
Apa yang kamu miliki alat terasa sangat berharga disaat kamu telah kehilangan.
Ungkapan itu mungkin pantas melekat pada diri Safira.
Tiga tahun berpisah dengan Gunadh, dua tahun tidak sama sekali pernah bertemu dengan Namira, tidak pernah ia merasa kehilangan. Sebab ia yakin Gunadh masih sangat mencintainya. Ia yakin suatu saat Gunadh akan mencarinya lagi, setelah rasa kecewa laki-laki itu padanya sudah hilang.
Sepercaya diri itu dia, hingga tanpa ragu meninggalkan anak, orang tua dan juga negara nya, mengejar nafsu dunia yang tidak ia dapatkan pada Gunadh dulu.
Iya, Safira yang cantik, Safira yang lembut dalam bertutur kata. Namun setiap manusia pasti ada cacatnya.
Safira sibuk menuntut perhatian dan sentuhan dari Gunadh yang kala itu bisnisnya belum stabil. Gunadh yang sangat mencintainya, namun hanya kata. Tidak pernah punya waktu untuknya, jangankan untuk liburan, untuk kebutuhan suami istri saja ia jarang mendapatkannya.
Hingga Safira terpesona pada perhatian, dan kasih sayang yang diberikan Rayhan, rekan bisnis Gunadh. Safira bermain di belakang suaminya. Melukai bukan hanya Gunadh tapi juga Mira, namun ia tak menyadari itu.
Tidak ada kata maaf yang keluar dari mulut ibu satu anak itu. Iya merasa semua yang terjadi ada andil Gunadh di dalamnya. Dan yakin suatu saat Gunadh akan mencarinya begitu menyadari semua yang terjadi karena kesalahan Gunadh sendiri.
Namun kini, keyakinan itu hilang. Ketika teman rumpinya di sekolah Mira dulu, mengirimkan foto-foto Gunadh bersama seorang wanita sederhana dengan wajah tanpa make up, duduk di area sekolah Mira. Bukan hanya duduk, dengan mesra Gunadh menggenggam tangan gadis itu.
Ada rasa tidak terima yang muncul dari dalam hatinya. Bukan ini yang dia mau, ini bukan skenario yang dia ingin kan.
'ini salah, aku ga mau Gunadh suka sama orang lain. Gunadh hanya milik aku' gumamnya sambil menggigit kuku tangan nya.
'aku harus bertemu dengan Mira, aku harus mendekati Mira lagi, mereka milikku. Aku gak rela orang lain mengambil apa yang sudah menjadi milikku' ucapnya lagi.
Setelah berfikir sejenak, Safira akhirnya mencoba menghubungi Gunadh, namun sayang nomornya tidak aktif. Lalu ia mencoba menghubungi asisten Arya, dering ke tiga barulah telepon itu diangkat.
"Halo,," hanya itu yang asisten Arya ucapkan.
"Arya,,, mas Gunadh ada?"
"Maaf ini siapa?"
"Aku mommynya Namira, kenapa kamu lupa?"
"Maaf nona, saya tidak menyimpan nomor yang tidak penting di ponsel saya" Ucap asisten Arya.
Safira sebenarnya merasa kesal, namun ia harus bisa menahan demi tujuan nya tercapai.
"Boleh aku bicara dengan mas Gunadh?" Katanya lagi masih dengan suara yang lembut.
"Maaf, tuan Gunadh tidak ada di tempat. Beliau sedang ada urusan di luar kota."
"Kemana? Kenapa kamu tidak ikut? Biasanya kan kamu selalu ikut kemanapun mas Gunadh pergi,,?"
"Sejak kapan itu menjadi urusan anda nonna safira?" Arya memotong ucapan Safira.
Wanita itu langsung diam, malu rasanya seorang asisten membuat mulutnya terkunci rapat.
"Katakan pada saya keperluan anda, nanti saya sampaikan pada tuan Gunadh."
