Nanditha

Nanditha
SAMA-SAMA BERJUANG


__ADS_3

Raut lelah jelas tercetak di wajah pria berkaca mata hitam itu. Semilir angin musim semi menyambutnya ketika ia baru saja menapakkan kaki di bandara internasional Ataturk, Turki.


Gunadh menarik nafas dalam, sebelum keluar terminal dan menemui seseorang yang sudah menjemputnya.


Arya menyiapkan semua dengan baik. Segala kebutuhannya sudah sang asisten atur dari negaranya, dan Gunadh tinggal mengikuti apa yang pemuda itu beritahukan.


Gunadh hanya harus menyiapkan diri menghadapi badai dalam kisah percintaannya.


Perjuangannya akan segera dimulai.


Meraih kembali tangan yang pernah dilepasnya, berharap bisa menautkan kembali janji yang lama tak ia tepati.


Membelah jalanan dengan lalu lintas yang cukup ramai, ia menyiapkan diri menghadapi rintangan yang ada di depan mata.


Ucapan Satya begitu menghantuinya. Bahkan ayah Darma dan bunda Santi pun, sudah berangkat untuk menghadiri pertunangan putrinya.


Mengapa kedua orang tua yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri itu tidak mengabarinya? Apakah mereka juga sama, telah lelah memberi kesempatan untuknya?


Rasa sesal itu kembali datang. Membayangkan saat ini perjuangannya tak akan semudah yang ia kira.


Selama ini ia merasa aman, sebab keluarga Nandita masih memberinya dukungan. Namun kini, ia harus berjuang seorang diri. Tidak ada lagi suara yang memihak padanya.


Hanya permintaan dari Namira yang membuatnya merasa tidak sendiri.


"Bawa onty Dita kembali Dad, aku janji nggak akan buat dia marah lagi. Aku akan jadi anak yang baik untuk kalian." Ucap gadis itu ketika mengantarnya menuju bandara.


Mata beningnya penuh harapan dan rasa sesal. Membuat dada Gunadh bergemuruh hebat, antara bahagia dan tak berdaya.


'Dita bila saja kamu melihat tatapan mata anak itu, akankah kamu tega membiarkannya larut dalam penyesalan karen kesalahan yang ia buat? Tidakkah ada kesempatan kedua untuknya memperbaiki diri, membayar kesalahan itu dengan menjadi anak yang baik dan penurut untukmu.' tanya Gunadh dalam hati.


"Tuan kita sudah sampai," sopir yang menjemputnya, menghentak lamunan Gunadh hingga pria itu sedikit terkejut.


"Hah," ia belum bisa mencerna apa yang pria paruh baya itu ucapkan dalam bahasa Turki.


"Kita sudah sampai di hotel." Ucap pria itu lagi.

__ADS_1


"O ooh, terimakasih." Ucapnya terbata.


Gunadh keluar, menunggu sopir mengeluarkan kopernya. Lalu mengulurkan beberapa lembar uang untuk diserahkan pada sopir itu sebagai tips.


"Terimakasih banyak tuan," ucapnya dengan raut bahagia.


"Semoga segala urusan tuan di sini dilancarkan." Sambungnya dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


Gunadh menepuk bahu sopir itu, kemudian menyeret kopernya menuju resepsionis untuk melakukan cek in.


Tiba di kamar hotel, Gunadh segera membersihkan diri.


Berendam dengan air hangat, menambah aroma terapy yang menenangkan, ia memasrahkan diri ketika busa yang ia buat membalut seluruh tubuhnya dalam bath up.


Air hangat itu seperti memijatnya, memberikan rasa nyaman pada tiap inci yang terasa remuk bagai diremass.


Gunadh terlena dalam buaian rasa nyaman, hingga gelap menyapa.


Ia mengakhiri acara berendam itu, dan bersiap untuk beristirahat.


Ia harus menyiapkan diri menyambut hari esok. Hari panjang yang akan dimulai. Berharap keberuntungan akan menyertainya.


🌟🌟🌟


Nandita semakin resah ketika tiba di rumah, onty Eby menyambutnya dengan tatapan yang tak biasa. Bahkan hingga dua hari berlalu wanita itu tetap saja diam seolah sedang dalam tekanan. Hingga di hari ke tiga, sahabat sang bunda itu mengajaknya bicara dengan hati-hati.


