Nanditha

Nanditha
GUNADH CEMBURU


__ADS_3

Menjalani sisa waktu yang tinggal beberapa hari lagi, Nandita berusaha menyelesaikan tugas dan pekerjaannya sebaik mungkin.


Ia tidak ingin meninggalkan kesan tidak baik di tempat kerjanya itu. Ia ingin pulang, kembali ke Indonesia dengan hati yang lapang dan tenang.


Di rumah, ia pun berusaha meluangkan lebih banyak waktunya dengan onty Eby dan uncle Murat. Sebisa mungkin gadis itu menemani dua paruh baya, yang sudah menganggapnya seperti anak mereka sendiri.


Hingga tiba di malam terakhir dirinya di negara itu, suasana haru semakin terasa.


"Nanti onty pasti akan kesepian lagi, nggak ada temen masak lagi," ucap wanita berhijab itu dengan raut wajah sedihnya, membuat Nandita ikut merasakan hal yang sama.


"Onty bisa telepon aku kalau kangen, nanti kalau ada waktu aku juga akan main ke sini lagi. Aku janji." Nandita menunjukkan jari kelingking, sebagai tanda perjanjian diantara keduanya.


Ia berusaha menghibur sebisanya, namun tetap saja tidak bisa menenangkan hati wanita itu.


Wajah onty Eby tetap murung. Senyuman yang dipaksakan tidak dapat menutupi kesedihannya.


"Sayang ... Jangan buat Nandita sedih donk ... Kita harus menikmati acara malam ini, kita ciptakan kenangan yang layak ia kenang di rumah ini." Uncle Murat menasihati sang istri.


"Tapi rumah ini akan sepi lagi, sayang ... Aku akan kesepian lagi. Kamu sibuk dengan kerjaan kamu, anak-anak sibuk dengan kegiatan mereka, aku sendirian ...."


Air mata yang ditahan oleh onty Eby, akhirnya meluncur tanpa bisa dicegah lagi, membasahi pipi mulusnya.


Nandita segera memeluk wanita paruh baya itu, mengusap punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkannya.


"Onty, jangan nangis donk ... Aku jadi ikutan sedih ...."


"Kenapa cepet banget kamu baliknya? Kenapa nggak berjodoh sama orang sini aja? Biar bisa deket terus sama onty ...." Ucapan onty Eby semakin melantur, bahkan berharap jodoh Nandita orang dari negara yang sama dengan suaminya juga.


"Sayang ...." Uncle Murat mendekati sang istri.


"Ss ss sssss udaaah jangan nangis lagi, nanti make up kamu luntur lho ... Sebentar lagi tamu-tamu akan datang."


"Iya onty, nanti kan mau ketemu calon mantu, masa mukanya sembab, kan nggak lucu." Nandita ikut menimpali ucapan uncle Murat.


Ya, malam ini onty Eby membuat acara perpisahan untuk Nandita. Wanita itu mengundang keluarga dekat Murat dan beberapa orang yang cukup dekat dengan dirinya. Tidak lupa, anak-anak beserta pasangan masing-masing ikut datang di acara tersebut.


Meski kedua anak onty Eby tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya karena ingin belajar mandiri, namun hubungan Nandita dengan mereka cukup dekat.


Onty Eby segera menghapus sisa air matanya, menggunakan tisu yang diberikan oleh uncle Murat. Wanita itu tidak ingin riasannya rusak, seperti yang dikatakan suaminya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, undangan yang datang pun memenuhi taman belakang rumah keluarga itu. Banyak jenis makanan yang tuan rumah hidangkan. Tamu bebas menikmati apapun yang diinginkan, yang tersedia di tempat itu.


Onty Eby dan uncle Murat, memang begitu spesial menyiapkan acar perpisahan untuk gadis yang sudah dianggap putrinya itu.


Bahkan Nandita tidak diijinkan mengeluarkan biaya sepeser pun untuk acara malam itu.


Nandita mendapat berbagai macam kado kenang-kenangan dari para tamu, juga dari anak-anak onty Eby beserta pasangannya.


"Makasih banyak semuanya, kalian repot-repot sekali memberikan ini untukku." Nandita mengucapkan rasa terimakasihnya dengan penuh ketulusan. Ia terharu, rupanya kelurga onty Eby begitu peduli padanya, hingga memberikan ia banyak hal seperti saat ini.


Acara perpisahan itu berakhir saat waktu sudah menunjukkan pukul 22.30.


Tamu undangan satu persatu meninggalkan kediaman keluarga itu. Hanya tersisa keluarga inti, yakni anak-anak onty Eby yang memang akan bermalam di rumah, untuk mengantarkan Nandita ke bandara.