"Katakan pada mas Gunadh, libur semester ini, aku ingin mengajak Mira liburan berdua. Kalau mas Gunadh keberatan, boleh mas Gunadh juga ikut menemani." Niat nya sudah tersampaikan
"Baiklah nanti saya sampaikan."
Tlup
Tanpa basa basi lagi, Arya memutus sambungan telepon luar negeri itu.
'sombong sekali perjaka tua itu' sungut Safira pada telepon yang sudah terputus itu.
Sementara itu, Arya segera menghubungi Gunadh, menyampaikan pesan Safira yang diamanatkan padanya.
"Selamat malam tuan, maaf mengganggu waktu istirahat tuan."
"Ada apa Arya??"
"Tadi nona safira menghubungi saya, sebab dia tidak bisa menghubungi anda. Dia berpesan agar anda mengijinkan non Mira bertemu dengan nya untuk liburan semester ini. Kalau anda tidak yakin, anda bisa ikut menemani katanya tuan."
Alis Gunadh terangkat sebelah, senyum sinis tersungging di bibir tampannya.
'apa maunya wanita itu?' pikirnya
"Baik nanti aku kabari kalau aku sudah memutuskan. Oya Arya, besok aku tidak bisa ke kantor lagi. Kamu urus semua pekerjaan, berkas yang sekiranya memerlukan tanda tanganku, bawa ke rumah besok sore." Perintah Gunadh pada sang asisten.
__ADS_1
"Baik tuan, selamat malam." Jawab Arya sebelum panggilan berakhir.
Gunadh meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, merebahkan tubuhnya mencari posisi nyaman untuk beristirahat di kamar bernuansa putih sederhana itu. Ia menempati kamar milik Nandita, sementara gadis itu pindah ke kamar sang adik Malikha.
Esoknya pagi-pagi sekali suasana rumah Nandita seperti biasa sudah sibuk. Ayah mengurus ternak, bunda masak, dan Nandita berbenah rumah. Malikha juga ikut bangun, sebab Nandita mengancam akan menghentikan uang jajannya kalau adik bungsunya itu masih bermalas-malasan. Malikha sendiri mendapat tugas mencuci pakaian sekaligus menjemurnya.
Gunadh yang bangun paling terakhir merasa tidak enak, sebab semua sudah beraktifitas sedangkan ia baru bangun.
"Pagi Tante,, maaf Gunadh baru bangun." Ucapnya tidak enak.
"Eehh sudah bangun rupanya. Ga apa,,, lagian kalau laki-laki bangun agak siangan ga masalah. Biasa minum kopi atau teh kalau pagi??" Tanya bunda ramah
"Teh saja Tante. Om mana ya Tan??"
"Om sudah ke tempat ternak, biasa pagi-pagi mungutin telur bebeknya biar gak banyak yang ke injek."
"Oohhh,,,, ga di kandangin gitu ya Tan??"
Dikandangin, tapi gak seperti kandang ayam merah yang ada tempat telur khusus begitu, kalau bebek tetap di tanah."
"Oohh gitu."
Nandita yang baru selesai ngepel di teras, menghampiri Gunadh.
"Mas udah bikin teh??"
"Ini" Gunadh mengangkat gelas yang isinya tinggal setengah.
"Mas jam berapa nanti balik??"
"Kenapa?? Ga suka ya aku lama-lama di sini"
"Gak gitu,,, iissh mas ngambekan aah" Wajah Nandita merengut.
Gunadhyia pagi-pagi sudah ngajak ribut.
Melihat wajah Nandita yang kesal, Gunadh tersenyum sambil mengacak rambut Nandita.
"Muka udah jelek, mulutnya jangan dimonyongin gitu, tambah jelek jadinya. Aku gigit nanti bibir kamu ya,,," Gunadh sengaja menggoda gadis itu.
"Aduuuuhh sakit Ta,,,," Gunadh meringis karena bahunya memang benar sakit.