"Onty minta maaf, tapi untuk masalah kamu sama Aslan onty nggak bisa ngomong apa-apa. Semua udah jadi keputusan Oma. Beberapa hari ini onty mencoba membujuknya, tapi hasilnya ...." Onty Eby menggeleng tanda tak berdaya.


Nandita hanya bisa termenung. Ia tidak mungkin menyalahkan wanita yang selama ini sudah begitu baik padanya itu.


Ia harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kali ini ia benar-benar seorang diri. Tidak ada satu pun yang bisa ia mintai pertolongan, tidak onty Eby apalagi Aslan.


"Dita ... Kalau boleh onty minta, cobalah kamu membuka hati untuk Aslan. Onty rasa, dia lebih dari cukup kok, untuk menggantikan tunangan kamu yang hingga kini nggak jelas kabarnya itu." Bujuk onty Eby, sembari menyentuh tangan Nandita.


Gadis itu tersenyum kaku.

__ADS_1


Bila rasa bisa memilih, maka ia tak akan memilih Gunadh sebagai tempat melabuhkan cinta. Pria itu terlalu jauh dari jangkauan dalam banyak hal untuk gadis sepertinya.


Dari segi usia, status sosial, juga pengalaman dalam menjalin hubungan, ia dan Gunadh memiliki perbedaan yang cukup jauh.


Namun pepatah cinta itu buta rupanya berlaku untuk mereka.


Ketika benih itu mulai tumbuh dan bertunas di hati keduanya, tak ada lagi perbedaan yang nampak nyata di mata mereka. Semua terlihat samar dan perlahan pudar.


Tapi ujian untuk cinta mereka masih belum berakhir. Rupanya segala perbedaan yang mampu mereka samarkan, bukan lah badai terbesar untuk perahu mereka.


Rasa tidak percaya serta kesalah pahaman lah yang membuat perahu itu tenggelam dan karam.


Keesokan harinya, kembali Nandita mendatangi Oma. Ia harus bisa menjelaskan pada wanita itu kalau dirinya sudah memiliki tunangan, sehingga tidak mungkin bisa menerima Aslan.


"Oma, maaf kalau kedatangan ku kali ini, kembali membuat Oma marah dan lebih kecewa. Tapi aku benar-benar nggak bisa menerima lamaran ini Oma. Aku sudah memiliki tunangan, dan nggak mungkin bertunangan dengan orang lain lagi." Jelasnya dengan wajah memelas.


Oma menatap dengan wajah datarnya. Sejak penolakan pertamanya, Oma tidak lagi pernah bersikap manis terhadap gadis itu. Namun keputusannya untuk menikahkan Nandita dengan cucunya tidak pernah berubah.


"Apa Oma mau, cucu yang Oma sayangi menikah dengan orang yang tidak mencintainya? Akan seperti apa pernikahan yang dijalaninya nanti? Tidakkah Aslan akan kecewa Oma? Dia hanya bisa memiliki tubuh ku, tapi nggak bisa memiliki hatiku."


"Cukup. Jangan diteruskan. Di sini Oma yang menentukan jalan bagi anak dan cucu Oma. Siapa kamu berani mengatur keluarga ini? Lihat saja, apa yang akan kami lakukan terhadapmu bila berani memikirkan orang lain ketika Aslan sudah menikahimu. Ingat, ini bukan negaramu." Ancaman Oma membuat Nandita sedikit menciut.


"Oma ...." Nandita hampir kehabisan kata, lalu sebuah ide muncul bagai sebuah nyala pijar di kegelapan.


"Baik kalau Oma memaksa, jangan salahkan kalau nanti aku akan mengatakan hal yang menyulitkan ketika mengurus segala surat di kedutaan. Bukankah itu akan semakin membuat keluarga ini malu?" Ucapnya membuat Oma menatap horor dirinya.


Ujung bibir Nandita terangkat, menyiratkan senyum kemenangan.


Oma mengepalkan tangan menahan kesal. Ia sampai memejamkan mata untuk menahan kemarahan yang siap meledak pada gadis di depannya.


Sungguh ia tidak menyangka, rupanya Nandita begitu keras kepala.


Ia mendessah pasrah.


"Baiklah, kalau kamu ingin menantang Oma. Kita buat kesepakatan."

__ADS_1


__ADS_2