
"Kamu ga boleh undang cowo menginap di kost kamu. Hati-hati, nanti beneran orang datang ke sana dan ngapa-ngapain kamu."
Gunadh merasa tidak senang dengan ucapan Nandita.
"Yaaa maksud aku,,, mas temenin Mira di sana kalau dia mau ke kost. Kan akunya ga ada di kost,."
"Pokoknya aku ga suka kamu ngajak cowok ke kost kamu."
"Ya mas,,,," jawab Nandita pasrah. Ia berpikir sikap Gunadh wajar adanya sebab Mira sering datang ke kost. Seperti halnya sang ayah yang selalu khawatir akan dirinya, begitulah Gunadh khawatir akan keselamatan Mira. Begitu pikiran polos Nandita.
"Siapa itu?" Sang kakek langsung bertanya setelah sambungan telepon diputus.
"Temen kek..." Jawab sang cucu singkat.
"Temen kok manggilnya mas,,. Ga mau bilang sama kakek kalau itu calon suami kamu?"
"Apaan sih kakek,, pacar aja aku ga punya. Lagian aku ga mikirin itu dulu kek,, masih ada keinginan yang belum aku capai."
"Kamu udah dewasa lho,,, masa belum pernah pacaran?? Lagian apa keinginan yang belum kamu capai??
Nandita senang sebab kakek kini mulai dekat dengannya. Selama ini, kakek hanya hak milik sepupu dari saudara tiri sang ayah saja. Tiap kali dia main ke rumah kakek,, beliau selalu disibukkan oleh banyak hal. Jadi mereka tidak pernah bercakap intens selama ini.
Melihat cucunya termenung, kakek menyentuh tangan sang cucu
"Apa yang belum kamu capai??" Tanya nya kembali
"Aku,,, sebenarnya aku kepengen keluar negri kek,,,. Pengen jalan-jalan menikmati salju, menghirup udara sejuk benua Eropa, melihat bangunan-bangunan tua yang masih tetap lestari. Aku pengen di masa muda aku, aku puasin untuk berpetualang dulu. Jadi aku punya cerita nanti pas udah punya anak. Makanya itu, selain aku ngajar, aku juga kerja sampingan sama orang yang nelepon aku tadi"
"Kerja apa kamu,,?? Jangan berbuat aneh-aneh Dita,,, jangan buat kakek kecewa."
Belum usai cerita Nandita, sang kakek sudah memotongnya.
"Dengerin dulu makanya kek,,,,Main serobot aja, udah kayak kenek angkot rebutan penumpang." Nandita protes.
__ADS_1
"Aku tuh kerja jaga anaknya, namanya Mira. Dia baru kelas empat SD. Ayah ibunya sudah bercerai, dia tinggal sama ayahnya. Tapi anak kecil ini suka kabur gituu kek,, pengen cari ibunya. Sedangkan ibunya sudah tinggal di luar negeri. Nah pernah aku nolong dia pas mau dianiaya sama preman bayaran. Syukur bisa lolos, tapi karena sempat di Jambak dan ditampar dia jadi trauma. Nah aku kerjanya ya ngajak anak itu main agar melupakan trauma sama gak nanyain ibunya terus.