"Mangkanya,,,, jangan suka sembarangan."
Bunda yang mendengar teriakan Gunadh pun datang
"Kenapa nak??"
"Dipukul Dita Tante"
Dita kembali melotot
"Siapa suruh kamu mau gigit bi mmph" Mulut Nandita dengan cepat di bekap Gunadh.
"Itu bunda kamu, masa kamu mau jujur soal tadi? Itu urusan pribadi kita,,,." Bisik Gunadh
Bunda hanya geleng kepala melihat tingkah keduanya. Beliau kembali ke dapur menyiapkan sarapan.
Ayah datang saat sudah waktunya sarapan. Semua sudah siap dengan piring masing-masing.
"Jam berapa ke peternakan om?" Tanya Gunadh
"Biasanya jam lima, nanti habis sarapan balik lagi."
"Om ngajak karyawan juga??"
"Ada yang bantu, satu orang. Untuk manggul pakan nya, soalnya jarak kandang sama gudang pakan agak jauh. Om udah gak kuat manggul sendiri."
"Kapan-kapan boleh ikut lihat ya om,,." Ijin Gunadh
"Ya boleh-boleh,,. Kalau mau habis sarapan ini juga boleh."
"Sekarang belum bisa, soalnya sebentar lagi mau balik oom. Nanti pas saya jemput Dita saja. Mendadak soalnya ini, pekerjaan saya belum beres semua." Gunadh tersenyum canggung
__ADS_1
"Ooh ya-ya,,, nanti hati-hati di jalannya ya. Maaf om harus balik ke kandang sebentar lagi.
"Ya om,,"
Sarapan berakhir, pak Darma pun sudah kembali ke kandang ternaknya.
Kalau kata Bu Santi, Kandang itu rumah istri ke dua pak Darma.
Gunadh sudah bersiap hendak kembali, sebelumnya ia menceritakan soal permintaan Safira yang ingin bertemu Mira.
Nandita merasa tersanjung, sebab laki-laki itu tidak menutupi sesuatu pada dirinya. Meskipun belum terucap secara resmi kata cinta, atau ajakan berpacaran, tapi dengan kedatangan Gunadh ke rumahnya sudah menunjukkan bahwa laki-laki itu serius dengan dirinya.
"Menurut kamu gimana Ta?? Aku ijinin ga mereka ketemu??"
"Sebenarnya kenapa kamu keberatan sih mas??"
Mengalir lah cerita Gunadh tentang perceraiannya. Dan sikap Safira kepada Mira. Juga ketakutan laki-laki itu jika sampai Mira tau watak asli sang mommy.
Nandita mengerti, namun sebagai orang luar ia tidak berani terlalu ikut campur. Ia hanya memberi saran, keputusan tetap ditangan Gunadh.
"Aku berencana mengajak Mira ke Singapura, dan mempertemukan mereka di sana. Selain mereka, kita juga bisa punya waktu berdua" ucapnya
Wajah Nandita merona merah. Ia hanya bisa mengangguk kan kepala.
"Aku terserah mas aja, yang penting tiket bayar sendiri-sendiri." Jawabnya.
"Aku yang bayar tiketnya, kamu tinggal terima beres aja."
"Gak mau aaah,,, kan aku udah nabung untuk itu. Sampe bela-belain kerja agar bisa liburan sendiri."
"Yaa anggap aja sekarang juga kerja, kan kamu tugasnya jagain Mira."
"Tapi hotel tetep aku yang bayar, kalo gak aku gak jadi berangkat!"
"Baiklah,,, dasar biji ketumbar keras kepala" Gunadh meledeknya.
"Sembarangan,, udah sana pulang."
Akhirnya mereka berpisah untuk beberapa saat. Rencananya Nandita di rumah orang tuanya selama satu Minggu. Setelah itu Gunadh akan menjemputnya dan mereka langsung berangkat ke Singapura.