Baru saja Nandita melangkahkan kakinya menaiki tangga, hendak ke kamar pribadinya, suara seseorang yang sudah cukup lama tidak ia dengar, memanggil nama gadis itu.


Nandita menoleh, meski suara itu sudah tidak asing lagi, namun ia cukup terkejut mendapati Aslan yang berdiri tidak jauh dari pintu utama.


"Sorry telat datengnya, aku baru aja tiba." Aslan melangkah mendekati tangga dimana Nandita setengah membeku di sana.


"Eeeiit ... Jangan main nyelonong aja donk ... Di sini masih ada kita-kita," salah satu anak onty Eby yang duduk di sofa, segera datang mendekati Aslan dan menarik kerah baju laki-laki itu dari belakang.


"Ta, pangeran berkudamu datang, ayo sini dulu ...." Panggil salah satu dari mereka.


Dengan sedikit gugup Nandita mendekati mereka kembali.


Mereka berenam berbincang, dan kembali membuat makanan untuk mereka nikmati bersama. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun sepertinya obrolan mereka tidak akan segera berhenti.


Candaan serta tawa riang menghiasi suasana malam perpisahan itu. Nandita dan Aslan pun sudah tidak canggung lagi. Masing-masing berusaha mengikhlaskan apa yang menjadi ketentuan takdir. Seperti janji mereka dahulu, sebelum Aslan berangkat ke negara lain. Rasa mereka cukup akan mereka pendam di palung terdalam hati masing-masing.


"Yank ... Aku mengantuk, aku tidur di mana?" Ucap salah satu gadis yang ada di sana.


Onty Eby sudah menyiapkan kamar untuk calon menantunya, dia tentu tidak ingin anak-anaknya tidur di satu kamar yang sama dengan pasangannya, sebelum halal.


Akhirnya mereka semua membubarkan diri, menuju kamar masing-masing.


Aslan pun ikut menginap di sana, tidur bersama salah satu sepupunya.


Bersyukur, pesawat Nandita sore, sehingga mereka tidak harus bangun pagi-pagi untuk keberangkatannya.

__ADS_1


🌟🌟🌟


Hawa panas menyapa gadis, yang baru saja menginjakkan kakinya kembali di kota kelahirannya itu.


Meninggalkan berjuta kenangan, tangis haru dan kesedihan akan perpisahan.


Melepas semua kepingan masa lalu yang dulu menjadi alasan ia pergi.


Nandita bahkan sudah membuka matanya sejak beberapa jam yang lalu, menikmati perjalanannya meski hanya bisa melihat awan.


Gadis itu tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluarga, teman-teman, dan cintanya.


Gunadh, Satya, kedua orang tuanya, dan sang adik Malikha sudah menunggu kedatangan gadis itu.


Tidak ada kalimat panjang yang terucap, hanya pelukan dan senyum merekah yang menjadi tanda, kehadirannya sudah ditunggu sejak beberapa waktu lalu.


"Hai Ta ...." Satya mendapat giliran paling akhir mendekati sang sahabat.


"Sat ...." Tanpa aba-aba Nandita memeluk laki-laki yang sudah siap menjadi calon ayah itu. Ia lupa, ada sosok pencemburu yang memerhatikannya dengan tatapan tidak suka.


"Gimana kabar kamu? Candra mana, kok nggak ikut?" Tanya gadis itu, setelah melonggarkan pelukannya.


"Dia nggak boleh terlalu capek, Ta. Bentar lagi udah mau lahiran. Kalau dia ikut jemput kamu, bisa-bisa anak kami lahir sebelum waktunya."


"Kok gitu?"


"Iya lah. Dia pasti lupa kalau perutnya udah besar, udah nggak bisa lagi bergerak bebas seperti dulu. Belum lagi emosinya yang nggak stabil, dilarang dikit ngambek. Sensitif banget pokoknya sekarang," ucap Satya panjang lebar.


"Sabaaaar, itu juga kan karena dia bawa anak kmu kemana-mana. Jadi kamu nggak boleh ngeluh. Seperti dia yang rela tubuhnya berubah demi mengandung anakmu, kamu juga harus rela memanjangkan sabar demi kesehatan mentalnya."


Sahut Nandita.


"Kamu benar, aku memang harus ekstra sabar ngadepin dia."


Obrolan antara Satya dan Nandita, tidak luput dari perhatian Gunadh, yang merasa kesal sebab Nandita memilih berbincang dengan orang lain di banding dirinya.


"Ehm, saya tunggu di mobil aja," ucap laki-laki itu sembari mendorong kedua koper milik kekasihnya.


Hal itu membuat Nandita dan yang lain saling berpandangan.

__ADS_1


Adakah yang salah dengan sikap mereka?


__ADS_2