🌟🌟🌟
Tiga hari sudah Nandita di rumah. Ia sudah mulai bosan dengan aktifitasnya makan, nonton, tidur. Begituuu terus. Mau ke tempat latihan silatnya dulu juga sudah malas, sebab teman-teman nya sudah tidak ada yang aktif. Semua sudah sibuk dengan kegiatan baru masing-masing.
"Dita,,, iiisssh kamu apa gak bosen nonton TV sambil ngemil begitu?? Nanti gendut tau rasa kamu, ga ada cowo yang mau deketin." Kata bunda
"Dia kan udah ada om duda Bun,, jadi ga mempan kalau ditakut-takutin ga dapet pacar." Sambar Malikha
"Eeeh ternyata sumpah aku dikabulin Tuhan ya kak,,,, beneran kakak dapet nya duda punya anak. Hhahaahaa" kali ini kalimatnya ia tujukan pada Nandita.
Nandita kesal diledek adiknya.
Kulit kacang ia lempar ke arah sang adik. Namun Malikha semakin meledeknya.
"Enak ya kak,,, beli satu dapet dua. Baek-baek nanti ambil hati anaknya, bisa-bisa nanti ga dapet restu."
Wajah Nandita sudah merah antara malu dan kesal. Saat ia akan mengejar sang adik, Malikha sudah lebih dulu kabur ke kamarnya.
"Ta,,, kamu yakin sama Gunadh itu??" Tanya bunda hati-hati.
"Bunda gak setuju ya aku sama duda??"
"Bukan gak setuju, hanya khawatir saja. Apa kamu akan siap. Nikah sama laki bujang saja banyak tantangan nya, apalagi ini kamu satu paket. Kamu bukan hanya harus menerima Gunadh, tapi juga anaknya. Gak bisa hanya memberi kasih sayang pada Gunadh, tapi juga pada anaknya. Selain itu, laki-laki yang sudah pernah menikah lalu gagal ia pasti memiliki trauma dengan masa lalunya. Kamu harus siap dengan semua itu. Dibanding-bandingkan itu sudah pasti, tanpa ia sadari." Bunda menasehati anaknya.
"Aku juga belum tau bund.... Aku ga pernah ngerasain perasaan begini, tapi jujur aku belum terlalu yakin. Masih lama lah itu. Aku mau nikmati masa-masa muda aku dulu. Lagian mas Gunadh gak ada omongan ke arah menikah. Bunda,,,, mas Gunadh sebenarnya gak pernah nembak aku untuk jadi pacarnya." Nandita sangat malu mengungkapkan hal itu pada sing bunda, namun ia harus cerita pada siapa? Ia juga tidak pernah pacaran. Tidak memiliki pengalaman dengan laki-laki.
Bunda tersenyum, anaknya masih sangat polos soal urusan percintaan.
"Laki-laki dewasa, gak akan mengungkap cinta dengan 'kamu mau gak jadi pacar aku??' Dia gak akan begitu Ta,,. Dia akan bersikap bukan berucap. Kamu gak akan Nemu kata i love u dari bibirnya, tapi kamu akan sering mendapat makanan, jemputan, omelan dari dia. Begitu cara dia ungkapin rasa sayangnya ke kamu." Ucapan bunda meresap di otak Nandita.
Benar juga, Gunadh tidak pernah chat nanya dia sudah makan apa belum? Tapi akan langsung menjemputnya untuk makan siang. Dia juga gak pernah larang ini itu, tapi tatapan matanya menyiratkan ketidak sukaannya.
Aaahhhh begini rupanya menjalin hubungan dengan laki-laki. Nandita hanya bisa tersenyum hingga bunda memukul pahanya dengan keras.
__ADS_1
"Dasar kamu ya,,,, diajak ngobrol malah melamun. Udah ah bunda mau nyetrika dulu." Bunda kesal lalu meninggalkan Nandita meringis sendirian.